Atmosphere

Atmosphere
Corona Australis


__ADS_3

Happy Reading All.


***


Adhara terus berdecak kesal karena saat ini Antariksa belum saja menjemputnya padahal saat ini jam sudah menunjukan pukul 6.45.


“Antariksa awas ya lo, abis lo sama gue,” ucap Adhara dengan mengepalkan tangannya sambil menghentakkan kakinya.


Saat ini gadis itu tengah menunggu Antariksa di trotoar pinggir jalan. Sudah hampir setengah jam gadis itu menunggu Antariksa, namun laki-laki itu belum juga menampakkan batang hidungnya.


“Apa dia marah karena masalah kemarin?” tanya Adhara pada dirinya sendiri.


Gadis itu menghela nafasnya kasar,kini pikirannya terus tertuju pada Antariksa. Memikirkan ucapan laki-laki itu kemarin sore.


“Apa lo gak terlalu jahat sama gue? Gue yang selalu ada buat lo tapi ternyata hati lo masih aja buat Chan. Lo tau gimana rasanya di manfaatkan sama orang yang kita sayang?” ucapan Antariksa tersebut terus saja terngiang di telinganya membuat Adhara mendengus frustasi lalu mengusap wajahnya kasar.


“Jangan salah mengartikan perasaan Adhara, bisa aja lo Cuma merasa bersalah ke Antariksa. Atau perasaan terlindungi dan nyaman,” ucapan Arche selanjutnya membuat Adhara menghela nafasnya kasar lalu mengusap rambutnya hingga berantakan.


“Heeeeh Adhara, lo bisa gila lama-lama gini mulu,” ucap Adhara sambil menundukkan kepalanya.


Suara klakson mobil membuat Adhara mendongak hingga mobil yang begitu familiar muncul di depannya.


“Ayo naik,” ucap pengemudi tersebut yang hanya mendapatkan tatapan datar dari Adhara.


“Ogah, mobil lo udah gak suci lagi,” ucap Adhara yang membuat laki-laki yang masih di dalam mobil tersebut terkekeh lalu segera turun dari mobil berjalan ke arah Adhara.


Tanpa aba-aba laki-laki tersebut segera menggendong Adhara dan memasukkannya ke dalam mobil.


Adhara yang di gendong seperti karung beras tersebut terus meronta dan berteriak.


“Chan gila, gue gak mau berangkat sama lo,” teriak Adhara yang tak Chan peduli. Laki-laki itu dengan segera mengunci pintu mobilnya setelah ia juga naik.


“Lo tenang aja, mobil ini masih lo satu-satunya cewek yang dudukin,” ucap Chan dengan senyumannya membuat Adhara yang pendengarnya berdecih.


“Bulshit,” ucap Adhara tegas sambil melihat ke arah Chan dengan tatapan tajam dan tangan yang bersedekap dada.


“Gue udah jujur Adhara, kalau Papa nyuruh gue bawa Titania keluar gue pake mobil lain,” ucap Chan menjelaskan membuat Adhara berdecih lalu menatap lurus ke arah depan membuat Chan  yang melihatnya menghela nafasnya kasar.


“Antariksa kenapa belum jemput?” tanya Chan yang membuat Adhara menghela nafasnya sambil menggeleng. Ia juga tak tahu ada apa dengan laki-laki itu. Adhara sudah mengirimkannya banyak pesan namun tak ada satupun yang laki-laki itu balas.


Bahkan Adhara juga sudah menelponnya namun tetap tak ada jawaban dari gadis tersebut yang entah ada di mana. Chan yang menyadari ada yang berbeda dari Adhara akhirnya memilih diam hingga tak ada yang memulai pembicaraan.

__ADS_1


Chan melajukan mobilnya membelah jalanan dengan cepat menuju sekolahnya mengingat waktu mereka hanya tinggal lima menit untuk bel masuk sekolah.


Tak beberapa lama akhirnya mereka sampai di parkiran mobil sekolah, Adhara baru saja akan keluar dari mobil tapi  Chan malah menahannya membuat Adhara menatap tajam laki-laki tersebut.


“Apa lagi?” ketus Adhara pada laki-laki tersebut yang malah tertawa lalu mengarahkan ponselnya pada Adhara.


“Lo yakin mau keluar dengan penampilan cosplay jadi orang gila gini?” tanya Chan dengan menaikkan sebelah alisnya membuat Adhara yang melihat penampilannya sendiri memelototkan matanya sempur.


Adhara segera mengambil sisir yang berada di dasbor mobil Chan yang sudah penuh dengan sisir, bedak, lotion, juga lip ice yang berada di sana. Jelas semua itu adalah milik Adhara, tidak mungkin bukan Chan menggunakan semua itu.


“Gue pas ngeliat lo di jalan aja tadi ngira lo orang gila,” ucap Chan yang membuat Adhara memukul kepala Chan dengan keras.


“Ngomong mulu lo, belum pernah denger tangan jerit aja sih lo,” ucap Adhara tajam uang membuat Chan segera mengunci mulutnya.


Adhara melihat penampilannya sekali lagi sebelum keluar dari mobil laki-laki tersebut, namun baru saja membuka pintu mobil Adhara kembali menutupnya membuat Chan mengerutkan keningnya bingung melihat Adhara yang kini malah membuka tasnya lalu mengeluarkan gelang berwarna hitam.


“Ini buat lo,” ucap Adhara yang membuat Chan semakin bingung. Melihat Chan yang bingung Adhara memperlihatkan gelang sama yang di pakainya.


“Tadi malam Arche ngajak gue ke pasar malam, jadi gue sekalian beli ini buat kita,” ucap Adhara dengan senyumannya yang membuat Chan memelototkan matanya mendengar Adhara yang pergi jalan-jalan bersama Arche.


“Lo sama Arche?” tanya Chan yang di balas dengan anggukan oleh Adhara, bahkan wajah gadis itu terlihat begitu polos saat menjawab pertanyaan Chan tersebut.


Chan yang melihat wajah polos gadis tersebut dibuat terbengong dengan nafas yang memburu.


“Bukan Cuma buat Arche kok, tapi buat kita berenam,” ucap Adhara dengan senyumannya yang membuat Chan semakin kesal mendengarnya. Ia pikir gelang tersebut hanya untuk nya Adhara namun ia salah ternyata Adhara begitu baik hati hingga memikirkan yang lain juga.


Chan segera keluar dari mobilnya lalu menutupnya dengan keras membuat Adhara yang masih di dalam mobil laki-laki tersebut mengejapkan matanya berkali-kali karena terlalu bingung dengan reaksi Chan tersebut.


“Lah gue salah?” tanya Adhara dengan polosnya lalu keluar dari mobil Chan dengan tanda tanya di kepalanya. Apa dia salah jika membelikan gelang tersebut untuk sahabatnya yang lain.


“Gue salah mulu dah perasaan,” ucap Adhara sambil menghela nafasnya kasar lalu segera berjalan menuju kelasnya namun saat di lift ia malah bertemu dengan Antariksa dan Angkasa.


“Antariksa, lo kenapa gak jemput gue?” tanya Adhara dengan wajah galaknya pada Antariksa yang kini menatapnya dengan datar.


“Apa penting buat gue jemput lo?” tanya Antariksa ketus yang membuat Adhara terkejut mendengar ucapan laki-laki tersebut sedangkan Angkasa yang mendengarnya malah tersenyum kemenangan.


“Udah lah Adhara, kalau satu ya satu jangan maruk mau ambil semuanya,” ucap Angkasa dengan senyuman sinisnya yang membuat Adhara tersenyum tak kalah sinis dari laki-laki tersebut.


“Lo cowok tapi mulutnya kayak cewek ya, kompor banget jadi orang, malu sama pedang samurai lo bos,” ucap Adhara dengan senyuman evilnya sambil menendang ******** Angkasa keras membuat laki-laki itu langsung berlutut karena merasakan sakit di bagian bawahnya.


“Gak usah cari masalah sama gue, gue bukan cewek lembut,” ucap Adhara sambil menepuk puncak kepala Angkasa dengan senyumannya.

__ADS_1


“Oh iya Ta ini buat lo,” ucap Adhara sambil memberikan gelang yang di belinya untuk Antariksa. Adhara menunjukkan gelen yang juga dipakai nya.


“Buat kita berenam aja, setan ini gak usah di ajak,” ucap Adhara sambil menatap Angkasa dengan tajamnya.


“Sialan lo Adhara,” ucap Angkasa yang tidak Adhara hiraukan. Tak beberapa lama akhirnya lift terbuka Adhara segera keluar begitupun Antariksa yang membuat Adhara mengerutkan keningnya.


Saat melihat Antariksa yang membuat gelangnya Adhara memelototkan matanya.


“Antariksa,” teriak Adhara pada laki-laki tersebut yang kini malah menatap Adhara dengan kerutan di dahinya.


“Kalau lo gak suka lo tinggal bilang, jangan asal buang aja. Bisa gak sih lo ngehargain perasaan gue? Tega banget lo buat itu di depan gue,” ucap Adhara dengan tajam pada Antariksa yang kini tersenyum dengan sinis mendengarnya.


“Gue selalu ngehargain perasaan lo, tapi apa lo pernah mikirin perasaan gue? Jangan egois Adhara, jangan gue aja yang mikirin perasaan lo,” ucap Antariksa lalu segera pergi dari sana meninggalkan Adhara yang membuku di tempatnya.


“Lo bukan Antariksa yang gue kenal,” ucap Adhara lalu segera pergi menuju kelasnya. Kini ia sudah menjadi pusat perhatian seisi koridor yang terus memperhatikannya dengan berbagai tatapan.


Entah tatapan mengejek ataupun iba pada gadis tersebut. Bahkan ada yang terang-terangan menghinanya.


“Udah di tinggal Chan sekarang di tinggal Antariksa, definisi semua akan kembali pada tempatnya,” ucap salah seorang siswi dengan sinis yang membuat Adhara mengepalkan tangannya.


“Belum pernah pake lipstik alami lo?” tanya Adhara sambil menggulung lengan bajunya yang membuat gadis itu langsung menyiutkan nyalinya.


“Adhara ayo pergi,” ajak Sky sambil menarik Adhara untuk segera pergi. Adhara menghela nafasnya kasar berusaha untuk menahan amarahnya.


***


Hai Semua balik lagi nih sama aku.


Btw siapa nih yang udah nunggu Adhara bareng tiga cogannya?


Kalau kalian ada pertanyaan silahkan di ajukan ya, nanti aku jawab. Menerima kritik dan saran.


Semoga kalian suka ya, maaf kalau feel kurang dapet dan masih ada typo


Jangan lupa di tambahkan ke favorite, like, dan koment ya guys.


Follow ig aku ya @hilmiatulhasanah dan @wphilmiath


Tim Interaksi udah aku aktifkan nih, yuk guys join.


Stay healthy all.

__ADS_1


Thank For Reading all.


See You Next Chapter All.


__ADS_2