
Suasana yang begitu hening kini menjadi teman, dengan isak tangis tanpa suara yang mengiringi. Seorang gadis kini melihat ke arah gundukan tanah di depannya dengan tatapan kosong, tapi mata gadis tersebut tidak bisa berbohong. Air mata nya sudah mengalir sedari kemarin.
Mata panda garis tersebut terlihat begitu jelas jika ia tak menggunakan kacamata hitam yang menutupi matanya.
Seorang wanita kini tengah menangis dengan begitu sendu di pasaran makan anaknya. Memeluk batu nisan anaknya tersebut dengan begitu erat. Seolah jika itu adalah anaknya.
"Gue sekarang sendiri, gue kehilangan satu kakak lagi," gumam seorang gadis sambil menundukkan kepalanya dengan isak tangis yang begitu menyayat.
Sekarang laki-laki yang berdiri di samping nya Memeluk gadis tersebut erat. Berusaha untuk menenangkan, memberikan kekuatan pada gadis tersebut yang pasti sangat membutuhkannya.
"Lo gak sendiri, ada kita. Kita bakalan tetep jadi abang lo juga sahabat lo," ucap laki-laki tersebut sambil mengelus rambut gadis tersebut sayang.
"Ma lebih baik kita pulang," ajak seorang laki-laki paruh baya pada istrinya sambil membantu istrinya tersebut untuk bangun. Merangkulnya untuk pergi dari sana. Namun sebelum bener-benar pergi ia menyempatkan untuk melihat ke arah makan anaknya lebih dulu.
"Sky, ayo pulang," ajak laki-laki paruh baya yang tak lain adalah ayahnya. Namun Sky menjawabnya dengan gelengan.
"Sky masih mau nemenin Kak Anta," ucap Sky yang kini masih berada dalam pelukan laki-laki yang tak lain adalah Arche.
Ya, yang terkubur di pusaran terakhirnya tersebut adalah Antariksa. Laki-laki tersebut sudah pergi meninggalkan kita semua dengan berbagai kenangan yang ditinggalkan nya. Demi menyelamatkan kekasih orang yang dicintainya, laki-laki tersebut mengorbankan nyawanya.
Cinta bahkan membuat Antariksa kehilangan nyawanya, namun yang kali ini ia selamatkan bukan orang yang dicintainya. Melainkan seseorang yang dicintai oleh gadis yang ia cintai. Sangat baik bukan?
Setelah kepergian orang tua Antariksa. Adhara, gadis yang memakai kaca mata hitam tersebut terduduk di samping makam laki-laki yang dulu selalu menjaganya. Bahkan mengorbankan nyawa untuknya.
"Lo bodoh Antariksa, kenapa lo bisa ikutan jatoh? Harusnya bisa nempel di dinding kayak cicak," ucap Adhara dengan tangisnya sambil menundukkan kepalanya.
"Setelah ini siapa yang bakalan nanggepin kekonyolan gue lagi Ta? Siapa yang bakalan gue ajak ribut lagi? Siapa yang bakal ngejaga gue lagi kalo Chan nyakitin gue lagi?" tanya Adhara dengan tangisnya yang semakin keras.
Kini ia benar-benar merasakan sebuah kehilangan. Kehilangan seorang sahabat yang selalu ada untuk kita memang begitu menyakitkan.
Gadis tersebut menunduk sambil menggenggam gundukan tanah di depannya. Ia begitu sedih karena kehilangan Antariksa, namun ia juga begitu marah karena Antariksa pergi meninggalkannya.
Chan ikut terduduk di samping Adhara lalu mengelus batu nisan dengan nama Antariksa Ravindra tersebut lembut.
" Kenapa pergi duluan Bro? Harusnya lo masih harus hidup. Gue masih belum puas pamer sama lo kalo Adhara milik gue," ucap Chan yang tanpa sadar meneteskan air matanya. Ini pertama kalinya ia menangis selain saat kecil.
__ADS_1
Air matanya kini akhirnya terjatuh, untuk sahabat nya yang sudah melindunginya.
"Kak Anta, meskipun lo kasar dan galak. Tapi gue tau lo ngelakuin itu buat ngejaga gue, sekarang gue kangen dikasarin lo Kak," ucap Sky dengan tangisnya dalam dekapan Arche.
"Lo tenang aja Ta, gue bakalan jaga Sky sesuai keinginan lo," ucap Arche dengan senyumannya. Di balik senyuman yang begitu manis tersebut, terdapat luka yang disembunyikan dengan begitu rapih.
"Ayo balik, udah mau hujan," ucap Chan sambil membantu Adhara untuk berdiri.
Mending yang begitu gelap seolah ikut berduka untuk mereka. Bukan hanya mereka yang bersedih namun juga bumi yang ikut menangis atas kepergian orang baik seperti Antariksa.
Adhara mengelus batu nisan Antariksa sebelum pergi, lalu menampilkan senyum termanis nya untuk laki-laki tersebut.
"Gue pergi ya, tapi gue janji bakalan sering datang ke sini," ucap Adhara lalu segera pergi bersama Chan yang merangkul nya juga dengan sahabatnya yang lain yang ikut pergi.
Saat hendak pergi dari makan tersebut. Adhara menatap tajam pada makan baru yang juga terdapat di sana. Adhara menghentikan langkahnya lalu melihat makan tersebut marah.
"Harusnya kalo emang mau mati, jangan bawa temen. Mati sendiri aja, gak akan ada yang peduli," maki Adhara lalu segera pergi meninggalkan makan dengan nama Angkasa Pradipta tersebut.
Kini tujuan mereka adalah rumah Antariksa, sekedar untuk menghibur orang tua Antariksa dan membantu acara tahlilan yang akan di langsungkan malam ini.
***
Masih begitu ia ingat bagaimana saat pertama kali ia mendekati Antariksa di tempat ini. Saat mereka tengah malam bersama di rumah Antariksa, saat itu Antariksa tengah bermain gitar dan Adhara menghampirinya atas usulan Arche tapi ia malah di kira akan berbuat jahat pada laki-laki tersebut.
Adhara tersenyum kala mengingat kenangan tersebut, namun matanya seolah tidak bisa diajak kompromi karena lagi-lagi malah mengeluarkan air mata.
Adhara menatap kedua tangannya sendu. Ia mengingat kembali saat-saat terakhir Antariksa yang tersenyum padanya.
Saat itu Adhara baru saja sampai ke rumah sakit. Namun bukannya membantu dan mengejar Angkasa yang dibawa oleh brankar rumah sakit bersama para dokter. Adhara malah langsung berlari ke arah UGD untuk mencari Antariksa.
Saat sampai di depan UGD ternyata Antariksa baru saja akan masuk ke ruang UGD, Adhara segera menghampirinya dan menggenggam tangan laki-laki tersebut erat.
“Adhara,” panggil Antariksa dengan begitu lemah yang membuat Adhara segera menoleh ke arah laki-laki tersebut dengan air matanya yang sudah mengalir dengan deras.
“Lo harus bahagia ya, jangan nangis. Lo jelek kalau nangis, gue gak mau cantik nya gue nangis Cuma karena gue yang sebentar lagi akan bahagia,” ucap Antariksa dengan senyumannya yang membuat Adhara menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Lo harus sembuh Antariksa, lo gak boleh ninggalin gue atau anak-anak lo bakalan gue goreng,” ancam Adhara yang membuat Antariksa tersenyum sendu. Lalu tak lama laki-laki tersebut malah kembali memejamkan matanya membuat Adhara begitu panik.
Dokter dan perawat pun langsung memasukkannya ke dalam ruang UGD untuk memeriksanya. Di luar ruang UGD Adhara hanya bisa berdoa agar sahabatnya tersebut baik-baik saja.
Namun sepertinya tuhan berkata lain. Tuhan lebih menyayangi Antariksa. Karena tak beberapa dokter yang menangani laki-laki tersebut datang dan mengatakan jika Antariksa sudah pergi akibat kehilangan banyak darah dan benturan keras di kepalanya.
Saat itu dunia Adhara rasanya runtuh. Ia kehilangan sahabat yang begitu berarti baginya. Sedangkan Antariksa malah tersenyum bahagia di atas sana melihatnya yang menangisi laki-laki tersebut, membuat Antariksa tahu seberapa berartinya ia bagi Adhara.
***
Hai Semua balik lagi nih sama aku.
Atmosphere kini sedang berduka atas kehilangan sahabat kita Antariksa. Kasih mawar untuk Anta dulu yuk.
Detik-detik menuju ending nih. Kalian udah siap belum?
Mulai sekarang aku update nya 1k kata perhari ya, karena cerita ini juga udah mau taman nih.
Semoga kalian suka ya, maaf kalau feel kurang dapet dan masih ada typo
Jangan lupa di tambahkan ke favorite, like, dan koment ya guys.
Follow ig aku ya @hilmiatulhasanah_ dan @wphilmiath_
Tim Interaksi udah aku aktifkan nih, yuk guys join.
Stay healthy all.
Thank For Reading all.
See You Next Chapter All.
Jangan lupa baca cerita ku yang baru ya guys.
__ADS_1