
Happy Reading All.
***
Adhara hendak menutup pintunya kembali saat di lihat yang datang berkunjung adalah tamu yang tak diinginkan kehadirannya. Namun, Adhara malah kalah cepat dengan laki-laki tersebut yang sudah lebih dulu menahan pintunya agar Adhara tak menutupnya.
“Dimana istri saya?” tanya laki-laki tersebut yang tak lain Adhara Rio. Dengan tidak sopannya laki-laki tersebut malah langsung masuk ke rumah Adhara.
“Eh om jangan langsung masuk dong, saya gak nyuruh om masuk,” ucap Adhara menahan Rio agar tidak masuk ke rumahnya dan bertemu dengan Mira dan Chan.
“Saya gak peduli, saya gak ada urusan sama kamu. Saya kesini buat bawa istri saya pulang,” ucap Rio sambil menghempaskan tangan Adhara yang menahannya. Adhara berdecak kesal sambil mengikuti Rio yang sudah masuk lebih dulu.
“Mira, cepat ikut saya pulang,” ucap Rio sambil berjalan ke arah Mira yang sudah berdiri dan bersembunyi di belakang Chan.
“Papa ngapain ke sini? Lebih baik papa urus ****** papa aja,” ucap Chan memperingati papanya tersebut agar tidak melakukan hal yang jahat pada mamanya.
“Ini bukan urusanmu Chan, Papa hanya mau membawa Mama kamu pulang,” ucap Rio sambil menarik Mira namun segera ditahan oleh Chan yang juga memegang tangan Mamanya.
“Tentu jadi urusan aku, karena dia mama aku. Dan lagi, untuk apa lagi Mama harus ikut Papa pulang? Untuk melihat papa yang lagi mesra-mesraan sama ******?” tanya Chan dengan senyuman sinisnya. Menatap Papanya dengan begitu tajam. Adhara yang berada di belakang Rio memilin jari tangannya, sebenarnya ia tidak ingin terlibat dalam masalah keluarga Chan.
“Apa yang kamu tahu? Kamu gak tau apapun Chan. Kamu hanya melakukan apa yang kamu mau, dan sekarang kamu seolah peduli dengan mama kamu,” ucap Rio dengan amarahnya.
Adhara yang merasa tak pantas berada disana memiliki untuk segera keluar dan menunggu hingga Rio pergi baru ia akan kembali.
“Jangan lupa Pa aku kayak gini juga karena Papa dan kakek,” ucap Chan mengingatkan Papanya tentang apa yang sudah laki-laki itu lakukan padanya.
“Berani sekali kamu menyalahkan Papa, kalau kamu mau menerima perjodohan ini semua juga tak akan begini,” ucap Rio dengan tajamnya pada Chan memperingati anaknya tersebut.
“Papa jangan lupa, apa yang sudah papa lakukan pada mama, bahkan sebelum ada perjodohan ini,” ucap Chan tak kalah tajamnya dari papanya.
“Sudah cukup, jangan bertengkar lagi. Apa kalian tidak malu terus bertengkar? Lihatlah bahkan tuan rumah memilih pergi,” ucap Mira menghentikan pertikaian antara anak dan ayah tersebut yang tak akan selesai jika tak ada yang mengalah.
“Ikut aku pulang,” ucap Rio tegas lalu segera menarik Mira untuk pergi dari sana. Chan menahan tangan mamanya tapi Mira malah tersenyum ke arah putra nya tersebut.
“Mama gak papa, jaga diri kamu baik-baik,” ucap Mira dengan senyumannya lalu segera pergi dari sana. Chan mengepalkan tangannya marah melihat tingkah papanya tersebut.
__ADS_1
Di lain tempat kini Adhara tengah duduk di taman mini yang berada di depan apartemennya sambil meminum susu yang baru dibelinya karena merasa bosan menunggu lama di taman.
Hingga tak beberapa lama dapat ia melihat kedua orang tua Chan yang berjalan ke arah mobil Rio. Adhara memelototkan matanya saat melihat Mira yang ditarik paksa oleh Rio.
Adhara sudah akan mengejar mereka namun mobil tersebut sudah terlebih dulu melaju dengan kecepatan di atas rata-rata. Adhara segera berjalan ke arah unit apartemennya ia tahu pasti saat ini emosi Chan sedang tidak baik-baik saja.
Saat sampai di depan pintu Apartemennya dapat gadis itu dengar suara barang pecah yang terdengar begitu nyari. Adhara segera masuk dan benar sana vas bunga yang berada di atas meja tv kini sudah berubah menjadi pecahan beling yang berserakan.
“Chan,” panggil Adhara saat melihat laki-laki tersebut yang tengah memukuli dinding. Adhara segera berjalan ke arah Chan lalu menahan tangan Chan dan membawa laki-laki itu dalam pelukannya.
“Chan, jangan ngelukain diri sendiri,” ucap Adhara sambil mengelus punggung Chan dengan sayang.
“Kenapa gue punya papa kayak dia Adhara?” lirik Chan dengan sendunya membuat Adhara yang mendengarnya menjadi tidak tega.
“Gak ada yang bisa nentuin untuk terlahir dari orang tua seperti apa Chan. Kalau bisa memilih mungkin sekarang gue lebih milih jadi anaknya orang terkaya nomor satu di dunia,” ucap Adhara membuat Chan berdecak dengan senyumannya mendengar ucapan Adhara. Chan mengeratkan pelukannya pada gadis itu nya itu begitu nyaman.
“Udah jangan sedih lagi, masih ada gue di sini. Mending besok kita lihat mama lo,” ucap Adhara menyarankan yang langsung dibalas dengan gelengan oleh Chan membuat Adhara segera melepaskan pelukan mereka dengan kerutan di keningnya.
“Gue gak mau ketemu sama iblis itu lagi,” ucap Chan pasti membuat Adhara mendengus mendengarnya.
“Chan kita harus tahu keadaan Mama lo,” ucap Adhara mengingatkan. Chan menghela nafasnya lalu terdiam dalam waktu yang cukup lama.
“Biar Arche sama Antariksa aja,” ucap Chan akhirnya membuat Adhara menggeleng mendengarnya.
“Dia mama lo, bukan Mama Arche atau Antariksa,” ucap Adhara dengan penekanan di setiap kata yang diucapkan oleh gadis tersebut.
“Dhara stop, gue gak mau debat masalah ini lagi. Gue capek,” ucap Chan lalu setelah nya segera pergi dari sana berjalan menuju kamarnya.
Adhara menghela nafasnya kasar, ia tahu kondisi Chan saat ini sedang tidak baik-baik saja. Membuat masalah dengan Chan saat ini dengan memulai perdebatan hanya akan membawa pertengkaran.
Adhara berjalan ke arah dapur membuatkan coklat hangat untuk Chan. Di kamar mandi saat ini bisa didengar suara gemericik air yang menandakan jika Chan saat ini sedang membersihkan tubuhnya.
Setelah tak beberapa Chan sudah selesa dengan kegiatannya segera keluar dengan rambutnya yang basah. Adhra segera menghampiri laki-laki tersebut lalu mengambil handuk kecil yang Chan gunakan untuk mengeringkan rambutnya.
“Duduk,” ucap Adhara memerintahkan. Chan segera duduk membuat Adhara dengan leluasa untuk menjangkau rambut laki-laki tersebut.
__ADS_1
“Maaf ya,” ucap Adhara dengan begitu tulus membuat Chan mengerutkan keningnya.
“Buat apa?” tanya Chan yang tak mengerti mengapa Adhara meminta maaf padanya.
“Atas ucapan gue tadi,” ucap Adhara sambil menunduk. Chan yang mendengarnya tersenyum ke arah gadis tersebut lalu menggenggam tangan Adhara yang tengah mengeringkan rambutnya.
“Gak papa, gue ngerti,” ucap Chan sambil mengelus tangan Adhara. Adhara yang mendengarnya tersenyum senang lalu membawa Chan kedalam pelukannya. Dengan posisi Adhara yang berdiri dan Chan yang duduk.
“Gue bakal selalu nemenin lo apapun yang terjadi,” ucap Adhara membuat Chan mengangguk dan mengeratkan pelukannya pada Adhara. Mencari kenyaman dalam pelukan gadis nya itu.
“I love you Adhara,” ucap Chan tulus membuat Adhara tersenyum sipu mendengarnya.
“I love you more,” jawan Adhara lalu mereka saling tersenyum dan memejamkan mata, menikmati waktu bersama mereka.
***
Hai Semua balik lagi nih sama aku.
Btw siapa nih yang udah nunggu Adhara bareng tiga cogannya?
Kalau kalian ada pertanyaan silahkan di ajukan ya, nanti aku jawab. Menerima kritik dan saran.
Semoga kalian suka ya, maaf kalau feel kurang dapet dan masih ada typo
Jangan lupa di tambahkan ke favorite, like, dan koment ya guys.
Follow ig aku ya @hilmiatulhasanah dan @wphilmiath
Tim Interaksi udah aku aktifkan nih, yuk guys join.
Stay healthy all.
Thank For Reading all.
See You Next Chapter All.
__ADS_1