Atmosphere

Atmosphere
Fornax


__ADS_3

Happy Reading All.


***


Angkasa menegakkan tubuhnya, baru saja laki-laki itu hendak melangkah namun Adhara malah menghentikan laki-laki tersebut dengan menahan tangannya.


“Gue takut gelap,” ucap Adhara yang membuat Angkasa kini menoleh ke arah gadis tersebut dengan menghela nafasnya kasar.


“Itu urusan lo,” ucap Angkasa dengan wajah datarnya lalu kembali mengikat tangan Adhara membuat gadis tersebut mengepalkan tangannya.


Tatapannya yang begitu tajam terlihat menusuk pada Angkasa yang sama sekali tidak menghiraukan hal tersebut. Adhara hanya berpikir, apa Angkasa tidak bisa untuk sedikit mengasihaninya. Lagi pula ia tak memiliki masalah dengan laki-laki tersebut.


“Awas aja kalau Trio abstrak nemenin gue, mati lo Angkasa,” teriak Adhara dengan amarahnya. Adhara menarik nafasnya dalam, berusaha untuk mengontrol dirinya sendiri.


“Tenang Adhara, iblis kayak gitu gak perlu buat lo marah,” ucap Adhara menghela nafasnya kasar lalu. Gadis itu berusaha mengontrol dirinya.


“Udah jam berapa ya sekarang? Mana mendung lagi,” ucap Adhara sambil melihat ke arah langit di depannya yang kini terlihat begitu gelap.


Tatapan gadis tersebut menerawang pada ucapan Angkasa tadi tentang mengapa ia begitu membenci Chan. Ucapan laki-laki tersebut terus berputar di kepalanya. Ia tak ingin mempercayai semua itu namuan Angkasa mengatakannya seperti semua adalah kebenaran.


Flashback on


“Kenapa lo benci Chan?” tanya Adhara sekali lagi saat tak mendapatkan jawaban dari laki-laki di sampingnya yang masih setia dengan kebisuannya.


“Apa yang Chan lakuin sama lo, sampai lo sebenci ini sama dia?” tanya Adhara lagi dengan tidak sabarannya menuntut laki-laki tersebut untuk mengatakan apa yang terjadi sebenarnya.


“Karena gue kehilangan adik gue karena dia,” ucap Angkasa yang membuat Adhara terdiam. Adhara melihat ke arah Angkasa dengan tatapan tak percaya. Sedangkan laki-laki tersebut kini tengah menatap lurus ke arah depan.


“Sky sebenarnya kembar,” ucap Angkasa yang membuat Adhara kini terkejut mendengarnya. Bahkan gadis tersebut kini tanpa sadar sudah menganga mendengar ucapan tersebut.


“Stella, kakak kembar Sky yang meninggal tiga tahun lalu,” ucap Angkasa memulai ceritanya dengan tatapan lurus kedepan yang terlihat begitu sendu.


“Stella udah gue anggap adik gue sendiri, karena di banding Sky gue lebih deket sama dia. Dia selalu nemenin gue dan nganggep gue kayak abangnya sendiri. Antariksa yang dulu sangat cuek dengan adiknya, tapi apapun yang adiknya lakuin dia selalu ngijinin,” ucap Angkasa dengan senyumannya yang terlihat begitu menyedihkan. Adhara tahu pasti menceritakan semua ini bukanlah hal yang mudah untuk Angkasa.

__ADS_1


“Gue bahkan gak nyangka Antariksa sekarang bisa mengajar Sky dengan baik, walau dia ngejaga Sky dengan begitu kasar,” ucap Angkasa dengan senyuman sinis. Adhara yang mendengar ucapan Angkasa akhirnya kini mengerti mengapa Antariksa begitu kasar apalagi untuk menjaga Sky.


Semua ini karena ketidaktahuannya bagaimana cara menjaga adiknya, namuan ia begitu ingin menjaga adiknya agar ia tak perlu lagi kehilangan adiknya.


“Kita semua dulu sahabat, dan tanpa sepengetahuan gue ternyata Stella suka sama Chan. Tapi Chan sama sekali gak suka sama Stella, dia bahkan juga bisa menghargai perjuangan Stella untuk ngejar dia,” ucap Angkasa dengan tangannya yang mengepal. Ia tahu laki-laki tersebut pasti masih merasakan kemarahan atas apa yang dialami orang yang dia sayang.


“Sampai suatu hari saat ulang tahun Chan, Stella datang ke rumah Chan untuk ngasih dia surprise tapi ternyata disana lagi ada acara perjodohan Chan dan Titania. Stella yang melihat hal tersebut marah dan langsung pergi dari sana. Saat itu Chan sudah melihatnya tapi bukannya mengejar Stella, Chan malah membiarkan Stella pergi gitu aja,” ucap Angkasa yang semakin membuat Adhara terkejut mendengar cerita Angkasa tersebut.


“Saat Stella pulang dia malah di jebak sama preman yang akhirnya memperkosa dia, sejak saat itu Stella jadi depresi dan akhirnya pilih bunuh diri. Apa lagi setelah tahu jika dia hamil,” ucap Angkasa dengan tanpa sadar air matanya sudah mengalir. Adhara yang melihatnya begitu terkejut. Ia tak menyangka jika laki-laki seperti Angkasa juga bisa menangis.


“Jadi Titania dan Chan?” tanya Adhara tak mampu melanjutkan ucapannya.


“Mereka sudah tunangan lama, tapi sama-sama menolak perjodohan tersebut. Gue akhirnya perlahan deketin dia, gak gue sangka dia orang yang mudah untuk didekati. Gue jadiin dia pacar gue untuk membalaskan dendam gue sama mereka,” ucap Angkasa dengan senyuman sinisnya yang membuat Adahara terkejut mendengarnya. Tak ia sangka ternyata Angkasa memiliki hubungan dengan Titania.


“Tapi ini gak ada hubungannya sama Chan, apa salahnya jika Chan menolak Stella? Cinta gak bisa buat dipaksain,” ucap Adhara dengan berteriak pada Angkasa yang kini menatapnya dengan begitu tajam.


“Gue gak masalah kalau dia gak suka sama Stella, tapi harusnya dia ngehargain Stella. Dan jika malam itu Chan ngejar Stella, semua ini gak bakal terjadi. Coba lo pikir gimana jadi Stella? Setelah melihat orang yang dia sayang bersama orang lain, lo juga di perkosa sama preman sampai hamil,” ucap Angkasa yang membuat Adhara terdiam. Ia tak tahu harus menjawab seperti apa. Namun tetap saja semua ini bukanlah kesalahan Chan.


“Ini sudah jalannya Angkasa, harusnya lo bisa terima semua ini dan mengikhlaskan Stella,” ucap Adhara yang membuat Angkasa menggeleng.


Flashback off


Suara petir yang begitu keras menyadarkan Adhara dari lamunannya. Gadis tersebut menghela nafasnya kasar.


“Udah hujan aja,” ucap Adhara sambil melihat hujan yang mulai membasahi bumi.


***


Antariksa baru saja keluar dari rumah sakit, namun kini laki-laki tersebut dengan kedua sahabatnya malah begitu sibuk memantau pencarian Adhara.


Suara ketukan di pintu di rumah Chan membuat mereka kompak melihat ke arah pintu. Chan sang tuan rumah memilih berjalan ke arah pintu untuk membukakan pintu untuk tamunya.


“Papa,” gumam Chan saat melihat orang yang kini berdiri di depannya adalah papanya.

__ADS_1


Laki-laki paruh baya tersebut melihat ke arah Chan dengan senyumannya.


“Papa boleh masuk?” tanya laki-laki tersebut yang membuat Chan tersenyum sinis.


“Udah penuh, gak maut lagi buat nampung Papa,” ucap Chan yang sama sekali tidak membuat Leo marah. Ia mengerti pada anaknya tersebut masih marah padanya.


“Papa akan bantu kamu untuk mencari Adhara, jadi biarkan papa masuk,” ucap Leo yang membuat Chan memejamkan matanya sambil menghela nafasnya kasar.


Sepertinya kali ini ia harus mengalah dan membiarkan papanya tersebut untuk masuk.


Kedua sahabat Chan yang melihat jika tamu yang datang adalah Papa Chan cukup dibuat terkejut, apalagi dengan Chan yang mengizinkannya masuk. Padahal sebelumnya Chan begitu menjaga rumahnya terutama Mamanya dari Papanya tersebut.


“Papa bakalan bantu kita buat nemuin Adhara,” jelas Chan menjawab kebingungan teman-temannya yang langsung menjawabnya dengan anggukan.


***


Hai Semua balik lagi nih sama aku.


Jadi siapa yang salah?


Btw siapa nih yang udah nunggu Adhara bareng tiga cogannya?


Mulai sekarang aku update nya 1k kata perhari ya, karena cerita ini juga udah mau taman nih.


Semoga kalian suka ya, maaf kalau feel kurang dapet dan masih ada typo


Jangan lupa di tambahkan ke favorite, like, dan koment ya guys.


Follow ig aku ya @hilmiatulhasanah dan @wphilmiath


Tim Interaksi udah aku aktifkan nih, yuk guys join.


Stay healthy all.

__ADS_1


Thank For Reading all.


See You Next Chapter All.


__ADS_2