
Happy Reading all.
***
Setelah makan malam Adhara segera menuju kamarnya untuk mengambil buku pelajar dan segera menuju ruang tamu untuk belajar di sana. Terlihat di sana Chan yang tengah memainkan ponselnya. Menang selama dua hari ini laki-laki itu tinggal di apartemen Adhar ia tidur di ruang tamu dengan kasur lantai dan bedcover.
“Lo gak mau belajar? Malah main game mulu,” ucap Adhara sambil menggeleng melihat Chan yang tengah sibuk bermain game di ponselnya.
Chan hanya melihatnya sekilas lalu kembali fokus bermain game di ponselnya. Adhara hanya membalasnya dengan dengusan kasar.
Adhara tidak memperdulikannya lagi dan mulai mempelajari materi di bukunya itu. Kini gadis itu tengah membaca buku sejarah wajibnya karena besok ujiannya adalah sejarah wajib juga Kimia.
“Ck kecilin dikit,” perintah Chan karena merasa terganggu dengan suara gadis itu.
Bukannya mendengarkan ucapan Chan, gadis itu malah semakin mengeraskan suaranya membuat Chan segera bangun dari tidurnya dan menatap Adhara tajam. Sedikitpun Adhara tidak merasa takut atau terintimidasi gadis itu malah menjulurkan lidahnya untuk mengejek Chan.
“Belajar di kamar lo sana,” perintah Chan lagi yang dibalas dengan gelengan tegas oleh Adhara.
“Gue lebih suka belajar di sini, mending lo ajarin gue aja kimia,” ucap Adhara sambil menyerahkan buku kimianya pada Chan.
Laki-laki itu segera mengambil buku Adhara dan memperhatikan materi tentang molekul tersebut.
“Yang mana yang lo belum ngerti?” tanya Chan. Adhara mulai berpikir, sebenarnya untuk kimia tak ada yang membuatnya kesusahan karena dia menyukai pelajaran ini hanya saja ingin mengetes laki-laki itu benarkah ia pintar?
“Ini cara menentukan PEB tanpa menggambar struktur luis,” ucap Adhara membuat Chan mengangguk.
“Ini pertama lo harus tau rumusnya dulu, seperti contoh soal ini,” ucap Chan menunjuk soal di depannya.
Adhara mulai memperhatikan Chan dengan serius, tak ia sangka ternyata laki-laki itu terlihat semakin tampan saat sedang serius seperti ini. Sadar dengan pemikirannya Adhara segera menggeleng tegas menyingkirkan pikiran tersebut.
“Rumus PEB itu elektron valensi atom utama kali atom pusat dikurangi jumlah elektron terikat di bagi dua,” jelas Chan sambil menuliskan rumus di buku Adhara.
E = (EV.O-X) / 2
“Atom pusat dari H2O itu O,” jelas Chan yang membuat Adhara mengangguk.
“Jadi PEB sama dengan enam dikurang dua dibagi dua,” ucap Chan sambil kembali menulis di buku Adhara.
__ADS_1
E= (6-2) /2
“Sama dengan dua, paham?” tanya Chan yang dibalas dengan anggukan oleh Adhara.
“Ini lo kerjain nanti gue liat hasilnya,” perintah Chan menunjuk soal lainnya yang berada di sana.
Akhirnya mereka belajar bersama hingga larut malam dan dari sana Adhara sadar ternyata Chan tidaklah seburuk yang ia kira.
***
Hari ini setelah sepulang sekolah Adhara memiliki janji dengan Arche untuk belajar bersama. Gadis itu kini tengah berpikir apa Arche tahu jika ia tinggal bersama Chan? Dan bagaimana tanggapan laki-laki itu jika mengetahuinya.
Tapi sudah bisa Adhara tebak jika Arche sudah mengetahuinya secara beritanya menyebar dengan sangat cepat, hingga semua mulut di Nash high school membicarakannya. Adhara tengah memikirkan cara untuk menjelaskan ini pada Arche agar laki-laki itu tidak salah paham dengan menilai dirinya gadis murahan.
Adhara menghela nafasnya panjang berusaha untuk fokus pada soal di depannya agar ia cepat selesai dan bisa segera pulang. Setelah selesai dengan soalnya, setelah selesai ia segera memberikan lembar soal dan jawabannya pada guru yang mengawasi mereka.
“Elara, Ariel gue duluan,” ucap Adhara berpamitan pada kedua temannya yang belum selesai. Adhara segera membereskan peralatan menulisnya setelah selesai ia langsung keluar menghiraukan Elara dan Ariel yang terus memanggilnya.
Sebelum pulang Adhara lebih dulu menuju supermarket untuk membeli beberapa bahan makanan, ia ingin membuat hotpot apalagi kini di apartemennya sudah ada Chan belum lagi Arche yang hari ini datang untuk mengajarinya. Mungkin Sky juga akan datang untuk belajar bersama.
Saking asyiknya berbelanja Adhara sampai lupa jika ia sudah ada janji dengan Arche takut jika laki-laki itu menunggu lama di depan apartemennya. Jika itu adalah Chan ia tidak akan peduli.
Saat sampai di lantai apartemennya benar saja jika di depan sana sudah ada Arche yang menunggunya. Bukan hanya Arche tapi lengkap dengan kedua sahabatnya serta Sky dan pengawal Chan. Entah siapa yang sebenarnya mengundang mereka untuk datang.
“Yang lain bisa di hilangkan aja gak sih,” gerutu Adhara sambil berjalan ke arah mereka dengan senyuman manisnya yang terukir indah.
“Adhara, lo lama banget sih sampe sakit kaki gue nungguinnya,” ucap Sky mengeluh karena menunggu terlalu lama.
“Ya sorry,” ucap Adhara sambil membuka pintu apartemennya yang terkunci. Jujur saja sebenarnya Adhara tidak terlalu peduli mereka menunggu lama lagi pula tak ada yang mengundang mereka untuk datang.
“Lagian kenapa kunci serepnya gak di kasih ke Chan? Kan kalian udah pacaran,” ucap Sky dengan senyuman menggodanya. Adhara membalikkan badannya menghadap Sky dan menatap laki-laki itu dengan tajam. Sky hanya membalasnya dengan cengiran tanpa dosanya membuat Adhara memberikan bogeman di depan wajah Sky.
“Ayo masuk, gak yakin sih bakalan muat apartemen gue, lagian kalian ngapain sih pada kesini?” tanya Adhara dengan kerutan di keningnya.
“Maksud lo gue?” tanya Antariksa dengan tatapan tajamnya yang malah membuat temannya yang lain tersenyum sambil menggeleng.
“Ayo duduk, sorry gak ada sofanya,” ucap Adhara mempersilahkan tamu tak di undangnya itu untuk duduk.
__ADS_1
“Kenapa gak ada sofanya sih Ra? Kenapa gak dibelikan gitu?” tanya Sky dengan pemasarannya.
“Apartemen gue kecil kalo dikasih sofa malah keliatan sempit,” jelas Adhara memberikan alasan. Lagi pula ia tidak memiliki uang yang banyak untuk membelikan apartemennya sofa.
“Btw lo traktir kita makan apa? Laper nih,” ucap Sky lagi. Adhara menghela nafasnya berusaha sabar menghadapi tingkah Sky entah mengapa menurutnya seperti merendahkannya. Sebelumnya saat mereka berjalan bersama di apartemennya gadis itu tidak banyak bicara seperti ini tapi mengapa tiba-tiba sekarang ia menjadi begitu cerewet sekali?
“Lo bisa diem gak sih? Nyerocos aja tuh mulut,” ucap Antariksa yang mulai jengah sendiri mendengar adiknya yang tidak tahu malu itu. Sudah menumpang makan banyak sekali mengeluhnya.
“Dari pada lo nyerocos mulu mending lo bantuin gue masak,” ucap Adhara sambil menarik Sky untuk berdiri menuju dapur, sesekali memang ia harus memberikan pelajaran bagi Sky yang menurutnya sangat tidak sopan.
Baginya sangat tidak sopan seorang tamu menyinggung sesuatu seperti itu, sangat tidak menghargai perasaan tuan rumah. Karena Sky tidak akan tahu bagaimana susahnya kehidupan orang diluaran sana, tidak seperti gadis itu yang memang sudah hidup enak dari kecil.
Lagi pula ia juga butuh teman untuk memasak. Bagaimana ia bisa memasak seorang diri untuk orang banyak dalam waktu singkat. Dan semoga saja gadis itu dapat diandalkan.
***
Thank for Reading all
Hai semua apa kabar?
Aku datang lagi nih dengan cerita baru yang pastinya gak kalah seru sama cerita sebelumnya.
Semoga kalian suka ya sama ceritanya maaf kalau masih banyak typo dan feel kurang dapet.
Jangan lupa untuk Like, Koment, tambah ke favorite.
See You Next Chapter all.
__ADS_1