
Happy Reading All.
***
“Jadi lo tau secara tidak sengaja?” tanya Adhara yang di balas dengan anggukan oleh Arche. Mendengar ucapan ayah Arche di akhir cerita membuat Adhara kesal. Bagaimana bisa seorang ayah meminta untuk membunuh anak nya sendiri.
“Ya gue tahu secara tidak sengaja, tapi mulai saat itu gue mulai mencari tahu tentang adik gue,” ucap Arche yang entah mengapa merasa nyaman menceritakan sesuatu yang sebelumnya belum pernah ia ceritakan pada orang baru.
“Tapi Papa lo nyuruh buat ngebunuh dia,” ucap Adhara dengan ekspresi yang sulit dibaca. Arche membalasnya dengan anggukan.
“Saat itu gue mulai ngasih tahu nenek gue, dan akhirnya nenek gue yang selalu ngelindungin dia, jadi tameng untuk Nora,” ucap Arche yang membuat Adhara mengangguk. Setidaknya saat tak di inginkan oleh Ayahnya, Nora masih memiliki kakak dan nenek yang sayang dengannya.
“Tapi kenapa Ayah lo gak mau ngakuin dia sebagai anaknya?” tanya Adhara dengan kening yang berkerut. Jika Ayahnya berani selingkuh harusnya karena ia menyukai ibu Nora dan akan merasa senang jika memiliki anak, walau semua itu adalah sebuah aib.
“Karena Papa nganggep dia adalah sebuah aib,” ucap Arche dengan senyuman senisnya, ia begitu membenci ayahnya karena berani menyakiti mamanya, tapi ia jauh lebih membenci papanya saat tahu papanya tegas membuat adiknya bahkan berniat mem bunuh Nora.
“Pengecut banget papa lo, berani selingkuh tapi gak berani tanggung jawab,” ucap Adhara dengan wajah meremehkannya. Arche membalasnya dengan anggukan karena ia tahu papanya memang begitu pengecut atau bahkan lebih kepada gila harta dan jabatan.
“Lebih pada gila harta dan jabatan,” ucap Arche membuat Adhara mengerutkan keningnya bingung dengan apa yang Arche maksud.
“Maksud lo?” tanya Adhara bingung untuk menjawab rasa penasarannya.
“Demi naik jabatan dan warisan Papa gak bisa ngungkapin semua ini, kakek gue pasti akan marah kalau tahu papa melakukan hal bodoh seperti ini apalagi perusahaan Papa gue saat itu masih berada di bawah perusahaan milik Mama gue, jadi lo pikir Kakek dari mama gue akan terima ngeliat anaknya di sakitin?” tanya Arche yang membuat Adhra terdiam bukan karena apa, tapi karena otak kecilnya tersebut yang masih berpikir keras dengan apa yang Arche maksud.
“Gak ngerti?” tanya Arche yang melihat Adhara diam tak menanggapi. Adhara yang di tanyakan hal tersebut menjawabnya dengan anggukan karena ia memang tak mengerti dengan apa yang Arche maksud.
Melihat hal tersebut Arche terkekeh dengan begitu keras. Adhara yang mendengarnya menghela nafasnya kasar.
__ADS_1
“Perusahaan Papa gue itu dulu perusahaan kecil, sampai keluarga Mama gue menawarkan investasi dengan jumlah besar dengan syarat menjodohkan mama dan papa gue,” ucap Arche menjelaskan. Adhara yang mendengarnya akhirnya mengangguk mengerti.
“Hasil perjodohan?” tanya Adhara yang dibalas dengan anggukan oleh Arche.
“Tapi udah saling cinta sampai akhirnya papa malah khilaf,” ucap Arche membuat Adhara mengangguk mengerti.
“Nanti Lo jangan gitu ya, makan ati tar gue,” ucap Adhara yang membuat Arche mengerutkan keningnya bingung tidak mengerti dengan apa yang Adhara maksud.
“Maksud lo?” tanya Arche yang langsung Adhara balas dengan gelengan dan cengiran khasnya.
Lagi pula mana berani Adhara mengatakan apa yang seharusnya ia katakan, hal yang begitu ingin ia katakan dan Arche yang membalasnya dengan anggukan, sebuah harapan yang tak mungkin Adhara lakukan.
“Lo hebat Arche, lo bisa ngelewatin semua ini sendiri,” ucap Adhara dengan senyuman bangganya namun Arche membalasnya dengan gelengan.
“Gue gak sekuat itu Adhara, ada masanya saat gue ingin nangis tapi gue gak bisa,” ucap Arche dengan senyuman sinisnya. Tatapan sendu laki-laki tersebut yang terus menatap Adhara membuat Adhara tak tega langsung membawa Arche ke dalam rengkuhannya.
“Menangislah kalau lo ingin nangis, nangis bukan berarti lemah tapi karena beban yang lo pikul sudah sangat berat sedangkan gak ada yang mau membantu lo,” ucap Adhara menenangkan Arche.
“Nora dilatih dengan keras, hidup dengan semua serba berkecukupan, bahkan sekarang ia harus hidup dibawah tekanan. Dia ngelalui itu sendiri, sedangkan gue? Gue hidup dengan semuanya yang serba ada,” ucap Arche dengan tanpa terasa air matanya mulai keluar.
Karena pernah saat kecil ia bermain di rumah Chan, ia bisa melihat bagaimana Nora dilatih dengan begitu keras, dilatih bela diri dengan sangat ketat. Bahkan dipukul dengan bambu kecil ataupun besi hal yang biasa bagi gadis tersebut.
Jika membuat kesalahan bahkan dengan tega pelatih Nora membiarkannya tanpa makanan. Namun beruntung ada ibu Arche yang begitu baik padanya. Nora bahkan pernah di larikan ke rumah sakit karena terjatuh dari jurang saat diminta mencari kayu saat kemah sekolah, namun tak ada yang memperdulikannya kecuali Arche, Chan, dan Antariksa yang mencarinya.
Mulai dari sikap baik Arche tersebut lah Nora menyukai Arche. Karena selalu Arche yang menjaga nya dan perhatian padanya. Saat berada di rumah sakit tak ada yang menjaga dan mempedulikannya padahal saat itu usianya masih tiga belas tahun.
“Tapi sekarang Nora udah jadi wanita yang hebat, dan lo juga udah jadi kakak yang baik. Lo kuat Arche, lo hebat,” ucap Adhara mengelus puncak kepala Arche.
__ADS_1
Arche menghela nafasnya lalu menjauhkan dirinya dari Adhara. Menatap gadis tersebut dengan senyumannya. Sebenarnya Adhara masih tak ingin melepaskan Arche ia masih begitu nyaman berada di pelukan laki-laki tersebut.
“Ayo masuk di sini dingin,” ucap Arche yang lalu memakaikan jasnya pada Adhara. Adhara tersenyum senang lalu segera mengikuti Arche dengan senyuman mengembangnya.
Mereka akhirnya memasuki ruangan dengan bersama dan mencari keberadaan sahabat mereka yang lain.
Tanpa mereka sadari sedari tadi ada yang terus mengawasi mereka dengan tatapan tajam juga tangan yang mengepal dengan begitu erat, menatap penuh luka pada Arche dan Adhara yang terlihat begitu mesra. Jika melihat dari jarak sejauh itu ia pasti tak mendengar apa yang tengah dibicarakan dua orang tersebut dan yang dilihatnya adalah hanya Adhara dan Arche yang saling berpelukan.
“Berani banget lo ngambil dia dari gue, dia milik gue. Akan gue buat lo membayar semuanya, mendekati dan mengambil milik gue sama aja dengan cari mati,” ucap sesok yang bersembunyi di balik pohon besar yang berada jauh dari tempat Adhara dan Arche tersebut.
Berkata dengan serius sambil mengepalkan tangannya dengan marah. Tentu saja ia marah, saat orang yang begitu ia sukai malah bermesraan dengan orang lain. Dan ia, tidak akan pernah bermain-main dengan ucapannya.
***
Hai Semua balik lagi nih sama aku.
Btw siapa nih yang udah nunggu Adhara bareng tiga cogannya?
Semoga kalian suka ya, maaf kalau feel kurang dapet dan masih ada typo.
Jangan lupa di tambahkan ke favorite, like, dan koment ya guys.
Follow ig aku ya @hilmiatulhasanah dan @wphilmiath
Oh iya untuk update aku bakal update 2 bab perhari ya guys.
Stay healthy all.
__ADS_1
Thank For Reading all.
See You Next Chapter All.