Atmosphere

Atmosphere
Nh (Nohonium)


__ADS_3

Happy Reading All.


***


Melihat Nora yang masih saja berada di pelukan Arche semakin membuat Marinda geram. Mengabaikan jika Nora adalah orang yang Chan bawa, wanita tersebut menatap tak suka pada Nora setiap kali melihat gadis tersebut luka yang sudah susah payah ia kubur kembali terbuka.


Dengan impulsif Ibu Arche menarik rambut Nora dengan begitu keras membuat gadis itu menjerit kesakitan dengan air matanya yang sudah mengalir. Arche berusaha menahan tangan Mamanya namun sia-sia Mamanya menarik rambut Nora dengan begitu kuat.


“Nyonya sakit Nyonya,” teriak Nora dengan ringisan kesakitannya Miranda tak sedikitpun merasa iba dengan Nora bahkan semakin menjadi-jadi menarik rambut Nora dengan begitu kuat berusaha untuk melepaskan anaknya itu dari gadis yang tidak ia sukai itu.


“Saya tidak peduli, menjauh dari anak saya. Saya terlalu muak melihat wajahmu itu,” teriak Miranda dengan amarahnya.


Adhara sudah tidak tahan dan hendak membantu namun Chan menahannya sambil menggeleng mengingatkan Adhara untuk tidak ikut campur. Adhara menghembuskan nafasnya kasar dan pada akhirnya ia hanya bisa menonton drama di depannya yang entah kapan akan berakhir.


“Apa salah saya hingga nyonya membenci saya?” tanya Nora dengan tangisnya yang sudah pecah. Miranda tersenyum getir dengan wajah menyeramkannya tersebut.


“Salahmu adalah karena kau hadir di dunia ini dengan berada di antara kami,” bentak Miranda yang kali ini berhasil membuat Adhara berdecih kasar. Miranda bahkan menolehkan kepalanya pada Adhara yang berada dalam rangkulan Chan.


“Memangnya dia bisa milih mau lahir dimana?” tanya Adhara yang sudah tak tahan dengan kebungkamannya. Sesekali ia memang harus bersuara terlebih lagi tak ada yang berani untuk berbicara. Kini orang-orang yang mengerubungi mereka semakin banyak dan berbisik mendengar pertengkaran tersebut dan membetulkan apa yang Adhara katakan.


Memangnya siapa yang dapat memilih ingin terlahir di keluarga seperti apa? Semua adalah takdir yang perlu dilakukan selanjutnya adalah menerimanya dengan ikhlas bukannya saling menyalahkan.


“Adhara,” tegur Chan membuat Adhara mendengus kesal. Chan maju menghampiri Miranda juga Nora lalu mencekal tangan Miranda menghempaskannya dengan kasar.


“Nora adalah orang keluarga kami jadi sebelum anda melukainya maka saya lebih dulu yang bisa melakukannya, jangan asal menyentuh orang kami,” tegas Chan membuat Miranda mengepalkan tangannya marah.


“Selama ini saya sudah cukup diam membiarkan tante melakukan sesuka tante, tapi jangan lupa jika dia adalah orang saya,” ucap Chan melanjutkan ucapannya. Semua orang terdiam melihat keberanian Chan. Mereka juga tak menyangka jika tuan rumah yang mereka pikir selama ini adalah sosok wanita anggun ternyata sering menyakiti seorang gadis.

__ADS_1


Laki-laki paruh baya datang menghampiri mereka membelah kerumunan yang sangat padat. Laki-laki yang tak lain adalah ayah Arche tersebut terlihat begitu marah dengan wajah yang bercampur antara sedih dan marah.


Adam, Ayah Arche dengan reflek menampar Miranda membuat wanita tersebut menatap suaminya dengan tajam tak menyangka jika suaminya itu berani menamparnya di depan umum.


“Kau gila?” tanya Miranda dengan begitu kerasnya.


“Kamu yang gila,” ucap Adam yang tak kalah marah dengan istrinya tersebut.


“Ya aku gila, semua itu karena kamu. Kamu yang memulai semua ini,” kesal Miranda dengan air matanya yang mulai meluruh.


Adam menghela nafasnya lalu meminta maaf pada seluruh tamu yang datang. Setelahnya ia langsung membawa istrinya itu pergi dari sana. Adhara hanya bisa menggeleng lalu pergi dari sana.


Chan yang melihat kepergian Adhara menghela nafasnya kasar, ia tahu pasti gadis itu tengah memikirkan hubungan Arche juga Nora. Dari tatapan gadis itu pun Chan tahu bahwa ia menyukai Arche dan pasti terluka melihat sikap baik Arche yang begitu spesial untuk Nora.


Adhara memilih berjalan ke taman perjamuan yang berada di belakang gedung tersebut yang juga dihias tak kalah indah. Gadis itu melihat ke sekeliling yang tampak sepi hanya dihiasi lampu yang begitu indah.


Gadis itu memilih duduk di salah satu kursi taman yang cukup jauh dari pandangan menyembunyikan dirinya dalam kegelapan. Di saat seperti ini Adhara memang membutuhkan tempat untuk menyendiri yang baik.


Senyuman getir terlihat di wajah Adhara mengingat perlakuan Arche pada Nora jujur saja ia begitu iri dengan Nora yang bisa mendapatkan tatapan sayang dari Arche. Dari sini Adhara sadar jika memang sudah seharusnya ia menyerah dan mulai melupakan Arche. Lagi pula masih ada Chan dan Antariksa.


Gadis itu menggeleng tegas menepis pemikirannya sendiri yang begitu kacau tersebut. Bagaimana ia bisa memikirkan dua lathan tersebut di saat seperti ini? Lebih baik ia menjomblo daripada bersama si kasar dan si dingin tersebut. Bisa-bisa jika memilih salah satu dari mereka Adhara bisa setiap hari adu otot dengan Antariksa atau menjadi es batu karena sikap dingin Chan.


“Ayo Adhara lo harus bisa move on, laki-laki gak Cuma Arche. Sebagai teman yang baik sekarang lo harus mengikhlaskan dia dan membantu mereka untuk bersama,” monolog Adhara pada dirinya sendiri meyakinkan dirinya juga hati nya untuk ikhlas menerima.


“Tapi gimana cara gue bantu mereka? Ibu Arche aja belum tentu suka sama gue,” dengus Adhara yang kembali berbicara pada dirinya sendiri akan kebingungan yang tengah ia rasakan.


Adhara semakin di buat kebingung dengan apa yang terjadi dan apa yang harus dilakukannya. Dapat Adhara lihat dari tatapan Miranda jika wanita itu begitu membenci Nora entah apa yang sebenarnya terjadi hingga wanita tersebut sangat membenci pengawal Chan tersebut.

__ADS_1


Ingin rasanya Adhara membantu mereka tanpa menyakiti siapapun namun ia juga tak tahu apa yang harus ia lakukan. Berkali-keli gadis itu menghembuskan nafasnya kasar dan berusaha untuk tetap berpikir jernih sebelum santet yang ia pikirkan untuk membereskan semuanya.


“Kalau nanti Nora bener jadian sama Arche gue kuat gak ya?” tanya Adhara pada dirinya sendiri yang kini kembali memikirkan tentang hubungan Arche dan Nora.


“Sadar Adhara sadar lo harus kuat,” ucap Adhara sambil menampar pipinya sendiri dengan pelan.


Adhara menghela nafasnya kasar lalu memilih untuk memejamkan matanya mengistirahatkan pikirannya sejenak sebelum dipenuhi dengan berbagai tanda tanya dan rencana yang bersarang di otaknya.


Perasaan gadis itu kini tengah kacau memikirkan tentang Arche, Nora, juga dirinya. Apalagi yang terjadi barusan apa yang sudah ia takutkan benar terjadi dan melihat hal tersebut semakin membuat Adhara bingung dengan keluarga Arche.


Kini gadis itu hanya bisa menghela nafasnya berharap semua akan baik-baik saja setelah ini.


***


Hai Semua balik lagi nih sama aku.


Btw siapa nih yang udah nunggu Adhara bareng tiga cogannya?


Semoga kalian suka ya, maaf kalau feel kurang dapet dan masih ada typo.


Jangan lupa di tambahkan ke favorite, like, dan koment ya guys.


Follow ig aku ya @hilmiatulhasanah dan @wphilmiath


Oh iya untuk update aku bakal update 2 bab perhari ya guys.


Stay healthy all.

__ADS_1


Thank For Reading all.


See You Next Chapter All.


__ADS_2