
Happy Reading All.
***
Setelah selesai mendengar cerita Chan senyuman Adhara mengembang dengan begitu sempurna, membuat Chan yang melihatnya menaikkan sebelah alisnya dengan senyuman menggodanya.
“Seneng kan lo,” ucap Chan sambil mengelus puncak kepala Adhara namun segera ditepis oleh gadis tersebut lalu menatap Chan dengan tajam sambil berdecak kesal.
“Gue tuh cuma ikut bahagia aja akhirnya Papa lo bisa sadar, gue tahu papa lo pasti orang yang baik. Apa lagi papa lo juga masih ganteng,” ucap Adhara sambil tersenyum dengan begitu lebar yang dibalas dengan tatapan datar Chan.
“ Btw Bokap lo umur berapa Chan? Kok kelihatannya masih muda,” tanya Adhara sambil menghabiskan suapan terakhirnya.
“Lo kenapa sih nanya-nanya? Berminat banget lo jadi emak tiri gue,” ucap Chan dengan wajah kesalnya yang membuat Adhara tertawa melihatnya. Jika biasanya laki-laki itu yang suka sekali menggodanya, maka kali ini biarkan ia yang membuat laki-laki itu kesal.
“Boleh tuh, salamin ke Papa lo kalo butuh istri baru gue mau daftar,” ucap Adhara dengan cengiran nya, menampilkan deretan gigi putihnya. Chan memutar bola matanya malas lalu menegak minumannya hingga tandas.
“Lo yang bayar,” ucap Chan kesal lalu segera keluar lebih dulu dari restoran tersebut membuat Adhara menganga mendengarnya.
“Chan lo jahat, lo pelit. Lo yang ngajak makan, lo yang punya restoran tapi gue yang di suruh bayar,” kesal Adhara sambil berteriak ke arah Chan. Tanpa tau malu jika saat ini tatapan pelanggan lain tertuju padanya.
“Tapi kan lu yang makan Ra,” ucap Chan dengan santai sambil berjalan lebih dulu keluar.
Adhara berusaha mengontrol nafasnya yang memburu lalu segera memanggil pelayan untuk menanyakan total makanannya.
“Berapa?” tanya Adhar ketus pada pelayan tersebut yang malah tersenyum melihat tingkah Chan dan Adhara yang memang selalu menghibur pekerja di sana.
“Udah dibayar kok Ra sama Chan,” ucap Pelayan tersebut yang memang sudah mengenal Chan dan Adhara. Kini Adhara di buat menganga mendengarnya lalu segera menatap Chan tajam.
“Percuma gue teriak-teriak. Awas lo Chan,” ucap Adhara tajam lalu segera berlari dan berjalan ke arah Chan dengan cepat.
Setelah hampir dekat dengan Chan, dengan keras Adhara memukul kepala Chan dengan tas yang dibawanya. Chan yang mendapatkan pukulan keras tersebut hampir saja terjatuh jika keseimbangannya tidak bagus.
“Sakit bego,” ucap Chan sambil mengelus kepala bagian belakangnya dan menatap Adhara tajam.
“Rasain lo,” ucap Adhara kesal lalu segera memakai helmnya dan lebih dulu naik ke motor laki-laki tersebut.
__ADS_1
“Tas lo itu isinya buku Adhara, bukan spon jadi jangan asal pukul dong. Kalau gue lupa ingatan kan lu yang repot, kalo gue ngelupain lo,” ucap Chan yang membuat Adhara memutar bola matanya malas.
“Banyak omong banget lo Chan, cepet naik. Ini udah malem, lo gak sholat magrib apa? Lo kalo mau masuk neraka gak usah ngajak-ngajak. Kalau mau di gebukin malaikat gak usah ngajakin gue,” ucap Adhara yang sudah berubah menjadi wanita alim yang begitu taat agama.
“Iya Adhara, kita cari masjid dulu deh. Gak keburu kalo ke apartemen lo,” ucap Chan yang hanya dibalas dengan anggukan oleh Adhara.
Setelahnya motor Chan melaju membelah jalanan menuju masjid terdekat untuk sholat masjid. Meskipun Adhara bukan orang yang terlalu taat agama, tapi ia tak pernah lupa untuk menunaikan ibadah. Begitupun dengan Chan, walau dulu sholatnya sering bolong namun kini ia sedang mengusahakan untuk rajin beribadah.
Setelah selesai sholat Adhara segera menghampiri Chan yang sudah menunggunya dengan sepatu yang sudah terpasang.
“Ayo Chan,” ajak Adhara sambil menepuk pundak Chan mengajak laki-laki tersebut untuk segera pergi dari masjid tersebut.
Mereka segera berjalan ke arah parkiran motor, dengan begitu telaten Chan memakai helm untuk Adhara membuat senyuman gadis tersebut mengembang mendapatkan perlakuan manis dari Chan tersebut.
Memang ketiga laki-laki tersebut selalu memperlakukannya dengan baik, memperlakukannya seperti ratu, menjaganya bagai barang pecah bela, sangat lembut. Jika orang lain yang berada di posisi Adhara pasti mereka juga lemah mendapatkan perlakuan manis ini.
“Chan gue pengen ke rumah lo dong, gue kan belum tau sama rumah baru lo,” ucap Adhara dengan tatapan memohonnya yang mendapatkan gelengan dari Chan.
“Gak sekarang besok aja, ini udah malem. Rumah gue lewat jalanan sepi,” ucap Chan yang membuat Adhara mengerucutkan bibirnya mendengar hal tersebut.
Ia bisa membujuk gadis itu dengan cara lain, karena Adhara mudah sekali di bujuk.
Di perjalanan tak ada yang memulai pembicaraan, mereka saling terdiam dengan pikiran masing-masing. Adhara yang masih merajuk dengan Chan, dan Chan yang fokus menyetir. Motor laki-laki tersebut melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan menuju apartemen Adhara.
“Mau martabak?” tanya Chan pada Adhara yang langsung menjawabnya dengan anggukan semangat, Chan dapat merasakan anggukan Adhara tersebut karena Adhara yang meletakkan kepalanya di pundaknya.
Chan segera menghentikan laju motornya di depan penjual martabak. Chan dan Adhara segera turun dan berjalan menuju penjual martabak tersebut.
“Mau yang rasa apa?” tanya Chan pada Adhara yang sudah duduk di kursi yang disediakan.
“Rasa patah hati di mix sama kecewa,” ucap Adhara dengan senyuman sendunya membuat Chan terkekeh mendengarnya lalu mengusap wajah Adhara.
“Lo yang spesial gini masak di kecewakan,” ucap Chan membuat Adhara menaikkan bibir bagian atasnya.
Penjual martabak tersebut yang mendengar perdebatan dua anak muda tersebut dibuat tersenyum lucu.
__ADS_1
“Kacang, coklat, susu,” ucap Adhara akhirnya yang menjawabnya dengan serius.
Setelah membeli martabak tersebut akhirnya mereka memutuskan untuk segera pulang karena hari yang sudah malam.
***
Setelah mengantar Adhara pulang, Chan segera melajukan motornya membelah jalanan untuk kembali ke rumahnya. Mengingat kini Mamanya sendiri di rumah, jadi ia tak bisa untuk keluar terlalu lama dan meninggalkan Mamanya sendiri.
Saat sampai di jalanan yang begitu gelap dan sepi sebuah mobil yang menghadang jalannya membuat Chan segera turun dari motornya, tanpa mematikan lampu motornya untuk menerangi jalanan yang begitu gelap tersebut. Chan segera turun dan menghampiri seorang laki-laki yang berdiri di depan mobilnya dengan pakaian serba hitam juga topi hitam yang digunakannya.
Chan mengerutkan keningnya karena tak bisa melihat dengan jelas siapa orang tersebut.
“Siapa lo?” tanya Chan yang kini sudah berdiri di depan laki-laki tersebut dengan siaga, takut jika orang tersebut adalah salah satu musuhnya.
Saat orang tersebut menegakkan kepalanya dan membuka topinya Chan dibuat terkejut dengan orang yang berada di depannya yang kini menatapnya dengan datar.
***
Hai Semua balik lagi nih sama aku.
Btw siapa nih yang udah nunggu Adhara bareng tiga cogannya?
Kalau kalian ada pertanyaan silahkan di ajukan ya, nanti aku jawab. Menerima kritik dan saran.
Semoga kalian suka ya, maaf kalau feel kurang dapet dan masih ada typo
Jangan lupa di tambahkan ke favorite, like, dan koment ya guys.
Follow ig aku ya @hilmiatulhasanah dan @wphilmiath
Tim Interaksi udah aku aktifkan nih, yuk guys join.
Stay healthy all.
Thank For Reading all.
__ADS_1
See You Next Chapter All.