Atmosphere

Atmosphere
Matahari


__ADS_3

Happy Reading All.


***


Adhara yang mendengar ucapan Chan yang begitu kasar tersebut terkejut. Ia tak menyangka jika Chan sebegitu membenci papanya hingga tega mengatakan hal tersebut. Bagaimana bisa seorang anak malah mendoakan kematian ayahnya sendiri?


Sebenci apapun seorang anak pada orang tuanya tetap saja orang tua adalah seseorang yang telah berjuang untuk anaknya. Seburuk apapun orang tua ia tetaplah orang tua kita jadi jangan pernah membenci orang tua atas apa yang telah ia lakukan pada kita.


“Chan,” tegur Adhara pada Chan menatap laki-laki itu dengan tatapan kecewanya lalu menggeleng mengisyaratkan pada laki-laki itu untuk mengontrol ucapannya dan menjaga tutur katakan.


“Kenapa? Salah? Dia kan yang minta gue ngajuin syarat,” ucap Chan dengan datarnya pada Adhara. Adhara hanya bisa menghela nafasnya kasar mendengar jawaban Chan.


Leo hanya bisa menatap Chan dengan tatapan yang tak terbaca, laki-laki paruh baya tersebut tersebut masih merasa bingung dengan anaknya tersebut yang begitu membencinya.


“Apa kau begitu membenci ku?” tanya Leo dengan senyuman sinisnya.


“Kau masih bertanya seperti itu setelah apa yang kau lakukan?” tanya Chan yang tak kalah sinis dari Leo.


Adhara terus menggenggam tangan Chan berusaha memberikan kekuatan pada laki-laki tersebut. Chan berusaha menahan amarahnya agar tidak meledak dengan Leo di depannya yang terus menatapnya dengan tatapan yang sangat sulit diartikan.


Bagaimanapun pasti Leo merasa begitu sedih saat anak nya sendiri justru begitu membencinya tanpa ia tahu apa penyebab putranya itu yang begitu membencinya.


“Apa yang aku lakukan? Kau tahu aku selalu memperlakukanmu dengan baik,” ucap Leo dengan menatap Chan penuh tanda tanya.


Chan tersenyum begitu sinis lalu menunduk sambil memainkan pecahan beling yang sudah melukai tangannya. Namun entah bagaimana laki-laki itu malah begitu kuat menahannya. Adhara yang melihatnya bahkan sudah meringis dan ingin mengobatinya namun sepertinya laki-laki itu malah tak berminat melakukannya.


“Kau yakin? Bukankah kau sedari aku kecil selalu menuntutku untuk menjadi sempurna? Menuntut agar aku selalu berada di urutan pertama di kelas? Bahkan mengajariku tentang perusahaan di saat teman-teman ku yang lain masih begitu asik menikmati masa SMP nya,” ucap Chan dengan senyuman miringnya.


Darah di tangan Chan terus menetes membuat Adhara yang melihatnya akhirnya merasa tak tahan.

__ADS_1


“Chan luka lo,” peringat Adhara namun dapat ia melihat kedua orang di depannya itu hanya menatap luka tersebut tanpa mau menghiraukannya. Dan dari sana Adhara bisa melihat sepertinya Leo memang tidak pernah peduli pada anaknya sendiri membuat senyuman sinis terpatri di wajah gadis itu.


“Luka ini gak ada apa-apanya dibanding luka di hati gue yang udah orang ini lakukan,” ucap Chan sambil melihat tangannya yang sudah terluka dan penuh darah.


“Kau benar-benar ingin tahu mengapa aku membencimu?” tanya Chan dengan menaikkan sebelah alisnya bertanya pada Leo yang hanya terdiam di tempatnya.


“Karena kau adalah penyebab dari kematian Kakek juga Om Rendra,” ucap Chan yang berhasil membuat Leo terkejut begitupun dengan Adhara yang tak kalah terkejutnya mendengar hal tersebut.


“Kau pikir selama ini aku tak tahu tentang apa yang kau lakukan? Kau begitu gila harta hingga melupakan siapa yang sudah membawamu hingga sebesar ini,” ucap Chan yang begitu menusuk.


Tawa sendu laki-laki itu begitu jelas terdengar menyiratkan luka yang begitu dalam, luka yang sudah di simpannya selama ini. Luka dan kenyataan yang berusaha ia tutup rapat-rapat untuk dirinya sendiri.


“Kamu menuduh Papa? Atau ada seseorang yang menghasut mu dan mengatakan semua itu?” tanya Leo yang masih mengelak atas kesalahan yang telah dilakukannya membuat tawa Chan semakin keras.


“Menuduh? Aku bahkan mendengarnya sendiri bagaimana Anda meminta orang suruhan Anda untuk membuat semua investor di perusahaan kakek mencabut sahabat nya membuat perusahaan kakek bangkrut dan bersamaan dengan itu bahkan Anda meminta seseorang untuk menyabotase mobil Om Rendra hingga mengakibatkan Om Rendra meninggal,” ucap Chan sambil menggelengkan kepalanya ia tak menyangka demi sebuah harta dan kekuasaan, laki-laki di depannya yang menyebut dirinya Papa Chan tersebut bisa melakukan hal gila tersebut.


“Mengapa anda begitu tega menghancurkan mental mertua Anda sendiri, sampai membuat mertua Anda bunuh diri? Bahkan tak sampai di situ setelah menghancurkan mental mertua Anda dan membunuh Ipar Anda yang Anda anggap penghalang. Anda juga menghancurkan mental istri Anda sendiri,” ucap Chan tersenyum begitu sinis. Tangannya mengepal dengan begitu kuat.


Tatapannya yang tajam terus terarah pada tangannya yang penuh luka dan darah tersebut.


“Anda tahu bagaimana hancurnya Mama saya setelah Papa dan kakaknya meninggal? Dia sangat hancur apalagi setelah tahu jika pelakunya adalah suami nya sendiri. Namun ia tak bisa berbuat apapun karena dia begitu mencintai Anda,” ucap Chan melanjutkan ceritanya.


Adhara yang mendengar hal tersebut bahkan dapat merasakan apa yang Mama Chan rasakan saat itu. Pasti sangat sakit setelah ditinggal oleh orang yang begitu ia cintai ia malah mendapatkan bukti jika pelakunya adalah suami yang begitu dicintai.


Adhara begitu kagum pada wanita tersebut, yang begitu kuat menghadapi semua ini yang tentu saja bukan hal yang mudah. Mental mama Chan begitu kuat.


“Dan tak habis sampai di sana, Anda bahkan menjual Mama saya pada Ayah Titania demi pemberian saham yang akan diberikan oleh Ayah Titania. Tidakkah Anda merasa jika Anda lebih buruk dari iblis?” tanya Chan dengan senyuman sinisnya yang kini membuatnya mengangkat wajahnya lalu menatap pada Leo yang sudah ketakutan mendengar apa yang Chan katakan.


“Mau sampai kapan Anda terus menyakiti keluarga Anda demi sebuah harta? Apa saat Anda tua nanti harta yang akan merawat Anda?” tanya Chan yang begitu menusuk.

__ADS_1


Leo segera berdiri dan berlalu dari sana dengan rasa takut dan amarahnya yang menjadi satu. Adhara yang melihatnya terus menatap sendu pada Leo yang tak ia sangka ternyata memiliki sikap yang begitu kejam.


Menjebak dan menjual Istrinya sendiri untuk diberikan pada orang lain? Sungguh tindakan paling bodoh serta kejam yang pernah Adhara dengar. Bagaimana laki-laki itu bisa memiliki sikap kejam tersebut?


Apa ia lupa jika seorang wanita lah yang telah melahirkannya juga telah melahirkan penerusnya? Adhara mengalihkan tatapannya pada Chan yang terus menunduk dengan air matanya yang terus mengalir membuat Adhara yang tak tega melihatnya langsung membawa Chan pada rengkuhannya.


“Menangislah, lo gak akan dikatakan cengeng hanya karena menangis,” ucap Adhara membuat Chan akhirnya mengeluarkan tangisnya yang selama ini ia pendam. Ia tak pernah menangis bahkan saat usianya baru empat tahu dan mengetahui semua itu.


Chan tak pernah menangis namun dari sana ia bersumpah akan terus menjaga mamanya dan melindungi seorang wanita serta tidak menyakiti wanita. Ia tak akan mau menjadi Leo kedua walau ia adalah penerus dari laki-laki tersebut.


***


Hai Semua balik lagi nih sama aku.


Btw siapa nih yang udah nunggu Adhara bareng tiga cogannya?


Semoga kalian suka ya, maaf kalau feel kurang dapet dan masih ada typo


Jangan lupa di tambahkan ke favorite, like, dan koment ya guys.


Follow ig aku ya @hilmiatulhasanah dan @wphilmiath


Oh iya untuk update aku bakal update 2 bab perhari ya guys


Stay healthy all.


Thank For Reading all.


See You Next Chapter All.

__ADS_1


__ADS_2