Atmosphere

Atmosphere
Eridanus


__ADS_3

Happy Reading All.


***


Sebuah gedung tinggi dengan bangunan konstruksi yang belum jadi, kini malah menjadi tempat penyekapan seorang gadis cantik yang masih setia memejamkan matanya. Matahari kini perlahan mulai menampakkan dirinya menunjukkan warna jingga yang begitu memukau mata.


Adhara, gadis yang kini berada di gedung tersebut mengerjapkan matanya berkali-kali saat merasakan pusing yang mendera kepalanya. Saat membuka matanya, gadis tersebut langsung mendapatkan pandangan yang begitu indah.


“Kepala gue pusing banget,” ucap Adhara, baru saja hendak memegang kepalanya gadis itu akhirnya sadar jika saat ini ia tengah terikat di sebuah pilar besar yang berada di sana.


“Ck pantes tidur gue gak nyenyak, tidur cum di lantai gini mana di iket lagi,” gerutu Adhara dengan berdecak kesal.


Gadis tersebut melihat ke sekeliling tempatnya disekap saat ini. Tempatnya saat ini berada di gedung yang begitu tinggi, karena Adhara dapat melihat posisinya saat ini bahkan berada lebih tinggi dari pohon-pohon hingga dapat melihat matahari terbit dengan tempat yang begitu pas.


“Ini siapa sih yang nyulik gue, padahal nyulik gue gak ada untungnya. Yang ada rugi, kata Chan kan makan gue banyak,” ucap Adhara sambil mengerucutkan bibirnya lucu. Mengingat tentang sahabatnya ia jadi teringat dengan Antariksa yang terkena pukulan.


“Antariksa gimana ya? Semoga dia baik-baik aja,” ucap Adhara sambil menghela nafasnya kasar. Kini tak ada yang bisa ia lakukan selain berdoa agar Chan atau Arche berhasil menemukannya dengan cepat. Juga berdoa semoga Antariksa baik-baik saja.


Suara langkah kaki yang berjalan menaiki tangga sama sekali tak Adhara hiraukan, karena ia tahu pasti yang naik adalah penculik yang berani menculiknya. Lagi pula bangunan tersebut sepertinya bangunan yang berhenti di tengah jalan jadi siapa yang akan bersusah payah menaiki gedung tinggi ini hanya untuk berpatroli?


Pandangan Adhra tetap lurus pada pemandangan di depannya, melihat pemandangan indah yang tengah matahari tampilkan. Tak ada untungnya untuk depresi karena di culik, lebih baik menikmati pemandangan yang tengah tuhan berikan padanya. Sangat tenang bukan Adhara ini? Di mana lagi kalian akan mendapatkan korban penculikan sesantai Adhara.


“Indah kan fajarnya?” tanya sebuah suara laki-laki yang membuat Adhara langsung menoleh ke arah sumber suara yang cukup familiar di telinganya. Laki-laki yang tak lain Adalah Angkasa tersebut kini tengah tersenyum dengan begitu lebar ke arahnya.


Senyuman sinis gadis tersebut terlihat mengembang melihat siapa yang datang. Sudah ia duga pastilah laki-laki ini yang menculiknya.


“Indah, gak kayak muka lo tampek,” ucap Adhara lalu kembali melihat ke arah matahari di depannya. Laki-laki tersebut hanya tersenyum mendengar hinaan Adhara padanya. Gadis di depannya itu memang benar-benar begitu menarik, bahkan di saat sedang diculik pun ia malah begitu tenang.


“Gue bawain makanan buat lo, mau gue suapin?” tanya laki-laki tersebut yang membuat Adhara menatapnya tajam dan begitu datar.


“Gue punya tangan, lo lepasin aja tangan gue,” ucap Adhara yang langsung membuat Angkasa tertawa dengan begitu keras lalu melangkah ke arah Adhara dengan senyuman sininya.


“Lo pikir gue bodoh? Siapa yang tahu setelah ini lo malah kabur,” ucap Angkasa yang membuat senyuman sini Adhara terbit.


“Bukannya lo emang bodoh? Buktinya lo mau aja dibodohin sama Antariksa,” ucap Adhara dengan tatapan yang begitu mengejek membuat Angkasa mengepalkan tangannya marah mendengar ucapan Adhara tersebut.

__ADS_1


“Berani banget lo,” ucap Angkasa lalu menampar Adhara dengan begitu keras hingga membuat Adhara memalingkan wajahnya karena tamparan tersebut.


“Kenapa marah, bukannya ini fakta?” tanya Adhara dengan senyuman mengejeknya. Tak mempedulikan pipinya yang kini terasa begitu sakit akibat tamparan Angkasa tersebut.


Angkasa menarik nafasnya dalam berusaha untuk mengontrol amarahnya. Lalu membukakan salah satu ikatan tangan Adhara. Namun laki-laki itu masih berjaga-jaga di sana, takut Adhara akan kabur.


“Makan makanan lo,” ucap Angkasa dengan begitu datar lalu duduk di tempat yang tak jauh dari Adhara saat ini.


“Tujuan lo ngelakuin ini apa? Lo mau bunuh gue? Kenapa lo gak sekarang? Kenapa lo malah ngasih gue makan?” tanya Adhara dengan beruntun pada Angkasa yang kini tengah menundukkan kepalanya.


“Tujuan gue bukan lo,” ucap Angkasa datar yang membuat Adhara kini menatap Angkasa dengan tatapan seriusnya.


“Chan,” ucap Adhara yang bisa menebak jika tujuan laki-laki itu adalah Chan. Angkasa hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan.


“Kenapa?” tanya Adhara yang kini membuat Angkasa malah tersenyum sendu membuat Adhara mengerutkan keningnya melihat senyuman laki-laki tersebut.


***


Chan mengusap wajahnya kasar. Ia belum tidur dari semalam dan kini laki-laki tersebut masih berada di jalanan untuk mencari keberadaan Adhara yang kini entah ada di mana.


“Lo dimana Adhara?” gumam Chan sambil menghela nafasnya kasar. Chan duduk di trotoar jalan sambil menghisap sebatang nikotin miliknya.


Suara dering ponsel laki-laki tersebut segera membuat Chan merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya tersebut. Saat melihat nama Sky yang meneleponnya Chan segera menjawabnya.


“Kenapa Sky?” tanya Chan tanpa basa-basi karena memang laki-laki tersebut sangat tidak suka basa-basi.


“Kak Anta udah siuman,” ucap Sky dengan nada suaranya yang tidak bisa di sembunyikan jika gadis tersebut begitu bahagia.


Tanpa menjawab Sky, Chan segera mematikan sambungan telepon tersebut lalu segera masuk ke mobilnya. Melajukan motornya tersebut dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit tempat Antariksa di rawat.


Tak membutuhkan waktu lama untuk Chan bisa sampai di rumah sakit tersebut, setelah sampai laki-laki tersebut segera berlari menuju ruangan tempat Antariksa. Saat sampai di ruangan sahabatnya itu, nafas Chan sudah tidak teratur karena berlari terlalu jauh.


“Lo abis dikejar anjing?” tanya Antariksa yang kini terlihat begitu santai memakan buah yang dikupas Mamanya. Kini semua mata yang ada di ruangan tersebut terus terarah pada Chan dengan tatapan heran.


“Adhara di mana?” tanya Chan langsung pada Antariksa yang kini mengerti kenapa laki-laki itu buru-buru datang saat mendengarnya sudah bangun.

__ADS_1


“Gue gak tau, mereka gak bilang mau nyembunyiin Adhara di mana,” ucap Antariksa menghela nafasnya kasar. Semua di luar prediksinya hingga ia bisa kecolongan begini.


“Yang jelas mereka nyembunyiin Adhara di gedung konstruksi yang belum jadi, Cuma itu yang gue denger dari Angkasa,” lanjut Antariksa membuat Chan menghela nafasnya lalu segera duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.


“Sorry, gue gak bisa jagain Adhara dengan baik,” ucap Antariksa dengan penyesalannya yang dibalas dengan gelengan oleh Chan.


“Ini bukan salah lo, tapi tetap aja lo yang salah karena kenapa lo bisa kecolongan? Kenapa Adhara bisa keluar?” tanya Chan dengan pekikan kerasnya membuat semuanya memejamkan matanya mendengar teriakan Chan yang mengagetkan tersebut.


“Gue laper Chan, jadi gue tinggal beli bakso,” ucap Antariksa jujur yang membuat Chan menghela nafasnya kasar.


“Ck, udah lah,” ucap Chan yang akhirnya memilih mengalah. Karena di saat genting pun memang Antariksa tidak bisa menahan laparnya.


***


Hai Semua balik lagi nih sama aku.


Hayo yang bilang Antariksa jahat mana nih? Antariksa masih baik kok dia cuma sedang masuk ke kandung musuh


untuk melihat situasi.


Btw siapa nih yang udah nunggu Adhara bareng tiga cogannya?


Mulai sekarang aku update nya 1k kata perhari ya, karena cerita ini juga udah mau taman nih.


Semoga kalian suka ya, maaf kalau feel kurang dapet dan masih ada typo


Jangan lupa di tambahkan ke favorite, like, dan koment ya guys.


Follow ig aku ya @hilmiatulhasanah dan @wphilmiath


Tim Interaksi udah aku aktifkan nih, yuk guys join.


Stay healthy all.


Thank For Reading all.

__ADS_1


See You Next Chapter All.


__ADS_2