
Margaret adalah salah satu nama Bulan yang berada di Uranus.
Happy Reading All.
***
Mentari pagi ini bersinar dengan begitu terik membuat suasana upacara yang sudah membuat mereka lelah semakin membuat para siswa siswi tersebut malas untuk berdiri terlalu lama lagi. Adhara yang sudah mulai kepanasan terus saja menggerutu pada upacara yang kali ini berlangsung begitu lama.
“El gue mau pingsan jagain ya, biar gak sakit punggung gue pas jatoh,” ucap Adhara membuat Elara yang berada di belakangnya langsung saja menggeplak kepala Adhara dengan keras. Membuat Adhara mengaduh kesakitan.
“Sakit bego,” ucap Adhara sambil mengelus kepalanya yang terkena pukulan dari Adhara.
“Lagian lo ada-ada aja,” ucap Ariel yang berada di samping Elara sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah Adhara.
“Gue serius nih, gue udah gak kuat lagi. Kalo ada kamera juga gue udah melambaikan tangan,” ucap Adhara mengingat salah satu acara uji nyali tersebut.
“Pingsang aja Dhar, tar gue bantuin sekalian jagain,” ucap Sky mendukung Adhara membuat Adhara mengacungkan jarinya.
“Muka gue udah meyakinkan belum?” tanya Adhara sambil menunjukkan wajahnya pada Sky membuat ketiga gadis yang tak lain adalah temannya itu sontak menggelengkan kepalanya.
“Mana ada orang sakit mukanya sumringah cerah gitu, udah lah bibir masih pink, gak ada pucat-pucatnya sama sekali,” ucap Elara membuat Adhara berpikir lalu menoleh ke arah Sky.
“Bedak Sky,” ucap Adhara mengulurkan tangannya pada Sky. Sky yang mengerti segera mengeluarkan benda yang selalu dibawanya di saku roknya.
Adhara dengan begitu tak sabaran menggunakan bedak tersebut hingga ke bibirnya untuk membuat kesan pucat di sana.
“Nah udah kan?” tanya Adhara lagi yang dibalas dengan anggukan oleh teman-temannya.
“Lumayan lah,” ucap Ariel membuat senyuman Adhara mengembang dengan begitu indah. Memang ada-ada saja kelakuan gadis tersebut.
Hingga tak beberapa lama terdengar suara orang terjatuh bersamaan dengan suara teriakan yang begitu menggelegar dari temannya yang ikut mendramatisir keadaan. Mereka adalah Adhara yang sudah terkapar di lantai lapangan dengan Sky yang begitu pandai membuat drama keterkejutannya.
Sontak semua langsung menoleh pada mereka. Anggota PMR segera menghampiri Adhara dan segera mengangkat gadis itu dengan tandu.
“Kak Sky mending gak usah ikut,” ucap salah satu anggota PMR yang sepertinya adalah adik kelas mereka.
“Gue temannya kalau dia kenapa-napa gimana? Lo mau di salahin sama tiga pangeran?” tanya Sky dengan ancamannya membuat anggota PMR tersebut akhirnya tak bisa melarang Sky untuk ikut dengan mereka menuju UKS.
__ADS_1
Sky tersenyum begitu cerah sambil mengedipkan sebelah matanya pada Elara dan Ariel yang hanya bisa menggeleng melihat tingkah dua gadis tersebut yang selalu ada saja tingkah yang mereka lakukan.
“Duo ular,” ucap Ariel membuat Elara mengangguk sambil tertawa.
Disisi lain tiga pangeran tersebut tengah duduk di pinggiran lapangan. Tak ada yang berani untuk menegur mereka selain para guru, namun kini semua guru tengah berada di depan mengawasi dari depan para murid-muridnya. Dan yang berjaga di bagian belakang adalah anggota osis juga PMR.
“Tar ada jadwal balapan gak?” tanya Chan sambil menenggak minuman yang di bawanya dengan begitu santai. Sungguh tidak tahu aturan dan tidak dapat di contoh. Bagaimana bisa hanya untuk upacara saja mereka tidak bisa ikut dan menghargai jasa para pahlawan yang dulu sudah berjuang mati-matian.
“Kayaknya gak ada,” ucap Antariksa membuat Chan membalasnya dengan anggukan.
“Lo kenapa Ar?” tanya Antariksa saat melihat wajah Arche yang terlihat murung sedari tadi. Bahkan sedari mereka bertemu wajah laki-laki itu terus saja murung bagai banyak sekali beban pikiran yang tengah dirasakan oleh laki-laki tersebut.
Arche menghela nafasnya kasar, sepertinya memang tak ada salahnya memberitahukan semua ini pada sahabatnya. Lagi pula Chan sudah mengetahui semuanya karena saat ayah laki-laki itu memberitahukan berita ini Chan juga berada di sana.
“Gue udah ngasih tau Nora kalau dia adik gue,” ucap Arche yang langsung membuat Antariksa terkejut mendengarnya sedangkan Chan hanya memasang wajah datarnya.
“Bentar, bentar. Nora adik lo?” tanya Antariksa yang terkejut mendengarnya. Karena ia memang tidak tahu apapun, ia tak tahu jika Nora adalah adik Arche.
“Anak dari selingkuhan papanya,” uap Chan menjelaskan yang langsung membuat Antariksa semakin terkejut mendengarnya.
“Pantes aja nyokap lo gedek banget Nora,” ucap Antariksa membuat kedua sahabatnya itu menganggukkan kepalanya. Mereka tahu apa yang kini tengah dipikirkan oleh Antariksa tentang Mama Arche yang begitu membenci Nora.
“Gak salah sih sama sikap Mama lo itu,” ucap Antariksa sambil mengangguk bagai mendukung sikap Mama Arche. Karena ia tahu mama Arche hanya merasa sakit hati atas apa yang dilakukan suaminya.
“Terus gimana?” tanya Chan menanyakan bagaimana dengan sikap Nora saat gadis itu mengetahui semua fakta ini. Arche menghela nafasnya berat jika mengingat hal tersebut.
“Dia kayaknya masih gak mau nerima semua ini,” ucap Arche memberitahukan. Chan menepuk punggung Arche menguatkan sahabatnya itu.
“Dia bakal nerima ini lambat laun, dia Cuma butuh waktu,” ucap Chan menasehati yang dibalas dengan anggukan oleh Arche juga Antariksa.
Setelahnya mereka langsung terdiam dengan pikiran mereka masing-masing hingga terdengar suara jeritan yang memekkan telinga. Mereka sontak melihat ke arah sumber suara yang kini sudah dikerumuni oleh para anggota PMR.
Tak lama anggota PMR tersebut keluar dari barisan dengan membawa seorang gadis di atas tandu, dan di belakangnya terlihat teman gadis tersebut yang menemani.
“Ngulah lagi,” ucap Antariksa sambil menggeleng saat melihat yang berada di tandu tersebut adalah Adhara di belakangnya adalah Sky dengan drama wajah khawatirnya.
“Orang kaya Adhara bisa pingsan?” tanya Arche tidak percaya jika gadis itu bisa selama itu hingga pingsan hanya karena terik matahari pagi.
__ADS_1
“Mereka mah bisa nya drama bukan pingsan,” ucap Chan membuat Antariksa membalasnya dengan anggukan dan acungan jempol.
“Yok lah ikuti,” ucap Chan yang mendapatkan anggukan dari kedua sahabatnya itu. Itung-itung ikut nebeng agar mereka tak perlu lagi mendengarkan ceramah kepala sekolah yang begitu panjang tersebut.
“Biar kita yang bawa dia,” ucap Antariksa pada anggota PMR yang membawa Adhara mereka sudah akan protes namun saat melihat tatapan Antariksa yang begitu tajam akhirnya mereka mengurungkannya.
“Sky bantu gotong mayatnya,” ucap Antariksa membuat Adhara ingin sekali rasanya memukul kepala Antariksa yang mengatainya mayat tersebut.
Sky segera membantu membawa tandu tersebut tanpa mau membuat sahabat dan kakaknya itu menunggu.
Selanjutnya mereka segera membawa tandu tersebut menuju ruang gudang yang sudah mereka sulap menjadi markas mereka. Mereka sengaja membawa Adhara ke sana karena mereka tahu pasti di UKS saat ini ada dokter yang tengah berjaga.
Kebetulan sekali ruang UKS dan gudang belakang berada di jalan yang sama.
“Enak banget dah, berasa lagi di pantai,” ucap Adhara dengan senyuman mengembangnya.
***
Hai Semua balik lagi nih sama aku.
Btw siapa nih yang udah nunggu Adhara bareng tiga cogannya?
Kalau kalian ada pertanyaan silahkan di ajukan ya, nanti aku jawab. Menerima kritik dan saran.
Semoga kalian suka ya, maaf kalau feel kurang dapet dan masih ada typo
Jangan lupa di tambahkan ke favorite, like, dan koment ya guys.
Follow ig aku ya @hilmiatulhasanah dan @wphilmiath
Aku bakalan up 2 part tiap harinya ya. Semoga kalian gak bosen ya.
Stay healthy all.
Thank For Reading all.
See You Next Chapter All.
__ADS_1