
Happy Reading all.
***
“Chan bangun udah siang.” Adhara menggoyangkan lengan Chan membangunkan laki-laki tersebut yang masih setia bergelung di balaik selimutnya.
Chan hanya melenguh panjang lalu membenarkan posisi tidurnya menarik selimut untuk menutupi tubuhnya karena merasa dingin. Adhara menghela nafasnya panjang lalu dengan kesal menarik selimut Chan membuat laki-laki itu berdecak.
Laki-laki itu membuka matanya perlahan saat melihat Adhara yang kini berada di hadapannya, laki-laki itu terkejut hingga terpenjat kebelakang karena keberadaan Adhara di sana.
“Lo kenapa lo bisa di sini?” tanya Chan sambil menatap Adhara dengan tatapan tajamnya.
“Ini Apartemen gue, dan ini kamar gue,” kesal Adhara dengan nada suaranya yang mengeras. Laki-laki di depannya itu memang suka sekali membuatnya emosi apa lagi ini masih pagi dan laki-laki itu sudah menghancurkan moodnya.
Chan melihat kesekaliling lalu tersadar jika kamar kecil itu bukanlah kamarnya. Saat melihat baju yang di gunakannya Chan memelotot karena baju hitam yang pas di tubuhnya itu bukanlah miliknya.
“Apa yang lo lakuin sama gue?” tanya Chan menatap Adhara dengan tajam.
Adhara yang di tuduh wanita tidak baik menipiskan bibirnya dengan pipi cabi nya yang mengembung. Ia merasa sangat kesal di tuduh seperti itu.
Adhara berjalan ke arah keranjang baju kotor lalu mengambil baju Chan yang bekas muntah dengan kedua jari gadis itu. Lalu dengan kesal menyerahkannya pada Chan.
“Noh liat, udah untung gue bantuin, bukannya bilang makasih malah nuduh gue,” ucap Adhara dengan wajah kesalnya.
Chan yang merasa tidak enak hati karena sudah menuduh Adhara yang tidak-tidak mengelus tengkuknya yang tak gatal.
“Sorry,” ucap Chan dengan suarnya yang sangat kecil bahkan nyaris seperti bisikan.
“Hah apa?” tanya Adhara menggoda Chan sambil mendekatkan telinganya pada Chan.
“Sorry Adhara,” teriak Chan tepat di telinga Adhara yang sontak membuat Adhara menjauh.
Adhara langsung mengelus telinganya yang terasa akan segera tuli mendengar teriakan Chan yang begitu memekak telinganya.
“Sialan lo Chan telinga gue tuli, gue patahin lidah lo,” kesal Adhara yang memutuskan untuk segera keluar dan menyiapkan sarapan dari pada harus mengurus Chan yang hanya menguji amarahnya itu.
Chan menghela nafannya memutuskan untuk ke kamar mandi membersihkan tubuhnya dan langsung pulang setelahnya. Kepalanya masih sedikit pusing akibat mabuk semalam namun ia berusaha untuk menahannya.
***
Nash Higt School kali ini di buat begitu heboh dengan foto yang tertempel di mading utama sekolah. Adhara yang baru saja datang terlihat mengerutkan keningnya saat melihat mading yang kini penuh sesak dengan para murid yang mengerubungi Mading.
“Ada apa dah rame banget,” tanya Adhara pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Tidak ingin di buat penasaran gads itu segera berjalan ke arah mading hingga seluruh tatapan siswa-siswi NHS tertuju padanya dengan tatapan mencemooh walau ada juga yang mendukungnya.
“Anak beasiswa belagu deketin pangeran apa kagak malu?”
“Cantik sih tapi pelakor,”
“Sok imut gak ada cocok cocoknya sama Chan,”
“Cantik ini timbang Laura pantes aja sih kalo Chan lebih tertarik,”
“Sama ini aja gue dukung, si Laura terlalu sombong,”
Begitulah berbagai ucapan yang para siswa-siswi itu katakan Adhara yang tidak mengerti apa yang terjadi segera menerobos di tengah kerumunan hingga saat sampai di depan mading matanya memelotot tajam melihat fotonya yang tengah memapah Chan menujur apartemennya juga foto Chan yang keluar dari apartemennya dengan baju lusuhnya. Jelas itu bukanlah gaya Chan.
Dengan kesal Adhara mengambil foto yang berada di sana lalu merobeknya dengan kesal.
“Ngapain masih berdiri sini? Pergi sana,” usir Adhara yang setelahnya langsung pergi dengan tangannya yang mengepal.
Ia harus mencari tahu siapa yang telah menyebarkan foto tersebut. Lihat saja saat Adhara menemukannya ia tak akan mengampuni orang tersebut ia berjanji akan mematahkan tangan orang tersebut.
Saat memasuki kelasnya pun tatapan penghuni kelas langsung tertuju padanya dengan tatapan penasaran walau ada juga yang menatapnya dengan meremehkan.
“Cie Adhara sama Chan,” ucap Gio salah satu anak kelas Adhara.
Seisi kelas sontak menyoraki Adhara membuat kepala Adhara rasanya begitu pening mendengar sorakan temannya itu.
“Udah lah Ra gak usah ngelak,” ucap Mega dengan senyuman menggodanya.
Adhara memutar bola matanya malas. Jika sudah begini apa yang bisa ia lakukan selain membiarkan teman-temannya berpikir sesuka hati tentangnya.
“Gimana tadi malam Ra?” tanya Elara dengan senyuman menggoda nya saat Adhara sudah duduk di mejanya.
“Kalian gak usah ikut-ikutan deh,” ucap Adhara dengan malas. Kedua sahabatnya itu membalasnyda dengan kekehan. Ia tahu jika Adhara tidak mungkin melakukan hal tersebut apa lagi mereka tahu laki-laki yang mereka suka adalah Arche.
“Adhara,” panggilan yang begitu melengking tersebut membuat Adhara menoleh ke sumber suara yang ternyata adalah Sky yang tengah berjalan ke arahnya.
“Sky, kenapa?” tanya Adhara dengan kerutan di dahinya.
“Mama ngundang lo buat kerumah, nanti pulang sekolah bareng ya. Gue gak nerima penolakan, dadah Adhara,” ucap Sky yang langsung pergi setelah mengatakan hal tersebut. Adhara hanya bisa menggeleng melihat tingkah gadis satu itu.
***
Sesuai janjinya dengan Sky pulang sekolah Adhara benar pulang bersama Sky. Kini mereka sudah sampai di depan rumah mewah milik Sky.
Mereka segera turun yang langsung di sambut oleh wanita paruh baya yang masih terlihat begitu cantik walau tidak muda lagi.
“Mama,” sapa Sky yang langsung memeluk mamanya dan mencium pipi wanita tersebut.
__ADS_1
“Ma kenalin ini Adhara yang aku ceritain tad,” ucap Sky memperkenalkan Adhara pada sang Mama.
Adhara mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan wanita tersebut sekaligus berkenalan.
“Halo tante saya Adhara,” ucap Adhara dengan senyumannya yang di balas juga dengan senyuman oleh wanita tersebut.
“Halo Sayang, panggil Mama aja ya biar sama kayak Sky,” ucap Ibu Sky, Arpina.
“Hehe iya ta… eh Mama,” ucap Adhara gugup. Arpina dan Sky yang mendengarnya hanya terkekeh lalu wanita itu segera mengajak Adhara untuk masuk.
“Oh iya Mama baru aja selesai buat kue, bentar ya Mama ambil dulu, kalian duduk dulu,” ucap Arpina yang setelahnya langsung masuk ke dapur untuk mengambil kue untuk Sky dan Adhara.
Tak beberapa lama setelah Sky dan Adhara tengah asik mengobrol Arpina datang dengan membawa kue dan minuman untuk kedua gadis tersebut.
“Nah ini ayo silahkan di makan,” ucap Arpina dengan senyumannya.
“Gimana enak?” tanya Arpina yang langsung di balas dengan anggukan oleh Adhara.
“Wah ini enak banget Ma,” ucapAdhara dengan senyumannya karena memang kue bronis tersenyum begitu nikmat.
“Lain kali Mama bisa ajarin aku?” tanya Adhara dengan penuh harap agar Arpina mau mengajarinya membuat kue tersebut.
“Tentu saja Sayang, kamu harus sering-sering main ke sini. Nanti Mama ajarin buat bronis nya,” ucap Arpina yang di balas dengan anggukan oleh Adhara.
Setelahnya mereka melanjutkan obrolan dengan sesekali bercanda bersama saat Arpina menceritakan masa kecil Sky dan Antariksa. Adhara begitu nyaman berada di sana ia merasa memeiliki keluarga di tengah keluarganya yang kini tengah berada jauh.
***
Thank for Reading all
Hai semua apa kabar?
Aku datang lagi nih dengan cerita baru yang pastinya gak kalah seru sama cerita sebelumnya.
Semoga kalian suka ya sama ceritanya maaf kalau masih banyak typo dan feel kurang dapet.
Jangan lupa untuk Like, Koment, tambah ke favorite.
See You Next Chapter all.
__ADS_1