Atmosphere

Atmosphere
Draco


__ADS_3

Suara deru motor terdengar saling bersahutan, membuat kebisingan di jalanan sepi yang kini digunakan untuk balapan oleh para anak muda tersebut. Chan menatap ke arah lawannya dengan senyuman di balik helm fullface nya begitupun dengan lawannya tersebut.


“Akhirnya gue bisa liat dua jagoan balap yang dulunya sahabatan sekarang malah saling berlawanan,” ucap salah satu laki-laki yang berasal dari geng motor yang Angkasa pimpin.


Suara yang begitu riuh dari para penonton menjadi teman dari acara balapan tersebut. Bahkan saat ini banyak yang bertaruh untuk kemenangan jagoan yang mereka pegang. Angkasa yang kini berada di samping Antariksa terus menatap Chan dengan begitu sinis,


“Ternyata lo setia kawan banget ya Chan,” ucap Angkasa dengan senyuman sinisnya yang hanya mendapatkan tatapan tajam dari Chan.


“Provokator mending diem deh, suara lo bikin telinga gue sakit,” ucap Baron dengan senyuman sinisnya pada Angkasa yang menatapnya tajam.


Arche berjalan mendekat ke arah Chan lalu membisikkan sesuatu pada sahabatnya tersebut yang setelahnya membalasnya dengan anggukan.


Tak beberapa lama seorang wanita dengan pakaian yang begitu mini, berjalan ke tengah sambil memegang slayer motif catur. Mengangkat slayer tersebut tinggi lalu mulai menghitung mundur.


“Tiga,”


“Dua,”


“Satu,” teriak gadis tersebut sambil melambungkan slayer tersebut dengan tinggi.


Hingga suara motor yang melaju dengan cepat menderu keras. Kini kedua motor tersebut melaju dengan kecepatan di atas rata-rata membelah jalanan sepi, yang digunakan untuk balapan tersebut.


***


Sedari tadi, Adhara tak pernah berhenti mondar mandir seperti setrikaan. Kini gadis itu tengah berada di ruang tamu sambil melihat ponselnya berharap ada jawaban pesan yang ia kirim untuk Antariksa juga Chan. Gadis itu tak berhenti berdecak, berusaha menahan rasa khawatirnya pada Chan juga Antariksa.


Adhara menghela nafasnya kasar lalu segera berjalan ke arah dapur untuk mengambil minuman, kini ia merasa begitu haus setelah tak hentinya menyumpah serapahi Angkasa yang menjadi dalang dari semua ini.


“Tenang Adhara, gapapa. Gak usah khawatir mereka akan baik-baik aja,” ucap Adhara menarik nafasnya dalam berusaha untuk mengontrol dirinya sendiri.


Namun sepertinya gadis tersebut sudah tidak bisa menahan rasa khawatirnya. Adhara berjalan menuju kamarnya, mengambil jaket juga tasnya yang sudah berisi alamat tempat kedua laki-laki tersebut akan bertanding.


Setelah mengambil tasnya gadis tersebut segera keluar dari apartemennya, lalu segera memanggil taxi yang kebetulan lewat. Setelah memberikan alamat pada supir taxi tersebut, taxi tersebut segera melaju membelah jalanan malam.


“Neng ini tempatnya sepi loh, yakin di sini?” tanya supir taxi tersebut saat mereka memasuki kawasan yang begitu sepi. Bahkan di jalanan tersebut jauh dari rumah penduduk dan hanya diterangi lampu jalanan yang tak begitu teras.

__ADS_1


“Yakin pak, ini uang nya. Kembaliannya ambil aja,” ucap Adhara sambil membuka pintu mobil lalu segera keluar dari sana.


“Ini duit nya pas neng, gak ada kembaliannya,” ucap supir taxi tersebut membuat Adhara membalasnya dengan cengiran, menampilkan deretan gigi putihnya yang dibalas dengan gelengan oleh supir taxi tersebut.


“Lain kali kalo ketemu lagi deh pak,” ucap Adhara lalu segera turun dari taxi tersebut.


“Makasih ya pak,” ucap Adhara setelahnya segera pergi dari sana berjalan ke arah tempat yang lebih dekat dengan tempat balapan tersebut yang terlihat begitu ramai.


Terlihat di sana banyak dari geng motor yang tengah bersorak menyerukan nama jagoan mereka. Adhara hanya bisa berharap jika kedua laki-laki tersebut akan baik-baik saja. Siapapun yang menang, ia hanya berharap mereka baik-baik saja.


Saat ini Adhara tengah bersembunyi di balik pohon yang begitu besar menatap terus ke arah dua motor yang saat ini terus melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata.


“Kalau sampai kalian kenapa-kenapa, abis kalian bertiga sama gue,” ucap Adhara sambil mengepalkan tangannya dan melihat ke arah depan.


Saat Adhara fokus melihat ke depan, tiba-tiba saja Adhara merasakan seseorang memegang pundaknya membuat Adhara segera menoleh ke arah belakang menatap seseorang di depannya yang kini menggunakan pakaian serba hitam dengan topi dan masker hitam tersebut dengan kerutan di keningnya.


“Siapa lo?” tanya Adhara membuat laki-laki tersebut segera membuka maskernya. Yang langsung membuat Adhara memelototkan matanya melihat siapa yang kini berada di depannya.


“Antariksa?” tanya Adhara tidak percaya jika kini yang berada di depannya adalah Antariksa.


“Apa Chan gak bilang sama lo, buat jangan keluar malam ini? Atau emang lo yang gak dengerin?” tanya Antariksa dengan tajam pada Adhara yang kini masih bingung dengan apa yang terjadi saat ini.


Berbagai pertanyaan kini bersarang di kepalanya membuat gadis itu malah terbengong di tempatnya. Antariksa yang tidak tahan dengan Adhara berdecak kesal lalu memukul kepala gadis itu keras.


“Malah bengong,” ucap Antariksa yang membuat Adhara mengerucutkan bibirnya kesal mendengar ucapan Antariksa tersebut.


“Lo kenapa bisa di sini? Siapa di sana?” tanya Adhara bingung membuat Antariksa menghela nafasnya kasar.


“Temen gue,” ucap Antariksa santai yang semakin membuat Adhara di buat bingung dengan situasi yang terjadi.


“Ayo cepat pergi dari sini,” ucap Antariksa sambil menarik Adhara untuk segera pergi dari sana namun Adhara malah menahan tangan Antariksa yang menariknya.


“Tapi Chan,” ucap Adhara sambil menoleh ke belakang menatap Chan yang kini masih balapan.


“Dia bakalan baik-baik saja, justru lo yang bisa berada dalam bahaya kalo lo masih di sini,” ucap Antariksa dengan suara tegasnya membuat Adhara akhirnya mengangguk setuju walau ia masih merasa khawatir pada Chan.

__ADS_1


“Lo udah baikan sama Chan? Lo udah gak marah sama gue?” tanya Adhara di tengah jalan mereka.


“Gue gak pernah marah sama kalian, bukankah jika ingin tahu kelemahan musuh maka kita harus berteman dengannya?” tanya Antariksa yang membuat Adhara tertegun mendengarnya, jadi selama ini Antariksa hanya berpura-pura berada di pihak Angkasa untuk mengetahui rencana laki-laki itu.


“Gue spoiler ke lo tapi lo nya aja keburu pergi,” ucap Antariksa dengan senyumannya menampilkan dengan gigi putihnya membuat Adhara mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan laki-laki tersebut.


“Gue kangen berantem sama lo,” ucap Adhara membuat Antariksa tersenyum lalu mengelus puncak kepala Adhara sayang.


“Lagian gue gak mungkin marah sama kalian hanya karena perasaan konyol bernama cinta ini, lo bebas untuk mencintai dan memilih siapapun. Lagi pula Chan adalah sahabat gue dari zigot jadi buat apa berantem karena ini?” tanya Antariksa membuat Adhara tersenyum mendengarnya.


“Lo emang orang baik,” ucap Adhara mengacungkan kedua jempolnya pada Antariksa yang kini tengah tersenyum bangga padanya.


Sebelum tiba-tiba sebuah pukulan yang begitu keras mengenai kepala laki-laki tersebut membuat Antariksa tersungkur di jalan.


***


Hai Semua balik lagi nih sama aku.


Hayo yang bilang Antariksa jahat mana nih? Antariksa masih baik kok dia cuma sedang masuk ke kandung musuh


untuk melihat situasi.


Btw siapa nih yang udah nunggu Adhara bareng tiga cogannya?


Mulai sekarang aku update nya 1k kata perhari ya, karena cerita ini juga udah mau taman nih.


Semoga kalian suka ya, maaf kalau feel kurang dapet dan masih ada typo


Jangan lupa di tambahkan ke favorite, like, dan koment ya guys.


Follow ig aku ya @hilmiatulhasanah dan @wphilmiath


Tim Interaksi udah aku aktifkan nih, yuk guys join.


Stay healthy all.

__ADS_1


Thank For Reading all.


See You Next Chapter All.


__ADS_2