Atmosphere

Atmosphere
As (Arsenic)


__ADS_3

Happy Reading.


***


Dari jauh Adhara menatap Chan dengan tatapan khawatir sesekali gadis itu meringis saat melihat Chan yang terjatuh karena jalannya yang sudah tidak benar. Adhara menghembuskan nafasnya kasar ingin rasanya ia menghampiri laki-laki tersebut tapi ia takut Chan malah akan marah padanya.


“Ah bodo lah bantuin aja, biar gue bisa cepet pulang tanpa rasa bersalah,” ucap Adhara meyakinkan dirinya sendiri untuk membantu laki-laki tersebut.


Akhirnya Adhara berjalan untuk mendekat ke arah Chan namun langkahnya terhenti saat ia melihat empat preman menghadang laki-laki tersebut. Gadis itu menajamkan matanya untuk melihat preman tersebut yang ia ingat pernah menghadang Chan saat di hari pertama Adhara melihat Chan.


“Mereka siapa ya?” tanya Adhara yang mulai menajamkan pendengarannya untuk mendengar pembicaraan mereka. Bukan bermaksud menguping hanya saja gadis itu merasa harus tahu siapa musuhnya kali ini.


Alibi yang sangat bagus bukan padahal dia menguping karena penasaran siapa keempat preman tersebut yang selalu berada di sekitar Chan.


“Tuan mari kita pulang, Tuan besar meminta kami membawa Anda,” ucap salah satu dari preman tersebut. Sebenarnya mereka terlalu bagus jika di sebut preman karena pakain mereka begitu rapih.


“Lepaskan, katakan pada si tua itu aku tidak ingin pulang,” ucap Chan dengan menunjukkan preman di hadapannya dengan amarahnya, laki-laki itu sesekali mundur atau malah kesamping karena efek mabuknya.


“Tapi Tuan, Tuan besar akan marah besar jika tahu Tuan muda seperti ini,” ucap salah satu preman dengan jaket hitam boomber tersebut.


Dari sini dapat Adhara simpulkan jika preman tersebut ternyata adalah pengawal Chan. Sebenarnya Adhara tidak ingin ikut dalam urusan orang lain, namun ia merasa kasihan pada Chan akhirnya segera menghampiri mereka.


“Halo Om,” sapa Adhara dengan senyumannya pada ke empat preman tersebut.


Keempat pengawal tersebut sontak menatap Adhara dengan tatapan takut. Memang hanya besar badan saja pengawal tersebut tapi nyalinya kecil. Terbalik dengan Adhara yang badannya kecil tapi nyalinya besar.


“Lebih baik kamu pergi, jangan ikut campur urusan orang lain,” ucap salah satu pengawal dengan tato bertuliskan Adrew yang sepertinya nama laki-laki itu.


“Tapi dia adalah temanku,” ucap Adhara dengan menantang sesekali ia memegangi Chan yang mabuk di samping nya agar tidak terjatuh.


“Benarkah kau temanku? Aku tidak merasa memiliki teman sepertimu,” ucap Chan sambil menatap Adhara dengan penuh tanda tanya.


Gadis itu hany abisa menipiskan bibirnya laki-laki dingin di sampingnya ini menjadi sangat banyak bicara saat mabuk.

__ADS_1


“Mengapa kau banyak bicara sekali saat mabuk? Bisakah kau diam?” tanya Adhara sambil berbisik ke arah Chan yang langsung mengatupkan bibirnya rapat agar laki-laki itu tidak membuka suaranya lagi.


“Preman seperti kalian apa yang kalian inginkan?” tanya Adhara sambil kedua tangannya yang berkacak pinggang.


“Dia pengawalku Adhara,” ucap Chan yang kembali bersuara. Adhara menghembuskan nafasnya kasar sambi menunduk dalam. Laki-laki di sampingnya ini memang tidak bisa di ajak kompromi ingin sekali rasanya ia menenggelamkan laki-laki itu ke rawa-rawa.


“Kau sudah mendengarnya kan Nona,” ucap pengawal dengan jaket bomber tersebut.


“Dan aku temannya, Chan juga tidak ingin pergi dengan kalian lebih baik jangan memaksa,” ucap Adhara yang kini sudah menatap tajam ke arah pengawal tersebut.


“Bisakah kau tidak ikut campur urusan orang lain Nona, lebih baik kau pergi dengan cara baik-baik,” ucap pengawal tersebut dengan wajah datarnya. Adhara yang memang tidak takut pada apapaun itu akhirnya malah balas menantang pengawal tersebut.


“Kau juga orang laibn bukan, kau bukan keluarga sama sepertiku. Jadi lebih baik kau yang pergi,” ucap Adhara tidak gentar melawan pengawal tersebut.


“Sepertinya Anda memang tidak bisa menggunakan cara baik-baik,” ucap pengawal tersebut yang bersiap memberikan satu bogeman mentah pada Adhar namun dengan gesit Adhara menghindar.


“Om pengecut, banci beraninya sama dedek gemes kayak aku mana cewek lagi,” ucap Adhara dengan mengerucutkan bibirnya yang terlihat sangat menggemaskan.


Gadis itu memang suka sekali bertingkah konyol bahkan di saat terdesak seperti itu. Pengawal yang lain mulai menyerang Adhara dan gadis itu kembali bisa menangkis serangannya.


“Sial, ini cewek tapi kayak cowok,” ucap pengawal lainnya yang sudah terduduk di aspal jalanan.


“Ayo Chan cepetan lari sebelum mereka bangun,” ucap Adhara sambil menarik Chan untuk berlari dari kejaran para pengawal tersebut.


Melihat tindak mugkin ia berlari sedangkan pengawal tersebut menggunakan mobil di tambah ia harus menarik Chan yang mabuk gadis itu memilih melewati jalanan sempit yang tak jauh dari mereka.


Chan yang sudah mabuk berat merasa perutnya begitu mual langsung muntah membuat Adhara memasang ekspresi wajah jijiknya. Chan memang tidak tahu kondisi dan tempat. Adhara akhirnya memilih mengelus tengkuk Chan membantu laki-laki itu. Setelah selesai Adhara merangkul Chan untuk membawanya ke apartemen gadis itu.


“Lo berat banget Chan, mana tinggi banget kayak tiang listrik,” ucap Adhara yang kesusahan membawa Chan yang tengah mabuk berat tersebut.


“Lo aja yang pendek,” balas Chan yang langsung mendapatkan pelototan dari Adhara. Gadis itu langsung melepaskan Chan membuat laki-laki itu jatuh tersungkur di aspal.


“Untung gue bantuin lo malah ngehina, pulang lo sana,” ucap Adhara dengan kesal dan berjalan lebih dulu meninggalkan Chan yang masih merasakan sakit di bokongnya akibat ular Adhara.

__ADS_1


“Tega banget lo,” ucap Chan membuat Adhara mendengus dan akhirnya membantu laki-laki itu kembali membawanya menuju apartemen kecilnya karena ia tak tahu harus membawa Chan kemana.


Tak beberapa lama akhirnya mereka sampai di apartemen kecil milik Adhara, gadis itu meletakkan Chan di ranjang kecil satu-satunya yang berada di apartemennya tersebut. Dan yang membuat Adhara kesal lagi, laki-laki itu malah kembali muntah dan mengotori baju serta selimut nya juga laki-laki itu.


Akhirnya Adhara membantu Chan membuka bajunya dan menggantinya dengan pakaian gadis itu yang ukurannya besar karena ia suka menggunakan baju oversize.


“Masih mual?” tanya Adhara yang duduk di samping ranjang Chan sambil berjongkok. Laki-laki itu sudah memejamkan matanya tapi ia masih mengangguk menjawab pertanyaan Adhara.


Adhara yang merasa kasihanpun akhirnya mengambil minyak kayu putih dan mengelus perut Chan berharap itu bisa meredakan mualnya. Jujur saja ia tak tahu bagaimana cara menghadapi orang pengar jadi ia lakukan sesukanya saja.


Tak lama dengkuran halus keluar dari laki-laki itu yang sepertinya sudah tertidur karena merasa nyaman dengan elusan Adhara di perut kota-kotanya itu. Setelah memastikan Chan baik-baik saja Adhara segera berjalan menuju kamar mandi untuk mengganti pakaiannya serta membersihkan dirinya.


 


 


****


 


 


 


Thank for Reading all


Hai semua apa kabar?


Aku datang lagi dengan cerita baru aku nih.


Semoga kalian suka ya sama ceritanya maaf kalau masih banyak typo dan feel kurang dapet.


Jangan lupa untuk Like, Koment, tambah ke favorite.

__ADS_1


See You Next Chapter all.


__ADS_2