
Happy Reading All.
***
Sepulang dari rumah Chan laki-laki itu tak langsung pulang membuat Adhara mengerutkan keningnya saat Chan melajukan mobilnya bukan ke arah apartemen mereka.
“Kita mau kemana?” tanya Adhara yang dibalas dengan gelengan oleh Chan membuat Adhara mendengus kesal pada laki-laki tersebut yang suka sekali merahasiakan sesuatu.
“Lo mau nyulik gue?” tanya Adhara yang pura-pura terkejut. Chan hanya membalasnya dengan anggukan dan kekehan membuat Adhara ingin sekali rasanya memukul kepala laki-laki itu dengan begitu keras.
“Ngeselin dasar,” ucap Adhara namun Chan tak mau membalas ucapan gadis tersebut dan memilih fokus menyetir, melajukan mobilnya menuju tempat tujuannya.
Hingga setelah menempuh waktu yang begitu lama hingga Adhara pun tertidur di mobil akhirnya mereka sampai di sebuah hutan dengan pepohonan yang begitu menjulang tinggi. Chan segera memberhentikan mobilnya lalu melihat ke arah Adhara yang tertidur.
Senyuman Chan mengembang dengan begitu sempurna melihat gadis yang berada di sampingnya tersebut tengah tertidur dengan begitu pulasnya.
“Adhara,” panggil Chan sambil menggoyangkan badan gadis tersebut. Adhara yang merasakannya segera terbangun dan melihat ke sekeliling.
Gadis itu begitu terkejut melihat mereka yang ternyata tengah berada di hutan yang cukup luas. Adhara mengeratkan pegangannya pada seat belt yang di pakaiannya. Takut jika Chan akan membuangnya di sini.
“Kenapa lo?” tanya Chan dengan kerutan di dahinya saat melihat wajah ketakutan Adhara.
“Lo mau buang gue?” tanya Adhara dengan wajahnya yang terlihat memelas. Chan yang mendengar hal tersebut langsung meledakkan tawanya. Mengapa Adhara yang mendapatkan beasiswa di sekolah elit itu malah terlihat seperti wanita dengan pemikiran sempit?
“Mana mungkin gue ngebuang lo? Lo kira gue gila?” tanya Chan lalu ia segera keluar dan membukakan pintu untuk Adhara. Adhara masih ragu untuk keluar membuat Chan berdecak lalu segera membukakan seat belt gadis itu dan membantunya turun.
“Kita mau kemana?” tanya Adhara pada Chan yang malah menariknya untuk terus berjalan bersamanya.
Langit sudah mulai menggelap jalanan pun hanya diterangi oleh senter yang Chan bawa. Sungguh sangat kejam laki-laki tersebut jika memang memiliki niat untuk membuang Udara di tempat seperti ini.
Setidaknya jika memang memiliki niat untuk membuangnya, laki-laki itu bisa membuang nya di rumah Arche saja. Pemikiran gadis itu memang sangat konyol bahkan di saat ia merasa terancam seperti ini.
Hingga tak lama mereka mereka sampai di di tempat yang langsung membuat Adhara menganga, mengagumi tempat tersebut yang terlihat begitu indah. Tak terasa ternyata mereka sampai di sebuah lahan yang terbebas dari pepohonan dan menampilkan pemandangan kota dari atas tebing.
__ADS_1
Dari sini saja Adhara tahu jika kini mereka tengah tidak berada di ibukota, pantas saja Adhara merasa perjalanan mereka begitu panjang hingga ia tertidur di perjalanan. Ia tak menyangka laki-laki kaku seperti Chan akan mengajaknya ke tempat seperti ini.
“Chan ini indah banget,” ucap Adhara sambil melihat ke arah banyaknya lampu yang menerangi di bawah sana bagaikan bintang yang begitu indah.
“Suka?” tanya Chan yang jelas langsung di balas dengan anggukan semangat oleh Adhara.
Chan mengajak Adhara duduk ujung tebing untuk melihat pemandangan indah tersebut. Adhara tersenyum dengan begitu lebar melihat pemandangan di depannya. Udara dingin yang menembus kulitnya membuat Adhara terus mengelus tangannya yang tak tertutupi kain.
Chan dengan perhatian melepas jaket nya lalu memakaikannya pada Adhara. Adhara yang mendapatkan perlakuan yang begitu baik dari Chan tersebut tentu saja merasa kupu-kupu di perutnya berterbangan dengan begitu indahnya.
Namun entah mengapa gadis itu langsung tersenyum dengan begitu sinis. Saat menyadari dirinya yang tak begitu konsisten pada perasaannya sendiri. Bagaimana ia bisa plin-plan menghadapi tiga pangeran tersebut?
“Kenapa?” tanya Chan yang melihat wajah Adhara yang berubah sendu.
Adhara langsung menggeleng lalu tersenyum dengan begitu manis pada Chan. Chan yang melihatnya mengelus puncak kepala Adhara sayang lalu kembali menatap ke arah depan. Adhara terus memperhatikan Chan.
Chan selama ini sudah sangat baik padanya, laki-laki itu juga tampan, tak seperti pertama kali bertemu Chan adalah laki-laki yang cuek langsung patah saat bersama dengannya dan tentu itu membuat Adhara merasa begitu istimewa.
Arche memang baik namun benarkah ia menyukai laki-laki itu? Atau ia hanya kagum pada laki-laki itu? Adhara mendengus kasar ia begitu bingung dengan perasaannya sendiri.
“Lo tahu mereka seperti lo,” ucap Chan sambil menunjuk lampu-lampu indah di hadapan mereka.
Adhara mengerutkan keningnya mendengar hal tersebut lalu menatap Chan yang tengah menatapnya.
“Menjadi penerang pada gedung-gedung yang gelap di malam hari,” ucap Chan yang masih tak Adhara mengerti apa maksudnya.
“Sebelum gue, Arche, Antariksa ketemu lo kita masih begitu gelap, tanpa warna. Kita masih terjebak pada zona yang mengekang kita, sampai lo datang dan menyadarkan kita akhirnya kita bisa keluar dari zona tersebut,” ucap Chan dengan senyumannya yang begitu tulus namun Adhara malah membalasnya dengan senyuman yang begitu sinis.
“Tapi gue juga malah membawa masalah untuk kalian, seperti arus listrik jika ada yang salah sedikit saja bisa mengakibatkan kebakaran yang begitu besar,” ucap Adhara dengan kekehan yang begitu hambar karena itulah yang ia rasakan.
Chan yang keluar dari rumahnya dan menentang orang tuanya entah benar demi dirinya atau untuk laki-laki itu sendiri, Arche yang juga mendapatkan masalah dengan Nora. Jika saja tak ada Adhara mungkin Nora tak akan seberani itu mengungkapkan perasaannya untuk Arche karena takut Adhara merebut Arche.
“Tapi kita gak pernah merasa menyesal karena setelah kebakaran tersebut karena setelahnya kita akan membangun gedung baru yang lebih kokoh dan mewah,” ucap Chan sambil mengelus puncak kepala Adhara menenangkan gadis tersebut.
__ADS_1
Adhara menghela nafasnya lalu menjawabnya dengan anggukan. Setelahnya tak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Mereka saling terdiam dengan pikiran mereka masing-masing.
Hingga saat Chan melihat jam tangannya ternyata jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
“Ayo balik, takut telat besok sekolah,” ucap Chan sambil berdiri lebih dulu baru setelahnya ia membantu Adhara untuk berdiri.
“Elo sih begayaan ngajak gue ke sini udah tau besok sekolah,” marah Adhara pada Chan yang hanya membalasnya dengan kekehan.
“Tapi lo suka kan?” tanya Chan dengan senyumannya.
“Jelas lah,” ucap Adhara dengan begitu keras membuat mereka akhirnya tertawa bersama. Begitu sederhana memang namun mampu membuat kebahagiaan mereka muncul.
Chan rasanya begitu senang bisa membuat Adhara tersenyum dengan begitu lebar tersebut. Menjadi alasan dari gadis yang disukainya tertawa tentu membuat laki-laki itu bahagia.
***
Hai Semua balik lagi nih sama aku.
Btw siapa nih yang udah nunggu Adhara bareng tiga cogannya?
Semoga kalian suka ya, maaf kalau feel kurang dapet dan masih ada typo.
Jangan lupa di tambahkan ke favorite, like, dan koment ya guys.
Follow ig aku ya @hilmiatulhasanah dan @wphilmiath
Oh iya untuk update aku bakal update 2 bab perhari ya guys.
Stay healthy all.
Thank For Reading all.
See You Next Chapter All.
__ADS_1