
Happy Reading All.
***
Sudah dua hari Chan tidak masuk sekolah namun hari ini kondisi laki-laki tersebut sudah membaik. Jam baru menunjukkan pukul enam tapi Adhara sudah selesai memasak sarapan untuknya dan Chan.
“Chan bagun udah siang,” teriak Adhara sambil mengetuk pintu kamar laki-laki tersebut dengan keras karena Chan yang memang sangat sulit di bangunkan.
“Kebo bangun lo,” ucap Adhara masih mengetuk pintu kamar Chan dengan keras bahkan pintu kamar tersebut sepertinya tidak akan bertahan lama jika Adhara terus mengetuk nya seperti itu.
Dengan kesal Adhara segera membuka pintu pintu kamar Chan dan terlihat laki-laki tersebut yang masih bergelung dengan selimutnya. Adhara menghembuskan nafasnya kasar lalu segera menarik selimut Chan membuat laki-laki itu bergumam kesal.
“Bangun cepet,” ucap Adhara dengan tidak sabarnya malah menarik kaki Chan hingga laki-laki itu mengaduh kesakitan karena merasakan sakit di pinggangnya.
“Sakit Adhara bago,” ketus Chan membuat Adhara terkekeh apalagi saat melihat wajah Chan yang begitu mengenaskan.
“Lagian kebo banget lo jadi orang,” ucap Adhara masih dengan kekehannya. Chan mendengus kesal lalu segera bangun dan menatap kesal pada Adhara yang hanya menampilkan senyuman manisnya.
“Mandi buruan terus sarapan udah gue sediain,” Adhara mendorong Chan keluar dari kamarnya dan menuju kamar mandi. Chan menghembuskan nafasnya kasar dan akhirnya hanya bisa menurut saja.
Setelah Chan pergi Adhara memilih untuk membereskan kamar laki-laki itu yang begitu berantakan. Chan sangat suka kebersihan dan tidak suka sesuatu yang jorok namun lihatlah kamar laki-laki itu bahkan sudah seperti kapal pecah.
Apa Chan tidak takut ada kecoa atau tiket yang berkeliaran? Pikir Adhara menggelengkan kepalanya dan mulai memunguti pakaian kotor milik Chan dan meletakkannya di keranjang kotor. Lalu mulai merapikan ranjang laki-laki itu baru setelahnya ia menyapu.
Tak beberapa setelah selesai membereskan kamar Chan, Chan masuk ke kamarnya dengan handuk yang hanya melilit pinggangnya membuat Adhara memelotot melihatnya. Chan yang menyadari tatapan Adhara tersenyum sinis.
“Kenapa mau pegang?” tanya Chan yang membuat Adhara menjeret dan segera pergi dari sana dengan berlari.
“Bunda bantu Adhara ada om om pedo,” teriak Adhara yang membuat Chan menggeleng. Begitulah Adhara selalu berhasil membuatnya tersenyum.
Adhara kini memilih untuk menunggu Chan di ruang makan hingga tak lama laki-laki itu sudah datang dengan seragam yang tidak ada rapi-reapi nya sama sekali. Baju dikeluarkan, dari hanya digantung, kancing bagian atas terbuka. Hanya rambut dan wajahnya saja yang rapi.
“Lo gak bisa masak apa gimana sih? Tiap hari sarapanya nasi goreng sama telur mata sapi mulu,” gerutu Chan sambil duduk di tempatnya Adhara yang kesal mendengar ucapan Chan segera menarik makanan Chan membuat Chan memelotot.
__ADS_1
“Gak mau yaudah gue makan sendiri aja,” ucap Adhara membuat Chan mendengus lalu segera mengambil makanan nya kembali dan memulai makannya dengan khidmat tak ada yang memulai pembicaraan hingga selesai dengan makananya mereka segera berangkat sekolah.
“Gue berangkat sendiri aja,” ucap Adhara sambil memakai sepatunya.
“Emang siapa yang mau ngajak lo?” tanya Chan dengan wajah datarnya yang berhasil membuat Adhara memelotot mendengarnya dengan mulutnya yang menganga lebar bahkan cicak akan masuk jika salah mendarat.
“Lo gak diajak,” tekad Chan yang setelahnya langsung keluar dengan senyumannya yang mengembang merasa senang karena berhasil membuat Adhara kesal. Sepertinya kedepannya membuat Adhara marah adalah hobi barunya.
***
Adhara berjalan dari halte menuju sekolahnya dengan santai sampai saat di gang kecil ia mendengar suara orang berantem gadis itu segera menghampiri mereka namun tak melihat siapapun hingga suara semakin keras di rumah kosong yang berada di sana.
Adhara segera menendang pintu dan terlihat Antariksa yang tengah di keroyok oleh tujuh orang remaja yang sepertinya dari sekolah lain karena pakaian mereka yang berbeda dengan miliknya.
Adhara segera menendang salah satu murid laki-laki yang hendak memukul Antariksa dengan balok kayu hingga tatapan semua orang tertuju pada Adhara.
“Wah banci mainnya keroyokan,” ucap Adhara dengan senyuman sinisnya. Antariksa memijat pangkal hidungnya lelah. Di saat seperti ini mulut pedas Adhara sama sekali tidak berfungsi dengan baik karena perkataan gadis itu hanya menambah kemarah orang di depannya.
Kini ketujuh laki-laki itu sudah melingkari Antariksa dan Adhara yang sudah siap dengan kepalan tangan mereka masing-masing.
“Lah apa bedanya sama lo yang Cuma jadi beban keluarga dan negara,” ucap Adhara yang semakin membuat Antariksa menggeleng.
“Filter mulutmu diperbaiki dulu,” bisik Antariksa pada Adhara membuat gadis itu mengerucut.
“Banyak omong lo,” ucap salah satu dari mereka hingga mulai menyerang Adhara dan Antariksa.
Adhara dengan lihat melawan musuh Antariksa memberikan bogeman mentah yang mendarat mulus di wajah tak seberapa tampan lawan di depannya tersebut.Bahkan wajah gadis itu tak ada yang luka karena Antariksa yang terus melindunginya saat Adhara lengah.
Hingga ketujuh laki-laki tersebut terkapar di lantai kotor rumah tersebut. Adhara tersenyum kemenangan pada laki-laki tersebut lalu menepuk tangannya yang kotor.
“Kalah kan lo, Adhara yang cantik gini di lawan gue kedipin gue kalah lo,” ucap Adhara dengan tawanya. Hingga ketujuh laki-laki itu segera pergi dari sana dengan kemarahannya.
Adhara langsung melihat ke arah Antariksa yang terduduk di sampingnya. Adhara segera menghampirinya dan membuka tasnya mencari botol air dan tissue lalu mengambil hansaplast di tasnya.
__ADS_1
Dengan hati-hati Adhara membersihkan luka di dahi Antariksa juga ujung bibir Antariksa walau sering kali Antariksa meringis karena sakit membuat Adhara juga ikut meringis. Antariksa memperhatikan wajah cantik di depannya dengan yang tengah fokus membersihkan lukanya.
Tanpa sadar detak jantung laki-laki itu berpacu lebih cepat dari biasanya saat melihat Adhara yang berada di depannya.
“Lo kenapa bisa berantem sama mereka sih?” tanya Adhara sambil memasangkan hansaplasnya di dahi Antariksa.
“Gak terima mungkin karena kalah balapan,” ucap Antariksa dengan santai. Adhara hanya membalasnya dengan gelengan, ternyata memang Antariksa adalah anak yang begitu liar.
“Lain kali lebih hati-hati. Lagi pula gak semua masalah dapat diselesaikan dengan kekerasan,” peringat Adhara pada Antariksa yang sebenarnya tak akan ada pengaruhnya pada laki-laki yang memang suka kekerasan tersebut.
“Dia yang mulai duluan, gue cuma melindungi diri. Lagian namanya juga cowok, pasti adu otot bukan adu mulut,” ucap Antariksa yang membuat Adhara memutar bola matanya malas. Seperti yang sudah ia pikirkan pasti tak ada pengaruhnya saat menasihati Antariksa yang begitu bebel tersebut.
“Nasihatin lo emang kayak main trampolin, mantul,” ucap Adhara kesal lalu membantu Antariksa untuk berdiri hingga akhirnya mereka berjalan bersama memasuki sekolah karena lima menit lagi sudah bel masuk. Jika saja Adhara terlambat ia pasti akan menyalahkan Antariksa.
***
Halo semua Happy New Year 2022 All.
Semoga impian yang belum terwujud di tahun 2021 bisa terwujud di tahun 2022 ini.
Tetap semangat ya apapun yang terjadi, di tahun ini harus bisa lebih kuat lagi. Kalian hebat bisa bertahan sejauh ini.
Btw siapa nih yang udah nunggu Adhara bareng tiga cogannya?
Semoga kalian suka ya, maaf kalau feel kurang dapet dan masih ada typo.
Jangan lupa di tambahkan ke favorite, like, dan koment ya guys.
Follow ig aku ya @hilmiatulhasanah dan @wphilmiath
Oh iya untuk update aku bakal update 2 bab perhari ya guys.
Stay healthy all.
__ADS_1
Thank For Reading all.
See You Next Chapter All.