
Happy Reading All.
***
Arche menggenggam tangan Nora memasuki rumahnya. Arche menoleh ke arah adiknya tersebut saat dirasakannya tangan Nora yang sudah berkeringat dingin.
“Gak papa ada gue di sini,” ucap Arche dengan senyumannya berusaha untuk menenangkan Nora yang kini hanya bisa mengangguk pasrah.
Cepat atau lambat ia juga harus menghadapi semua ini, suka tidak suka, mau tidak mau ini adalah keluarganya. Kali ini Nora ingin egois sebentar saja. Ia ingin mendapatkan keluarga dan berkumpul menjadi keluarga yang bahagia. Gadis itu hanya ingin diakui, diakui sebagai anggota keluarga yang selama ini ia pikir tak ia miliki.
Saat mereka memasuki rumah besar tersebut. Terlihat Mama dan Papa Arche yang tengah berada di ruang tamu sambil melakukan kegiatan mereka masing-masing.
“Arche kamu udah pulang sayang?” tanya Mama Arche dengan senyumannya lalu mengalihkan tatapannya pada anaknya tersebut, setelah terlihat jika anaknya tak sendiri senyuman Miranda seketika luntur melihat gadis yang dibawa Arche.
“Ngapain kamu bawa dia ke sini?” tanya Miranda dengan suara datarnya membuat suaminya menoleh ke arah Arche dan menampilkan wajah yang tidak kalah datarnya dari Miranda membuat Nora yang melihatnya begitu terpukul.
Bagaimana bisa Ayah kandungnya sendiri malah menatapnya dengan begitu datar, seolah memperjelas jika laki-laki itu tak menyukainya.
“Ma, Pa,” ucap Arche dengan lirih melihat reaksi orang tuanya tersebut yang tak menyukai Nora.
“Bawa dia keluar,” ucap Miranda memerintahkan Arche. Mengusir gadis tersebut dengan begitu teganya.
“Tante apa salah saya? Mengapa tante begitu membenci saya?” tanya Nora dengan begitu lirihnya. Ia selalu menghargai mama Arche hingga selalu sabar menerima segala hinaan yang diberikan oleh wanita tersebut.
“Kamu masih bertanya apa salah kamu? Kamu itu tidak pantas dengan anak saya,” ucap Miranda membuat Nora tersenyum getir mendengarnya. Kini ia tahu mengapa Mama Arche begitu menentang hubungannya. Selain karena memang membencinya, sebenarnya Mama Arche melakukannya karena ia tak ingin jika Nora terus mencintai Arche karena Arche adalah kakaknya.
“Saya sudah tidak ingin menjadi kekasih Kak Arche, saya hanya ingin mendapatkan pengakuan dari ayah saya jika saya ada. Dan saya adalah darah dagingnya sendiri,” ucap Nora yang membuat kedua orang tua tersebut terkejut mendengarnya.
“Nora sudah tahu jika dia adalah adik Arche Ma, Pa,” ucap Arche menjelaskan membuat kedua orang tuanya tersebut terkejut mendengarnya.
“Arche sudah tahu semua ini sedari dulu, termasuk kakek dan nenek,” ucap Arche yang kembali membuka suaranya. Ia hanya ingin kini kedua orang tuanya tersebut dapat menerima Nora dan menjadikan Nora sebagai bagian dari keluarga mereka.
__ADS_1
“Dia bukan adik kamu, Mama gak pernah merasa pernah melahirkan dia,” ucap Miranda dengan suaranya yang begitu tegas membuat Arche memejamkan matanya. Nora mengeratkan pegangan tangannya pada Arche berusaha untuk menahan air matanya agar tidak turun.
“Ma bagaimanapun dia adik kandung Arche,” ucap Arche tegas membuat Miranda mengepalkan tangan nya berusaha menahan rasa sakit di hatinya yang kembali mendera.
“Mama gak pernah melahirkan anak selain kamu Arche,” teriak Miranda dengan nafasnya yang sudah menderu.
“Tapi dia anak papa,” ucap Arche menoleh ke arah Papanya yang kini menundukkan kepalanya.
“Bawa dia pergi. Kamu hanya membuat kondisi semakin buruk jika membawa dia,” ucap Adam yang akhirnya membuka suaranya. Arche dan Nora sangat terkejut mendengar ucapan Adam tersebut.
“Urus anak kamu,” ucap Miranda lalu segera pergi dari ruang tamu, Adam yang awalnya menahan tangan istrinya tersebut agar tidak pergi malah di hempaskan dengan kasar oleh Miranda.
“Arche, ini bukan urusan kamu. Bantu mama ke kamar,” ucap Miranda membuat Nora semakin mengeratkan tangannya pada Arche takut jika kakaknya itu malah meninggalkannya.
“Tapi Ma, Nora adik Arche,” ucap Arche membantah perintah Mamanya. Tentu saja ia tak akan membiarkan Nora menghadapi papanya sendiri. mengingat apa yang pernah papanya rencanakan untuk membunuh Nora demi sebuah jabatan.
“Arche,” bentak Mamanya dengan begitu tajam membuat Arche menghela nafasnya kasar lalu segera melepaskan genggaman tangan Nora.
“Kalau ada apa-apa lo teriak aja, gue langsung turun,” ucap Arche yang tak bisa lagi membantah perintah mamanya. Nora membalasnya dengan gelengan namun Arche tetap melepaskan tangan mereka.
Arche menoleh sebentar ke arah Nora yang kini hanya bisa mengangguk pada Arche. Laki-laki itu menghela nafasnya kasar lalu segera menaiki lantai menuju kamar mamanya berada.
“Apa lagi yang kamu inginkan?” tanya Adam dengan suaranya yang begitu datar.
“Apa lagi? Memangnya saya pernah meminta apa pada anda? Memangnya apa yang pernah Anda berikan pada saya?” tanya Nora dengan senyuman sinisnya pada laki-laki yang merupakan ayahnya tersebut.
“Memberikan kamu kesempatan untuk hidup adalah hal besar yang saya berikan untuk kamu,” ucap Adam membuat Nora tertawa sumbang mendengarnya.
“Lebih baik Anda membunuh saya daripada saya harus hidup tanpa keluarga,” ucap Nora dengan air matanya yang mulai mengalir. Bagaimana bisa ia mengemis sebuah keluarga pada seorang pria yang bahkan ingin membunuh dirinya? Membunuh darah dagingnya sendiri.
“Anda tahu, hal terbodoh yang pernah saya lakukan adalah mengharapkan Anda. Sedari kecil saya selalu bertanya kepada ibu saya kemana perginya ayah saya? Saya selalu mengemis pada ibu saya agar dia mempertemukan saya pada sosok ayah saya,” ucap Nora dengan air matanya yang mulai mengalir. Setiap memikirkan masa kecilnya yang begitu berat Nora selalu tersenyum getir.
__ADS_1
“Namun ternyata sosok ayah yang selalu saya idam-idamkan tidak sesuai dengan ekspektasi saya, saya kira ayah saya sama seperti ayah teman-temen saya yang begitu mencintai ayahnya. Namun ternyata ayah saya adalah orang yang bahkan ingin membunuh anaknya sendiri,” ucap Nora melanjutkan ucapannya membuat Adam terdiam mendengarnya.
“Saya begitu bodoh bahkan sampai saat ini, bagaimana saya bisa begitu bodohnya datang ke rumah ini hanya demi mengemis kasih sayang dari Anda. Tidak, saya tidak perlu Anda menyayangi saya. Saya hanya ingin Anda mengakui saya jika saya adalah anak Anda,” ucap Nora dengan berteriak pada Adam yang masih mengatupkan mulutnya seolah tak tahu harus berkata apa untuk menjelaskan semuanya pada putrinya tersebut.
“Kenapa Anda begitu membenci saya? Saya bahkan tak tau apa yang telah saya lakukan hingga Anda begitu membenci saya. Yang melakukan kesalahan adalah Anda tapi kenapa Ayah malah melimpahkan semua deritanya pada saya?” tanya Nora yang membuat Adam tersentak karena Nora memanggilnya Ayah.
Ada rasa yang begitu senang saat mendengar kata tersebut keluar dari putrinya tersebut namun jauh di dalam sana bahkan laki-laki itu sendiri tidak dapat menemukan perasaan tersebut.
“Sudah cukup? Silahkan keluar dari rumah ini. Saya tidak ingin melihat kamu lagi, dan jangan dekati keluarga saya lagi,” ucap Adam yang sudah membalikkan tubuhnya untuk pergi dari sana namun ucapan Nora selanjutnya membuat laki-laki itu menghentikan langkahnya.
“Apa aku bukan keluarga Ayah?” tanya Nora dengan tangisnya yang sudah pecah. Adam memejamkan matanya berusaha menahan sesak di dadanya mendengar ucapan putrinya tersebut.
“Keluar dari rumah saya sebelum saya menyakiti mu,” ucap Adam membuat Nora tersebut getir dan sudah hendak keluar dari rumah tersebut. Namun sebuah suara menghentikan langkah gadis tersebut.
***
Hai Semua balik lagi nih sama aku.
Btw siapa nih yang udah nunggu Adhara bareng tiga cogannya?
Kalau kalian ada pertanyaan silahkan di ajukan ya, nanti aku jawab. Menerima kritik dan saran.
Semoga kalian suka ya, maaf kalau feel kurang dapet dan masih ada typo
Jangan lupa di tambahkan ke favorite, like, dan koment ya guys.
Follow ig aku ya @hilmiatulhasanah dan @wphilmiath
Tim Interaksi udah aku aktifkan nih, yuk guys join.
Stay healthy all.
__ADS_1
Thank For Reading all.
See You Next Chapter All.