Atmosphere

Atmosphere
S2 Vulkanoid


__ADS_3

FYI "Vulkanoid adalah sebuah populasi asteroid hipotetis yang mengorbit Matahari dalam zona stabil secara dinamis di dalam orbit planet Merkurius."


Happy Reading All.


***


Arche yang melihat dan mendengar semua pertengkaran tersebut segera berjalan ke arah Chan dan duduk di depan laki-laki tersebut membuat Chan menoleh ke arah depannya dan melihat ke arah Arche dengan tatapan lelahnya sedangkan Arche kini menatap Chan dengan tatapan tajam.


“Gue gak nyangka lo bisa ngomong gitu sama Adhara,” ucap Arche dengan tatapan marahnya pada Chan yang kini hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya.


“Memang nyatanya gitu kan?” tanya Chan yang kini sudah memberanikan dirinya menatap Arche dengan tatapan sinisnya yang membuat Arche kini hanya menatap datar pada Chan.


“Lo salah kalau lo sampai ngomong gitu sama Adhara, Chan. Lo harusnya inget kalau Antariksa ngelakuin semua itu buat nyelametin lo dan karena Angkasa yang ngira kalau lo yang buat kembaran Sky meninggal,” ucap Arche mengingat sahabatnya tersebut dengan apa yang terjadi sebenarnya.


Chan kini hanya terdiam mendengar ucapan laki-laki di depannya tersebut. Ia tahu apa yang sebenarnya terjadi dan tak seharusnya ia mengatakan hal tersebut pada Adhara. Jika saja bisa menarik perkataannya ia ingin menarik ucapan tersebut dari Adhara.


“Semua karena dia kan?” tanya Arche sambil menunjuk seorang gadis yang berada di luar cafe membuat Chan ikut melihat ke arah gadis yang ditunjuk oleh Arche. Hingga dapat ia lihat gadis yang menjadi sumber dari segala masalahnya dan menjadi orang yang mengirimkan foto Adhara bersama dengan Antares kini tengah berada di luar cafe dan bersiap akan pergi.


Chan menghembuskan nafasnya melihat gadis tersebut, gadis yang sudah beberapa hari ini ia sembunyikan kini malah berkeliaran.


“Gak perlu menyalahkan dia. Semua udah jalan nya. Lo jangan lupa tugas kita sekarang juga ngelindungi dia,” ucap Chan pada Arche yang kini terkekeh mendengar ucapan Chan tersebut.


“Nyatanya emang salah dia kan? dan foto foto yang lo dapet dari orang suruhan dia. Gue gak lupa kalo kita harus ngejaga Sky, tapi selain ngejaga dia kita juga harus bawa dia ke jalan yang benar bukannya ngebiarin dia ada di jalan yang salah. Kalau dia emang salah, kita harus ngasih tau dia. Bukan ngebiarin gitu aja,” ucap Arche dengan begitu tegasnya yang membuat Chan terdiam mendengar ucapan Arche tersebut.


Ya, gadis yang sedari tadi berada di luar cafe tersebut adalah Sky. Dan orang yang beberapa hari lalu berada di club malam juga adalah Sky. Selama ini Chan lah yang menemani dan menjaga Sky selama gadis tersebut berada di Bandung. Sudah beberapa hari Sky dan Chan berada di bandung namun Chan malah baru sempat bertemu dengan Adhara harus ini dan hari ini juga hubungan mereka berakhir.


“Gue kecewa sama lo. Dan bisa gue pastiin lo bakal nyesel,” ucap Arche tegas lalu segera pergi dari sana meninggalkan Chan dengan segala penyesalannya.


***


Adhara kini berjalan dengan air matanya yang sudah mengeluarkan butiran kristal. hatinya kini terasa begitu hancur. Setelah apa yang Chan lakukan padanya kini membuatnya merasa akan sulit baginya untuk nya mengenal cinta. Laki-laki tersebut benar-benar menghancurkan perasaan Adhara.


Tak lama gadis tersebut memilih untuk memberhentikan taxi yang lewat lalu setelahnya ia segera memasuki taxi tersebut. Kini pikirannya sudah berkecamuk, memikirkan hubungannya dan Chan yang sudah kandas, juga memikirkan tentang perkataan Chan padanya jika ia lah penyebab Antariksa tiada.

__ADS_1


“Neng kita mau kemana?” tanya sopir taksi tersebut pada Adhara yang kini hanya diam sambil menatap keluar jendela dengan air matanya yang terus saja mengalir.


Namun setelahnya Adhara segera menyebutkan alamat tempatnya ingin pergi untuk sekarang. Bukan rumahnya karena untuk sekarang ia ingin menenangkan dirinya lebih dulu dan tidak ingin kedua orang tuanya melihatnya dalam keadaan kacau seperti ini.


Setelah menempuh perjalanan yang begitu lama kini mereka akhirnya sampai di sebuah gedung yang terlihat belum jadi atau diberhentikan proses pembangunannya.


Adhara segera keluar dari mobil taksi tersebut setelah membayarnya. Kini tatapannya langsung tertuju pada bangunan di depannya tersebut. Bangunan yang sudah lama tidak ia kunjungi tersebut. Bangunan yang dengan teganya sudah merebut sahabatnya. Sahabatnya yang dulu selalu ada untuknya apa lagi di saat Adhara tengah hancur seperti ini.


Dengan tatapan sendunya Adhara memasuki gedung tersebut menuju gedung tertinggi dari tempat tersebut. Gedung belum jadi yang ternyata kini sudah dibeli oleh Arche, Chan, juga Sky. Mereka sengaja membeli gedung tersebut untuk mengenang Antariksa. Bahkan mereka sudah merencanakan pembangunan gedung tersebut yang akan dialihkan sebagai hotel.


Tatapan gadis tersebut langsung tertuju pada bagian yang kini dibuat khusu untuk mengenang Antariksa. Sebuah tempat yang berisi foto mereka juga bunga yang berada di sana. Tempat yang begitu pas di mana Antariksa terjatuh saat itu,


Adhara segera berjalan ke arah tempat tersebut lalu duduk di samping tempat tersebut dengan kakinya yang bergelantungan di udara.


“Udah lama ya gue gak ke sini,” ucap Adhara dengan senyuman sendunya dengan air matanya yang terus saja turun. Tak dapat dibohongi kali ini ia benar-benar merasa bersalah pada Antariksa. Mungkin kah perkataan Chan benar adanya, jika ia adalah penyebab dari semua ini?


“Gue lagi butuh lo Antariksa. Andai lo ada disini mungkin lo gak akan biarin gue di sakitin,” ucap Adhara lagi melanjutkan pembicaraannya dengan tatapannya yang lurus ke depan menatap langit yang kali ini dipenuhi dengan bintang.


“Lo baik-baik aja kan di sana? pasti dari sana lo juga bisa liat apa yang terjadi sama kita sekarang kan?” tanya Adhara lagi. Rasanya ia ingin menumpahkan segalanya dan bercerita banyak hal pada Antariksa dengan menganggap jika laki-laki tersebut kini ada bersamanya.


“Eh gak jadi deh, gue suka emosian liat yang serem-serem. Kalau liat lo sih gak papa kalau liat yang lain, apa kagak mati dua kali tuh setan,” ucap Adhara dengan candaannya. Namun jelas tak ada yang menanggapinya. Andaikan saja Antariksa ada di sini pasti laki-laki tersebut akan menghibur Adhara dengan ucapan nya yang meskipun kasar namun cukup bisa menghibur Adhara.


“Kenapa Chan tega banget ya Ta selingkuhin gue? padahal dulu kalau gue mau kita juga bisa selingkuh kan ya,” ucap Adhara yang kini bertanya dengan tatapan sendunya namun senyuman gadis tersebut masih menyiratkan candaan di akhir kalimatnya.


“Ta gue kangen, gue butuh lo,” ucap Adhara sambil menundukkan kepalanya menahan air matanya untuk keluar lagi.


“Apa semua emang salah gue Ta? apa karena gue lo pergi?” tanya Adhara yang kini tatapannya tertuju pada sebuah foto yang tak lain adalah foto Antariksa.


Gadis tersebut mengambil foto tersebut mengelus nya dengan begitu lembut. Rasanya ia kini benar-benar menginginkan Antariksa bersama dengannya.


“Semua bukan salah lo Ra?” sebuah suara tiba-tiba saja muncul di belakang Adhara membuat Adhara segera menoleh ke arah sumber suara tersebut yang ternyata adalah Arche,


Kini laki-laki tersebut bahkan sudah duduk di samping Adhara membuat Adhara dengan segera memeluk Arche yang dibalas dengan pelukan juga oleh Arche. Arche mengelus rambut Adhara berusaha menenangkan sahabatnya tersebut.

__ADS_1


“Semuanya adalah takdir. Antariksa ngelakuin semua ini demi sahabat-sahabatnya. Gak perlu nyalahin diri lo,” ucap Arche pada Adhara yang kini sudah menangis dalam pelukan Arche membuat Arche memejamkan matanya sambil menahan kepalan tangannya.


rasanya kini ia benar-benar merasa marah atas apa yang telah Chan lakukan, menyalahkan Adhara atas apa yang sebenarnya bukanlah kesalahan Adhara. Ia juga merindukan Antariksa, ia juga masa kehilangan sahabatnya tersebut namun untuk menyalahkan Adhara ataupun Arche ia tak pernah sedikitpun untuk memikirkan hal tersebut.


“Chan mengatakan hal tersebut mungkin hanya karena marah. Gue harap lo bisa ngerti dan gak ambil pusing dengan ucapan Chan tersebut,” ucap Arche yang berusaha untuk menenangkan Adhara yang kini masih saja menangis dalam pelukan Arche.


Arche hanya diam dan membiarkannya saja karena ia tahu pasti untuk saat ini Adhara membutuhkan sandaran. Dan membutuhkan tempat untuk berbagi.


“Sky,” ucap Adhara menyebutkan nama sahabatnya tersebut yang membuat Arhe menghembuskan nafasnya kasar mendengar nama tersebut.


“Gue tau,” ucap Arche sambil mengelus punggung gadis tersebut. Ia mengerti apa yang akan dikatakan oleh Adhara. Dan sepertinya ia memang harus berbicara pada Sky tentang semua ini.


****


Hi semua, ketemu lagi sama aku dengan cerita yang udah kalian tunggu-tunggu.


Aku harap kalian akan suka sama cerita ini. Jujur aja sebenarnya berat sih mau lanjut cerita ini. Aku takut malah cerita ini gak sebagus season pertama. Jadi aku harus kalian bisa kasih kritik dan saran agar aku bisa memperbaiki kalau ada yang salah ya.


Maaf ya kalo masih ada typo dan feel kurang dapet.


Oh iya jangan lupa vote dan koment ya guys.


Follow juga akun aku ya, dan ig aku @hilmiatulhasanah dan @wphilmiath


Dukungan kalian semangat ku😉


Thanks for Reading All.


See You Next Chapter.


Jangan lupa tinggalin jejak ya


Tunggu dulu deh, sambil nunggu Adhara cs aku saranin kalian buat baca cerita ku yang gak kalah kece nih. Yang suka rasa sakit dan cerita yang penuh emosi kalian bisa nih buat baca cerita ku yang satu ini.

__ADS_1



__ADS_2