Atmosphere

Atmosphere
Himalia


__ADS_3

Info: Himalia adalah salah satu bulan yang berada di planet Yupiter


Happy Reading All.


***


Sesuai yang telah bicarakan kini Arche, Adhara, juga Chan tengah berada di mobil Arche untuk menuju rumah Antariksa untuk menjenguk laki-laki tersebut.


Adhara kini duduk di belakang kedua laki-laki tersebut yang tengah berbincang tentang masalah pembelajaran yang Adhara tak mengerti jadilah ia hanya sibuk memainkan ponselnya sendiri.


“Nanti malem jadi lo?” tanya Arche pada Chan membuat Adhara mengerutkan keningnya dan menajamkan pendengarnya untuk mengetahui apa yang akan dilakukan laki-laki itu malam ini.


“Jadi sih kayaknya, tanya Anta aja,” ucap Chan membuat Arche mengangguk Adhara yang mendengarnya semakin di buat penasaran dengan segera mendekatkan dirinya pada kedua laki-laki tersebut. Menolehkan kepalanya melihat Arche dan Chan membuat laki-laki itu mengerutkan keningnya bingung melihat tingkah Adhara.


“Kenapa?” tanya Chan dengan kerutan di keningnya.


“Mau kemana lo? Mau ngapain? Sama siapa? Mau mabok ya kalian? Gue ikut,” ucap Adhara dengan pertanyaannya yang begitu banyak membuat Chan memutar bola matanya jengah mendengar ucapan Adhara tersebut.


“Mabok pala lo, udah lo diem aja di rumah gak usah kemana mana,” ucap Chan dengan santainya membuat Adhara mengerucutkan wajahnya kesal mendengar ucapan laki-laki tersebut.


Padahal ia hanya khawatir dengan Chan, takut jika saat laki-laki itu tengah mabuk malah akan ada yang mencelakainya dan ia tak bisa menolongnya.


“Kita gak kemana-mana kok Cuma ada urusan aja, lo mending di rumah,” ucap Arche dengan begitu lembutnya memberikan penjelasan pada Adhara.


Senyuman Adhara terlihat mengembang mendengar kelembutan yang Arche berikan padanya, memang sangat berbeda dengan Chan yang selalu saja ketus padanya, walau tak jarang memang laki-laki itu begitu perhatian dan baik padanya.


“Kalian hati-hati,” ucap Adhara membuat kedua laki-laki itu mengangguk. Chan berusaha menahan dirinya, ia begitu tak suka senyuman Adhara itu ditujukan untuk Arche mengingat ia begitu tahu jika Adhara menyukai laki-laki itu. Namun Chan hanya bisa menahannya dan berusaha bersabar mengingat Arche jugalah sahabatnya.


Hingga tak lama akhirnya mereka sampai di depan rumah Antariksa yang terlihat menjulang begitu tinggi. Adhara segera turun dari mobil Arche begitupun dengan kedua laki-laki tersebut. Mereka langsung menuju pintu utama dan memencet bel beberapa kali hingga tak lama akhirnya pintu terbuka menampilkan Mama Antariksa yang menyambut mereka dengan senyuman.


“Adhara, Arche, Chan ayo masuk,” ajak Arpina sambil menarik Adhara menggenggam tangan gadis itu untuk mengajaknya masuk. Ia tentu saja begitu senang melihat kedatangan Adhara karena ia sudah merindukan gadis tersebut, rasanya sudah lama ia tak berbincang bersama dengan Adhara.


“Sky di mana Ma?” tanya Adhara saat tak melihat keberadaan gadis tersebut.


“Ada di kamarnya tuh,” ucap Arpina sambil menoleh ke arah atas di mana kamar Sky berada. Adhara membalasnya dengan anggukan lalu mereka segera duduk di ruang tamu.


“Tante kita ke sini mau jengun Antariksa, Anta nya udah bangun?” tanya Chan menyampaikan maksud kedatangannya pada Mama sahabatnya tersebut.

__ADS_1


“Udah Chan, mending kalian langsung ke kamar Antariksa aja, biar Mama siapin makanan untuk kalian,” ucap Arpina dengan senyumannya sambil mengelus puncak kepala Adhara sayang.


“Ya udah Ma, kita ke kamar Antariksa dulu,” ucap Adhara dengan senyumannya yang dibalas dengan anggukan dan senyuman oleh Arpina.


Setelahnya mereka segera menuju kamar Antariksa dengan kehebohan yang dibuat oleh Adhara. Namun sebelum menuju ke kamar Antariksa, Adhara lebih dulu menuju ke kamar Sky untuk mengganggu gadis itu.


“Sky keluar lo,” teriak Adhara dengan tidak sabarnya. Suara melengking gadis itu segera membuat Sky membuka pintunya dengan tidak sabaran.


“Ssst jangan rame-rame macan lagi sakit ntar yang ada lo di amuk,” ucap Sky pada Adhara sambil menunjuk pada pintu kamar Antariksa yang berada tepat di samping kamar Sky.


Bukannya menuruti apa yang Sky katakan gadis itu malah terus mengeraskan suaranya membuat Sky menggeleng melihat tingkah Adhara, gadis itu hanya tak tahu saja bagaimana menyerahkannya Antariksa saat sedang sakit seperti ini.


“Ya masak di rumah gede gini gak teriak-teriak, harus teriak dong biar seisi rumah tau kalau gue dateng,” ucap Adhara masih mengeraskan suaranya. Hingga terdengar lemparan benda ke arah pintu kamar Antariksa yang cukup keras membuat Adhara kaget hingga terjengkang ke belakang.


“Eh gila gamok dia,” ucap Adhara dengan tawanya.


Sky benar-benar tak habis pikir dengan sikap Adhara tersebut yang tak ada takutnya mengganggu Antariksa yang tengah sakit tersebut.


“Ayo ke kamar kakak lo,” ajak Adhara yang dibalas dengan anggukan oleh Sky.


Saat memasuki kamar Antariksa gadis itu bukannya mengecilkan suaranya karena takut Antariksa yang mengamuk lagi, gadis itu malah gencar mengerjai Antariksa.


Adhara memungut benda yang Antariksa gunakan tadi untuk melempar pintu kamarnya yang ternyata menggunakan patung bergambar gitar miliknya.


Adhara segera meletakkan di depan nakas milik laki-laki itu lalu meneliti wajah Antariksa yang sepertinya ada yang aneh hingga saat menyadari keanehannya sontak Adhara kembali tertawa dengan begitu keras.


“Muka lo kenapa Ta?” tanya Adhara di sela tawanya.


Antariksa hanya memutar bola matanya malas meriak reaksi Adhara yang melihat wajah Antariksa banyak bentol bentol berwarna merah, tak hanya wajahnya bahkan seluruh tubuhnya.


“Alergi udang,” ucap Sky menjawab pertanyaan Adhara.


Adhara hanya bisa menggeleng dengan tawanya. Ia tak menyangka laki-laki seperti Antariksa memiliki alergi.


“Besok gue bawain udang yang banyak,” ucap Adhara dengan senyumannya membuat Antariksa yang kesal melihat wajah tengil di depannya tersebut langsung melempar wajah Adhara dengan bantalnya membuat tawa mereka seketika pecah karena kehebohan yang dilakukan Antariksa juga Adhara.


Hingga tak lama Mama Antariksa datang dengan membawakan minuman dingin dan makanan ringan untuk mereka.

__ADS_1


“Turun dulu yuk makan,” ajak Arpina dengan senyumannya membuat mereka mengangguk dan segera berjalan untuk turun dan menikmati makanan yang Arpina buatkan.


Di jalan menuruni tangga Adhara menarik Sky kebelakang membuat gadis itu mengerutkan keningnya bingung.


“Kenapa?” tanya Sky dengan kerutan di dahinya.


“Gue mau cari kerja part time gitu, kira-kira lo tau di mana?” tanya Adhara sambil menggigit bibir bagian bawahnya merasa kurang yakin menanyakan hal tersebut pada Sky.


“Lo yakin mau kerja part time? Gimana kalau salah satu dari mereka tau?” tanya Sky yang merasa takut jika salah satu dari laki-laki itu tahu dan malah marah padanya. Apa lagi kakaknya yang kasar itu jika tahu ia yang memberikan Adhara pekerjaan mungkin Sky akan langsung di jadikan lalapan.


“Lo tenang aja mereka gak akan tahu, gue butuh banget Sky. Lo tau sekarang gue juga tinggal sama Chan. Kebutuhan semakin banyak,” ucap Adhara menghela nafasnya kasar.


Sky berpikir sejenak ia merasa takut juga merasa kasihan dengan Adhara. Sky akhirnya menghela nafasnya dan mengangguk.


“Gue ada sih, besok gue temenin ke sana,” ucap Sky membuat Adhara langsung tersenyum mendengarnya.


“Makasih Sky,” ucap Adhara sambil memeluk Sky membuat Sky membalas pelukan tersebut.


Akhirnya setelah itu mereka langsung menuju ruang makan menyusul ketiga laki-laki tersebut yang sudah lebih dulu berada di ruang makan.


***


Hai Semua balik lagi nih sama aku.


Btw siapa nih yang udah nunggu Adhara bareng tiga cogannya


Semoga kalian suka ya, maaf kalau feel kurang dapet dan masih ada typo


Jangan lupa di tambahkan ke favorite, like, dan koment ya guys.


Follow ig aku ya @hilmiatulhasanah dan @wphilmiath


Oh iya untuk update aku bakal update 2 bab perhari ya guys


Stay healthy all.


Thank For Reading all.

__ADS_1


See You Next Chapter All.


__ADS_2