
Narvan adalah nama Bulan di Saturnus.
Happy Reading All.
***
Terhitung sudah enam hari Adhara bekerja di café tersebut dan ia masih begitu beruntung karena Chan selalu pulang malam hingga ia tak perlu membuat alibi apapun untuk membohongi laki-laki itu.
Entah apa yang sebenarnya laki-laki itu lakukan hingga selalu pulang larut malam. Sebenarnya Adhara begitu penasaran namun saat Adhara bertanya Chan selalu mengatakan ia akan memberitahu Adhara nanti saat semua nya sudah selesai.
Adhara kini tengah begitu sibuk mengurus pekerjaannya karena pelanggan malam ini begitu banyak yang datang membuat Adhara kelimpungan sendiri karena banyaknya pelanggan yang datang, namun ia begitu beruntung karena banyak pelanggan yang memberinya tips karena pelayanan Adhara yang begitu baik.
“Apa ada lagi mas?” tanya Adhara pada pelanggannya kini, Adhara kini bertugas mencatat pesanan dari para pelanggan dengan senyuman yang terus mengembang di wajah cantiknya itu.
“Udah itu aja,” ucap pelanggan tersebut membuat Adhara membalasnya dengan anggukan lalu segera pergi dari tempat pelanggan tersebut untuk menuju pada era dapur memberikan pesanan pada juru masak.
Saat Adhara tengah mencatat pesanan tak sengaja ia melihat ke arah luar dan melihat Nora yang tengah berbincang dengan Arche. Melihat keberadaan Arche, Adhara segera bersembunyi menutupi wajahnya dengan buku menu yang dibawanya. Kini Adhara hanya berharap jika Arche tak melihatnya, atau Nora tak memberitahukan nya pada Arche jika ia bekerja di café ini.
“Mbak,” panggil pelanggan yang kini berada di depan Adhara namun gadis itu tak menghiraukannya dan lebih fokus melihat interaksi antara Arche dan Nora di luar café.
“Mbak,” bentak pelanggan tersebut yang langsung membuat Adhara terkejut Adhara mengelus dadanya sambil menarik nafas dalam.
“Iya Mas sabar, orang sabar di sayang pacar,” ucap Adhara dengan senyuman polosnya membuat pelanggan di depannya itu menghela nafasnya kasar.
“Mbak ngehina saya? Saya gak punya pacar,” ucap pelanggan tersebut yang mampu membuat Adhara ingin sekali meledakkan tawanya namun keluar malah hanya sebuah cengiran bodoh saya.
“Loh siapa yang ngehina sih mas, mas nya sensi banget sih. Lagi PMS?” tanya Adhara yang membuat pelanggan di depannya itu ingin sekali membenturkan kepala Adhara di meja.
Memang membuat orang kesal adalah salah satu keahlian Adhara.
“Mbak nya ngajak ribut ya?” ucap Pelanggan tersebut membuat Adhara terkekeh mendengarnya lalu menampilkan jari tengah dan telunjuk membentuk huruf V.
“Jadi mau pesen apa Mas?” tanya Adhara dengan senyuman tulusnya mengalihkan pembicaraan, jika pembicaraan itu dilanjutkan Adhara yakin mereka tak akan berhenti sampai di sana. Atau bahkan mungkin laki-laki itu akan curhat padanya melihat wajahnya yang begitu mengenaskan tersebut. Memang sok tau Adhara itu.
__ADS_1
“Pasta sama jus jeruk,” ucap pelanggan tersebut yang langsung Adhara catat. Begitupun dengan teman laki-laki tersebut yang ikut memesan makanannya.
“Mas kalian gay ya, masak ke café Cuma berdua,” ucap Adhara dengan tawanya yang begitu mengejek lalu segera kabur dari sana. Kedua laki-laki tersebut sudah memelototkan matanya mendengar ucapan Adhara tersebut. Namun satulah yang dapat mereka sukai dari Adhara, gadis itu menarik.
***
“Chan lo yakin? Kenapa gak fokus aja dulu sama rencana ini?” tanya Arche pada sahabatnya itu yang kini tengah berjuang bersama memasuki arena balap yang cukup terkenal di daerah mereka.
“Gue gak bisa hanya bertahan dengan uang segitu, gue gak bisa terus jadi beban buat Adhara. Lagian uang hasil jual mobil udah harus gue hemat buat usaha ini,” ucap Chan panjang lebar membuat kedua sahabatnya itu menghela nafasnya kasar.
Chan kini sudah tak lagi ikut balap liar namun ia malah meminta Antariksa untuk mengenalkannya pada orang yang menghendel masalah balapan di arena balap.
“Gimana kalau Adhara tau?” tanya Arche yang takut gadis itu tahu.
Jika Adhara tahu entah apa yang akan gadis itu lakukan pada mereka bertiga.
“Dia gak akan tahu kalau kalian gak ngasih tau,” ucap Chan membuat Kedua sahabatnya itu hanya bisa menghela nafasnya dan mendukung sahabatnya.
Ia tahu pasti sulit saat ini berada di posisi Chan. Orang tua laki-laki itu memang yang paling gila di antara orang tua dua sahabatnya yang lain. Begitu terobsesi pada harta hingga rela mengorbankan kebahagian keluarganya sendiri. Bahkan rela mengorbankan nyawa keluarganya sendiri untuk mencapai tujuan nya.
“Ya udah hati-hati,” ucap Antariksa yang dibalas dengan anggukan oleh Arche.
Begitulah sahabatnya tak pernah bertanya jika tak diberi tahu, karena mereka begitu menghargai sebuah privasi apalagi jika sahabatnya tak ingin memberitahu.
Arche segera pergi dari sana sedangkan Antariksa dan Chan juga berjalan menuju orang yang membawa Chan ke arena balap ini.
Arche melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Orang suruhannya yang ia suruh untuk selalu mengawasi Nora mengatakan jika ia Nora kini tengah diperintahkan oleh orang tua Chan untuk memberikan pelajaran bagi Adhara.
Arche sengaja tak ingin memberitahu Chan karena tak ingin membuat sahabatnya itu semakin menambah pikiran. Saat Arche tengah menoleh ke arah sebuah café dapet ia lihat di sana Nora berdiri dengan pakaian serba hitamnya.
Arche melajukan mobilnya tersebut di sana dan segera memarkirkannya untuk menghampiri Nora. Arche menarik tangan Nora membuat gadis itu berbalik dan menatap Chan dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kerinduan juga kebencian di sana yang terlihat begitu jelas.
“Apa yang lo lakuin?” tanya Arche dengan suaranya yang terdengar begitu tajam. Ia tentu saja tidak menyukai sikap Nora yang sekarang. Semenjak gadis itu ditolak oleh Arche, ia menjadi tak terkendali.
__ADS_1
“Bukan urusan kamu,” ucap Nora tajam membuat Arche menatap gadis itu semakin lekat dan begitu menusuk.
“Apa hanya karena sebuah patah hati sekarang lo berubah menjadi seseorang yang gak gue kenal?” tanya Arche dengan senyuman sinisnya membuat Nora mengepalkan tangannya erat hingga membuat buku-buku harinya memutih.
“Hanya? Apa kamu pikir rasa sayang ku main-main?” tanya Nora dengan senyuman terlukanya. Arche menghela nafasnya lalu menangkup pundak gadis di depannya itu sambil menundukkan kepalanya.
Ia mulai berpikir apa ia harus memberitahu ini pada Nora? Namun ia belum siap akan konsekuensi yang harus ia terima. Ia tak pernah tahu, setelah semua ini apa yang akan gadis itu lakukan.
“Gue punya alasan Nora,” ucap Arche dengan helaan nafas beratnya kini laki-laki itu menatap lekat pada Nora yang juga melihatnya.
“Adhara? Apa dia alasannya?” tanya Nora yang Arche balas dengan gelengannya. Bahkan jika saja tak ada Adhara ia akan tetap menolak Nora karena gadis itu adalah adiknya.
“Sekarang lo pulang, besok gue jemput lo,” ucap Arche lalu segera mengajak Nora untuk pergi dari sana. Yang terpenting saat ini adalah mengamankan Nora agar tidak melukai Adhara. Atau ia tak tahu apa yang akan terjadi pada gadis itu jika sampai melukai Adhara, karena di belakang Adhara ada Chan dan Antariksa yang begitu melindunginya dan tentu juga dirinya.
***
Hai Semua balik lagi nih sama aku.
Btw siapa nih yang udah nunggu Adhara bareng tiga cogannya?
Kalau kalian ada pertanyaan silahkan di ajukan ya, nanti aku jawab. Menerima kritik dan saran.
Semoga kalian suka ya, maaf kalau feel kurang dapet dan masih ada typo
Jangan lupa di tambahkan ke favorite, like, dan koment ya guys.
Follow ig aku ya @hilmiatulhasanah dan @wphilmiath
Maaf ya hari ini hanya bisa up 1 part dulu. Tapi semoga kalian suka ya.
Stay healthy all.
Thank For Reading all.
__ADS_1
See You Next Chapter All.