Atmosphere

Atmosphere
S2 Bacubirito


__ADS_3

Fyi "Meteorit Bacubirito adalah meteorit terbesar yang pernah ditemukan di Meksiko dan beratnya kira-kira sama dengan Cape York. Ini adalah meteorit besi yang beratnya sekitar 20 ton, dan berukuran panjang 4,25 meter, lebar 2 meter, dan tinggi 1,75 meter. Saat ini dipajang di Centro de Ciencias de Sinaloa."


Happy Reading All.


***


Setelah merasa sedikit tenang Adhara memutuskan untuk segera kembali, pasalnya kini hari sudah mulai sore entah sudah berapa lama ia berada di taman tersebut, namun tentu ia tidak sebentar berada di sana mengingat hari yang kini sudah mulai sore padahal tadi saat dia disana hari masih begitu terang.


Saat gadis tersebut keluar dari taman depan, dapat ia lihat seorang laki-laki yang kini tengah menunggunya duduk di salah satu kursi yang berada di depan taman, Adara dengan segera menghampiri laki-laki tersebut yang segera membuat laki-laki tersebut menoleh ke arah Adhara dengan senyumannya yang begitu lembut.


“Lo, ngapain lu masih di sini?”  tanya Adhara pada laki-laki tersebut yang tak lain adalah Antares. Dapat ya tebak jika laki-laki tersebut terus menunggunya pasalnya saat hari sudah mulai sore seperti ini, laki-laki tersebut masih menggunakan pakaian yang tadi ya pakai.


“ Ya Lo pikir gue bakalan tega ninggalin lo disaat keadaan seperti ini? Meskipun gue nggak bisa nemenin lu disamping lo tapi seenggaknya gue ada di sekitar lo,” ucap Antares pada Adhara yang membuat gadis tersebut terdiam mendengarnya. Melihat tingkah laki-laki tersebut ia menjadi teringat Antariksa yang selalu ada di saat ia merasa sedih, yang selalu menemaninya di saat ia hancur. Sungguh ia merindukan laki-laki tersebut dan kini di hadapannya malah Ia mendapatkan sosok yang begitu mirip dengan Antariksa bukan hanya namanya tapi bagaimana cara ia memperlakukan Adhara dengan begitu baik.


“Thanks, gue balik dulu, jadi mending lo pulang aja,” ucap Adhara pada laki-laki tersebut lalu segera pergi dari sana. Gadis tersebut menghembuskan nafasnya lelah, sungguh jika saja bisa ia ingin sekali memutar waktu agar ia bisa menyelamatkan laki-laki tersebut. Rasa rindunya pada Antariksa benar-benar begitu menyakitkan untuknya.


Baru saja gadis tersebut berjalan beberapa langkah Antares segera menahan nya,  Adhara sontak membalikkan tubuhnya dan mengerutkan keningnya bingung sambil melihat ke arah Antares dengan penuh tanya.


“Kenapa,”  tanya Adara dengan mengerutkan keningnya bingung sambil menatap Antares dengan wajah lelah nya.


“Biar gue antar pulang,”  ucap Antares yang setelahnya segera membawa Adhara menuju mobilnya, tanpa mendengar jawaban dari gadis tersebut laki-laki tersebut malah langsung membawa Adara untuk masuk ke dalam mobil laki-laki tersebut.


Tadi saat laki-laki tersebut menunggu Adhara yang tengah berada di taman seorang diri, Ia meminta bawahannya untuk mengambil mobilnya di kampus dan membawakannya ke taman tersebut. Karena tak mungkin di sore hari ia akan cepat mendapatkan taksi pasti akan sulit untuk mendapatkan taksi di sore hari sedangkan ia juga harus mengantar Adara pulang. Tidak mungkin ia membiarkan gadis tersebut untuk pulang seorang diri.


Kali ini ini gadis tersebut sama sekali tidak menolak saat Antares membawanya masuk ke dalam mobil laki-laki tersebut, Adhara yang biasanya memberontak jika Antares berani untuk menyentuhnya kini malah ia membiarkannya saja. Jujur saja sampai saat ini ia masih belum melupakan tentang Antariksa, dan kesedihan nya mengingat laki-laki tersebut mungkin hal tersebut yang membuatnya kini hanya bisa pasrah.

__ADS_1


Di dalam mobil tidak ada yang memulai pembicaraan mereka saling terdiam dengan pemikiran mereka masing-masing. Adhara yang terus melihat ke arah luar jendela sambil memikirkan tentang bagaimana ia dulu bersama dengan sahabatnya tersebut.


Antares sesekali melihat ke arah Adhara yang kini hanya terdiam sambil melihat ke luar jendela. Jujur saja ia begitu merasa penasaran ada apa sebenarnya dengan gadis tersebut? Namun ia tidak memiliki keberanian untuk menanyakannya pada gadis tersebut. Ia tahu jika untuk saat ini gadis tersebut tidak ingin jika ia mengungkit apa yang tengah dialami oleh gadis tersebut. Jadi ia memilih untuk diam dan membiarkan saja Adhara dengan pikirannya sendiri.


Hingga tak beberapa lama mereka akhirnya sampai di sebuah rumah yang tak terlalu besar milik Adhara. Jangan tanyakan mengapa laki-laki tersebut bisa mengetahui rumah Adhara, jelas saja karena Antares pernah membuntuti Adhara agar mengetahui rumah gadis tersebut. Terlihat seperti penguntit memang namun apa salahnya jika ia hanya ingin mengetahui tentang rumah gadis tersebut.


“Bentar deh kenapa lu bisa tahu rumah Gue,”  tanya Adara dengan tatapan menyelidik nya pada Antares yang kini hanya bisa menggaruk tengkuk bagian belakangnya merasa bingung harus menjawab apa.


“Ya emang apa salahnya kalau gue tau, lagian gue nggak sengaja tahu pas lewat sini terus kelihatan lo,”  ucap Antares membuat alibi pada Adhara yang kini masih memicingkan matanya namun setelahnya ia hanya bisa menganggukan kepalanya dan keluar dari mobil laki-laki tersebut.


“Btw thanks ya,” ucap Adhara yang sudah menutup pintu mobil laki-laki tersebut kembali.


Antares hanya menjawabnya dengan anggukan lalu segera pergi dari sana. Setelah kepergian Antares dengan segera Adhara masuk kedalam rumahnya tersebut. Gadis tersebut segera menuju ke arah kamarnya, kini ia merasa begitu lelah jadi lebih baik ya segera beristirahat di kamarnya.


Bahkan kini anggota keluarganya dibuat kebingung dengan tingkah Adhara yang begitu membingungkan tersebut.  Apa lagi gadis tersebut baru pulang saat hari sudah sore, mereka ingin menanyakannya pada Adhara namun sepertinya gadis tersebut kini tak ingin di ganggu.


“Lo di sana apa kabar?” tanya Adhara sambil menatap sendu ikan-ikannya tersebut.


"Lo tau gue baru aja ketemu sama cowok yang namanya sama kayak lo, bukan aja namanya tapi tingkah nya sama kayak lo," ucap Adhara dengan senyuman sendunya sambil menatap ikan yang pernah ia beli bersama dengan Antariksa tersebut.


"Gue gak tau kalau dunia sesempit ini," ucap Adhara dengan sendunya. Antariksa memang tidak dapat digantikan namun tetap saja saat baginya tingkah Antares sedikit mirip dengan Antariksa.


"Maaf ya Ta sampai sekarang gue belum bisa ke makam lo, gue gak siap Ta. Bahkan setelah beberapa tahun berlalu gue masih belum bisa dan kuat untuk ke makam lo lagi," ucap Adhara menghembuskan nafasnya kasar. Memang semenjak terakhir kali ia datang ke makam Antariksa ia belum sempat lagi untuk ke makam laki-laki tersebut. Ia tak sekuat itu untuk datang ke makam sahabatnya tersebut.


Bahkan saat ia ke Jakarta kemarin ia tak mengunjungi makan Antariksa karena mereka belum kuat.

__ADS_1


"Bahagia terus di sana Antariksa. Lo gak akan pernah bisa dilupain Antariksa," ucap Adhara lalu menelungkupkan wajahnya dalam liputan tangannya hingga gadis tersebut memejamkan matanya yang terasa begitu lelah.


Tanpa sadar akhirnya ia malah tertidur di meja belajarnya tersebut. Di depan akuarium nya.


***


Hi semua, ketemu lagi sama aku dengan cerita yang udah kalian tunggu-tunggu.


Aku harap kalian akan suka sama cerita ini. Jujur aja sebenarnya berat sih mau lanjut cerita ini. Aku takut malah cerita ini gak sebagus season pertama. Jadi aku harus kalian bisa kasih kritik dan saran agar aku bisa memperbaiki kalau ada yang salah ya.


Maaf ya kalo masih ada typo dan feel kurang dapet.


oh iya jangan lupa vote dan koment ya guys.


Follow juga akun aku ya, dan ig aku @hilmiatulhasanah dan @wphilmiath


Dukungan kalian semangat ku😉


Thanks for Reading All.


See You Next Chapter.


Jangan lupa tinggalin jejak ya


Tunggu dulu deh, sambil nunggu Adhara cs aku saranin kalian buat baca cerita ku yang gak kalah kece nih. Yang suka rasa sakit dan cerita yang penuh emosi kalian bisa nih buat baca cerita ku yang satu ini.

__ADS_1



__ADS_2