
Happy Reading All.
***
Seperti yang telah direncanakan kini Adhara dan Chan tengah dalam perjalanan menuju rumah Chan. Adhara sedari tadi tak berhenti memilin tangannya karena merasa gugup sekaligus takut untuk bertemu dengan Rio. Bukan dirinya yang dikhawatirkan, melainkan Chan. Adhara begitu takut jika Rio melakukan hal yang buruk pada Chan ataupun Mira.
Tak lama mobil yang Chan kemudikan berhenti di sebuah rumah yang begitu besar dan mewah, terlihat Chan menatap rumah tersebut dengan tatapan tajam seolah ingin membakar rumah tersebut.
Adhara melihat ke arah Chan lalu menggenggam tangan laki-laki tersebut. Berusaha memberikan kekuatan pada Chan. Laki-laki tersebut menoleh ke arah Adhara dengan sebuah anggukan dan senyuman meyakinkan gadisnya itu jika ia baik-baik saja.
“Ayo, gue bakal siaga terus buat ngelawan siapapun yang nyakitin lo,” ucap Adhara dengan senyumannya membuat Chan membalas senyuman gadis tersebut, yang terdengar seperti candaan namun terselip kesungguhan dalam ucapan gadis tersebut.
“Siapa yang berani ngelukain gue? Pacar gue kan bar-bar banget,” ucap Chan membuat Adhara tersenyum bangga mendengarnya.
“Ayo,” ajak Adhara yang di balas dengan anggukan oleh Chan. Akhirnya mereka keluar bersama dan berjalan memasuki rumah besar tersebut dengan tangan saling bertautan.
Saat melihat kedatangan Chan dan Adhara semua pelayan menunduk hormat lalu segera membukakan pintu untuk anak majikannya tersebut.
Rumah besar tersebut terlihat begitu sepi. Tak ada Mira yang selalu datang menyambut mereka, tak ada Nora yang menghampiri mereka.
“Kalian datang?” tanya sebuah suara yang begitu familiar. Suara laki-laki paruh baya yang tak lain adalah Rio.
Rio berjalan menuruni tangga dengan sebuah senyuman evil miliknya yang ditatap dengan datar oleh Chan.
“Silahkan duduk Adhara, Mama kamu ada di kamar Chan,” ucap Rio sambil berjalan ke arah Adhara dan Chan.
“Sana kamu liatin mama kamu dulu, aku gak papa di sini,” ucap Adhara dengan senyumannya sambil mengelus tangan Chan yang berada di genggamannya.
“Kamu tunggu aku sebentar, kalau ada apa-apa hubungi aku,” ucap Chan yang dibalas dengan anggukan oleh Adhara.
Chan mengelus puncak kepala Adhara sayang lalu segera pergi dari sana, meninggalkan gadis nya tersebut menunggu di ruang tamu. Sedangkan Chan berjalan ke arah kamar Mamanya.
“Bi siapkan minum untuk mereka,” ucap Rio yang di balas dengan anggukan oleh pelayan yang berada di sana.
Rio berjalan ke arah sofa lalu duduk di sofa yang berada di depan gadis tersebut.
“Bagaimana hubungan mu dengan Chan?” tanya Rio pada Adhara membuat gadis tersebut menoleh ke arah Rio dengan sebelah alisnya yang naik.
__ADS_1
“Biak, dan saya tidak berniat untuk meninggalkannya begitupun dengan Chan,” ucap Adhara dengan tegasnya membuat Rio tertawa mendengar keteguhan gadis di depannya tersebut.
“Meskipun kamu tahu kalau kamu tidak pantas dengan kami?” tanya Rio dengan senyuman sinisnya membuat Adhar tertawa di buatnya. Apa laki-laki itu pikir Adhara adalah orang yang mudah ditindas?
“Apa yang membuat saya tidak pantas? Apa karena saya tidak sekaya kalian?” tanya Adhara dengan menaikkan sebelah alisnya sambil menatap Rio dengan mengejek.
Adhara menyilangkan kakinya sambil menatap lurus pada Rio dengan mencondongkan tubuhnya.
“Harta yang didapat dengan cara yang licik Anda banggakan? Kalau bukan karena harta istri Om, om juga gak lebih kaya dari tante Mira tapi lihat sekarang malah om memperlakukan tante Mira dengan semena-mena,” ucap Adhara dengan begitu tajamnya membuat Rio mengepalkan tangannya menahan amarah namun senyuman tidak pernah luntur di wajah laki-laki yang sudah tak muda lagi tersebut.
“Kamu tidak tahu apapun jadi tak perlu mencampuri urusan saya dan istri saya,” tegas Rio pada Adhara yang hanya dibalas dengan anggukan oleh Adhara.
“Baiklah baiklah, Om yang paling tahu semuanya tentang kehidupan,” ucap Adhara dengan nada mengejek.
Bersamaan dengan itu seorang pelayan datang membawakan minuman dan makanan ringan untuk mereka.
“Kembalikan Chan pada kami jika ingin hidupmu aman,” ucap Rio membuat Adhara terkekeh mendengarnya.
“Bahkan bawahan Om takut sama saya,” ucap Adhara dengan senyuman bangga nya sambil mengedipkan matanya pada salah satu pengawal yang pernah ia lawan untuk membantu Chan. Pengawal tersebut langsung menunduk. Dan hal tersebut tak lepas dari pengalihan Rio.
“Tante Mira yang spek angel terlalu bagus buat Om yang spek devil,” ucap Adhara dengan tatapan tajamnya pada laki-laki tersebut. Bukannya tak bisa menghargai yang lebih tua, tapi jika yang lebih tua tidak bisa menyayangi yang lebih muda untuk apa masih dihormati? Terlebih orang seperti Rio yang bahkan tega menjadikan istrinya sebagai umpa.
“Habiskan minumanmu,” ucap Rio lalu segera pergi dari sana dan berjalan ke arah kamarnya berada.
Di lain tempat kini Chan terus melihat ke arah Mamanya yang tengah terbaring dengan lemah. Chan berjalan mendekat ke arah Mamanya lalu duduk di samping Mamanya tersebut menggenggam tangan Mamanya erat.
“Ma, Chan dateng,” ucap Chan membuat Mamanya membuka matanya perlahan lalu tersenyum lemah ke arah putra nya tersebut.
“Kamu pulang?” tanya Mamanya yang Chan balas dengan gelengan.
“Chan hanya menjenguk Mama,” ucap Chan membuat Mamnya mengangguk sambil tersenyum. Melihat Chan yang kini berada di sampingnya saja ia sudah merasa senang.
“Tidak masalah, mama sudah senang kamu datang,” ucap Mamanya membuat Chan mengangguk lalu mengecup punggung tangan Mamanya.
Suara pintu di buka membuat Chan menoleh begitupun dengan mamanya. Melihat kedatangan Rio, Chan segera berjongkok di samping mamanya.
“Ma, Chan pulang dulu ya,” ucap Chan lalu segera mencium punggung tangan Mamanya dan berjalan keluar dari kamar tapi ternyata Papanya malah mengikutinya.
__ADS_1
“Kenapa?” tanya Chan dengan tatapan tajamnya pada papanya tersebut yang kini tersenyum ke arahnya.
“Kembalilah ke rumah,” ucap Rio sambil mendekatkan tubuhnya pada putranya tersebut lalu membisikkan sesuatu yang membuat Chan mengepalkan tangannya dengan matanya yang berubah merah.
“Kamu tahu Papa gak pernah main-main sama omongan papa,” ucap Rio dengan senyuman sinisnya membuat tatapan Chan semakin menatap tajam pada Papanya tersebut, seolah tatapannya tersebut sudah siap membunuh papanya.
“Aku lebih tau Papa itu iblis,” ucap Chan lalu segera pergi dari sana dengan amarahnya dan berjalan untuk menemui Adhara.
Adhara yang melihat kedatangan Chan segera bangun dari duduknya dengan tatapan yang begitu khawatir saat melihat wajah Chan yang begitu mengerikan.
“Chan,” panggil Adhara sambil menghampiri Chan dengan wajah khawatirnya.
“Ayo pulang,” ucap Chan lalu langsung menarik Adhara untuk keluar. Adhara menoleh ke arah Rio yang kini tersenyum ke arahnya sambil mengedikkan bahunya.
Di perjalanan pulang tak ada yang laki-laki itu ucapkan. Adhara tahu saat ini keadaannya sedang tidak baik-baik saja lebih baik terus diam dan berusaha menenangkan Chan dengan terus mengelus tangan laki-laki itu.
***
Hai Semua balik lagi nih sama aku.
Btw siapa nih yang udah nunggu Adhara bareng tiga cogannya?
Kalau kalian ada pertanyaan silahkan di ajukan ya, nanti aku jawab. Menerima kritik dan saran.
Semoga kalian suka ya, maaf kalau feel kurang dapet dan masih ada typo
Jangan lupa di tambahkan ke favorite, like, dan koment ya guys.
Follow ig aku ya @hilmiatulhasanah_ dan @wphilmiath_
Tim Interaksi udah aku aktifkan nih, yuk guys join.
Stay healthy all.
Thank For Reading all.
See You Next Chapter All.
__ADS_1