
Happy Reading All.
***
Adhara akhirnya bisa menghembuskan nafasnya lega karena ia baru saja menyelesaikan ujiannya hari ini. Dengan begitu percaya dirinya gadis itu keluar dari ruangan kelas ujiannya. Dengan bersenandung riang gadis itu berjalan keluar namun sepertinya kesialan kini tengah berpihak padanya karena di depan ruangan sebelah terlihat Antariksa yang baru keluar juga dari ruangannya.
Baru saja gadis itu hendak pergi dari sana namun Antariksa malah memanggilnya membuat Adhara berdecak kesal. Dengan senyuman palsu yang mengembang di wajahnya gadis itu membalikkan badanya ke arah Antariksa.
“Kenapa? Ada perlu atau ada yang bisa gue bantu?” tanya Adhara sambil menghampiri Antariksa.
Laki-laki itu menatap Adhara dari atas sampai bawah dengan tatapan menilainya lalu ia berdecak membuat Adhara mengerutkan keningnya bingung apa yang sebenarnya laki-laki itu pikirkan.
“Kenapa sih?” tanya Adhara yang mulai risih karena Antariksa yang terus memperhatikannya.
“Gue Cuma bingung kenapa orang-orang yang deket sama gue bisa suka sama lo, apa yang bagus dari cewek bar-bar kayak lo?” tanya Antariksa sambil menggeleng. Beberapa hari tak terlibat dengan gadis itu membuat ia berpikir sebenarnya apa yang menarik dari gadis di depannya ini.
“Gabut banget ya lo manggil gue Cuma buat itu, jelas mereka suka gue karena gue baik, imut, pinter, jago bela diri, bisa masak, bisa nyuci, bisa nyetrika, bisa…” ucapan Adhara terpotong karena laki-laki itu yang lebih dulu memotong ucapan.
“Lao lagi promosi mau daftar jadi babu atau penjaga?” tanya Antariksa tajam, ia merasa bosan mendengar gadis itu yang terus memuji dirinya sendiri dengan berbagai sikap baiknya itu.
“Cewek bar-bar gak ada kalem-kalemnya gini dari sisi mana sebaiknya coba,” ucap Antariksa sambil menggeleng dan memutar bola matanya malas.
Baru saja Adhara akan membuka mulutnya untuk berbicara tapi seorang gadis datang menghampiri mereka dan lebih dulu memanggil Adhara.
“Nona Adhara, Tuan meminta Anda untuk datang ke kediaman,” ucap gadis tersebut yang tak lain adalah Nora.
Adhara menatap gadis di depannya tanpa minat dan segera berjalan untuk berlalu dari sana tapi gadis itu malah menahannya, dengan kesal Adhara memelintir tangan gadis itu ke belakang.
“Gue gak mau ikut sama lo, atau peri ke rumah tuan lo itu. Urusan gue banyak, gue gak ada waktu buat ladenin kalian,” ucap Adhara dengan tegasnya, gadis itu langsung mendorong Nora menjauh dan hendak pergi lagi namun kali ini kembali dihentikan oleh Antariksa.
“Ikut aja kenapa sih?” dengus Antariksa kesal. Entah mengapa gadis bar-bar seperti ini yang membuat orang-orang di sekitarnya tertarik.
“Lo aja sana yang pergi, wakilin gue,” ucap Adhara malas lalu mengangkat sebelah bibir bagian atasnya jutek.
“Nona, Anda harus ikut atau saya yang akan menjadi sasaran. Jangan membuat saya terpaksa memaksa Anda dengan cara kasar,” ucap Nora yang berhasil membuat Adhara tertawa.
__ADS_1
“Lo pikir gue takut? Ayo sini lo maju,” ucap Adhara yang sudah menaikan lengan bajunya. Antariksa hanya bisa di buat menggeleng dengan kelakuan gadis satu itu.
Nora mendekatkan wajahnya pada telinga Adhara lalu berbisik di samping gadis itu yang membuat Adhara mengepalkan tangannya marah. Antariksa yang tak mendengar apa yang telah mereka bicarakan hanya mengerutkan kening bingung.
“Cepet jalan,” ucap Adhara yang akhirnya setuju untuk ikut bersama gadis itu.
***
Setelah menempuh perjalanan yang tak begitu lama akhirnya mereka sampai di depan rumah mewah milik Chan. Rumah dengan gaya kuno tradisional yang tetap terlihat megah dan mewah tersebut berdiri dengan begitu gagah.
Nora mengajak Adhara untuk masuk lalu memintanya menunggu di ruang tamu. Adhara hanya menurut dan duduk di salah satu sofa yang berada di sana dengan santainya. Gadis itu duduk dengan santainya sambil melihat-lihat sekitar, ternyata bukan hanya dari bangunan rumah yang terlihat tradisional tetapi juga hiasan di sana juga terlihat begitu antik.
Tak alam berselang seorang laki-laki paruh baya yang masih terlihat tampan dan berkarisma berjalan ke arah Adhara. Adhara segera berdiri dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan laki-laki tersebut.
“Silahkan duduk,” ucap laki-laki itu setelahnya. Adhara dengan segera duduk di tempatnya lagi.
“Perkenalkan saya Leo, saya Papa Chan,” ucap laki-laki itu yang ternyata adalah ayah Chan memperkenalkan dirinya.
“Saya Adhara om,” ucap Adhara yang juga memperkenalkan dirinya.
“Kamu tahu Chan sudah memiliki tunangan?” tanya Leo dengan tatapan menusuknya pada Adhara.
“Ya, tapi dia gak ngakuin tunangannya,” ucap Adhara dengan santai, gadis itu sama sekali tidak merasa takut dengan tatapan Leo padanya.
“Harusnya kamu sadar diri untuk tidak lagi dekat dan mengusik anak saya,” ucap Leo yang masih mempertahankan wibawanya. Adhara menghembuskan nafasnya kasar lalu bersandar di punggung sofa.
“Tapi anak om yang ngusuk saya,” ucap Adhara jujur karena memang Chan lah yang mengikutinya padahal ia berharap laki-laki itu tak lagi muncul di hadapannya.
“Saya tidak ingin mendengar apapun yang sama mau kamu jauhin anak saya,” ucap Leo tegas.
“Om jadi orang tua sepertinya terlalu mengekang untuk anak om sendiri, bahkan om yang harus nentuin jodoh anak om. Chan juga punya pilihannya sendiri Om, jangan terlalu mengekang, karena semakin om menekannya dia akan melambung jauh lebih tinggi, sama seperti bola jika ditekan di dalam air,” ucap Adhara menatap Leo dengan serius. Bukannya ingin membela Chan namun ia cukup kasihan melihat anak-anak yang harus terkekang oleh orang tuanya.
“Kamu tidak perlu ikut campur masalah keluarga saya, yang perlu kamu lakukan adalah menjauhi anak saya. Berbicara tentang cara mendidik, saya punya cara saya sendiri untuk mendidik anak saya. Orang tua kamu terlalu membebaskan kamu hingga menjadi orang tanpa martabat,” ucap Leo yang berhasil memancing amarah Adhara. Gadis itu mengepalkan tangannya kuat menatap tajam pada Leo.
“Jangan berbicara sembarangan tentang orang tua saya, karena mereka jauh lebih baik dari anda dalam,” ucap Adhara yang tidak terima orang tuanya di permainkan.
__ADS_1
“Apa orang yang pernah dipecat karena penyelewengan kekuasaan serta pencucian uang adalah orang yang baik?” tanya Leo membuat Adhara memelotot tajam.
Inilah alasan gadis itu setuju untuk ikut ke rumah Chan karena Nora mengatakan jika Ayah Chan menyelidiki tentang identitasnya. Adhara hanya ingin tahu sejauh mana laki-laki itu menyelidiki tentangnya.
“Saya rasa hal seperti itu sering terjadi akibat fitnah dari rekan kerja nya. Dunia bisnis cukup kejam,” ucap Adhara. Ya semua yang dialami oleh keluarganya adalah fitnah yang dibuat oleh oknum-oknum nakal untuk menjatuhkan ayahnya.
“Adhara ayo pergi,” ajak Chan yang baru saja datang dan sudah melihat Adhara yang saling menatap dengan tajam pada Ayahnya.
Adhara segera berdiri dan hendak pergi bersama Chan menghiraukan panggilan Leo yang terus memanggil mereka untuk berhenti.
“Berhenti kau anak sialan,” teriak Leo sambil hendak melempar vas bunga yang berada di sampingnya. Adhara yang melihatnya refleks menarik Chan untuk menjauh agar tidak terkena lemparan tersebut.
“Lihatlah kau membuktikan betapa tidak tahunya Anda mendidik anak,” ucap Chan dengan tajam.
***
Thank for Reading all
Hai semua apa kabar?
Aku datang lagi nih dengan cerita baru yang pastinya gak kalah seru sama cerita sebelumnya.
Semoga kalian suka ya sama ceritanya maaf kalau masih banyak typo dan feel kurang dapet.
Jangan lupa untuk Like, Koment, tambah ke favorite.
__ADS_1
See You Next Chapter all.