Atmosphere

Atmosphere
Taurus


__ADS_3

Happy Reading All.


***


Sudah tiga hari berlalu semenjak Antariksa meninggal dunia. Dan kini hari pertama Adhara dan sahabatnya yang lain kembali bersekolah setelah libur beberapa hari.


Pagi ini Adhara segera berangkat lebih pagi dari biasanya, bahkan tidak menunggu Chan yang mengatakan akan menjemputnya. Sekolah saat ini masih begitu sepi dan tujuan Adhara kali ini adalah kelas ketiga sahabat laki-laki nya tersebut berada.


Terlihat kelas tersebut masih kosong, belum ada yang datang. Di meja Antariksa dan Angkasa terlihat berbagai not serta bunga yang berada di sana. Adhara segera berjalan ke arah meja tersebut dan membaca not yang kebanyakan ucapan selamat jalan dan doa untuk Antariksa.


“Lihat Ta, banyak banget orang yang sayang sama lo,” ucap Adhara sambil membaca satu persatu note yang tertulis di sana.


Hingga tangannya menggapai sebuah foto, foto yang berisi dirinya, Antariksa, juga sahabatnya yang lain. Yang terlihat tertawa begitu lepas. Seolah mereka akan terus berbahagia bersama, tanpa tau hari ini akan terjadi.


Adhara menundukkan kepalanya di meja Antariksa, menangis dengan begitu keras di meja laki-laki tersebut. Segala kenangan nya dengan Antariksa terus berputar bak kaset rusak yang susah untuk dihentikan.


“Kenapa lo ninggalin gue Antariksa? Siapa lagi yang bakalan berantem sama gue? Gue kangen Antariksa,” tangis Adhara yang terdengar begitu menyedihkan.


Teman sekelas ketiga laki-laki tersebut yang sudah datang bahkan mengurungkan diri untuk masuk dan menunggu di depan kelas. Tentu mereka tak ingin mengganggu Adhara, dan memberikan ruang untuk gadis tersebut. Mereka semua tau bagaimana persahabatan mereka jadi mereka lebih memilih untuk diam.


“Ngapain kalian di luar?” tanya Arche yang baru datang bersama dengan Chan. Laki-laki tersebut terlihat begitu bingung saat melihat teman-teman sekelasnya yang malah berada di luar kelas.


“Itu,” tunjuk salah satu teman mereka, menunjuk Adhara yang masih menangis dengan menelungkupkan wajahnya di meja. Sedangkan tangannya menggenggam foto mereka dengan begitu erat.


Saat melihat hal tersebut Chan dan Arche segera masuk dan menghampiri Adhara. Chan mengelus puncak kepala Adhara sayang membuat gadis tersebut segera mendongak dengan air matanya yang masih mengalir.


Chan menghela nafasnya lalu membawa Adhara kedalam pelukannya membuat gadis tersebut semakin melepaskan tangisnya. Arche mengelus punggung Adhara berusaha memberikan kekuatan pada gadis tersebut.


“Adhara jangan gini terus. Lo inget apa kata Antariksa? Lo harus bahagia, lo gak boleh nangisin dia,” ucap Arche mengingatkan sahabatnya tersebut tentang apa yang Antariksa sampaikan.


Ia tahu kini Adhara pasti merasa begitu kehilangan, mengingat bagaimana gadis tersebut yang begitu dekat dengan Antariksa.


“Gue gak bisa, gue gak bisa nahan ini. Antariksa yang janji sama gue buat selalu ada buat gue, tapi kenapa sekarang dia ninggalin gue?” tanya Adhara sambil melepaskan pelukannya dari Chan.

__ADS_1


Chan menghela nafasnya kasar lalu berlutut di depan Adhara yang kini terlihat begitu rapuh. Tidak ada lagi sosok gadis ceria dan petakilan yang selalu gadis itu tunjukkan kini yang ada hanya Adhara dengan mata panda nya.


“Gue tau ini pasti sulit tapi lo pasti bisa,” ucap Chan sambil menggenggam tangan Adhara. Gadis tersebut terus menundukkan kepalanya membuat Chan semakin tidak tega.


“Sekarang hapus air matanya dan senyum yang lebar biar Anta ikut bahagia liat lo bahagia,” ucap Chan yang membuat Adhara akhirnya menghapus air matanya walau air mata tersebut terus saja mengalir di matanya.


Sebelum gadis tersebut keluar dari kelas tersebut, Adhara menyempatkan diri untuk berjalan ke arah meja Angkasa lalu menendang meja tersebut keras membuat meja tersebut roboh. Orang yang melihatnya tentu saja begitu kaget. Karena info yang beredar adalah Angkasa dan Antariksa meninggal dalam sebuah kecelakaan.


“Lo pikir seorang pembunuh pantes dapat penghormatan seperti ini?” tajam Adhara lalu segera keluar dari sama dengan amarahnya membuat siapapun takut mencari masalah dengan gadis tersebut.


Adhara berjalan di koridor dengan begitu lesu, siapapun pasti akan tahu jika kondisi gadis tersebut sedang tidak baik-baik saja. Dengan wajahnya yang begitu sendu. Siapa yang berani mengganggunya?


Saat tak sengaja melewati ruang BK Adhara kembali mengingat tentang kenangannya bersama Antariksa.


Mengingat tentang Angtariksa, walau mereka baru berteman kurang dari satu tahun, namun kenangan yang mereka buat terlalu banyak. Masih ia ingat saat mereka dihukum bersama karena ulahnya.


Saat itu mereka bersama pergi ke mall. Dan Antariksa dengan baik hatinya mentraktir mereka membeli sepatu. Ide konyol Adhara dan Sky saat muncul hingga membuat mereka membeli sepatu dengan warna dan model yang sama.


Sampai saat lewat di depan ruang BK mereka malah bertemu dengan Mr. Arya yang memang begitu tegas dan tak pandang bulu dalam memberikan hukuman.


“Adhara, sepatu warna apa yang kamu pakai itu?” tanya Mr. Arya sambil berkacak pinggang dan menatap kelima muridnya tersebut tajam.


“Ihh Mr. masak gak tau ini warna apa? Ini warna biru,” ucap Adhara dengan senyumannya memberitahu pada gurunya tersebut.


“Kalian ini sangat tidak tahu aturan, sudah jelas dilarang memakai sepatu selain hitam kalian malah memakai sepatu berwarna biru,” ucap Mr. Arya dengan wajah memarah menahan amarahnya menghadapi muridnya tersebut.


“Ini pak si Anta yang salah, masak katanya dia mau pamer kalo yang beliin sepatu ini dia jadi kita disuruh pake,” kompor Adhara yang membuat Antariksa memelototkan matanya mendengar ucapan gadis tersebut yang tidak ada benarnya sama sekali.


“Lo kalo ngomong suka playing victim ya. Jelas-jelas lu yang maksa kita buat makek ini,” ucap Antariksa sambil memukul kepala Adhara kasar membuat gadis tersebut mengerucutkan bibirnya.


“Lah kok lo malah nyalahin gue? Dosa Ta, bohong kayak gitu apalagi sampai ngefitnah gue,” ucap Adhara sambil menggelengkan kepalanya.


“Ngaca Ra, ngaca,” ucap Antariksa sambil mengusap wajah Adhara. Melihat pertengkaran kedua sahabatnya tersebut ketiga orang tersebut hanya menggeleng sedangkan Mr. Arya semakin kuat menahan amarahnya.

__ADS_1


“Stop, berhenti. Kalian malah ribut. Udah mending sekarang kalian lari keliling lapangan lima kali,” ucap Mr. Arya tegas.


“Siap Mr.” ucap Adhara dan segera mengajak sahabatnya yang lain berlari, namun bukannya berjalan ke arah lapangan kelima orang tersebut malah lari ke arah kantin.


Senyuman Adhara terlihat semakin sendu saat mengingat kenangan tersebut yang tak bisa lagi di ulang. Kini semua itu hanyalah sebuah kenangan yang pasti tak akan mereka lupakan.


***


Hai Semua balik lagi nih sama aku.


Kalian gak sendiri kok nangisnya. Aku juga nangis guys. Ayo pelukan online


Detik-detik menuju ending nih. Kalian udah siap belum?


Mulai sekarang aku update nya 1k kata perhari ya, karena cerita ini juga udah mau taman nih.


Semoga kalian suka ya, maaf kalau feel kurang dapet dan masih ada typo


Jangan lupa di tambahkan ke favorite, like, dan koment ya guys.


Follow ig aku ya @hilmiatulhasanah dan @wphilmiath


Tim Interaksi udah aku aktifkan nih, yuk guys join.


Stay healthy all.


Thank For Reading all.


See You Next Chapter All.


Jangan lupa baca cerita ku yang baru ya guys.


__ADS_1


__ADS_2