Atmosphere

Atmosphere
Janus


__ADS_3

Janus adalah nama bulan di Saturnus.


Happy Reading All.


***


Pagi ini seperti hari sebelumnya, Adhara menyiapkan sarapannya juga untuk Chan yang kini tengah membantunya menyapu apartemen. Pagi ini laki-laki itu begitu rajin membantu Adhara membuat Adhara tersenyum senang melihatnya. Karena pekerjaannya berkurang berkat bantuan Chan.


Mengingat juga saat pulang sekolah ia jelas tak bisa membersihkan rumah karena pekerjaan nya.


Setelah selesai menyiapkan sarapan Adhara segera menuju kamarnya untuk berganti seragam.


“Chan udah kelar belum?” teriak Adhara memanggil Chan yang tengah mengepel di ruang tamu. Begitulah Adhara, sangat hobi teriak-teriak padahal apartemen mereka tidak lah besar dan Chan hanya berada di ruang tamu yang hanya berbatas dinding saja.


“Udah dikit lagi,” ucap Chan membuat Adhara hanya membalasnya dengan anggukan lalu segera menyiapkan sarapan untuk mereka, meletakkan nya di atas meja makan.


Hingga tak lama Chan datang dan langsung duduk di hadapan Adhara. Dan memulai memakan sarapannya dengan tenang.


“Ra, tar gue pulang malem kalau mau makan, makan aja gak usah tungguin gue,” ucap Chan yang langsung membalasnya dengan anggukan semangat karena merasa begitu senang.


Adhara tak perlu lagi memikirkan alibi untuk berbohong pada Chan tentang alasannya pulang malam, jika Chan saja akan pulang malam. Adhara hanya berharap ia pulang lebih dulu Chan.


“Ok siap, lo hati-hati,” ucap Adhara yang Chan balas dengan anggukan.


Setelah selesai dengan makanan mereka, mereka segera berjalan menuju parkiran menuju mobil Chan terparkir. Awalnya Adhara mengatakan agar mereka naik bus saja namun Chan menolaknya dan mengatakan tak suka naik angkutan umum. Akhirnya Adhara hanya bisa menghela nafasnya dan menuruti keinginan laki-laki itu.


Saat sampai di parkiran Adhara mengerutkan keningnya saat melihat mobil yang terparkir di sana berbeda dengan mobil Chan. Memang sama-sama mobil sport mewah namun warna dan modelnya berbeda.


Adhara tak begitu tahu tentang mobil mewah tersebut namun Adhara tahu pasti pasti harganya begitu mahal.


“Ini mobil siapa?” tanya Adhara melihat mobil berwarna hitam di depannya tersebut.


“Mobil gue, ayo masuk cepet tar telat,” ucap Chan sambil membukakan pintu untuk Adhara yang masih saja bingung. Dari mana laki-laki itu mendapatkan uang untuk membeli mobil ini?


“Mobil lo yang sebelumnya?” tanya Adhara setelah sudah berada di dalam mobil sport tersebut.


“Udah gue jual,” ucap Chan santai membuat Adhara mengerjapkan matanya berkali-kali tidak percaya dengan ucapan Chan yang terdengar begitu enteng.


“Lo gila?” tanya Adhara sedikit meninggikan suaranya karena begitu terkejut mendengar ucapan Chan yang kelewat santai tersebut.

__ADS_1


“Gue ganti sama ini,” ucap Chan santai. Yang tanpa Adhara sadari sebenarnya Chan begitu tak rela menjual mobil kesayangannya tersebut. Namun ia juga tak ingin memberikan Adhara uang hasil taruhannya yang jelas saja adalah uang haram. Jadilah ia menjual mobilnya dan membiarkan mobil tarusan tersebut sebagai kenang-kenangan jika suatu saat nanti ia kembali sukses.


Mobil tersebut adalah sebuah bukti perjuangan Chan saat ia berada di masa-masa sulit. Sangat aneh memang sebuah bukti perjuangan di saat sulit namun mobil tersebut malah termasuk mobil mewah dengan harga tiga puluh enam miliar.


“Tapi Chan….” Ucapan Adhara terpotong dengan ucapan Chan yang lebih dulu menyela ucapannya.


“Stt udah gak papa, gue juga udah dapet gantinya kan. Nanti gue bisa buka usaha dengan uang dari jual mobil,” ucap Chan yang kini malah membuat Adhara mengerutkan keningnya bingung.


“Jadi mobil ini lo dapet dari mana? Gue kira hasil jual mobil lo beliin mobil ini,” ucap Adhara bingung. Gadis itu tak tahu saja jika harga mobil Chan sebelumnya masih kurang banyak untuk membeli mobil yang sekarang di pakaianya.


“Ya gitu, sisanya buat usaha,” bohong Chan yang terlihat gugup membuat Adhara mengerutkan keningnya curiga sambil menatap Chan dengan memicingkan matanya.


Chan yang terus di perhatikan dengan begitu intens oleh Adhara berdehem untuk mengalihkan perhatian Adhara.


Adhara hanya menghela nafasnya kasar lalu menjawabnya dengan sebuah anggukan.


Saat memasuki sekolah mereka sontak menjadi pusat perhatian karena mobil yang Chan pakai tersebut yang begitu keren. Siapapun pasti menginginkan mobil tersebut.


Saat sampai di parkiran Chan keluar dengan begitu kerennya dengan wajah datar andalannya. Di sampingnya Adhara sudah menyembunyikan wajahnya dengan tas yang dibawanya. Ia terlalu malu untuk menampakkan wajahnya. Jelas saja ia kini malah seperti pembantu bagi Chan.


“Lo kenapa?” tanya Chan dengan kerutan di dahinya melihat Adhara yang menutupi wajahnya. Adhara hanya membalasnya dengan anggukan lalu ikut berjalan bersama dengan Chan bersembunyi di balik punggung Chan.


“Sok ya anda,” ucap Arche membuat mereka terkekeh bersama. Sahabatnya tentu saja senang karena mereka bisa membantu Chan yang tengah berada dalam kesusahan.


“Ntar jadi?” tanya Antariksa yang Chan balas dengan anggukan.


“Jangan mabuk lagi, awas aja kalau kalian mabuk lagi. Gue kebiri kalian bertiga,” ucap Adhara dengan ancamannya sambil menatap tajam pada ketiga laki-laki tersebut yang menelan ludahnya susah payah mendengar ucapan Adhara.


“Engga-engga,” ucap Chan yang hanya mendapatkan tatapan datar dari Adhara.


Setelah mengatakan semua itu Adhara segera pergi meninggalkan ketiga laki-laki tersebut yang terus melanjutkan pembicaraan mereka.


“Lokasinya udah pas belum?” tanya Arche sambil memperlihatkan tempat serta lokasi yang berada di ponselnya.


“Strategis sih ini,” ucap Chan membuat mereka mengangguk.


Setelahnya mereka melanjutkan pembicaraan mereka tentang rencana yang sedang mereka bahas.


***

__ADS_1


Setelah pulang sekolah Adhara segera menuju café tempatnya bekerja tanpa pulang lebih dulu untuk sekedar berganti pakaian, karena ia juga sudah membawa pakaian ganti.


Tadi Pun ia tak pulang bersama Chan, jelas Adhara yang menolak laki-laki itu mengantarnya pulang karena alasan agar Chan tidak bolak-balik dan menunda waktunya.


Walau awalnya Chan menolak namun Akhirnya Chan tetap saja akan kalah jika sudah beradu argumen dengan Adhara.


Dan kini Adhara tengah melayani para pengunjung café membawakan makanan ke meja pembeli.


“Adhara,” suara tersebut membuat Adhara menoleh dan melihat Nora yang tengah melihatnya dengan kening yang berkerut sedangkan Adhara sudah gelagapan melihat gadis tersebut yang berada di sana dengan salah satu temannya.


Adhara baru saja akan pergi untuk menghindari mereka namun, Namun Nora malah menahannya dengan sebuah pertanyaan.


“Kamu bekerja di sini?” tanya Nora yang berhasil membuat Adhara menghentikan langkahnya lalu segera menoleh ke arah Nora dengan sebuah senyuman.


“Seperti yang lo lihat,” ucap Adhara membuat Nora terlihat tersenyum sinis.


“Apa Chan sudah tidak bisa menghidupi kebutuhan kalian?” tanya Nora dengan angkuh membuat Adhara tersenyum dengan begitu sinis.


“Gue rasa itu bukan urusan lo, mau gue kerja atau apapun itu” ucap Adhara dengan kesal dan langsung segera pergi dari sana dengan senyuman sinisnya menghiraukan perkataan Nora selanjutnya yang terdengar begitu kasar.


***


Hai Semua balik lagi nih sama aku.


Btw siapa nih yang udah nunggu Adhara bareng tiga cogannya?


Kalau kalian ada pertanyaan silahkan di ajukan ya, nanti aku jawab. Menerima kritik dan saran.


Semoga kalian suka ya, maaf kalau feel kurang dapet dan masih ada typo


Jangan lupa di tambahkan ke favorite, like, dan koment ya guys.


Follow ig aku ya @hilmiatulhasanah dan @wphilmiath


Maaf ya hari ini hanya bisa up 1 part dulu. Tapi semoga kalian suka ya.


Stay healthy all.


Thank For Reading all.

__ADS_1


See You Next Chapter All.


__ADS_2