
Happy Reading all.
****
Adhara menatap Leo dengan tajam ia tak habis pikir mengapa ada orang tua seperti Leo yang tega untuk mencelakai anaknya sendiri.
“Bahkan ayah saya yang om hina itu tidak pernah berniat mencelakai anaknya,” tandas Adhara dengan tajam ucapan Adhara cukup menusuk bagi Leo karena memang sikapnya itu adalah salah.
“Apa ada orang tua seperti om yang tega untuk mencelakai anaknya sendiri? Setelah merebut kebebasan Chan om juga berniat untuk membunuhnya karena tidak menuruti ucapan om?” tanya Adhara dengan senyuman sinisnya.
Leo menatap Adhara dengan tatapan tak suka, baginya Adhara hanya gadis yang menjadi penghambat dalam tujuannya. Chan sudah akan menarik Adhara keluar namun gadis itu tetap saja menahan Chan melepaskan cekalan laki-laki itu. Sepertinya ia masih belum puas untuk memberikan ultimatum untuk Leo.
“Tau apa kamu tentang mendidik seorang anak? Bahkan kamu belum pernah melakukannya,” ungkap Leo tak kalah tajam pada Adhara.
“Saya memang belum pernah mendidik seorang anak, tapi dari kedua orang tua saya, saya bisa melihat bagaimana sebaiknya mendidik seorang anak,” balas Adhara.
Kini kedua orang itu sudah saling beradu argumen. Chan yang sudah tidak tahan lagi langsung membawa Adhara pergi dari sana. Namun, gadis bawel satu itu tak ada hentinya merutuki Leo bahkan saat Chan sudah menariknya untuk keluar dengan susah payah.
“Kita lihat saja om, suatu saat om akan menyesal telah melakukan semua ini. Om juga akan merasakan balasan atas apa yang sudah om lakukan,” peringat Adhara sebelum menghilang di balik pintu.
Leo terdiam mendengar ucapan terakhir Adhara. Sebelum tawa sumbang terdengar begitu jelas dari laki-laki tersebut.
“Mana mungkin aku menyesal, dasar gadis kecil pengganggu,” ucap Leo dengan kekehannya dan segera memasuki ruang kerjanya.
***
Langit semakin menggelap udara dingin sore hari yang begitu menenangkan menguar dengan segar. Kini Adhara dan Chan masih berjalan di trotoar jalan. Laki-laki itu masih setia menggenggam tangan Adhara tanpa minat untuk melepaskan tangan mungil yang terasa pas di tangannya itu. Tak ada yang membuka pembicaraan, Chan masih setia membisu tampan minat membuka suaranya sedangkan Adhara hanya diam karena tak ingin mengganggu Chan karena bisa dilihat dari wajahnya jika laki-laki itu tengah bersedih.
Adhara melihat ke arah tangan mereka yang saling bergandengan lalu berusaha untuk melepaskannya namun ia tak bisa melakukannya karena Chan yang menggenggam tangannya begitu erat. Laki-laki itu bagai takut jika ia melepaskan tangan mereka maka Adhara akan pergi darinya.
“Lo gak bakal bawa gue balik ke rumah itu kan?” tanya Chan dengan senyuman kecutnya pada Adhara. Kini mereka saling menatap, dengan segera Adhara membalasnya dengan gelengan.
“Engga, engga lo tenang aja,” ucap Adhara menenangkan. Ia masih memiliki hati nurani ia tidak akan membiarkan mereka menindas Chan lagi.
Tanpa mereka sadari kini mereka malah terlihat seperti orang yang saling menyayangi dengan saling melindungi satu sama lain. Dan ini untuk pertama kalinya ia melihat Chan berekspresi, sebelumnya ia tak pernah melihat laki-laki kulkas itu berekspresi.
__ADS_1
“Thank,” ucap Chan membuat Adhara mengangguk.
Kini mereka kembali melanjutkan jalan mereka yang tidak memiliki tujuan tersebut. Bahkan Chan tidak membawa kendaraannya dan hanya membawa dompetnya.
“Gue mau pulang, lo mau kemana?” tanya Adhara pada Chan sambil menatap laki-laki itu penuh tanya.
“Gue ikut lo,” ucap Chan membuat Adhara menganga.
“Ngapain harus ikut gue?” tanya Adhara bingung dengan wajah frustasinya padahal ia sudah malas terlibat dengan laki-laki itu.
“Karena gue mau, ayo buruan,” ajak Chan yang langsung menarik tangan Adhara untuk pergi dari sana dan mencari taksi untuk menuju apartemen Adhara.
***
Setelah sampai di apartemen Adhara, gadis itu langsung menuju kamarnya untuk berganti pakaian sedangkan Chan duduk di karpet bulu ruang tamunya sambil memejamkan matanya..
Laki-laki itu memijat kepalanya yang terasa begitu pening. Ia rasanya begitu lelah hari ini setelah pertengkarannya dengan Ayahnya. Begitulah Ayahnya selalu mengutamakan apa yang laki-laki itu inginkan ketimbang orang lain.
Setelah selesai berganti pakaian Adhara langsung keluar kamarnya menuju dapur untuk membuatkan makanan untuk mereka, saat di ruang tamu dapat gadis itu melihat Chan yang memejamkan matanya. Laki-laki itu terlihat begitu lelah membuat Adhara tidak tega melihatnya.
“Seberat itu ya jadi lo,” batin Adhara sambil menghembuskan nafasnya.
Adhara menggeleng lalu segera menuju dapur untuk memasak makanan. Adhara segera mengeluarkan bahan makanan untuk memulai acara memasaknya. Gadis itu memotong sayuran yang sudah ia kupas dengan begitu telaten.
Tanpa Adhara sadari kini Chan tengah bersandar di pintu penghubung dapur. Mata Chan tak lepas memperhatikan Adhara yang tengah memasak hingga tanpa sadar hatinya bergetar melihat gadis itu. Pemikirannya tentang Adhara yang hanya gadis bar-bar tidak memiliki aturan dan hanya bisa merecoki hidupnya kini berubah.
Ternyata gadis itu adalah gadis yang baik dan pandai memasak, walau sikapnya memang sedikit kasar dan begitu jujur dalam berkata hingga sulit menyaring ucapannya tapi gadis itu cukup unik.
“Belum kelar masaknya?” tanya Chan akhirnya membuka suara. Laki-laki itu langsung duduk di meja makan yang tersedia di sana meja kecil dengan dua kursi yang begitu minimalis.
“Dikira masak bimsalabim selesai,” dengus Adhara jutek yang berhasil membuat senyuman tipis Chan terlihat namun setelahnya dengan segara laki-laki itu merubah raut wajahnya kembali datar.
Adhara kembali melanjutkan makannya hingga tak lama akhirnya gadis itu selesai memasak dan langsung meletakan sup ayam dan tempe goreng yang dibuatnya di meja makan juga nasi yang sudah ia masak tadi maka.
“Sorry ya sederhana karena emang gue harus hemat,” ucap Adhara lalu mengambilkan piring dan sendok untuk Chan.
__ADS_1
“Abis ini kita bisa belanja,” ucap Chan santai dan mulai mengambil nasi serta lauknya begitupun dengan Adhara.
“Buat apa?” tanya Adhara dengan kerutan di dahinya. Untuk apa mereka berbelanja juga bahan masakan Adhara masih ada kulkas cukup jika hanya untuknya dirinya seorang.
“Karena gue mau tinggal di sini sama lo,” ucap Chan dengan santainya hingga membuat Adhara terbatuk mendengarnya.
Gadis itu segera mengambil air minuman dan segera menegaknya. Chan hanya diam memperhatikan dengan wajah datarnya tak berminat untuk membantu Adhara yang tersedak.
“Lo gila?” tanya Adhara tak percaya. Bagaimana ia bisa tinggal berdua dengan laki-laki yang sebelumnya tidak pernah ia kenal. Kini tiba-tiba saja laki-laki itu mengaku sebagai kekasihnya dan ingin tinggal bersamanya.
“Gak,” jawan Chan datar yang semakin membuat Adhara menganga mendengarnya.
Apa laki-laki itu serius ingin tinggal bersamanya? Tidak ini tidak bisa di biarkan ia tak mungkin tinggal bersama seorang laki-laki apalagi di apartemen kecilnya ini.
***
Thank for Reading all
Hai semua apa kabar?
Aku datang lagi nih dengan cerita baru yang pastinya gak kalah seru sama cerita sebelumnya.
Semoga kalian suka ya sama ceritanya maaf kalau masih banyak typo dan feel kurang dapet.
Jangan lupa untuk Like, Koment, tambah ke favorite.
See You Next Chapter all.
__ADS_1