
Info : Planet Yupiter sendiri memiliki 63 Bulan
Happy Reading All.
***
Suara alarm dari ponsel gadis yang kini tengah tertidur dengan begitu lelap tersebut berbunyi dengan begitu keras membangunkan si pemilik untuk segera bangun dan melakukan aktifitas paginya.
Adhara yang mendengar alarm tersebut segera mengambil ponselnya lalu melihat jam yang ternyata sudah menunjukkan pukul lima subuh. Adhara segera menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya juga segera menunaikan ibadahnya sebagai umat muslim.
Setelah selesai Adhara segera membangunkan Chan yang saat ini pasti masih terlelap di kamarnya mengingat laki-laki itu begitu kebo.
“Chan bangun,” teriak Adhara dari luar kamar Chan namun tak ada sahutan dan tanda-tanda jika laki-laki itu akan bangun dari tidurnya.
“Chan,” teriak Adhara dengan keras sambil mengetuk pintu Chan tidak sabaran.
Di dalam kamarnya Chan yang mendengar teriakan Adhara tersebut menghela nafasnya kasar lalu menutup telinganya dengan bantal. Rasanya ia masih begitu mengantuk hingga tak sanggup untuk membuka matanya sekedar untuk bangun.
“Chan cepet bangun,” teriak Adhara yang masih setia membangunkan Chan.
Akhirnya Chan menghela nafasnya kasar dan segera membukakan pintu untuk Adhara dengan wajah bantalnya matanya bahkan masih terpejam saat membukakan pintu untuk Adhara. Adhara yang berdiri di depan pintu kamar Chan menggeleng melihat laki-laki tersebut yang masih tertidur.
“Cepet bangun, mandi, terus sarapan,” ucap Adhara pada Chan yang membalasnya dengan anggukan.
Namun bukannya masuk kembali ke kamarnya untuk mengambil handuk, laki-laki itu malah kembali tertidur dan menutup dirinya dengan selimut. Adhara langsung saja memelototkan matanya saat melihat tingkah Chan tersebut.
“Ck Dasar,” ucap Adhara kesal lalu segera berjalan ke arah Chan dan menarik selimut laki-laki itu.
Chan menatap Adhara kesal lalu segera bangun dan mengambil handuknya.
“Iya iya ini gue bangun,” ucap Chan kesal dan langsung berjalan ke arah kamar mandi. Adhara yang melihatnya terkekeh geli melihat tingkah Chan yang menggemaskan tersebut.
__ADS_1
Rasa nyaman dan suka tersebut memang muncul karena terbiasa. Ya, Adhara terlalu terbiasa dengan kehadiran Chan yang kini selalu menemani harinya. Lalu jika suatu saat Chan malah pergi meninggalkannya apa ia akan sanggup?
Adhara menghela nafasnya kasar menggeleng kuat menyerahkan pikiran tersebut. Lagi pula Chan memiliki kehidupannya sendiri dan ia harus menerima apapun yang terjadi di masa depan. Adhara segera berjalan menuju dapur untuk membuatkan sarapan.
Pagi ini Adhara hanya menyiapkan roti dengan selesai coklatnya lalu menyiapkan susu juga untuk Chan. Tak lama setelah selesai Adhara segera menuju kamarnya untuk mengganti pakaian. Setelah selesai barulah ia menuju dapur untuk sarapan. Dan bisa ia lihat di sana sudah ada Chan yang menunggunya sambil memakan sarapannya.
“Pagi ini kita pakai bus aja,” ucap Chan tiba-tiba membuat Adhara yang tengah memakan makanannya segera menoleh ke arah Chan dengan kening yang berkerut. Tidak biasanya Chan mengajaknya untuk naik bus.
“Uang tabungan gue udah menipis, kalau di pake buat beli bensin itu Cuma nambah pengeluaran aja,” ucap Chan membuat Adhara menatap Chan khawatir karena ia yakin ini pertama kalinya Chan naik angkutan umum.
“Setelah ini gue cari kerja part time aja kali ya,” ucap Adhara karena ia merasa juga harus membantu Chan lagi pula biaya hidupnya akan terus bertambah.
“Kita udah pernah bicarakan ini, dan keputusan gue tetep sama, gue yang bakal ngurus semua lo tenang aja,” ucap Chan dengan senyuman menenangkannya.
Lagi pula mana mungkin Chan membiarkan Adhara untuk bekerja dan dirinya malah enak-enakan di rumah itu tak akan mungkin. Bagaimanapun Chan adalah laki-laki dan tugasnya untuk bekerja.
“Sudah siang ayo jalan nantu telat,” ucap Chan yang sudah selesai menegak habis susunya.
Adhara menghela nafasnya kasar ia tahu jika sudah begini berarti Chan tak ingin kembali membahannya.
Adhara dan Chan segera berjalan ke depan kompleks menunggu bus di halte yang berada di sana. Lama mereka menunggu akhirnya bus yang mereka tunggu datang juga.
Mereka segera memasuki Bus dan dapat Adhara lihat ekspresi Chan yang terlihat menggemaskan saat pertama kali masuk, ada rasa kaget juga kesal seperti setelah didorong oleh satu orang yang juga akan memasuki Bus.
Bus kini begitu penuh hingga akhirnya mereka hanya bisa berdiri karena tak ada tempat duduk yang tersisa. Chan kini terus menjadi pusat perhatian dari penumpang Bus yang berada di sana tentu saja karena wajah tampannya juga karena penampilannya yang malah terlihat seperti orang kaya dengan sepatu dan jam tangan bermerek yang digunakannya. Parfumnya yang begitu wangi juga menjadi aroma menyegarkan yang menguar di sana.
Para murid dari sekolah lain bahkan terus menatap Chan dengan penuh kekaguman, memangnya siapa yang kenal dengan Chan? Bukan hanya terkenal di sekolah mereka namun Chan memang sangat terkenal di sekolah lain karena ketampanannya.
Banyak para perempuan yang sudah berbisik-bisik mengagumi Chan, membuat Adhara yang melihat nya tersenyum bangga karena ia yang kini berada di depan Chan. Chan yang melihat senyuman Adhara mengerutkan keningnya bingung.
“Kenapa?” tanya Chan dengan kening yang berkerut.
__ADS_1
“Gak papa,” ucap Adhara dengan senyumannya membuat Chan menggelengkan kepalanya tak mengerti dengan apa yang ada dalam kepala gadis tersebut.
Selanjutnya tak ada yang memulai pembicaraan Adhara terlalu sibuk dengan pikirannya sedangkan Chan terus merasa kesal dengan orang yang menatapnya aneh. Juga merasa lelah karena terus berdiri hingga yang paling membuat Chan kesal saat Bus berhenti dengan mendadak membuat Adhara yang tak berpegangan karena tinggi badannya tak mencapai pegangan di atas bus yang tinggi.
Namun beruntung Chan yang lebih dulu menariknya agar gadis itu tak jatuh ke depan. Kini mereka malah berpelukan Adhara menatap Chan dengan mengerjapkan matanya berkali-kali saat wajahnya dan dada Chan yang begitu dekat.
Posisi mereka kini bisa membuat siapa saja yang tak melihatnya dari awal pasti akan salah paham. Adhara segera menjauhkan tubuhnya dengan Chan lalu berdehem menormalkan detak jantungnya yang sudah tak karuan.
Sedangkan Chan yang melihatnya malah menampilkan senyuman tipisnya membuat para gadis yang berada di sana menjerit tertahan melihat senyuman tersenyum yang begitu memabukkan bagi mereka.
“Gak usah senyum,” ucap Adhara sambil menyenggol tangan Chan membuat Chan berusaha menahan tawanya mendengar ucapan gadis di sampingnya tersebut.
Hingga tak lama akhirnya mereka sampai di sekolah mereka turun di halte yang langsung menjadi pusat perhatian seisi sekolah karena Chan yang datang menggunakan bus. Adhara dan Chan berjalan dengan santainya memasuki sekolah menghiraukan tatapan penasaran pada Chan dan Adhara yang turun dari halte sekolah.
Namun sepertinya kedua manusia tersebut malah begitu cuek dan tak menghiraukan tatapan tersebut.
***
Hai Semua balik lagi nih sama aku.
Btw siapa nih yang udah nunggu Adhara bareng tiga cogannya?
Semoga kalian suka ya, maaf kalau feel kurang dapet dan masih ada typo
Jangan lupa di tambahkan ke favorite, like, dan koment ya guys.
Follow ig aku ya @hilmiatulhasanah dan @wphilmiath
Oh iya untuk update aku bakal update 2 bab perhari ya guys
Stay healthy all.
__ADS_1
Thank For Reading all.
See You Next Chapter All.