Atmosphere

Atmosphere
Gemini


__ADS_3

Happy Reading All.


***


Langit malam kini terlihat begitu indah. Adhara menatap langit di depannya yang bertabur bintang. Adhara begitu beruntung tempat tersebut masih tak ada dinding yang menghalangi, hanya terdapat pilar-pilar besar yang menyangganya.


“Angkasa sialan, jahat banget emang lo sama gue,” teriak Adhara dengan amarahnya. Kini tempatnya berada hanya diterangi oleh rembulan yang begitu baik memberinya penerangan.


“Mana gue laper lagi, Angkasa emang bener-bener ya. Udah nyekap gue di tempat kayak gini, gak di kasih lampu, eh di tambah gak di kasih makan lagi,” ucap Adhara yang tak ada hentinya terus menggerutu menyumpah serapahi Angkasa.


“Udah lah gak perlu marah-marah lagi, entar aus mana gak ada air,” ucap Adhara menghela nafasnya kasar.


Tatapan gadis tersebut begitu lurus, menatap langit di depannya yang memancarkan keindahan bintang beserta benda langit di atas sana.


Suara langkah kaki yang menaiki lantai tersebut membuat Adhara menoleh dengan takut, takut jika yang datang bukanlah manusia. Bahkan kini gadis tersebut sudah memejamkan matanya sambil membaca semua doa dan ayat-ayat pendek yang dihafalnya.


“Bismika Allahumma ahyaa wa bismika amuut,” baca Adhara sambil memejamkan matanya. Sepertinya kali ini Adhara memang begitu takut hingga ia malah membaca doa tidur.


“Gapapa Dhar, siapa tau lo bacain doa tidur setannya bakalan tidur,” gumam Adhara pada dirinya sendiri.


Sebuah cahaya yang begitu menyilaukan menembus matanya yang terpejam membuat Adhara segera membuka matanya, hingga dapat ia lihat kini seorang gadis tengah berdiri di depannya dengan senyuman sinisnya.


“Gimana tempat ini? Bagus kan?” tanya gadis tersebut dengan senyuman sinisnya yang membuat Adhara tertawa mendengarnya. Ternyata saat gadis itu datang ke rumahnya hanya datang untuk menjebaknya. Namun siapa sangka jika sebenarnya jebakan terbesar ialah untuk gadis itu sendiri.


“Menurut lo?” tanya Adhara dengan menaikkan sebelah alis malas. Ia begitu malas menghadapi gadis gila di depannya tersebut.


“Cukup bagus, karena seharusnya lo sekarang ada di neraka,” ucap gadis tersebut yang membuat Adhara tertawa dengan sumbang.


“Titania, gue kasihan ya sama lo,” ucap Adhara sambil menggelengkan kepalanya dan menipiskan bibirnya sambil menatap gadis di depannya yang tak lain Titania tersebut dengan iba.


“Gak perlu mengasihani gue, karena yang perlu lo tau gue gak suka sama Chan. Karena yang gue suka itu Angkasa,” ucap Titania dengan begitu sombong yang malah semakin membuat Adhara merasa kasihan dengan gadis itu.


“Adhara, lo masih inget apa yang lo lakuin ke gue? Lo pernah menggores muka gue pakai pisau ini,” ucap Titania sambil mengeluarkan sebuah pisau dari balik celananya yang membuat Adhara memelototkan matanya.

__ADS_1


“Apa yang mau lo lakuin?” tanya Adhara dengan amarahnya yang membuat Titania malah tertawa dengan begitu keras.


“Menurut lo?” tanya Titania sambil mendekatkan dirinya pada Adhara lalu tersenyum dengan begitu sinis.


Satu tamparan yang begitu keras berhasil mengenai wajah Adhara hingga membuat memalingkan wajahnya, akibat tamparan Titania yang begitu keras.


“Buat lo yang udah permaluin gue di depan umum,” ucap Titania dengan senyumannya. Lalu kembali mengangkat tangannya, kembali menampar Adhara dengan begitu keras.


“Buat lo yang udah buat gue dipanggil kepala sekolah,” ucap Titania yang membuat Adhara kini menatapnya dengan tajam.


“Dan ini buat lo yang udah buat gue luka,” ucap Titania sambil mengarahkan pisau nya pada wajah Adhara. Namun karena Adhara yang malah meninggikan tubuhnya. Pisau tersebut malah mengarah pada lehernya.


Adhara memejamkan matanya sambil menggigit bibir bagian bawahnya, berusaha menahan rasa sakit yang kini menjalarinya.


“Lo psikopat,” maki Adhara pada Titania yang sama sekali tidak peduli. Bahkan gadis tersebut tersenyum dengan begitu sinis pada Adhara.


“Titania, apa yang lo lakuin,” teriak sebuah suara yang langsung menghampiri mereka lalu mendorong Titania menjauh.


“Angkasa, aku Cuma mau bantuin kamu. Dengan membuat Adhara terluka, Chan bakalan lebih marah,” ucap Titania dengan wajah sedih yang di buat-buat membuat Adhara tersenyum begitu sinis melihatnya.


“Angkasa kenapa kamu malah nampar aku? Aku Cuma mau bantuin kamu, aku ini pacar kamu,” teriak Titania dengan amarahnya yang membuat Angkasa tersenyum begitu sinis lalu berjalan ke arah Titania, menarik rambut gadis tersebut ke belakang.


“Siapa yang nyuruh lo ikut campur urusan gue? Berani banget lo ngelukain Adhara, lo siapa, anjing?” ucap Angkasa marah yang membuat Titania terkejut dengan kemarahan Angkasa. Ia tak menyangka jika laki-laki tersebut akan begitu marah karena masalah ini.


“Angkasa kamu kenapa? Aku ini pacar kamu? Apa kamu suka sama dia?” tanya Titania dengan air matanya yang sudah mulai mengalir membasahi matanya.


Adhara yang masih berada di sana dengan keadaan terluka hanya bisa menahan rasa sakit di lehernya sambil menonton drama di depannya, yang sepertinya akan seru.


Senyuman yang begitu menakutkan terlihat begitu jelas diwajah Angkasa yang semakin menarik rambut Titania dengan keras, sepertinya sebentar lagi rambut tersebut akan terlepas dari tempatnya jika Angkasa tak segera melupakannya.


“Lo pikir gue beneran suka sama lo?” tanya Angkasa dengan begitu sinis yang membuat Titania terkejut mendengar ucapan Angkasa tersebut.


“Ini kalo ada popcorn pasti enak,” ucap Adhara yang sudah seperti tengah menonton sebuah film tanpa menghiraukan rasa sakit di bagian lehernya.

__ADS_1


“Gue mau sama lo Cuma untuk manfaatin lo agar gue bisa balas dendam sama Chan. Dan juga untuk balas dendam sama lo, lo harus ngerasain sakit yang Stella rasain karena perjodohan lo sama Chan,” terika Angkasa yang membuat Titania terdiam, gadis tersebut pasti begitu terkejut mendengar ucapan laki-laki tersebut. Laki-laki yang ia cintai kini malah mengkhianatinya.


“Lo pikir gue bisa suka sama cewek kayak lo? Apa yang harus gue suka dari lo? Yang ada di hati gue buat lo hanya sebuah kebencian,” tegas Angkasa yang membuat Titania menangis semakin tak terkendali.


“Kenapa lo bohongin gue? Gue udah sayang banget sama lo,” ucap Titania dengan begitu lirih. Air mata gadis tersebut terus mengalir membasahi pipi putihnya.


“Karena lo, gue kehilangan adik gue. Apa gue harus suka sama lo yang udah buat adik gue meninggal?” tanya Angkasa sambil melepaskan tangannya dari rambut Titania.


Gadis tersebut sudah seperti jelly yang tidak memiliki urat, terjatuh di lantai dengan wajah sedihnya. Memangnya siapa yang tak akan sedih di saat ia malah di khianati oleh yang begitu ia cintai.


“Untuk apa membalaskan dendam pada orang yang salah? Orang yang gak tau apa-apa? Semua udah takdir, gak ada yang salah di sini,” sebuah suara yang begitu familiar membuat ketiga orang tersebut langsung menoleh ke arah sumber suara.


***


Hai Semua balik lagi nih sama aku.


Satu kata untuk Titania dan Angkasa


Btw siapa nih yang udah nunggu Adhara bareng tiga cogannya?


Mulai sekarang aku update nya 1k kata perhari ya, karena cerita ini juga udah mau taman nih.


Semoga kalian suka ya, maaf kalau feel kurang dapet dan masih ada typo


Jangan lupa di tambahkan ke favorite, like, dan koment ya guys.


Follow ig aku ya @hilmiatulhasanah dan @wphilmiath


Tim Interaksi udah aku aktifkan nih, yuk guys join.


Stay healthy all.


Thank For Reading all.

__ADS_1


See You Next Chapter All.


__ADS_2