
Happy Reading All.
Semoga kalian gak bosen ya sama ceritanya. Yuk langsung aja di baca.
***
Adhara kini tengah sibuk membereskan apartemennya mulai dari merapikan kamarnya juga kamar Chan sampai menyapu sampai mengepel lantai. Semua Adhara kerjakan sendiri karena Chan masih lari pagi mengingat ini adalah hari minggu.
Chan memang begitu rajin berolahraga mungkin untuk membentuk tubuh laki-laki itu agar tetap terlihat bagus. Setelah selesai membersihkan rumah Adhara mulai memasak makanan untuk makan paginya bersama dengan Chan.
Hari tak banyak menu yang Adhara buat hanya nasi dengan semur tahu juga tempe goreng. Karena ini adalah akhir bulan dan ia harus menghemat uangnya karena kini ia tidak sendiri jadi ia harus memasak untuknya juga untuk Chan.
Setelah selesai memasak Adhara segera membersihkan tubuhnya lalu mengistirahatkan dirinya sejenak karena ia sudah sangat lelah setelah membersihkan apartemennya seorang diri. Belum lagi masih ada cucian yang harus ia setrika setelah kemarin ia cuci.
Saat Adhara tengah memejamkan matanya suara ketukan pintu membuat Adhara membuka matanya.
“Adhara, gue laper,” lapor Chan yang sudah seperti anak Adhara karena selama laki-laki itu tinggal bersama nya ia sudah mengurus semua kebutuhan Chan dan kini lihatlah laki-laki itu meminta makan padanya bagai seorang anak.
“Anak gue pulang noh,” keluh Adhara yang segera berdiri lalu keluar dari kamarnya dengan wajahnya yang terlihat jelas jika Adhara begitu lelah.
Chan yang melihat Adhara keluar dari kamarnya segera mengikuti Adhara menuju dapur dan segera duduk di kursinya. Chan mengerutkan keningnya bingung karena tidak biasanya Adhara akan menjadi sangat pendiam begini biasanya gadis itu selalu banyak berbicara padahal hal tersebut yang di omongkan tidak lah penting.
“Kenapa lo sariawan?” tanya Chan saat melihat Adhara hanya diam saja sambil mengambil lauk dan nasi yang diletakkan di rak.
Adhara hanya menghela nafasnya datar lalu segera memberikan makanan pada Chan meletakan nya di depan laki-laki itu yang kini malah tercengang melihat makanan yang tersaji di depannya. Setelah hari sebelumnya Adhara hanya memberikannya nasi goreng untuk sarapan kini gadis itu hanya menyiapkan dua menu sederhana untuknya.
“Cuma ini?” tanya Chan dengan raut wajah tidak sukanya.
“Ck masih untung gue masakin, kemarin juga lo bilangnya bosen nasi goreng,” ucap Adhara membuat Chan mendengus. Meskipun ia mengatakan jika ia merasa bosan dengan nasi goreng apa gadis itu tak bisa memasak menu yang enak sekali saja.
“Ck ya gak ini juga ayam kek, daging gitu,” ucap Chan mengusulkan. Adhara menatap Chan datar.
“Kalau mau ayam lo nyolong dulu punya tetangga, mau sapi ya juga sama nyolong dulu baru lo makan daging,” sarkas Adhara dengan wajah datarnya yang membuat Chan merasa takut. Di saat seperti ini Adhara cukup menyeramkan. Ia lebih suka Adhara yang saat marah akan banyak bicara daripada seperti sekarang yang hanya sedikit berbicara namun menusuk.
“Ada makanan juga udah untung, udah harus mensyukuri apa yang ada. Kita harus hemat uang gue gak banyak sedangkan sekarang gue bukan hanya menghidupi diri gue sendiri tapi gue juga harus membiayai hidup lo yang numpang di sini,” ucap Adhara dengan begitu kasarnya yang tanpa sadar mengatai jika Chan hanya menjadi beban baginya.
Adhara yang akhirnya tersadar dengan ucapannya yang mungkin saja melukai Chan segera menunduk sambil menggigit bibirnya. Chan hanya diam tak lagi menjawab ucapan Adhara karena ia cukup sadar diri telah merepotkan Adhara mungkin mulai besok ia yang akan membeli bahan makanan atau bekerja karena tabungannya hanya tinggal sedikit dan Papa nya sudah tidak lagi memberinya uang bulanan.
__ADS_1
Memikirkan Leo jadi teringat dengan kejadian satu minggu lalu saat ia mengunjungi kakeknya yang tengah sakit.
Flashback on
Chan memasuki kamar besar milik kakeknya dengan wajah datarnya hingga terlihat kakeknya yang terbaring di ranjang. Laki-laki itu sudah sangat tua tapi ke angukannya tak membuatnya sadar umur.
“Kau datang?” tanya Tanfer, kakek Chan dengan senyuman evilnya yang masih terlihat menyeramkan di umurnya saat ini.
“Aku pikir akan ada penandatangan warisan jadi aku datang,” ucap Chan yang juga tersenyum tak kalah sinis.
Bukannya marah Tanfer malah terkekeh sedangkan Leo yang baru datang dan mendengarnya langsung menatap tajam pada Chan.
“Sungguh tidak memiliki sopan santun, apa begini Mamamu mengajarkan mu?” tanya Leo dengan amarahnya.
Chan terkekeh ke arah papanya hingga wajah yang awalnya tergurat tawa itu berubah menjadi datar.
“Ck jangan terlalu menyalahkan seseorang, karena mendidik anak harusnya tanggung jawab berdua bukan hanya Mama, Mama sudah mendidikku dengan baik tapi tidak dengan papa,” ketus Chan yang membuat amarah Leo terlihat jelas.
“Kamu tidak berubah Chan, hanya sikap patuh mu yang berubah. Mengapa? Apa karena gadis itu?” tanya Tanfer berkomentar dan menebak jika sikap Chan sekarang adala ulah Adhara.
“Adhara tidak ada hubungannya dengan senyuman ini, aku Cuma udah capek jadi boneka kalian. Dan cinta itu gak bisa dipaksakan, aku udah terlanjur mencintai Adhara jadi gak ada alasan untuk aku mencintai Titania,” ucap Chan dengan begitu pasti.
“Lambat laun kau akan melupakannya dan mulai mencintai Titania,” ucap Tanfer yang malah membuat Chan terkekeh.
“Apa Papa juga seperti itu? Tapi sayangnya selama ini aku tak melihatnya,” ucap Chan dengan senyuman sinisnya menyindir papanya yang kini mengepalkan tangannya lalu memilih untuk segera pergi dari sana dengan amarahnya.
“Jika kau masih bersikeras untuk pergi maka aku tidak akan segan berhenti untuk memberikan uang bulanan untuk mu,” ancam Tanfer yang sama sekali tidak membuat Chan gentar.
“Aku tidak takut,” ucap Chan yang setelahnya juga ikut pergi dari sana dengan membanting pintu cukup keras.
Flashback off
“Chan,” panggil Adhara saat melihat Chan yang tengah melamun hanya mengaduk-aduk makanannya.
Panggilan Adhara tersebut menyadarkan Chan dai lamunannya membuat Chan menoleh sekilas ke arah Adhara lalu melanjutkan makannya tanpa membuka suara kembali dan jujur saja hal tersebut membuat Adhara semakin merasa bersalah dengan Chan.
“Gue sepertinya bakal kerja part time,” ucap Adhara yang kembali membuka suara.
__ADS_1
Chan menghentikan makannya lalu melihat ke arah Adhara, jujur saja ia tidak setuju dengan ucapan gadis itu karena ia merasa jika ia begitu bergantung pada Adhara sedangkan dirinya tak bisa melakukan apapun.
“Gue yang bakal kerja,” ucap Chan yang setelahnya langsung pergi dari sana dengan wajah datarnya.
Adhara menghela nafasnya kasar seperti nya kali ini Chan benar-benar tengah marah padanya.
“Ck marah sih marah tapi jangan lupa cuci piringnya dong,” komentar Adhara yang masih sempat-sempatnya membahas hal seperti itu di saat emosi Chan yang tengah tidak stabil. Syukur saja laki-laki itu sudah pergi dari sana dan entah pergi kemana.
***
Halo semua Happy New Year 2022 All.
Semoga impian yang belum terwujud di tahun 2021 bisa terwujud di tahun 2022 ini.
Tetap semangat ya apapun yang terjadi, di tahun ini harus bisa lebih kuat lagi. Kalian hebat bisa bertahan sejauh ini.
Btw siapa nih yang udah nunggu Adhara bareng tiga cogannya?
Semoga kalian suka ya, maaf kalau feel kurang dapet dan masih ada typo.
Jangan lupa di tambahkan ke favorite, like, dan koment ya guys.
Follow ig aku ya @hilmiatulhasanah dan @wphilmiath
Oh iya untuk update aku bakal update 2 bab perhari ya guys.
Stay healthy all.
Thank For Reading all.
__ADS_1
See You Next Chapter All.