
Happy Reading All.
***
Bel pulang sekolah baru saja berbunyi dengan begitu nyaring membuat sorakan dari para siswi terdengar begitu bersemangat, tentu saja mereka sangat bersemangat setelah belajar berjam-jam dan membuat mereka jenuh akhirnya yang mereka tunggu-tunggu datang juga.
“Ra main yuk,” ajak Elara saat mereka tengah membereskan peralatan tulis mereka.
“Gak, gue harus hemat,” tolak Adhara, begitulah Adhara setiap teman-temannya mengajaknya bermain ataupun sekedar nongkrong dia akan lebih memilih menolaknya.
Bukannya pelit dan begitu perhitungan namun Adhara cukup sadar diri untuk tidak terlalu boros karena ia hanya mengandal uang kiriman dari orang tuanya juga uang tabungannya dari hasil olimpiade.
“Café aja Ra, nongkrong bentar. Gue yang bayar deh,” ucap Ariel menawarkan namun Adhara kembali membalasnya dengan gelengan.
“Hari ini Adhara ada urusan sama gue,” ucap Chan yang entah dari datang dari mana. Pantas saja keadaan kelas yang semula begitu ramai seketika begitu senyap. Sebelumnya Adhara tak menyadarinya dan baru menyadarinya saat Chan datang.
Adhara melihat ke sekeliling dan benar saja kini mereka sudah menjadi pusat perhatian. Para siswi yang awalnya sudah hendak keluar dari kelas mengurungkan niatnya hanya untuk melihat Chan juga untuk menyebarkan ini sebagai bahan gosip.
Adhara berdecak kesal mengingat opini jika selanjutnya ia akan menjadi bahan gosip. Mengingat memang sebelumnya Chan tak pernah datang ke kelasnya untuk menjemputnya laki-laki lebih memilih untuk menunggu di parkiran ataupun di halte, seperti yang sudah Adhara katakan.
Namun, entah apa yang membuat laki-laki itu kali ini datang ke kelasnya untuk menjemputnya. Chan berdiri dengan wajah datarnya namun tak sedikitpun mengurangi ketampanannya.
“Ayo balik,” ajak Chan sambil menarik tangan Adhara. Gadis itu bahkan dibuat terkejut dengan sikap Chan tersebut yang tak seperti biasanya.
Saat mereka sudah berada di luar kelas, Adhara baru tersadar dari keterkejutannya segera melepaskan tangannya dari cekalan Chan. Namun Chan kembali memegang tangannya untuk ia genggam.
“Lo kenapa sih?” tanya Adhara dengan kerutan di keningnya. Bukannya menjawab Chan malah terus berjalan di koridor dengan tangannya yang menggenggam Adhara dengan erat. Membuat mereka kini menjadi bahan tontonan seisi sekolah.
“Chan kita gak lagi mau nyebrang, kenapa harus pegangan tangan?” tanya Adhara dengan dengusan kasarnya. Tapi Chan tetap tak mendengarkannya dan malah berjalan dengan santai menuju parkiran.
Di depan mobil Chan terlihat seorang gadis tengah berdiri di sana dengan senyuman yang dibuat semanis mungkin membuat Adhara berdecih melihatnya.
__ADS_1
“Gak tau malu banget, segala senyum-senyum dikira cantik? Engga woy yang ada bikin enek,” gerutu Adhara dengan senyuman sinisnya melihat gadis tersebut. Chan yang mendengar tersenyum begitu tipis hingga tak akan ada yang menyadari senyuman laki-laki tersebut.
“Chan gue nebeng ya?” tanya gadis tersebut dengan begitu manja membuat perut Adhara rasanya tak sabar untuk mengeluarkan isinya di depan wajah gadis tersebut.
Dengan iseng Adhara memiliki pikiran untuk membuat gadis tersebut panas, dengan manja Adhara menggandeng tangan Chan dengan tangan yang sebelumnya masih berada dalam genggaman laki-laki itu.
“Tapi kan mobil Chan kursinya Cuma dua? Lo mau duduk di atapnya?” tanya Adhara dengan wajah yang sengaja dibuat semenyedihkan mungkin membuat Sky yang jika melihatnya pasti akan memberikan pekulan hangat di kepala gadis itu saking menjijikkannya.
Adhara yang biasa bertingkah dan bersikap kasar memang sangat tidak cocok jika di buat manja seperti itu.
“Ya udah lo pulang sendiri aja,” ucap gadis tersebut yang tak lain adalah Titania. Adhara yang mendengarnya melihat Chan dengan puppy eyes nya membuat Chan ingin sekali muntah melihatnya. Jika saja di sana tidak ramai mungkin ia sudah menjedotkan kepala Adhara di dinding.
“Emang lo siapa gue nyuruh pacar gue pulang sendiri?” tanya Chan dengan wajah datarnya dan nada bicara yang dibuat sedatar mungkin.
Adhara dibuat menggeleng dengan gadis di depannya itu yang baginya sungguh tak tahu malu. Setelah di permalukan dengan ucapan Chan saat itu kini ia malah kembali berulah dengan kembali mendekati Chan.
“Chan, gue ini tunangan lo,” teriak Tita dengan wajah nya yang dibuat sesedih mungkin. Adhara mendengus kasar lalu memutar bola matanya malas mendengar hal tersebut.
“Emang gue nganggep?” tanya Chan yang berhasil ingin membuat tawa Adhara pecah namun ia masih menahannya dengan menundukkan kepalanya berusaha menyembunyikan tawanya yang siap meledak kapan saja.
“Chan,” bentak Titania dengan kakinya yang terus menghentak-hentak ke tanah.
Chan memutar bola matanya malas lalu segera membawa Adhara ke kursi samping kemudi, setelah memastikan jika gadis itu aman barulah Chan ikut naik. Titania masih berdiri di depan mobil Chan membuat Chan kesal dan langsung membunyikan klaksonnya.
“Minggir,” ucap Chan sambil menggerakkan tangannya meminta Titania untuk minggir dari jalannya. Dengan perasaan kesal gadis itu segera minggir. Hingga Chan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
“Tunangan lo itu emang gak tau malu,” ucap Adhara sambil menggelengkan kepalanya.
“Dia bukan tunangan gue,” ucap Chan menyangkal karena memang selama ini ia tak pernah menganggap gadis itu sebagai tunangannya. Sedikit Pun ia tak memiliki perasaan pada gadis tersebut. Jika bukan karena keluarganya yang meminta Chan untuk bertunangan dengannya mungkin ia tak akan mau mengenal gadis itu dan repot-repot menyimpan nama gadis itu di kepalanya.
Selanjutnya tak ada yang memulai pembicaraan mereka berada dalam keheningan dalam waktu lama sampai Adhara menyadari jika kini mereka bukan berjalan menuju rumahnya.
__ADS_1
“Kita mau kemana?” tanya Adhara dengan kerutan di dahinya.
“Kerumah Mama,” ucap Chan santai. Adhara mendengus kesal. Ia lupa jika hari ini ia harus berhadapan dengan Papa Chan yang begitu menyebalkan.
Harusnya dari rumah tadi ia sudah menyiapkan senjata untuk melawan laki-laki paruh baya tersebut yang bersikap begitu angkuh. Entah apa yang dicari laki-laki itu hingga bersikap begitu angkuh begitu.
“Harusnya kita siapin senjata dulu,” ucap Adhara pada Chan membuat laki-laki itu terkekeh.
“Papa gue lagi di luar negeri,” ucap Chan membuat mata Adhara memelotot dengan sempurna dengan senyumannya yang mengambang.
“Beneran?” tanya Adhara begitu bersemangat. Chan membalasnya dengan anggukan lalu mengelus puncak kepala Adhara.
“Iya, kalau ada dia juga gue gak bakal mau dateng,” ucap Chan membuat Adhara terkekeh. Memangnya siapa yang mau berurusan dengan laki-laki paruh baya yang begitu angkuh tersebut.
Mobil terus melaju ke rumah orang tua Chan. Selama perjalanan tak ada yang memulai pembicaraan. Mereka saling terdiam dan fokus dengan kegiatan mereka masing-masing. Adhara yang fokus melihat jalanan dari luar jendela sedangkan Chan fokus melihat jalanan untuk menyetir.
***
Hai Semua balik lagi nih sama aku.
Btw siapa nih yang udah nunggu Adhara bareng tiga cogannya?
Semoga kalian suka ya, maaf kalau feel kurang dapet dan masih ada typo.
Jangan lupa di tambahkan ke favorite, like, dan koment ya guys.
Follow ig aku ya @hilmiatulhasanah dan @wphilmiath
Oh iya untuk update aku bakal update 2 bab perhari ya guys.
Stay healthy all.
__ADS_1
Thank For Reading all.
See You Next Chapter All.