
FYI "Teori Teori Planetisimal adalah salah satu teori yang menerangkan tentang proses pembuatan Tata Surya. adalah salah satu teori yang menerangkan tentang proses pembuatan Tata Surya."
Happy Reading ALl.
***
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, detik berubah menjadi menit, menit menjadi jam, jam menjadi hari, hari menjadi bulan, dan bulan menjadi tahun. Dan kini semua sudah berlalu sama satu tahun sejak kejadian kandasnya hubungan Adhara juga Chan.
Mereka kini sudah menjalani kehidupan mereka masing-masing, Adhara yang baru selesai dengan kuliah. Arche yang masih harus menunggu enam bulan lagi untuk kelulusannya begitu pula dengan Chan. Namun Chan kini sudah mulai mengurus perusahaan keluarganya.
Nora kini sudah memilih untuk bekerja di perusahaan ayahnya yang merupakan perusahaan multinasional. Awalnya Nora menolak nya karena ia ingin bekerja dengan hasilnya sendiri namun Ayahnya malah memaksanya untuk bekerja di perusahaan keluarganya akhirnya mau tidak mau Nora menerima tawaran tersebut.
Izar pun kini ikut bekerja di Jakarta, memegang perusahaan milik ayahnya yang berada di sana. Sedangkan Arche yang kini juga mulai bekerja laki-laki tersebut memilih mengurus cabar perusahaan ayahnya yang berada di bandung mengingat ia masih harus menyelesaikan kuliahnya.
Hanya Adhara yang kini masih begitu santai bekerja dengan keras mengukir pulau di bantal kesayangannya. Padahal Arche sudah menawarkan Adhara untuk bekerja di perusahaannya bersama dengan Nora tapi Adhara malah menolaknya dan mengatakan masih akan memikirkannya.
Suara ketukan di balik pintu kamarnya membuat Adhara berdecak kesal padahal ia sekarang masih begitu nyaman dengan kasur nya tersebut. Namun semakin lama saat Adhara membiarkan orang di luar sana, ketukan tersebut malah semakin keras.
“Adhara bangun, kamu ini suka banget sih tidur. Bangun udah siang Adhara,” ucap suara di balik pintu membangunkan putrinya yang tengah tertidur tersebut. Padahal kini jam sudah menunjukkan pukul 8.00 tapi Adhara malah masih begitu santai dengan pekerjaannya tersebut.
“Sebentar lagi Ma,” ucap Adhara pada ibunya tersebut membuat Astrid menghembuskan nafasnya mendengar jawaban dari anaknya tersebut yang memang begitu malas.
“Cepet bangun Adhara, Nora udah nunggu kamu tuh. Hari ini kamu harus ke butik,” ucap Astrid lagi pada anaknya tersebut yang membuat Adhara menghembuskan nafasnya kasar lalu segera bangun dari ranjangnya tersebut dengan malas.
Ya hari ini ia ada janji dengan Nora untuk pergi ke butik jadi mau tak mau ia harus segera bangun agar tak membuat Nora menunggu lebih lama lagi. Gadis tersebut memang sedang ada di bandung untuk beberapa hari kedepan.
***
Seorang laki-laki kini tengah berjalan dengan wajah datarnya memasuki sebuah perusahaan membuat para karyawan yang berada di sana langsung menundukkan kepalanya karena merasa takut pada atasnya tersebut. Wajah datar andalannya jelas tak pernah lepas dari wajah tampan tersenyum.
Senyuman tak pernah sekalipun dapat mereka lihat dari atasan mereka tersebut. Hanya kemarahan yang sering mereka lihat. Tak akan ada yang berani sedikitpun membuat kesalahan di depan laki-laki tersebut atau mereka akan kehilangan pekerjaan mereka. “Mr. perfect” itulah sebutan untuk laki-laki tersebut.
Di belakang laki-laki tersebut asisten pribadinya terlihat terus mengikuti atasannya tersebut yang kini sudah berjalan ke arah lift khusus untuk para petinggi kantor tersebut.
Laki-laki tersebut tak lain adalah Chan, laki-laki yang kini baru saja keluar dari lift dan berjalan ke arah ruangannya. Saat sampai di depan ruangannya laki-laki tersebut mengerutkan keningnya saat melihat seorang perempuan yang berada di sana.
__ADS_1
“Tuan dia adalah sekretaris baru Anda,” ucap asisten Chan yang kini berada di belakang laki-laki tersebut yang membuat Chan menaikkan sebelah alisnya lalu menatap tajam pada asistennya tersebut.
“Apakah kamu beru bekerja dengan ku selama satu bulan, Rigel?” tanya Chan dengan tatrapannya tajamnya pada asistennya tersebut yang kali ini menundukkan kepalanya takut mendengar ucapan Chan tersebut.
“Maaf tuan tapi tak ada satupun laki-laki yang melamar sebagai sekretaris,” ucap Rigel pada Chan yang kini menatap tajam pada laki-laki tersebut. Rigel tahu bagaimana atasannya tersebut begitu anti pada seorang perempuan. Entah apa yang terjadi namun selama hampir satu tahun Rigel bekerja dengan atasannya tersebut ia tak pernah melihat atasannya tersebut dengan perempuan manapun kecuali Sky, adik dari sahabat atasannya tersebut.
Baru-baru ini sekertaris Chan memang baru saja dipecat hanya karena keteledorannya menumpahkan kopi di jas Chan. Chan kini memang begitu berubah bahkan laki-laki tersebut kini menjadi begitu kasar dan semena-mena. Adhara memang sepertinya membawa perubahan besar pada laki-laki tersebut. Bahkan kepergiannya membawa laki-laki tersebut menjadi laki-laki yang begitu sadis.
“Aku tak mau tahu soal itu, jika kau berani membawa perempuan lagi ke lingkungan ku ini maka aku juga akan mengeluarkan mu dari perusahaan ku bersama dengan perempuan tersebut,” tegas Chan pada Rigel yang setelahnya membuat Chan segera masuk ke dalam ruangannya.
Namun baru saja ia berjalan tiba-tiba saja tangan nya di tahan membuat Rigel memelototkan matanya melihat hal tersebut. Sedangkan Chan kini sudah menatap tajam pada sekretarisnya tersebut yang sudah dengan berani berani memegangnya. Chan dengan segera melepaskan pegangan perempuan tersebut pada lengannya membuat perempuan tersebut hampir terjatuh.
“Jangan pernah menyentuhku,” ucap Chan dengan begitu tajam lalu segera melepaskan jas nya dan melemparkan jas tersebut ke lantai.
“Buang jas itu, aku tak ingin ada bekas wanita manapun selain Sky dan ibu ku di sini,” ucap Chan tegas lalu segera masuk ke dalam ruangannya.
Rigel menghembuskan nafasnya kasar. Melihat tingkah atasannya tersebut seringkali membuatnya mengelus dada karena walau bagaimanapun bekerja di perusahaan Chan adalah sebuah hal yang langkah mengingat semua fasilitas dan gaji yang ditawarkan begitu besar. Dan lagi ia sudah begitu nyaman bekerja dengan Chan.
Tak lama Rigel segera menggiring perempuan tersebut untuk pergi juga memberinya uang pesangon. Saat seperti ini Rigel lah yang harus berperan ganda dan menjadi Sekretaris untuk Chan.
“Seperti yang tuan lihat,” ucap Rigel yang membuat Arche terkekeh mendengar lalu menepuk pundak Rigel.
“Bersabarlah,” ucap Arche dengan kekehannya lalu memilih untuk segera masuk ke dalam ruangan sahabatnya tersebut untuk menemui Chan.
Saat Arche memasuki ruangan Chan, terlihat Chan yang kini tengah begitu sibuk dengan pekerjaannya. Melihat hal tersebut Arche dengan segera duduk di depan Chan membuat Chan segera menoleh ke arah depan dan menatap Arche dengan datar.
“Apa sopan santun lo udah ilang?” tanya Chan dengan begitu sarkas pada Arche yang kini justru terkekeh mendengar ucapan sahabatnya tersebut.
“Jadi mau apa lo kesini?” tanya Chan pada Arche yang kini malah melempar sebuah undangan di depan Chan membuat Chan mengerutkan keningnya bingung melihat undangan tersebut.
“Adhara bakalan nikah, gue harap lo bisa dateng,” ucap Arche yang kini sontak membuat Chan melepaskan undangan tersebut menatap Arche dengan tatapan tak percayanya.
“Dua hari lagi acara pernikahan nya, gue berharap banget lo bisa dateng,” ucap Arche pada Chan yang kini sudah mengepalkan tangannya mendengar hal tersebut.
Arche berdiri dari duduk nya lalu segera berlalu dari sana, namun baru saja ia akan membuka pintu langkah nya tersebut.
__ADS_1
“Sudah gue bilang lo akan nyesel,” ucap Arche lalu segera pergi dari sana meninggalkan Chan yang kini sudah berdiri dari posisinya lalu menendang kursinya dengan begitu keras hingga mengenai lemari kaca yang berada di sana.
Arche menghembuskan nafasnya kasar ia sudah menduga bagaimana reaksi Chan jika mengetahui Adhara akan menikah dalam dua hari kedepan.
Rigel yang berada di luar terkejut mendengar suara barang pecah dan berjatuhan namun baru saja ia akan masuk Arche menahan laki-laki tersebut.
“Biarkan, jangan mengusiknya atau kamu yang akan kena,” ucap Arche memperingati Rigel yang akhirnya membuat laki-laki memilih untuk kembali ke mejanya dari pada terkena amukan Chan.
Suara teriakan juga suara benda jatuh terus saja terdengar membuat Rigel memejamkan matanya mendengar hal tersebut. Ia tak tahu apa yang dikatakan sahabat atasannya tersebut pada atasannya itu hingga membuat atasannya tersebut kini begitu marah.
“Adhara,” lirih Chan setelah begitu lelah mengamuk kini ia hanya terduduk di depan jendela besar kantor nya sambil memegangi foto Adhara bersama dirinya yang masih menjadi wallpaper dari ponselnya.
***
Hi semua, ketemu lagi sama aku dengan cerita yang udah kalian tunggu-tunggu.
Aku harap kalian akan suka sama cerita ini. Jujur aja sebenarnya berat sih mau lanjut cerita ini. Aku takut malah cerita ini gak sebagus season pertama. Jadi aku harus kalian bisa kasih kritik dan saran agar aku bisa memperbaiki kalau ada yang salah ya.
Maaf ya kalo masih ada typo dan feel kurang dapet.
Oh iya jangan lupa vote dan koment ya guys.
Follow juga akun aku ya, dan ig aku @hilmiatulhasanah dan @wphilmiath
Dukungan kalian semangat ku😉
Thanks for Reading All.
See You Next Chapter.
Jangan lupa tinggalin jejak ya
Tunggu dulu deh, sambil nunggu Adhara cs aku saranin kalian buat baca cerita ku yang gak kalah kece nih. Yang suka rasa sakit dan cerita yang penuh emosi kalian bisa nih buat baca cerita ku yang satu ini.
__ADS_1