
Fyi "Quadrantids adalah hujan meteor yang mencapai puncaknya pada awal Januari dan yang bercahaya terletak di konstelasi Boötes. "
Happy Reading All.
***
Mobil sport berwarna hitam melaju dengan kecepatan penuh, membelah jalanan malam yang terlihat begitu lengang malam ini. Hujan yang baru saja turun membuat jalanan penuh dengan genangan air yang berada di sisi jalan. Menghiraukan jalan yang ia lewati akan mengimbaskan air ke sekitarnya laki-laki yang mengendarai mobil sport tersebut tetap saja melajukan motornya membelah jalanan dengan kecepatan tinggi.
Hingga tak lama akhirnya ia sampai di depan rumah besar yang berada di seberang jalan. Tatapannya begitu lurus menatap rumah besar tersebut, lebih tepatnya kini ia menatap pada salah satu kamar yang berada di rumah tersebut. Kamar yang masih menyala, menunjukkan jika penghuninya masih terjaga.
Tatapannya kini menampakkan rasa bersalah serta kesedihan. Namun di dalam sana ada amarah yang ia simpan. Hatinya kini rasanya begitu hancur. Kepalanya penuh dengan beban yang kini bersarang di pundaknya.
“Sky maaf,” ucap laki-laki tersebut sambil memejamkan matanya merasakan kekecewaan pada dirinya sendiri yang telah tega berbuat hal menjijikkan dengan gadis lain. Laki-laki tersebut adalah Antares. Ia lah yang sekarang berada di depan rumah Sky namun tak ada keberanian untuk keluar dari mobilnya dan menghampiri gadisnya tersebut.
Ia masih merasa bersalah pada Sky atas apa yang sudah ia perbuat. Meskipun Sky tidak mengetahuinya namun tetap saja ia merasa bersalah karena ia merasa telah mengkhianati Sky. Merasa kepalanya yang semakin pusing dan besok ia harus ke kampus akhirnya ia memilih untuk kembali melajukan mobilnya menuju rumahnya sendiri untuk beristirahat.
***
Suara wanita yang tengah muntah-muntah di dalam kamar mandi membuat Chan yang baru saja masuk ke kamarnya segera menghampiri istrinya tersebut. Ia tahu Adhara pasti saat ini masih marah padanya namun ia juga tak bisa jika harus diam saja dengan masalah yang kali ini mereka hadapi.
Chan masuk ke kamar mandi dan segera memijat tengkuk Adhara membuat Adhara segera menoleh ke samping saat merasakan jika ada yang memijat tengkuknya. Wajahnya terlihat begitu datar juga menatap Chan dengan begitu tajam. Namun ia membiarkan saja Chan memijat tengkuknya karena ia juga sudah lelah memuntahkan seluruh isi perutnya.
“Udah?” tanya Chan dengan begitu lembutnya saat Adhara sudah mencuci wajahnya, namun tak ada jawaban dari wanita tersebut yang lebih memilih untuk kembali ke ranjangnya. Chan menghela nafasnya kasar lalu segera keluar dari kamarnya.
“Dasar gak peka, bukannya ngejelasin malah pergi gitu aja,” ucap Adhara dengan air matanya yang kini sudah turun membasahi pipi mulusnya.
“Ini lagi kenapa harus nangis segala sih,” ucap Adhara yang segera menghapus air matanya dengan kasar merasa tak suka dengan ia yang lemah seperti ini. Semenjak hamil ia memang begitu sensitif dan mudah sekali menangis membuat Adhara bahkan merasa kesal dengan dirinya yang seperti ini.
__ADS_1
Namun tak beberapa lama pintu kamarnya kembali terbuka dan menampilkan Chan yang datang dengan membawa nampan berisi teh hangat juga roti. Melihat Adhara yang menangis dengan segera laki-laki tersebut menghampiri Adhara dengan tatapan bingungnya.
“Kamu kenapa? kenapa nangis? ada yang sakit?” tanya Chan dengan wajah khawatirnya pada Adhara yang kini malah semakin mengeraskan tangisnya membuat Chan kini menjadi kalang kabut karena gadisnya tersebut.
“Hey kenapa nangis hm?” tanya Chan pada Adhara sambil memangku[ wajah wanita nya tersebut dan menghapus air mata yang mengaliri wajahnya.
Tadi Adhara mengira jika Chan meninggalkannya namun ternyata ia salah karena ternyata kini laki-laki tersebut berada di hadapannya setelah meletakkan nampan yang ia bawa. Ternyata laki-laki tersebut hanya mengambil sarapannya.
“Kamu marah sama aku karena masalah kemarin kan? biar aku jelasin ya,” ucap Chan dengan begitu sabarnya sambil menggenggam tangan Adhara dan kini duduk di samping Adhara. Membawa wanita tersebut untuk menghadap ke arahnya agar ia bisa melihat wajah cantik istrinya tersebut.
“Sebelumnya aku minta maaf karena masalah ini, aku bener-bener gak ada niatan untuk melakukannya,” ucap Chan yang mulai meminta maaf dan merasa bersalah pada ADhra atas apa yang ia lakukan. Ia tahu ia salah karena tak seharusnya ia menyewa seorang perempuan waktu itu.
“Waktu itu aku lagi mabuk sayang, aku gak tau apa yang aku lakuin. Aku lagi marah sama diri aku sendiri. aku marah karena saat itu kamu mutusin aku,” ucap Chan pada Adhara yang kini sontak membuat Adhara menatap Chan dengan tatapan sendunya.
“Ya, kejadian ini uda lama. Saat aku mutusin kamu. Kamu tahu saat itu aku hancur sekali karena aku harus kehilangan kamu. Sampai akhirnya aku pergi ke club dan aku malah menyewa seorang perempuan. Tapi aku bersumpah aku gak make dia, gak ada perempuan yang pernah aku sentuh selain kamu Sayang,” ucap Chan pada Adhara berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Adhara masih diam mendengarkan tanpa mau mengatakan apapun pada Chan membuat Chan menghela nafasnya kasar karena merasa jika Adhara belum memaafkannya.
“Minimal *****-***** kan,” ucap Adhara pada Chan dengan begitu datarnya yang membuat Chan sontak menggelengkan kepalanya.
“Aku bayar doang Yang. Pas dia dateng aku malah pergi,” ucap Chan pada Adhara karena memang itulah yang sebenarnya terjadi. Saat wanita tersebut datang ia malah mengingat Adhara membuatnya merasa bersalah pada Adhara padahal saat itu ia dan Adhara sudah putus.
Namun Chan malah masih saja memikirkan Adhara, cintanya terlalu besar untuk Adhara. Adhara menatap Chan dengan tatapan menyelidiknya mencari kebohongan dalam mata laki-laki tersebut namun Adhara tak menemukannya hanya tatapan lembut yang ia lihat di sana.
“Kenapa dia dateng lagi sekarang?” tanya Adhara pada Chan yang kini mengangkat kedua bahunya.
“Aku juga gak tau Yang, kenapa baru sekarang dia dateng nya,” ucap Chan pada Adhara yang kini sudah tertawa dengan hambar membuat Chan malah takut dengannya.
“Kenapa baru sekarang datengnya? Jadi kamu mau datengnya dulu waktu kita belum nikah?” tanya Adhara dengan tatapan tajamnya pada Chan yang kali ini dibuat gelagapan dengan pertanyaan yang diajukan oleh istrinya tersebut.
__ADS_1
“Bukan begitu maksud aku sayang, kenapa harus datang sekarang? aku curiga dia punya niat jahat sama keluarga kita,” ucap Chan dengan wajah takutnya takut jika ia salah bicara lagi dan malah menjadi boomerang untuknya lagi.
Memikirkan ucapan Chan, Adhara jadi mulai berpikir apa yang Chan katakan benar. Jika ada yang memang ingin membuat nya juga Chan bertengkar.
“Awas aja kalau kamu sampai berani selingkuh dari aku,” ucap Adhara dengan begitu tegasnya pada Chan yang kini tersenyum ke arah Adhara sambil menganggukkan kepalanya setelahnya ia segera mencium kening Adhara begitu lama.
“Udah jangan ngambek lagi, ini di minum dan di makan dulu,” ucap Chan pada Adhara memberikan sarapan wanita tersebut yang tadi ia letakkan di nakas.
***
Hi semua, ketemu lagi sama aku dengan cerita yang udah kalian tunggu-tunggu.
Aku harap kalian akan suka sama cerita ini. Silahkan berikan kritik dan saran untuk cerita ini.
Maaf ya kalo masih ada typo dan feel kurang dapet.
Oh iya jangan lupa vote dan koment ya guys.
Follow juga akun aku ya, dan ig aku @hilmiatulhasanah dan @wphilmiath
Dukungan kalian semangat ku😉
Thanks for Reading All.
See You Next Chapter.
Jangan lupa tinggalin jejak ya
__ADS_1