
Fyi "Bolide adalah jenis meteor yang lebih terang dan masif dari fireball dan sering meledak di atmosfer"
Happy Reading All.
***
Kedatangan murid baru di FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) benar-benar membuat fakultas tersebut heboh. Apalagi dengan wajah tampan yang dimiliki mahasiswa baru tersebut yang berhasil membuat perhatian tertuju pada nya.
Namun berbeda dengan para gadis lain yang begitu heboh dengan kedatangan mahasiswa baru tersebut, Adhara dan Nora terlihat sama sekali tidak peduli. Dengan sikap Nora yang begitu cuek tentu ia tak akan memperdulikan hal tak penting seperti itu, sedangkan Adhara tentu ia tak peduli karena jelas baginya Chan lah yang paling tampan.
"Hey," sapa seorang laki-laki yang kini menghadang jalan Adhara juga Nora, melihat laki-laki yang kini menghadang jalannya Adhara memutar bola matanya malas karena harus di pertemuan dengan makhluk di depannya tersebut.
"Minggir, lo ngehalangin jalan gue," ucap Adhara dengan begitu datar dan memilih untuk melewati jalan lain yang tak di halangan oleh laki-laki tersebut namun laki-laki yang tak lain adalah Antares, laki-laki yang kini menjadi pusat perhatian tersebut malah terus menghalangi jalan Adhara.
Kini mereka sudah menjadi pusat perhatian, banyak tatapan iri yang dilayangkan oleh pada Adhara. Ia tak terlalu peduli dengan apa yang orang lain pikirkan padanya. Lagi pula ia tak bergantung hidup pada orang tersebut jadi untuk apa ia peduli.
"Mau lo apa sih, belum pernah kena tendangan maut gue aja lo," ucap Adhara kesal. Saat ini mood nya sedang tidak bagus karena Chan yang belum saja menghubungkan sekedar memberikan kabar untuknya.
"Kenalan dulu lah," ucap Antares sambil mengulurkan tangannya pada Adhara. Adhara menerima uluran tangan tersebut, namun di luar dugaan bukannya menjabat tangan Antares untuk berkenalan gadis tersebut malah menariknya dan membanting tubuh Antares hingga menyentuh lantai.
Antares kini hanya bisa meringis sambil memegang pinggang nya yang terasa begitu sakit akibat ulah gadis di depannya tersebut. Adhara menepuk kedua tangannya seolah membersihkan tangannya dari bekas Antares.
"Awas lo ganggu gue lagi, gue buang ke laut lo," ucap Adhara laku segera merangkul leher Nora dan membawa sahabatnya tersebut untuk pergi dari sana karena tak ingin lagi memiliki urusan dengan Antares.
Antares kini hanya bisa tersenyum dan melihat kepergian Adhara yang mulai menjauh bersama dengan Nora.
"Ck, udah gue bilang mending menjauh sebelum badan lo remuk," ucap Izar sambil mengulurkan tangannya pada Antares untuk membantu temannya tersebut bangun. Antares segara meraih tangan Izar dan segera bangun dengan bantuan temannya tersebut.
"Gue gak akan nyerah gitu aja, makin lama makin menarik," ucap Antares dengan senyumannya. Begitu keras kepala dan bertepatan. Antares sudah berencana untuk mendapatkan hati Adhara.
***
Arche berjalan dengan begitu gagahnya memasuki gedung universitas yang jelas bukan tempatnya menimba ilmu. Kali ini ia datang untuk menemui kedua gadis yang menjadi alasan nya untuk datang ke kota tersebut.
Saat laki-laki tersebut berjalan banyak tatapan mata yang melihat ke arah nya dengan tatapan kagum. Melihat wajah tampan tersebut dengan tatapan memuji.
__ADS_1
Di sudut koridor terlihat seorang gadis yang terus memperhatikannya sambil tersenyum dan menatap Arche dengan tatapan kagumnya.
"Del, lo kenapa?" Tanya teman gadis tersebut sambil menepuk pundak gadis yang bernama Delia tersebut. Gadis yang terus memperhatikan Arche dengan senyumannya.
"Kalian tunggu sini dulu," ucap Delia lalu segera pergi untuk mengejar Arche yang berjalan dengan begitu gagahnya.
Namun saat hampir saja mencapai laki-laki tersebut, langkahnya dibuat terhenti saat senyuman laki-laki tersebut mengembang pada dua gadis yang kini berjalan ke arah Arche dengan senyumannya.
Salah satu dari gadis tersebut pernah Delia temui sebelumnya. Ia ingat saat tak sengaja menabrak Arche, gadis tersebut yang datang mengganggu merek.
"Tumben lo mau masuk," ucap Adhara dengan senyumannya sambil menatap Arche dengan kening yang berkerut.
"Pengen aja liat kalian di sini baik-baik aja atau ada yang ganggu," ucap Arche sambil mengacak rambut Adhara dan Nora.
Delia masih setia berdiri di posisinya memperhatikan interaksi tersebut dengan dengusan kasar. Ia tak pernah tahu jika ia berada di fakultas yang sama dengan gadis yang ia pikir adalah kekasih dari laki-laki yang ia sukai.
"Del, lo kenal merek?" Tanya teman Delia yang kini sudah berada di samping Delia sambil menepuk pundak Delia membuat gadis tersebut menoleh ke arah temannya tersebut.
"Orang yang gue ceritain, cowok yang gue tabrak dan pacar nya," ucap Delia masih dengan tatapan nya pada Arche juga kedua gadis tersebut.
"Ketaman aja yuk," ajak Adhara yang di balas dengan anggukan oleh kedua sahabatnya.
Setelah mereka segera peduli menuju taman, berjalan bersama dengan banyak tatapan mata yang terus mengiringi langkah mereka.
Bertepatan dengan mereka yang sampai ke taman, ponsel Adhara berbunyi membuat Adhara seger melihat panggilan tersebut yang ternyata adalah panggilan Video dari Chan.
Senyuman gadis tersebut mengembang dan segera menjawab panggilan tersebut, menampilkan wajah lelah Chan yang kini terlihat begitu jelas.
"Kemana aja? Kenapa baru ngabarin?" Tanya Adhara saat panggilannya di jawab. Tak ada sapaan yang gadis tersebut berikan dan malah langsung mengintrogasi Chan.
Chan menghembuskan nafasnya kasar sambil menatap Adhara dengan tatapan bersalahnya.
"Maaf ya, aku lagi sibuk banget. Kamu gimana? Semua baik-baik aja kan?" Tanya Chan dengan begitu perhatiannya. Adhara yang mendengarnya jadi tidak bisa marah pada laki-laki tersebut.
"Aku lagi sama Arche dan Nora nih," ucap Adhara sambil memperlihatkan kameranya pada kedua sahabatnya tersebut.
__ADS_1
"Lo hobi banget dah ngikutin pacar gue," ucap Chan melihat ke arah Arche dengan matanya yang menyipit.
"Gak usah cemburu sama gue, dia juga adek gue," ucap Arche dengan wajah bangganya sambil merangkul pundak Adhara membuat Chan kesal melihatnya karena ia tak bisa berada di posisi Arche.
"Jauhin gak tangan lo," kesal Chan pada Arche yang sama sekali tidak peduli dan lebih memilih tetap meletakkan tangannya di pundak Adhara.
"Hm Yang gini dulu ya, ada yang nelpon besok aku telpon lagi," ucap Chan pada Adhara yang hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar mendengar hal tersebut. Selalu saja seperti ini laki-laki tersebut tak pernah lama jika menghubunginya.
"Lo, awas aja ya kalo kita ketemu," ucap Chan yang setelahnya segera menutup panggilan teleponnya.
"Gue jadi curiga sama dia," ucap Adhara setelah panggilan teleponnya terputus. Sikap Chan membuatnya berpikiran negatif pada laki-laki tersebut.
"Jangan terlalu negatif thinking siapa tau emang Chan sibuk, lo juga tau kan gimana cueknya dia sama cewek," ucap Arche mengingatkan Adhara yang akhirnya hanya mengangguk. Ia berharap pikirannya memang salah dan Chan memang sibuk dengan kuliahnya bukan karena selingkuh seperti pikirannya.
***
Hi semua, ketemu lagi sama aku dengan cerita yang udah kalian tunggu-tunggu.
Aku harap kalian akan suka sama cerita ini. Jujur aja sebenarnya berat sih mau lanjut cerita ini. Aku takut malah cerita ini gak sebagus season pertama. Jadi aku harus kalian bisa kasih kritik dan saran agar aku bisa memperbaiki kalau ada yang salah ya.
Maaf ya kalo masih ada typo dan feel kurang dapet.
Oh iya jangan lupa vote dan koment ya guys.
Follow juga akun aku ya, dan ig aku @hilmiatulhasanah_ dan @wphilmiath_
Dukungan kalian semangat ku😉
Thanks for Reading All.
See You Next Chapter.
Jangan lupa tinggalin jejak ya
Tunggu dulu deh, sambil nunggu Adhara cs aku saranin kalian buat baca cerita ku yang gak kalah kece nih. Yang suka rasa sakit dan cerita yang penuh emosi kalian bisa nih buat baca cerita ku yang satu ini.
__ADS_1