
Happy Reading all.
***
Sepeninggalan Ibu Arche serta Antariksa mereka memperhatikan kedua orang itu yang keluar dari tempat digelarnya acara. Adhara di buat menggeleng lalu fokusnya kembali pada orang-orang di depannya lagi.
“Nora gue minta maaf atas kejadian yang terjadi tadi,” ucap Arche sambil menatap Nora dengan tatapan bersalahnya. Ucapan Ibunya pasti sangat melukai gadis itu hingga Nora hanya bisa terdiam di tempatnya.
Adhara hanya diam memperhatikan mereka begitupun yang lainnya. Mereka tak ada yang berani membuka suara membiarkan Arche yang berbicara.
“Gue tahu ucapan Mama gue salah, gak seharusnya dia berbicara tersebut,” ucap Arche dengan menyesalnya. Mamanya memang seperti itu jika sudah tidak menyukai seseorang. Enatah apa yang membuat sang Mama tidak menyukai Nora, enta benar karena status gadis itu atau ada hal lainnya.
Nora hanya terdiam mendengar ucapan Arche ia sudah malas menjawab ucapan laki-laki itu walau di kepanya bertanya-tanya tentang sikap Ibu Arche yang begitu membencinya. Ia tak pernah merasa membuat kesalahan pada Ibu Arche hingga wanita membencinya. Hatinya terasa begitu perih saat Ibu dari orang yang dia sukai malah membencinya.
“Salah gue sebenarnya apa? Kenapa Mama Arche benci banget sama gue? Apa gue pernah melakukan kesalahan besar sampai Mama Arche benci banget sama gue?” batin Nora dengan tatapan sendirinya pada Arche.
“Ayo balik,” ajak Chan pada Nora. Laki-laki itu lebih dulu berbalik untuk pergi setelahnya baru Nora mengikuti di belakangnya.
Adhara yang terus memperhatikan mereka menggaruk pipinya yang tak gatal lalu menatap Sky yang masih saja berdiri di sana tanpa minat untuk pergi.
“Lo gak mau balik?” tanya Adhara pada Sky yang masih di posisinya. Sky hanya tersenyum lalu menatap Arche.
“Kak Arche gue boleh minta tolong?” tanya Sky dengan senyuman manisnya yang begitu tulus. Arche mengerutkan keningnya begitupun dengan Adhara.
“Minta tolong apa Sky?” tanya Arche untuk menjawab kebingungannya. Kini yang berada di ruangan tersebut hanya mereka bertiga karena yang lainnya sudah lebih dulu keluar dari ruangan tersebut.
“Mau kan buat jadi guru kita buat belajar bareng?” tanya Sky dengan tatapan penuh harapnya sedangkan Adhara dibuat melongo oleh permintaan Sky tak menyangka jika yang gadis itu maksud dengan membantunya adalah dengan belajar bersama dengan Arche sebagai gurunya.
“Suka mengada-ngada emang nih anak satu, kalo lo sibuk gak usah gak papa kok,” ucap Adhara sambil tersenyum dan mengangguk. Ia tak ingin merepotkan Arche karena ia sudah terlalu sering merepotkan laki-laki itu.
“Nggak papa lagi, sans aja. Gimana kalau belajarnya mulai besok?” tawar Arche sambil tersenyum yang langsung dibalas dengan anggukan oleh Adhara, gadis itu yang awalnya menolah malah kini ia terlihat begitu bersemangat.
“Di rumah gue aja gimana?” tawar Arche yang langsung dibalas dengan gelengan cepat oleh Adhara. Bukannya merasa tersinggung laki-laki itu malah terkekeh dengan keras membuat Adhara merasa salah tingkah.
“Di apartemen Adhara aja gimana?” tawar Sky yang di balas dengan anggukan oleh mereka. Hingga akhirnya mereka sepakat untuk belajar bersama di rumah Adhara.
****
__ADS_1
Sepulang sekolah Sky, Arche, dan Adhara langsung menuju rumah Adhara untuk belajar bersama. Kini mereka sudah berada di apartemen Adhara. Mereka tengah berada di ruang tamu.
“Ayo mulai belajar,” ajak Arche yang langsung mengeluarkan bukunya. Begitupun dengan Adhara juga Sky.
Tapi baru saja mereka akan memulai pelajaran mereka ponsel Sky berbunyi. Sky segera pergi sedikit menjauh dan segera menerima telepon tersebut yang entah dari siapa.
“Jadi mau belajar apa dulu?” tanya Arche pada Adhara.
“Matematika dulu deh,” ucap Adhara membuat Arche mengangguk. Adhara segera mengeluarkan buku matematikanya dan mulai menunjukkannya pada Arche materi yang belum ia mengerti.
“Yang ini nih turunan dan integral tak tentu aljabar,” ucap Adhara sambil menunjukkan deretan angka di bukunya yang membuatnya pusing tersebut.
“Ok kita tunggu Sky dulu,” ucap Arche membuat Adhara mengangguk dan tak lama gadis yang di tunggu tersebut akhirnya muncul dengan wajah cemberutnya membuat Adhara mengerutkan keningnya bingung.
“Kenapa?” tanya Adhara dengan bingung.
“Sorry kayaknya gue harus pergi duluan, Mama nyuruh gue buat anter nenek ke rumah sakit,” ucap Sky dengan dengusan kasarnya.
Adhara membalasnya dengan anggukan.
“Gak papa lo anter nenek lo dulu, tar yang lo kelewatan gue ajarin,” ucap Adhara yang id balas anggukan oleh Sky.
“Hati-hati,” ucap Adhara yang hanya dibalas dengan acungan jempol oleh Sky.
Akhirnya Adhara belajar hanya berdua dengan Arche karena Sky yang sudah pergi. Sebenarnya ia ingin menahan gadis itu agar tidak meninggalkannya bersama laki-laki meskipun itu Arche hanya saja sepertinya nenek gadis itu jauh lebih membutuhkannya.
“Ayo mulai,” ucap Adhara yang di balas dengan anggukan oleh Arche yang mulai menerangkan materi tentang turunan.
“Nah kayak soal satu ini,” laki-laki itu menunjuk soal yang berada di buku Adhara.
“Turunan akar xdx,” tunjuk Arche melanjutkan penjelasannya. Adhara memperhatikan dengan serius penjelasan Arche.
“X di sini harus di tambahkan setengah, karena n sama dengan setengah. Jadi nanti (satu dibagi satu per dua ditambah satu) di kali x (pangkat satu per dua ditambah satu) ples C,” laki-laki itu terus menjelaskan banyak soal hingga Adhara mengerti dengan apa yang laki-laki itu ajarkan. Tak lama ia menjelaskan tentang materi tersebut Arche memberikan Adhara latihan soal sedangkan laki-laki itu menuju dapur untuk membuatkan minuman.
Adhara serius mengerjakan soalnya saat Arche sudah kembali dan meletakkan susu hangat di hadapan Adhara.
“Minum dulu,” ucap Arche membuat Adhara mengangguk dan segera meminum minuman yang Arche buatkan.
__ADS_1
“Gue minta maaf ya atas kejadian kemarin,” ucap Arche dengan menghela nafasnya.
“Sans aja kali,” ucap Adhar dengan senyumannya.
“Thank juga ya,” ucap Arche membuat Adhara terkekeh sambil mengacungkan jempolnya.
“Kemarin gue udah terlalu capek buat ngadepin Mama lagi, dia terlalu mengekang, melakukan apa yang dia mau secara paksa buat gue. Gak salah sih sebanarnya karena gue tahu pasti mama mau yang terbaik buat gue, tapi cara dia yang seperti itu malah menjadi beban buat gue. Gue dituntut buat jadi orang sempurna,” jelas Arche dengan senyuman sendunya. Adhara mengelus tangan Arche menguatkan laki-laki itu.
“Jangan jadikan itu sebagai alasan untuk kebebasan lo, lo berhak buat nentuin jalan hidup lo sendiri. Karena yang ngejalanin itu elo bukan Mama lo. Lo yang tahu sekarang apa hidup yang lo jalani, lo yang tahu kemampuan lo bukan mereka,” nasihan Adhar sambil menatap Arche dengan tatapan meyakinkannya.
Ia bisa melihat seberapa tertekan laki-laki itu namun ia hanya menutupi dengan sebuah senyuman. Sikap ramahnya, siapa yang tahu jika semua itu juga adalah tuntutan agar dia terlihat baik sedangkan bukan itulah sikap nya yang sebenarnya.
“Lo gak tau mereka Ra, mereka selalu punya cara untuk membuat gue nurut sama apa yang dia mau. Gue bukan gue, jika suatu saat lo liat gue yang sebenarnya lo pasti bakalan berpikir diri gue yang sekarang beda jauh sama gue yang sebenarnya,” ucap Arche dengan kekehannya.
“Untuk apa berlindung dengan itu, lo harusnya hidup dengan apa yang buat lo nyaman, jangan menyiksa diri sendiri hanya karena keinginan satu pihak,” pesan Adhara yang hanya di balas dengan senyuman sinis oleh Adhara.
“Gue balik dulu,” ucap Arche yang setelahnya langsung keluar dari sana membuat Adhara mengerutkan keningnya melihat Arche yang tiba-tiba pergi. Ia hanya bisa menghela nafas sepertinya hidup laki-laki itu memang begitu berat.
****
Thank for Reading all
Hai semua apa kabar?
Aku datang lagi nih dengan cerita baru yang pastinya gak kalah seru sama cerita sebelumnya.
Semoga kalian suka ya sama ceritanya maaf kalau masih banyak typo dan feel kurang dapet.
Jangan lupa untuk Like, Koment, tambah ke favorite.
See You Next Chapter all.
__ADS_1