Atmosphere

Atmosphere
Au (Emas)


__ADS_3

Happy Reading.


***


Permainan Piano berkolaborasi dengan tarian padang tersebut berhasil menghipnotis semua penonton hingga tepuk tangan yang begitu meriah di dapatkan oleh mereka.


Setelah menuju Chan dan berbincang sebentar dengan mereka, Adhara memutuskan untuk segera pulang karena ia sudah merasa begitu lelah.


“Gue pulang dulu,” ucap Adhara sambil mengambil tas nya yang berada di atas meja.


“Biar gue anter,” tawar Arche yang langsung kamu balas dengan gelengan.


“Gak usah, gue gak mau ngerepotin lo,” uca Adhara dengan senyumannya. Ia memang sudah tak ingin merepotkan Arche yang terlalu baik padanya.


“Gak papa ayo gue anter,” ucap Arche dan langsung menarik Adhara untuk segera pergi. Chan yang melihatnya hanya terdiam sambil memperhatikan punggung kedua orang tersebut yang sudah mulai menjauh.


Ia sebenarnya ingin mengantar Adhara untuk pulang, anggap saja sebagai ucapan terima kasihnya pada gadis itu karena telah membantunya. Hanya saja, jika ia nekat pergi pasti akan ada keributan yang terjadi. Chan hanya tak ingin membuat keributan saat berada di tengah acara seperti ini.


Di perjalanan antara Adhara dan Arche tak ada yang saling membuka pembicaraan karena Arche yang sibuk menyetir dan Adhara yang sedari tadi tidak melepaskan pandangannya dari laki-laki tersebut.


“Udah puas perhatiinnya?” tanya Arche dengan senyumannya yang berhasil membuat Adhara gelagapan karena ketahuan memandangi Arche.


Melihat wajah Adhara yang gelagapan saat tertangkap basah seperti ini membuat Arche tertawa. Gadis di sampingnya itu memang begitu menggemaskan apalagi di saat seperti ini.


“Eh itu… anu… apa ya namanya… hmm?” otak gadis itu rasanya kini sedikit lemot untuk memikirkan alibi yang pas untuk menjawab ucapan Arche akhirnya hanya bisa menggigit bibir bagian bawahnya sambil menunduk.


“Udah udah santai aja,” ucap Arche masih dengan sisa tawanya.


Adhara sudah menutupi wajahnya dengan kedua tangannya karena merasa begitu malu.


“Hmm btw tadi kenapa Antariksa gak dateng ya?” tanya Adhara karena tidak melihat Antariksa berada di sana. Bukannya merindukan laki-laki itu atau sebagainya ia hanya merasa bingung mengapa Antariksa tidak datang di acara sahabatnya.


“Katanya sih ada urusan,” ucap Arche dengan acuh ia juga tak tahu urusan apa yang dimaksud sahabatnya itu hingga tak datang ke acara Chan.


Adhara hanya membalasnya dengan anggukan lagi pula ia tak begitu penasaran dengan laki-laki kasar satu itu.


Tak beberapa lama akhirnya mereka sampai depan gedung apartemen sederhana milik Adhara. Gadis itu segera turun begitu pun dengan Arche.

__ADS_1


“Thank ya udah anterin gue, hm baju sama tas dan sepatunya besok setelah di cuci gue kembaliin,” ucap Adhara.


Ia begitu sadar diri pakaian yang kini dipakai nya bukanlah miliknya. Arche yang berbaik hati meminjamkannya saja sudah sangat beruntung baginya dan berhutang budi pada laki-laki itu.


Mendengar ucapan Adhara, Arche malah terkekeh sambil mengelus puncak kepala Adhara membuat gadis itu mengerjapkan matanya berkali-kali. Jantungnya sudah berdetak abnormal memang ada yang salah dengan dirinya jika sudah berdekatan dengan Arche. Ini salah sangat salah.


“Gak usah dikembalikan, itu buat lo. Lagian masak gue mau pake itu semua,” ucap Arche dengan tawanya yang di balas dengan tawa juga oleh Adhara.


“Thank banget ya,” ucapan Adhara dengan senyuman tulusnya yang di balas dengan senyuman tak kalah tulus oleh Arche. Senyuman laki-laki itu begitu manis sehingga memabukkan. Adhara sepertinya tidak bisa lagi berada terlalu lama bersama dengan laki-laki itu.


“Emm gue masuk dulu ya,” ucap Adhara sambil melambaikan tangannya.


“Lo hati-hati,” ucap Adhara yang dibalas dengan anggukan oleh Arche.


Setelah memastikan gadis itu masuk ke gedung apartemen tersebut baru setelahnya Arche pergi dari sana.


***


Nash Highschool kini tengah ramai membicarakan tentang musical piano Arche yang akan di gelar di studio mewah.


“Ini acara Arche sendiri yang ngadain?” tanya Adhara pada kedua temannya. Karena ia tak tahu acara apa yang mereka maksud.


“Bukan, tapi keluarganya Arche kerja sama sama pianis terkenal,” ucap Ariel yang Adhara balas dengan anggukan.


“Gak heran sih kalau Arche bisa sampai kerja sama sama pianis terkenal secara dia emang berbakat banget,” ucap Elara dengan senyumannya sambil membayangkan Arche yang terlihat begitu sempurna di wajahnya.


“Gak salah kalau diantara tiga pangeran itu yang paling gue suka Arche, dia itu paket komplit banget multitalenta,” ucap Elara dengan semangat menceritakan tentang Arche.


Adhara yang memang juga menyukai Arche mendengarnya dengan seksama apa yang tengah Elara infokan tentang Arche padanya. Ariel kini hanya bisa memutar bola matanya melihat kedua temannya yang begitu excited menceritakan tentang laki-laki tersebut.


“Gue setuju sih,” ucap Adhara sambil mengacungkan jempolnya dan tersenyum lebar.


“Arche itu pianis hebat, pintar dalam segala bidang, dia itu bisa disebut ahli seni,” ucap Elara jujur. Karena memang info tersebut sudah menyebar luas di NHS tentang ketiga pangeran dengan segala kelebihannya itu.


“Terus, terus dia gimana lagi? Apa yang dia suka?” tanya Adhara dengan semangat bahkan gadis itu sudah memajukan tubuhnya untuk mendengarkan Elara lebih jelas.


“Dia gak pernah merokok, dia suka hewan bisa disebut pecinta hewan, terus dia tuh juga orangnya baik banget sama siapapun itu,” ucap Elara yang membuat Adhara mengangguk.

__ADS_1


“Lo mau nonton konsernya? Antariksa sama Chan juga dateng,” tanya Ariel dengan diakhiri dengan info tentang dua pangeran lainnya.


Awalnya Adhara sangat ingin pergi namun saat mendengar nama Chan dan Antariksa sepertinya lebih baik ia tak pergi agar tidak bertemu dengan kedua laki-laki tersebut.


“Kayaknya gak bisa deh, gue mau fokus sama belajar gue buat ulangan. Gue harus mempertahankan nilai gue biar beasiswa gue gak di cabut,” ucap Adhara dengan wajah sedihnya.


Elara dan Ariel hanya bisa mengangguk tidak bisa memaksa gadis itu untuk ikut bersama mereka mengingat betapa sulit bagi Adhara untuk masuk ke Nash Highschool.


“Tapi lo harus datang,” ucap suara di samping Adhara yang kini sudah duduk di sampingnya sambil tersenyum.


“Sky, tapi gue gak bisa. Gue harus belajar,” ucap Adhara tetap menolak, gadis di sampingnya yang tak lain adalah Sky.


“Gue gak nerima penolakan, tenang aja tiketnya gratis buat lo. Dan gue bakal bantuin lo buat dapat nilai bagus di ujian ini,” ucap Sky dengan senyumannya.


Adhara menghela nafasnya, ia mulai berpikir mengapa ia harus dihadapkan pada orang-orang pemaksa di sekitarnya. Tidak bisakah ia terbebas dari mereka? Namun mendengar jika Sky akan membantunya akhirnya Adhara hanya bisa mengangguk lagi pula ia tahu jika gadis itu tidak akan bisa di bantah.


“Ok gue dateng, tapi lo janji bakal bantuin gue,” ucap Adhara mengulurkan jari kelingkingnya pada Sky yang langsung diterima oleh gadis itu.


“Dan lo janji harus dateng,” akhirnya Adhara harus mengangguk dengan terpaksa.


Ya dia sangat terpaksa untuk datang ke acara tersebut dan bertemu dengan Antariksa juga Chan. Sepertinya takdir membuat mereka untuk selalu terikat. Terikat dengan masalah.


 


 


***


Thank for Reading all


Hai semua apa kabar?


Aku datang lagi nih dengan cerita baru yang pastinya gak kalah seru sama cerita sebelumnya.


Semoga kalian suka ya sama ceritanya maaf kalau masih banyak typo dan feel kurang dapet.


Jangan lupa untuk Like, Koment, tambah ke favorite.

__ADS_1


See You Next Chapter all.


__ADS_2