
Happy Reading all.
****
Adhara berjalan dengan santai menuju kelasnya dengan cilok yang dibelinya di depan halte tadi. Tanpa menghiraukan tatapan orang-orang yang menatapnya dengan tatapan menilai, lagi pula orang-orang tersebut hanya bisa menilai tanpa berkaca terlebih dulu sebelum menilai.
Merasa yang paling baik hingga lupa dengan pepatah yang mengatakan di atas langit masih ada langit. Mereka begitu sibuk dengan apa yang mereka miliki hingga lupa semua hanya titipan dan bisa diambil kembali kapanpun.
“Punya aturan kan di rumah? Anak gadis itu jangan makan sambil jalan gak baik, keselek tau rasa lo,” sarkas Antariksa yang entah datang dari mana namun kini laki-laki itu malah sudah berada di samping Adhara berjalan dengan menyeimbangkan langkahnya dengan Adhara.
“Ribet banget lo,” sinis Adhara sambil menyuapkan cimolnya dengan kasar menghiraukan Antariksa yang berada di sampingnya.
“Keselek tau rasa lo,” sumpah Antariksa sambil menatap Adhara tajam yang di balas tatapan datar gadis itu.
“TBL TbL TBL takut banget loh,” ucap Adhara dengan gaya yang dibuat seimut mungkin. Mungkin bagi orang lain yang melihatnya akan terlihat menggemaskan namun bagi Antariksa juga hatersnya mereka rasanya ingin muntah melihat Adhara seperti itu.
“Dikira imut lo begitu? Enek iya gue ngeliatnya,” ucap Antariksa dengan gaya yang di buat ingin muntah. Adhara mengerucutkan bibirnya kesal melihat hal tersebut.
Dengan iseng gadis itu malah berjinjit dan membuat wajah sok imut tepat di depan mata Antariksa yang kini malah tak berkedip melihatnya. Jantung laki-laki itu sudah berdetak dengan tidak stabil. Antariksa mendorong Adhara menjauh lalu berkhem menetralkan dirinya yang tiba-tiba saja merasa salting.
“Mulut lu bau jigong gak usah deket-deket,” ucap Antariksa yang setelahnya langsung pergi dari sana meninggalkan Adhara yang kini sudah memelototkan matanya mendengar hinaan Antariksa.
“Antariksa sialan, awas lo ya gue tandain lo,” teriak Adhara dengan wajah kesal.
Gadis itu melanjutkan jalannya sambil memakan cimolnya yang tersisa sedikit dengan kesar.
“Enak aja mulut gue wangi gini di kira bau, ada yang salah tuh sama idungnya,” gerutu Adhara sambil mengerucutkan bibirnya kesal dan akhirnya memilih segera menuju kelasnya sebelum ulangan dimulai.
Jika ia telat lihat saja ia kana menyalahkan Antariksa dengan menuntut ganti rugi karena sudah menyia-nyiakan waktunya hanya untuk mendengarkan ocehan tidak bermutu laki-laki itu.
Saat Antariksa berjalan di koridor tanpa ia tahu ternyata sedari tadi Arche berada di balik pilar sedari tadi hingga saat Antariksa lewat ia segera berjalan menyeimbangi laki-laki itu.
“Tatapan gak bisa bohong Ta,” ucap Arche dengan senyuman misteriusnya. Antariksa yang mendengarnya memutar bola matanya malas.
“Tindakan juga ketara banget,” balas Antariksa dengan sarkas.
Arche tertawa mendengarnya lalu menatap Antariksa dengan senyumannya yang begitu tenang.
“Selagi janur kuning belum belum melengkung maka di halalkan untuk menikung,” ucap Arche dengan senyumannya sambil menepuk pundak Antariksa.
“Semangat,” ucap Arche sambil menepuk pundak Antariksa hingga setelahnya laki-laki itu berjalan lebih dulu memasuki kelasnya.
Antariksa menghembuskan nafasnya kasar lalu segera ikut memasuki kelasnya yang ternyata disana sudah ada Chan yang tengah membaca bukunya dengan serius.
__ADS_1
***
Suara bel istirahat akhirnya berbunyi membuat semua murid bersorak kesenangan karena akhirnya yang di tunggu-tunggu datang juga.
Adhara segera keluar dari kelasnya untuk mencari kedua temannya yang berada di kelas yang berbeda dengannya selama ujian ini.
Duar
Adhara berjengit kaget saat suara letusan balon terdengar saat ia keluar dari kelasnya.
“Kaget gue woy astagfirullah,” ucap Adhara sambil mengelus dadanya, kedua temannya yang melakukan keisengan tersebut hanya tertawa melihat wajah kaget Adhara yang begitu lucu.
“Sopan banget kaget lo segala nyebut gitu,” ucap Ariel dengan tawanya yang masih belum berhenti.
“Woh jelas dong gue kan sholeha,” ucap Adhara dengan senyuman yang dibuat semanis mungkin.
“Sholehot elo mah,” sanggah Elara yung juga masih tertawa.
Mereka berjalan bersama menuju kantin dengan Adhara yang berada di tengah dengan mereka sesekali mereka terus bercanda di koridor menuju kantin.
“Noh Ra, Sholeha itu kayak gitu,” ucap Ariel sambil menunjuk salah satu siswi yang memakai hijab.
“Besok gue coba,” ucap Adhara yang membuat kedua temannya itu juga ikut tertawa.
“Gila lo bisa di seruduk cewek satu sekolah gue, mana mereka taunya gue pacar Chan,” ucap Adhara dengan nadanya yang begitu terlihat kekesalannya.
“Ya udah nembak Chan aja,” ucap Ariel yang di balas dengan anggukan setuju oleh Elara.
“Gue lagian gak punya baju panjang gitu,” ucap Adhara karena memang bajunya adalah baju seragam pada umumnya anak SMA tidak ketat tapi tidak panjang.
“Tar gue beliin sekalian sama cadar nya,” ucap Elara dengan tawanya. Ariel mengacungkan kedua jempolnya di hadapan Adhara. Gadis itu akhirnya hanya bisa memutar kedua bola matanya malas mendengar ucapan kedua temannya itu.
“Apa nih heboh -hoboh?” tanya Sky yang ternyata menunggu Adhara dan kedua sahabatnya di depan kantin.
“Kucing gue bertelur,” ucap Elara membuat Sky menatap datar pada gadis itu.
“Udah, udah cacing cacing peliharaan gue udah bunyi nih,” ucap Adhara yang lebih dulu memasuki kantin dan langsung mengambil makan siangnya dan segera mencari tempat duduk setelahnya.
Tanpa di sadari gadis itu ternyata sedari tadi ada tiga pasang mata yang terus memperhatikan apa yang gadis itu lakukan.
“Ulangan hari terakhir, mall yuk pulang sekolah,” ajak Sky yang langsung dibalas dengan gelengan kompak ketiga orang lainnya yang berada di sana membuat Sky mendengus kesal.
“Gue harus hamat,” ucap Adhara sambil menyuapkan makanannya ke mulutnya.
__ADS_1
“Gue udah ada janji sama abang,” jelas Elara memberikan alasan pada Sky agar tidak menyinggung gadis itu karena menolak ajakannya.
“Gue udah janji sama mamah,” jelas Ariel karena memang ia sudah memiliki janji dengan mamanya.
“Ayo lah Dhar, gue yang bayarin deh,” ajak Sky dengan memohon. Adhara terlihat terdiam sebentar. Sky menggoyangkan tangan gadis itu dengan tatapan memohonnya.
Adhara akhirnya menghembuskan nafasnya sambil mengangguk. Bukannya matre karena imbalan akan dibayar baru Adhara mau ikut, ia hanya tak tega melihat Sky yang sudah memohon padanya dengan wajah memelasnya itu.
“Makasih Adhara,” ucap Sky sambil memeluk Adhara dari samping.
Selanjutnya mereka melanjutkan pembicaraan mereka dari hal yang penting sampai hal yang tidak penting, walau sebenarnya apa yang mereka bicarakan memang tidak ada yang penting. Memang hal penting apa yang bisa dibicarakan keempat gadis absurd tersebut. Tidak mungkin bukan mereka membahas tentang hutan negara kalau sudah kiamat nanti siapa yang nanggung dosanya?
***
Halo semua Happy New Year 2022 All.
Semoga impian yang belum terwujud di tahun 2021 bisa terwujud di tahun 2022 ini.
Tetap semangat ya apapun yang terjadi, di tahun ini harus bisa lebih kuat lagi. Kalian hebat bisa bertahan sejauh ini.
Ada pesan yang ingin di sampaikan untuk 2021 dan 2022? coba tulis dulu sini pesan dan harapan kalian.
Btw siapa nih yang udah nunggu Adhara bareng tiga cogannya?
Maaf ya baru bisa update sekarang.
Semoga kalian suka ya, maaf kalau feel kurang dapet dan masih ada typo.
Jangan lupa di tambahkan ke favorite, like, dan koment ya guys.
Follow ig aku ya @hilmiatulhasanah dan @wphilmiath
Oh iya untuk update aku bakal update 2 bab perhari ya guys.
Stay healthy all.
Thank For Reading.
See You Next Chapter All.
__ADS_1