Atmosphere

Atmosphere
Setebos


__ADS_3

Setebos adalah salah satu nama Bulan yang berada di Uranus.


Happy Reading All.


***


Jam kini baru menunjukkan pukul setengah delapan malam. Adhara kini tengah sibuk membawakan makanan untuk para pelanggang. Kini gadis itu tengah berada di dapur untuk mengambil pesanan.


“Adhara, antarkan ini ke meja no enam,” ucap salah satu teman kerjanya yang langsung Adhara balas dengan anggukan dan segera mengambil pesanan tersebut.


“Lo harus hati-hati pelanggan ini yang punya café ini, dia punya temperamen yang buruk,” pesan temennya itu yang membuat Adhara mengangguk. Lagi pula laki-laki temperamen seperti apa yang belum ia taklukkan?


Bahkan Antariksa yang begitu tempramental juga kasar sudah bisa ditaklukkan. Dengan penuh berbangga diri dan sikap hormat pada sang pemilik café tersebut. Awalnya ia kira Erlangga adalah sang pemilik café tapi ternyata laki-laki itu hanya orang yang membantu sang pemilik untuk mengurus café tersebut.


Dengan senyumannya yang begitu manis Adhara berjalan ke arah meja nomor enam, di mana sepasang laki-laki dan perempuan tengah duduk saling berhadapan.


Adhara mengerjapkan matanya beberapa kali saat melihat gadis yang berada di depan laki-laki yang membelakanginya tersebut adalah Gita, melihat keberadaan gadis itu membuat Adhara waspada.


Ia takut jika pemilik café adalah kekasih gadis itu atau saudara gadis itu atau bahkan milik gadis itu sendiri. Jika tahu Adhara pernah menindas Gita bisa dipastikan ia mungkin saja bisa dipecat. Adhara menelan salivanya susah payah. Senyuman yang sedari tadi mengembang dengan sempurna tersebut seketika luntur menjadi rasa takut apalagi saat melihat Gita yang kini menoleh ke arahnya dengan wajah terkejut sebelum di ganti dengan senyuman sinis gadis itu.


“Adhara gapapa, lo gak salah, lo tinggal bilang kalau Gita yang gangguin cowok lo,” ucap Adhara membatin pada dirinya sendiri. Detak jantung gadis itu berpacu dengan begitu keras. Adhara menarik nafasnya dalam sebelum menampilkan senyumannya.


“Pesanan Anda Tuan, selamat menik….” Ucapan Adhara terpotong saat melihat ke arah laki-laki yang ternyata begitu ia kenali tersebut.


“Antariksa,” ucap Adhara dengan kini menampilkan cengiran watadosnya. Antariksa kini sudah menatap Adhara dengan begitu tajam bahkan kini laki-laki itu berdiri di hadapan Adhara dengan kepalan di tangannya yang begitu erat.


“Ngapain lo pake baju ini?” tanya Antariksa dengan suaranya yang terdengar begitu datar bahkan berhasil membuat bulu kuduk Adhara yang mendengarnya sontak berdiri.


“Ya kerja lah Antariksa, kan dia orang miskin gak salah kan dia kerja,” ucap Gita dengan senyuman sinisnya yang terlihat begitu puas.


“Gue gak ngomong sama lo, dan jangan berani ngehina Adhara,” ucap Antariksa dengan begitu tajam dan berteriak ke arah Gita yang sontak memundurkan langkahnya mendengar bentakan Antariksa tersebut.

__ADS_1


“Anta gue butuh kerjaan,” ucap Adhara yang kini sudah menunduk begitu dalam.


“Siapa yang nyuruh lo kerja? Hah?” teriak Antariksa dengan begitu keras membuat semua orang yang berada di sana langsung menoleh ke arah mereka yang kini tengah jadi pusat perhatian seisi café.


“Gak ada yang nyuruh, tapi gue butuh Antariksa,” ucap Adhara membela dirinya.


“Lo pikir Chan sama Arche kalo lihat ini gak marah? Lo pikir Chan saat tahu ini dia gak bakal kecewa dan merasa bersalah?” tanya Antariksa yang terdengar begitu menohok pada Adhara yang kini menatap Antariksa dalam.


Jika Chan tahun ini, laki-laki itu bisa saja menyalahkan dirinya sendiri karena Adhara yang bekerja. Tidak, Chan tidak boleh tahu semua ini.


“Antariksa gue mohon jangan kasih tau Chan,” ucap Adhara dengan tatapan memohonnya pada Antariksa yang hanya menatapnya datar.


“Antariksa gak usah pedulikan dia lagi, kita kesini buat bahas tugas kelompok kita. Lagi pula dia kekasih Chan,” ucap Gita sambil memegang tangan Antariksa namun laki-laki itu dengan kasar menghempaskan tangan Gita, hingga gadis itu hampir saja terjatuh jika Erlangga tidak membantunya.


“Lo yang nerima dia kerja di sini?” tanya Antariksa pada Erlangga yang kini terlihat begitu hormat pada Antariksa. Dan bisa Adhara tebak jika café ini adalah milik Antariksa, pantas saja Sky begitu mudah mencarikan pekerjaan untuknya.


“Iya tuan saya yang mempekerjakannya, apa dia melakukan sesuatu tuan?” tanya Erlangga yang membuat Antariksa kini langsung memukul wajah Erlangga dengan kasar membuat yang melihat mereka menutup mulut terkejut.


Dengan gerakan tangan dan matanya Erlangga memerintahkan penjaga café untuk meminta para pelanggan yang tersisa segera keluar dari sana.


Gita, dengan air matanya yang sudah mengalir segera keluar dari sana dengan tangisnya. Siapapun yang melihat gadis itu pasti akan kasihan padanya. Adhara yang berbuat salah tapi ia yang jadi tempat pelampiasannya.


“Siapa yang sudah nyuruh lo buat nerima dia?” tanya Antariksa dengan begitu tajam pada Erlangga yang kini hanya bisa menunduk takut pada Antariksa yang terlihat begitu menyeramkan.


“Antariksa,” panggil Adhara sambil menggenggam tangan Antariksa. Antariksa menoleh ke arah Adhara dengan begitu tajamnya.


“Kenapa?” tanya Antariksa dengan amarahnya membuat Adhara menelan salivanya susah payah.


“Maaf, udah ya. Kita damai aja, lo jangan kasih tau Antariksa gue kerja part time di sini. Lagi pula ini juga bukan salah kak Erlangga. Aku yang minta kerjaan,” ucap Adhara menjelaskan pada Antariksa yang kini berusaha mengendalikan dirinya. Berusaha mengontrol amarah nya.


“Lo dipecat, ayo pulang,” ucap Antariksa setelah mengontrol amarahnya agar tidak meledak.

__ADS_1


Adhara yang mendengar hal tersebut dibuat teranggang oleh ucapan laki-laki itu, bagaimana bisa ia dengan begitu mudahnya mengatakan hal tersebut. Setelah susah payah ia mendapatkan pekerjaan dan kini ia dipecat ?


“Antariksa,” panggil Adhara dengan nada yang tidak terima jika ia dipecat. Namun Antariksa tidak menghiraukan hal tersebut dan memilih duduk di tempatnya.


“Lima menit, gak balik kesini dalam waktu lima menit. Gue lapor ke Chan,” ucap Antariksa dengan begitu membuat Adhara mengepalkan tangannya marah.


“Lo jahat Antariksa, gak tau kenapa lo semarah ini hanya karena gue kerja,” ucap Adharea dengan amarahnya dan langsung pergi dari sana meninggalkan Adhara menuju ruang ganti.


Antariksa yang kini tengah menunggu Adhara di tempat duduknya dengan Erlangga di sampingnya mengusap wajahnya kasar. Ia juga tak tahu bagaimana ia bisa begitu marah saat melihat Adhara yang tengah bekerja keras.


Adhara begitu keras bekerja demi menghidupi dirinya dan juga Chan itulah yang membuat Antariksa marah, pasti tak mudah bagi gadis itu mengatur waktu bekerjanya. Apa lagi ia juga harus sekolah dan mengurus rumah. Antariksa hanya tidak ingin Adhara kelelahan.


Tak sampai beberapa lama akhirnya Adhara datang dengan wajah marahnya namun Antariksa tentu saja tidak mempedulikannya dan memilih untuk segera menarik gadis itu berjalan menuju mobil nya.


 ****


Hai Semua balik lagi nih sama aku.


Btw siapa nih yang udah nunggu Adhara bareng tiga cogannya?


Kalau kalian ada pertanyaan silahkan di ajukan ya, nanti aku jawab. Menerima kritik dan saran.


Semoga kalian suka ya, maaf kalau feel kurang dapet dan masih ada typo


Jangan lupa di tambahkan ke favorite, like, dan koment ya guys.


Follow ig aku ya @hilmiatulhasanah dan @wphilmiath


Tim Interaksi udah aku aktifkan nih, yuk guys join.


Stay healthy all.

__ADS_1


Thank For Reading all.


See You Next Chapter All.


__ADS_2