
Happy Reading All.
***
Sesampainya di rumah Chan mereka langsung disambut oleh Ibu Chan yang tengah menyiram tanaman di depan rumahnya, melihat kedatangan anaknya tentu saja membuat senyuman wanita paruh baya tersebut senang.
“Chan,” panggil Mira dengan senyumannya lalu segera memeluk anaknya tersebut dengan begitu bahagia. Chan membalasnya dengan begitu erat.
“Adhara,” sapa Mira dengan senyumannya setelah melepaskan pelukannya dan Chan lalu beralih memeluk Adhara.
“Ayo kita masuk,” ajak Mira dengan senyumannya lalu menggandeng tangan Adhara untuk memasuki rumah.
Semua pelayan yang berada di sana langsung menunduk saat melihat Chan yang datang sekedar menyapa anak majikannya tersebut. Saat memasuki rumah tersebut Adhara tak sengaja bertemu dengan pengawal yang pernah di lawannya saat menolong Chan sata itu.
Adhara menatapnya dengan tajam sambil tersenyum begitu sinis membuat pengawal tersebut menunduk saat melihat Adhara, melihat wajah pengawal tersebut serta reaksinya membuat Adhara ingin sekali meledakkan tawanya.
Chan yang melihat hal tersebut hanya bisa menggeleng ia tahu Adhara tengah mengejek pengawalnya membuat pengawal tersebut menunduk melihat Adhara.
“Adhara, Tuan Muda,” sapa Nora saat mereka berada di ruang tamu dan tak sengaja bertemu dengan Nora yang baru saja dari taman belakang.
“Lama gak temu Nora,” sapa Adhara dengan senyumannya yang begitu tulus. Nora membalasnya dengan anggukan dan senyuman yang sangat sulit untuk diartikan.
Adhara yang melihat reaksi Nora tersenyum dengan begitu sinis di dalam hatinya dengan wajahnya yang tersenyum dipaksakan. Mira langsung mengajak Adhara untuk duduk begitupun dengan Chan. Ia begitu senang melihat Mamanya yang begitu menerima Adhara dengan biak.
“Mama ambil minuman dulu,” pamit Mira yang setelahnya langsung pergi dari sana untuk meminta pembantunya membuatkan minuman.
Adhara duduk mendekati Chan membuat Chan mengerutkan keningnya, Nora yang masih berada di sana pun ikut bingung dengan tingkah Adhara tersebut. Entah mengapa gadis tersebut enggan untuk pergi dari sana dan malah memilih berjaga di sekitar ruang tamu.
“Nora gak ada niatan mau pergi kali ya?” bisik Adhara pada Chan yang jelas hanya bisa didengar laki-laki tersebut yang terkekeh mendengarnya.
“Kenapa? Biarin aja gak usah di peduliin,” ucap Chan sambil mengelus puncak kepala Adhara. Gadis tersebut mendengus kasar akhirnya hanya bisa mengalihkan pandangannya dari Nora, karena entah mengapa Nora terus menatapnya dengan begitu sinis membuat Adhara risih mendengarnya.
Entah karena Arche atau masalah lain, jika karena Arche ingin rasanya ia berteriak pada gadis itu jika Arche menolaknya karena ia kakak kandung dari gadis itu sendiri.
__ADS_1
Tak beberapa lama Mama Chan datang bersama salah satu pelayan yang membawa makanan ringan juga minuman untuk Chan dan Adhara.
“Terima kasih,” ucap Adhara pada pelayan yang sudah berumur tersebut. Pelayan tersebut mengangguk sambil tersenyum dengan begitu ramah.
“Nora kamu bisa pergi dari sini,” ucap Ibu Arche yang sepertinya menyadari jika Adhara begitu risih dengan tatapan Nora tersebut.
“Tapi Nyonya….” Baru saja ingin membantah Mira sudah lebih dulu memotong ucapan gadis tersebut.
“Kamu gak dengar apa kata saya?” tanya Mira dengan begitu ketus. Nora akhirnya hanya bisa mendengus dengan kasar lalu segera pergi dari sana membuat Adhara menghela nafasnya lega. Chan yang melihat hal tersebut hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat reaksi Adhara.
“Maafin Nora, dia emang kayak gitu,” ucap Mira dengan senyumannya yang begitu tulus meminta maaf Adhara yang melihatnya menjadi tidak enak sendiri.
“Tidak, tidak, tidak apa-apa tante,” ucap Adhara sambil melambaikan tangannya. Tentu saja itu bukanlah salah Mira karena memang Nora yang seperti dendam tersendiri untuknya.
“Kapan Papa kembali?” tanya Chan yang tak ingin saat ia datang ke rumah nya itu ia akan bertemu dengan Papanya yang selalu saja mencari masalah dengannya.
“Mungkin dua hari lagi, Mama sudah tidak peduli lagi, bahkan jika ia tak kembali,” ucap Mira dengan senyuman manisnya yang begitu jelas menyimpan rasa sakit hatinya pada suaminya tersebut.
Chan menghela nafasnya kasar lalu segera menuju mamanya dan duduk di samping wanita paruh baya tersebut.
“Mama yang sabar ya, kita berdoa saja agar suatu saat papa kembali seperti dulu,” ucap Chan yang mendapatkan anggukan dari Mira karena selalu hal tersebut yang a harapkan.
Chan menggenggam tangan Mira erat yang dibalas dengan genggaman yang tak kalah erat oleh Mira. Adhara yang melihat hal tersebut dibuat terharu dengan Chan yang begitu memuliakan Mamanya juga kasih sayang mereka yang begitu tulus.
“Kalian makan malam di sini ya,” pinta Mira dengan tersenyum begitu tulus dan memohon pada Adhara dan Chan.
Adhara yang melihatnya tentu saja merasa kasihan dan ingin langsung menerimanya namun ia lebih dulu melihat ke arah Chan untuk meminta persetujuan. Chan membalasnya dengan dengusan kasar dan gelengan.
“Maaf Ma tapi Chan masih ada urusan,” ucap Chan dengan begitu menyesal.
“Kalau begitu kita makan sekarang saja, kalian pasti belum makan,” ucap Mira yang selanjutnya sudah lebih dulu menarik Chan juga Adhara untuk mengikutinya ke ruang makan.
Adhara yang melihat ruang makan Chan dibuat begitu terkagum melihat betapa mewahnya ruang makan tersebut, dengan berbagai sajian di atasnya padahal mereka hanya makan untuk bertiga namun yang tersaji di atas sana begitu banyak.
__ADS_1
Mira dengan begitu perhatian mengambilkan makanan untuk Chan juga Adhara membuat Adhara begitu senang. Ia yang begitu merindukan kedua orang tuanya rasanya dengan adanya Mira menjadi mengurangi rasa rindunya pada Mamanya.
“Ayo dimakan, jangan malu-malu,” ucap Mira yang di balas dengan anggukan oleh Adhara yang memang tidak ada malunya malah gadis itu dengan lahap memakan makanannya.
“Gimana sekolah kamu Chan?” tanya Mira membuka pembicaraan di tengah acara makan mereka agar tidak ada kecanggungan. Chan membalasnya dengan anggukan sambil melahap makanannya.
“Baik Ma, Papa masih bayar biaya sekolah Chan,” ucap Chan yang memang mengetahui jika Papanya masih membayar biaya sekolahnya.
Tentu saja ia melakukannya untuk dirinya sendiri mengingat Chan adalah pewarisnya, tak mungkin ia membiarkan anaknya tanpa pendidikan untuk melanjutkan perusahaannya.
“Kamu harus fokus dengan sekolah kamu, mama akan berusaha membicarakan masalah ini dengan papa,” ucap Mira dengan senyumannya yang dibalas dengan anggukan oleh Chan.
Adhara yang berada di sana hanya bisa terdiam ia tak ingin ikut campur dalam pembicaraan ibu dan anak tersebut, apalagi ini menyangkut masalah keluarga mereka. Tentu saja bagi Adhara yang merupakan orang luar tak pantas untuk ikut campur masalah ini.
***
Hai Semua balik lagi nih sama aku.
Btw siapa nih yang udah nunggu Adhara bareng tiga cogannya?
Semoga kalian suka ya, maaf kalau feel kurang dapet dan masih ada typo.
Jangan lupa di tambahkan ke favorite, like, dan koment ya guys.
Follow ig aku ya @hilmiatulhasanah dan @wphilmiath
Oh iya untuk update aku bakal update 2 bab perhari ya guys.
Stay healthy all.
Thank For Reading all.
See You Next Chapter All.
__ADS_1