
Suara keributan dari arah ruang makan kini terdengar begitu memusingkan bagi Adhara. Kini ia tengah menyiapkan sarapan untuk Suami juga anaknya. Tahun-tahun berlalu dengan begitu cepat kini keluarga kecilnya sudah tumbuh dengan banyak kebahagian dari anak-anaknya.
Ya, kini ia sudah memiliki tiga orang anak. Altair kini sudah tumbuh menjadi laki-laki yang begitu tampan di usianya yang sudah menginjak usia 17 tahun dan kini ia sudah duduk di bangku SMA dan berada di semester terakhir kelas 3. Tak perlu heran di usianya yang masih muda ia sudah berada di kelas 3 pasalnya saat SMP laki-laki tersebut mengambil kelas akselerasi yang membuatnya SMP hanya dua tahun.
“Buna, Bang Aster asal comot makanan Ara nih Bun,” teriak seorang gadis memanggil ibunya yang kini rasanya benar-benar dibuat stres dengan kelakuan dari anak-anaknya tersebut.
Ara adalah putri satu-satunya Chan juga Adhara, namun sifatnya sangat mirip dengan Adhara yang begitu bar-bar. Ara Zelinea Alba, gadis yang kini berusia 15 tahun dan kini ia sudah duduk di bangku SMA kelas satu karena seperti kakak-kakaknya ia juga harus masuk kelas Akselerasi saat SMP.
“Aster, makan makanan lo,” ucap suara yang begitu datar tersebut yang tak lain adalah Altair menengahi pertikaian adiknya tersebut. Sifatnya begitu mirip dengan Chan yang begitu dingin dan tak banyak bicara, namun jika bersama dengan keluarganya ia akan menunjukkan sikap lunaknya meskipun hanya sedikit.
Aster laki-laki yang kini menggunakan pakaian yang sama sekali tidak bisa di sebut rapih tersebut mendengar saat kakaknya tersebut kini sudah berkata seperti itu, akhirnya ia memilih untuk diam. Aster adalah kakak kembar Ara. Aster Koray Alva, laki-laki yang memiliki sifat kejam seperti Chan juga sikap dingin Chan, namun ia juga memiliki sikap nakal seperti Adhara. Percampuran antara Adhara dan Chan.
“Buna pusing liat kalian berantem tiap hari, bisa gak sih sehari aja kalian tenang,” ucap Adhara pada anak-anaknya tersebut yang kini akhirnya memilih untuk diam sebelum ibu mereka semakin marah dan ayah mereka yang akan turun tangan. Seperti biasa, ayahnya tersebut hanya akan diam sebelum istrinya semakin marah baru ia akan turun tangan.
“Ara ini makanan kamu, Buna buat yang baru,” ucap Adhara pada anaknya tersebut yang akhirnya hanya bisa mematuhi ucapan ibunya tersebut. Beginilah kini kegiatan Adhara, hanya mengurus anak-anaknya juga suaminya tersebut. Sebenarnya ia ingin bekerja namun Chan melarangnya dan akhirnya Adhara hanya bisa mematuhi suaminya tersebut.
“Udah nentuin mau kuliah di mana Bang?” tanya Chan yang anaknya tersebut. Kini Chan sudah begitu rapi dengan jas kerjanya meskipun kini usianya sudah 41 tahun namun laki-laki tersebut masih terlihat begitu tampan juga berkarisma.
“Udah Dad. Aku pengen kuliah di Amerika,” ucap Altair pada ayahnya tersebut yang menjawabnya dengan anggukan.
“Yah kalau Ara ada yang gangguin siapa yang mau jagain Ara lagi?” tanya Ara dengan mengerucutkan bibirnya mendengar jika kakak pertamanya yang begitu menyayanginya tersebut akan kuliah di luar negeri.
“Siapa sih berani gangguin lo? Lo itu lebih nyeremin dari setan, gak bakal ada yang gangguin,” ucap Aster yang lagi-lagi menggoda adiknya tersebut. Adhara yang mendengarnya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Udah mending sekarang kalian cepat habiskan makannya, terus langsung berangkat sekolah,” ucap Adhara dengan tegasnya pada anak-anaknya tersebut yang langsung menganggukkan kepalanya. Adhara menjadi heran dengan Ara juga Aster. Mereka kembar namun mereka juga hanya bisa bertengkar saja, berbeda dengan Aster yang dewasa menghadapi adik-adiknya tersebut, Aster lebih suka menggoda adiknya itu.
Setelah selesai dengan sarapannya ketiga remaja tersebut segera berpamitan pada Adhara juga Chan lalu setelahnya baru mereka akan pergi ke sekolah. Ara yang akan berangkat bersama dengan Altair sedangkan Aster akan berangkat sendiri.
“Udah jangan marah-marah terus, cepet tua nanti,” ucap Chan sambil mengelus puncak kepala istrinya tersebut sayang. Adhara menghembuskan nafasnya kasar lalu menganggukkan kepalanya.
“Lagian mereka juga kayak kamu yang suka cari ribut,” ucap Chan yang kini sontak membuat Adhara memelototkan matanya mendengar ucapan Chan yang kini menggodanya.
“Chan,” teriak Adhara dengan kesal yang membuat Chan terkekeh mendengarnya. Meskipun mereka sudah memiliki tiga anak remaja tapi hubungan mereka masih begitu baik. Dan Adhara masih saja suka memanggil Chan dengan namanya saat tak ada anaknya.
“Udah, aku berangkat dulu. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku,” ucap Chan pada Adjara yang segera menjawabnya dengan anggukan. Adhara segera mengantar Chan hingga depan pintu laly mencium tangan Chan membuat Chan tersenyum lalu mengecup kening istrinya juga mencium bibir istrinya sekilas.
“Aku berangkat dulu ya Sayang,” ucap Chan yang di jawab dengan anggukan oleh Adhara. Setelah Chan pergi, Adhara memilih untuk masuk lagi ke dalam rumahnya dan melihat tanaman nya di taman belakang.
***
“Ya jangan heran lo Star, lo pikir dia begini karena gan siapa? Gan emaknya lah,” ucap Aster yang kali ini menimpali ucapan Star yang membuat ketiga temannya tersebut terkekeh mendengarnya berbeda dengan laki-laki yang kini hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Aster tersebut. Berbeda dengan Ara yang kini hanya menatap kakak kembarnya itu.
“Emak gue, emak lo juga,” ucap Ara mengingatkan pada kakaknya tersebut yang kini hanya menjawabnya dengan cengiran.
“Emak dia kata bapak gue emang paling bar-bar sih,” ucap seorang gadis yang kali ini ikut menimpali ucapan Star tersebut. Gadis cantik dengan kulit putih dan senyumannya yang begitu manis. Gadis yang cukup dewasa untuk teman-temannya yang minim akhlak tersebut. Dia adalah Ascella, anak dari Arche.
“Stt meskipun emak gue bar-bar juga banyak yang demen. Bapak lo,” tunjuk Adhara pada Ascella.
__ADS_1
“Bapak lo,” tunjuknya lagi pada Star yang kali ini mengalihkan perhatiannya.
“Om lo juga suka sama emak gue,” ucap Ara lagi membanggakan ibunya tersebut yang disukai oleh ayah dari teman-temannya.
“Cuma bapak Mars yang aman,” ucap Star sambil menatap laki-laki yang sedari tadi hanya diam. Dia adalah Mars, anak dari Nora juga Izar. Mars adalah yang paling dewasa dan tak banyak bicara di antara teman-temannya tersebut.
“Bapak dia juga pernah kali, cuma gak ke ungkap aja,” ucap Aster yang kali ini menimpali.
Jika kalian bertanya siapa yang menceritakan itu pada mereka tentu saja jawabannya orang tua mereka yang malah saling menjatuhkan dan mengungkap Aib satu sama lain pada anak-anak mereka.
Hubungan persahabatan yang terjalin sejak SMA tersebut kini malah turun pada anak-anak mereka yang jarak umurnya tak terlalu jauh. Tentu saja orang tau mereka merasa senang akan hal tersebut. Bahkan mereka juga menceritakan tentang Antariksa pada anak-anak mereka dan mengatakan jika Antariksa adalah pahlawan mereka.
Sangat tidak disangka setelah banyak nya ujian dan masalah yang harus mereka hadapi kini akhirnya mereka semua ada di titik kebahagiaan. Kini mereka hanya berharap jika kebahagiaan ini akan terus ada untuk mereka.
***
Thanks For Reading All.
Makasih ya udah nemenin aku dari awal sampai sekarang.
Semoga endingnya memuaskan.
Sampai bertemu di cerita aku yang lain.
__ADS_1
Stay Healty all.