Atmosphere

Atmosphere
Cepheus


__ADS_3

Happy Reading All.


***


Langit pagi ini tengah menampakkan sisi gelapnya, mendung yang begitu tebal menjadi teman bagi Adhara. Malas untuk keluar karena hatinya yang masih terluka akibat ulah Chan membuat gadis itu kini masih setia bergelung dengan selimutnya.


Suara dering telepon mengganggu tidurnya membuat Adhara segera mematikan ponselnya tersebut tanpa mau melihat siapa yang meneleponnya. Tak lama setelah ponselnya dimatikan suara ketukan di depan pintu kamarnya membuat Adhara berdecak kesal.


“Ganggu aja sih,” teriak Adhara dari dalam kamar gadis itu tanpa berniat untuk membukakan pintu untuk orang di depan kamarnya.


“Adhara cepet bangun udah siang,” teriak orang di luar kamarnya yang membuat Adhara berdecak kesal setelah tahu orang yang mengganggu tidurnya kali ini adalah orang yang sudah membuatnya bersedih begini.


“Brisik, pergi lo sana,” teriak Adhara dengan kesal membuat Chan yang berada di balik pintu terkejut mendengar teriakan gadis itu.


“Cepet bangun Adhara, atau aku masuk sendiri,” ucap Chan membuat Adhara berdecak kesal dan terpaksa gadis itu segera bangun dari ranjang empuknya.


Dengan wajah datarnya Adhara keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah kamar mandi dengan membawa handuknya.


Chan menghela nafasnya kasar lalu berjalan di belakang Adhara, menuju dapur dan membuatkan sarapan untuk gadis nya itu.


Tak membutuhkan waktu lama untuk Adhara, gadis itu sudah selesai bersiap. Hanya menggunakan celana bahan panjang dan kaos crop nya.


“Nih sarapan dulu,” ucap Chan sambil menyodorkan nasi goreng dengan telur mata sapi ke arah Adhara yang segera diterima oleh gadis itu.


Tak seperti biasanya kini Adhara terus diam sambil menikmati makanannya tanpa mau membuka suaranya. Chan tentu saja dibuat bingung dengan gadisnya itu.


“Kamu kenapa?” tanya Chan yang mulai tidak tahan dengan Adhara yang terus saja mendiamkannya. Bukannya menjawabnya Adhara malah tetap setia memakan makannya.


Setelah selesai gadis itu langsung membawa piring kotornya ke arah wastafel dan mencucinya.


Chan menghela nafasnya, sepertinya kali ini Adhara benar-benar marah padanya hingga gadis itu enggan untuk berbicara padanya. Setelah mencuci piring kotornya Adhara segera menuju kamarnya untuk mengambil slingbag nya juga jaketnya.


“Mau kemana?” tanya Adhara akhirnya membuka suara setelah menggunakan jaketnya. Mendengar Adhara yang akhirnya mau berbicara walau dengan ketus membuat Chan tersenyum senang.


“Kamu akan tau nanti,” ucap Chan dengan senyumannya yang hanya dibalas dengan anggukan oleh Adhara.


***


Setelah menempuh waktu yang tidak sebentar akhirnya sepasang kekasih tersebut akhirnya sampai di sebuah danau yang terlihat begitu indah.

__ADS_1


Adhara segera turun dari motor Chan dengan bantuan pundak laki-laki itu, lalu membuka helm yang digunakannya. Mereka berjalan bersamaan menuju danau tersebut.


Adhara duduk di rerumputan hijau yang berada di sana sambil memejamkan matanya menikmati hembusan angin yang menerpa kulitnya yang terekspos. Chan ikut duduk di samping Adhara sambil menatap gadis itu dengan senyumannya.


“Chan kalau kita putus gimana?” tanya Adhara yang masih memejamkan matanya. Chan yang mendengarnya langsung menampilkan ekspresi marahnya.


“Kita gak akan pernah putus, aku gak akan pernah mutusin kamu,” ucap Chan tegas membuat Adhara menampilkan senyuman kecutnya.


Adhara menoleh ke arah Chan dengan tatapan seriusnya begitupun dengan Chan yang kini juga tengah menoleh ke arahnya.


“Kalau gitu gue yang mutusin lo,” ucap Adhara yang terlihat begitu santai, walau di dalam hatinya kini ia begitu kacau.


“Aku gak mau putus Adhara,” ucap Chan menekankan setiap kata yang diucapkannya membuat Adhara tersenyum masam.


“Lo sadar gak sih semenjak lo kembali jadi tunangan Titania berapa banyak waktu yang lo punya buat gue?” tanya Adhara dengan senyuman sinisnya. Adhara mengalihkan tatapannya pada danau di depannya, tangan gadis itu saling memilin menahan rasa sakit yang dirasakannya.


“Gue awalnya gak mempermasalahkan itu, tapi coba lo inget-inget berapa kali lo bohongin gue buat Titania? Berapa kali lo batalin janji ketemu kita buat Titania?” tanya Adhara dengan tatapan menerawang ke depan.


Mengingat saat malam minggu yang mereka rencanakan untuk menonton dan ia malah di tinggal di bioskop karena Papanya yang meminta Chan untuk pulang dan menemani Titania.


“Kamu tau alasan aku ngelakuin itu Adhara,” ucap Chan pada Adhara.


“Kamu gak merasa kamu terlalu egois? Kamu seolah menimpahkan semua masalah ke aku, padahal dari awal kita sudah sepakat untuk melewatinya bersama-sama,” ucap Chan dengan tatapan sendunya pada Adhara yang kini menampilkan senyuman sendunya.


“Aku selalu berusaha buat ada waktu buat kamu Adhara, please jangan egois untuk kali ini. Aku udah terlalu sabar buat ngadepin sikap kamu yang selalu semaunya sendiri. kamu pikir mudah buat aku ngelakuin semua ini?” tanya Chan yang sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Adhara yang mendengarnya cukup merasa bersalah namun juga merasa marah di waktu yang bersamaan karena kini Chan seolah menyalahkannya.


“Kita mending putus aja Chan, kita bener-bener gak cocok,” ucap Adhara yang hendak pergi dari sana namun Chan segera menahannya.


“Adhara aku gak mau kita putus, aku salah Adhara gak seharusnya aku ngomong kayak gini ke kamu,” ucap Chan sambil berusaha untuk menahan Adhara.


Adhara menghempaskan tangan laki-laki itu kasar lalu menatap Chan dengan sorot tajamnya.


“Selama lo jauh dari gue, gue ngerasa Antariksa yang selalu ada buat gue. Gue mulai suka sama dia selama lo gak ada di samping gue, jadi daripada kita saling menyakiti lebih baik kita udahan aja,” ucap Adhara yang langsung membuat Chan terdiam mendengarnya. Chan begitu berharap ia salah dengar, Adhara tidak mungkin menyukai Antariksa, mereka bahkan selalu bertengkar setiap bertemu.


“Kamu bohong kan, kamu gak suka sama Antariksa kan?” tanya Chan sambil menarik bahu Adhara dan menangkup pundak gadis itu.


“Gue suka sama Antariksa, dan mulai sekarang mending kita saling menjaga pasangan masing-masing,” ucap Adhara membuat Chan sekitar merasa lemas, tangannya yang memegang kedua pundak Adhara seketika luruh.


Adhara mendekatkan wajahnya pada Chan membisikkan sesuatu yang membuat Chan mengepalkan tangannya marah.

__ADS_1


“Gue denger selain dua sahabat lo, Angkasa juga suka sama gue. Gue bahkan bisa memilih di antara mereka. Jadi siapa yang harus gue pilih?” tanya Adhara dengan senyuman sinisnya membuat Chan yang mendengarnya menatap Adhara dengan sorot mata tajamnya.


“Gue gak tau kalau lo ternyata pemain,” ucap Chan dengan senyuman sinisnya yang dibalas dengan senyuman tak kalah sinis oleh Adhara.


Adhara segera pergi dari sana dengan tangannya yang mengepal menahan sakit yang kini terus mendera dadanya.


Adhara berjalan keluar dari taman tersebut dengan air mata yang akhirnya tak bisa ia tahan lagi. Air mata yang sedari tadi di tahannya untuk keluar akhirnya meluruh.


“Lo jahat Adhara, lo udah nyakitin hati Chan,” ucap Adhara bermonolog pada dirinya sendiri dengan suara yang sudah tak jelas akibat tangisnya.


“Nggak, semua ini salah Chan yang lebih dulu nyakitin elo,” ucap Adhara sambil duduk di salah satu kursi yang berada di taman samping danau tersebut.


Gadis tersebut melampiaskan tangisnya di sana melepaskan semua sesak yang terus mendera hatinya.


Hatinya kini benar-benar sedang tidak baik-baik saja.


***


Jadi kemarin itu aku up dua bab tapi ternyata yang satu masih di rivew.


Kalu part ini yang lebih dulu muncul dan buat kalian bingung, kasih tau aku ya biar aku bisa bilang ke editor.


Terima kasih guys.


Hai Semua balik lagi nih sama aku.


Btw siapa nih yang udah nunggu Adhara bareng tiga cogannya?


Kalau kalian ada pertanyaan silahkan di ajukan ya, nanti aku jawab. Menerima kritik dan saran.


Semoga kalian suka ya, maaf kalau feel kurang dapet dan masih ada typo


Jangan lupa di tambahkan ke favorite, like, dan koment ya guys.


Follow ig aku ya @hilmiatulhasanah dan @wphilmiath


Tim Interaksi udah aku aktifkan nih, yuk guys join.


Stay healthy all.

__ADS_1


Thank For Reading all.


See You Next Chapter All.


__ADS_2