
Info: Isoneo adalah salah satu nama Bulan yang berada di Yupiter
Happy Reading All.
***
“Gimana?” tanya Chan dengan senyuman kemenangnya pada Keil, seolah memberitahukan bagaimana kekuatannya agar laki-laki itu tak lagi mencari nya untuk bisa melawan laki-laki itu. Atau membuat masalah dengannya.
“Anggep aja sebuah keberuntungan,” ucap Keil yang membuat Chan tersenyum begitu senis.
Sangat tidak mau kalah, itulah yang Chan pikirkan. Namun ia tak mau memperdulikan hal tersebut karena yang terpenting adalah uang.
Keil segera melempar kunci mobil nya pada Chan yang segera diterima oleh laki-laki tersebut dengan perasaan senang. Tak sia-sia ia meninggalkan Adhara sendirian malam ini di apartemennya.
Setelah memberikan kunci tersebut pada Chan, Keil segera pergi bersama dengan teman-temannya dengan wajah menahan amarahnya. Namun sekali lagi, Chan tak memperdulikan hal tersebut.
“Pesta dulu dong, udah menang nih. Bos senang bos bayar dong,” ucap salah satu temen Chan dengan senyuman menggodanya.
“Ok gue bayar,” ucap Chan dengan begitu tenang namun langsung di pukul oleh Arche membuat Chan mengaduk sakit sambil mengelus kepalanya yang menjadi sasaran sahabatnya itu.
“Gak usah ngehamburin uang lo, mending lo pulang. Adhara kasian sendiri,” ucap Arche mengingatkan.
“Siapa tuh? Bini Chan?” tanya Baron dengan tawan mengejeknya membuat Chan memutar bola matanya malas mendengar hal tersebut.
“Ayo lah Chan, jangan jadi suami takut istri gitu,” ucap teman Chan yang lainnya mengompori.
“Gue gak ikut-ikut kalau Adhara marah, gue mau pulang,” ucap Antariksa yang masih merasa tak enak badan. Bahkan kini penampilan laki-laki itu sudah seperti buronan karena memakai pakaian serba hitam dengan masker, topi, juga marker hitam. Jangan lupakan kacamata hitam yang di pakaiannya.
Sangat aneh memang memakai kacamata hitam di malam hari seperti ini namun namanya juga Antariksa.
“Gak seru lo,” ucap salah satu teman mereka yang kini sudah duduk dengan nyaman di motor miliknya.
“Gue lagi kurang enak badan, jadi kalian aja deh, lagian Adhara kalau marah nyeremin,” ucap Antariksa yang segera mengusir Chan dari atas motornya.
__ADS_1
“Adhara siapa sih? Gue jadi penasaran,” ucap Baron dengan senyumannya yang terlihat begitu menggoda.
“Gak usah cari tau,” ucap Antariksa, Arche, dan Chan kompak yang malah semakin membuat teman-temannya penasaran dengan gadis tersebut. Yang sepertinya berhasil membuat ketiga laki-laki yang mereka tahu begitu anti perempuan kini malah begitu peduli padanya.
Chan terlihat menimbang-nimbang perkataan sahabatnya juga temannya tersebut. Ia sebenarnya juga tak tega meninggalkan Adhara sendirian di apartemennya hanya saja ia juga ingin menikmati malamnya. Karena sudah lama ia tidak pergi ke tempat laknat tersebut.
“Sesekali Ar,” ucap Chan pada Arche membuat laki-laki itu menggeleng.
“Okelah,” ucap Arche akhirnya. Semua teman-temannya langsung bersorak senang mendengarnya.
Dan akhirnya mereka memutuskan untuk menuju klub malam yang biasa mereka datangi untuk berpesta. Sebuah hiburan malam ini. Namun Antariksa memilih untuk pulang mengingat ia yang masih tidak enak badan. Jika orang tuanya tahu ia tak berada di kamar dan malah berada di club ia pastikan semua aset malah akan di sata. Jadilah laki-laki itu memilih untuk pulang.
***
Chan kini sudah terlihat mabuk karena terlalu banyak minum, berbeda dengan Arche yang masih setengah sadar. Kini di antara mereka bahkan sudah tak ada yang sadar sepenuhnya. Entah sudah berada botol yang mereka habiskan.
Suara hingar bingar dari klub tersebut serta asap rokok yang begitu menyengat terasa begitu memuakkan. Tempat maksiat yang begitu komplit. Tak hanya tempat berzina tapi juga tempat untuk mabuk entah karena minuman beralkohol atau karena obat-obatan. Memangnya siapa yang peduli apa yang mereka lakukan di sana.
Karena yang mereka butuhkan adalah kebahagian, walau semua itu hanya kebohongan semata. Dan Chan kini sepertinya tengah melampiaskan semuanya. Rasa kecewa, lelah, amarah, juga kebingungannya.
Kini jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari namun sepertinya masih banyak orang di dalam sana yang tak ingin beranjak. Bahkan Chan dan teman-temannya kini malah tertidur di tempat laknat tersebut karena terlalu mabuk.
Dering ponsel Chan sedari tadi terus berbunyi namun tak ada niat untuk Chan untuk menjawabnya. Laki-laki itu sudah begitu nyaman dengan dunia mimpinya. Entah untuk kesekian kali ponsel Chan dan Arche berdering namun tak ada jawaban.
***
Adhara menatap jam di dinding di ruang tamu yang saat ini menunjukkan pukul dua belas malam, namun belum ada tanda-tanda jika Chan akan pulang. Adhara sedari tadi tak hentinya melihat ke arah jam sambil mondar-mandir di di ruang tamu.
Tak tahan lagi dengan rasa khawatirnya Adhara segera menghubungi Chan namun yang menjawab adalah suara operator. Untuk yang kesekian kalinya Adhara kembali menelepon Chan namun tetap tak ada jawaban juga membuat Adhara mendengus kesal.
Adhara akhirnya menelepon Antariksa karena ia mengira jika ketiga laki-laki itu sedang bersama. Dan beruntung dalam dering ketiga panggilannya dijawab oleh laki-laki itu.
“Halo Anta, lo di mana? Udah pulang? Lo gak mabok kan? Chan sama Arche kemana? Kenapa gue nelpon malah gak ada yang ngangkat? Kalian baik-baik saja kan?” tanya Adhara memberondong Antariksa dengan pertanyaannya yang begitu tak sabaran.
__ADS_1
Antariksa yang mendengarnya bahkan menghela nafasnya kasar sebelum menjawab pertanyaan Adhara.
“Pelan-pelan dong tanya nya,” ucap Antariksa kesal membuat Adhara menghela nafasnya lega karena mendengar suara Antariksa yang terdengar baik-baik saja.
“Gue di rumah, gue gak mabuk, dan sekarang gue mau tidur, Arche sama Chan lagi ada urusan sekarang mending lo tidur. Ini udah malem,” ucap Antariksa membuat Adhara tenang mendengarnya.
Setidaknya yang ia tahu Chan baik-baik saja. Walau yang sebenarnya terjadi adalah saat ini Chan tengah berada di club malam dan menikmati pesta bersama teman-temannya.
“Syukur deh kalau kalian baik-baik aja,” ucap Adhara yang merasa lega.
“Iya iya, sekarang mending lo tidur,” ucap Antariksa yang Adhara balas dengan anggukan walau ia tahu jika Antariksa tak bisa melihatnya.
“Ok, btw thank ya,” ucap Adhara yang setelahnya langsung mematikan sambungan teleponnya dan sesuai yang Antariksa katakan Adhara memilih untuk segera tidur karena jam sudah menunjukkan pukul setengah satu malam dan besok ia harus sekolah.
Walau rasa khawatirnya pada Chan masih ada, Adhara berusaha menenangkan dirinya dan berharap jika laki-laki itu baik-baik saja.
***
Hai Semua balik lagi nih sama aku.
Btw siapa nih yang udah nunggu Adhara bareng tiga cogannya?
Semoga kalian suka ya, maaf kalau feel kurang dapet dan masih ada typo
Jangan lupa di tambahkan ke favorite, like, dan koment ya guys.
Follow ig aku ya @hilmiatulhasanah dan @wphilmiath
Oh iya untuk update aku bakal update 2 bab perhari ya guys
Stay healthy all.
Thank For Reading all.
__ADS_1
See You Next Chapter All.