Atmosphere

Atmosphere
Dp (Disprosium)


__ADS_3

Happy Reading All.


***


Setelah pulang dari acara ulang tahun Arche, Adhara segera memasuki rumahnya dengan tidak semangat membuat Chan yang melihatnya mengerutkan keningnya bingung melihat gadis itu.


“Kenapa lo? Gak bahagia muka lo gue liat, padahal tadi abis mojok,” ucap Chan yang malah terkesan menyindir.


Adhara membalikkan tubuhnya menghadap Chan, menatap laki-laki itu dengan datar membuat Chan mengerutkan keningnya melihat tatapan Adhara tersebut.


“Ribet banget,” ucap Adhara lalu segera memasuki kamarnya dengan membanting pintu kasar dan cukup keras membuat Chan berjengit kaget.


“Nanya doang woy,” teriak Chan lalu juga memasuki kamarnya dan membanting pintu keras. Adhara yang berada di dalam kamarnya bahkan juga dibuat terkejut mendengarnya.


“Rusak dah pintu gue kalo gini mulu,” sesal Adhara sambil mengelus dadanya berusaha sabar menghadapi Chan yang memang emosinya suka sekali naik turun tersebut.


Adhara segera mengambil handuk dan hendak membersihkan tubuhnya namun ia malah tak sengaja bertemu dengan Chan di depan kamarnya yang sepertinya juga hendak membersihkan tubuhnya. Chan menatap Adhara dengan tatapan datarnya lalu lebih dulu berjalan menuju kamar mandi. Adhara hanya bisa mengelus dadanya berusaha bersabar menghadapi Chan.


“Adhara,” teriak Chan dari dalam kamar mandi, Adhara dengan malas berjalan menghampiri laki-laki tersebut.


“Kenapa?” tanya Adhara dari luar pintu kamar mandi. Chan keluar dengan handuk yang tersampir di pundaknya dengan wajah memerahnya.


“Liat sendiri,” ucap Chan yang setelahnya langsung pergi meninggalkan Adhara yang masih berada di depan pintu kamar mandi.


Adhara yang melihat hal tersebut tentu saja di buat kebingung dengan sikap Chan. Dengan segera gadis itu memasuki kamar mandi, hingga matanya dibuat melotot saat melihat pakaian dalam yang lupa ia masukkan ke keranjang pakaian kotor dan malah bergelantungan di gantungan baju.


“Malu-maluin aja,” ucap Adhara dengan wajahnya yang memerah malu, dengan segera ia mengambil pakaian dalamnya tersebut lalu segera memasukkannya ke dalam keranjang kotor.


Adhara dengan cepat menyelesaikan kegiatan membersihkan tubuhnya setelahnya ia langsung keluar untuk memanggil Chan jika ia sudah selesai. Saat melewati ruang tamu ternyata laki-laki tersebut tengah berada di sana sambil menonton televisi.


“Buruan sana kalau mau mandi,” perintah Adhara sambil duduk di samping Chan.


“Udah beres?” tanya Chan dengan tatapan menggodanya. Melihat wajah Chan yang begitu menjengkelkan tersebut ingin sekali rasanya Adhara menenggelamkan laki-laki tersebut ke lautan biar sekalian dimakan Nemo saja.


“Lo ngeselin banget,” pekik Adhara sambil memukuli Chan dengan bantal yang berada di sampingnya. Chan hanya bisa terkekeh geli sambil pergi dari sana dengan sedikit berlari agar tidak semakin mendapatkan amukan Adhara.

__ADS_1


***


Pagi ini adalah hari minggu Chan sudah terlihat begitu rapi dengan celana trening dan kaos polosnya. Kini dengan tidak sabaran laki-laki itu mengetuk pintu kamar Adhara dengan cukup keras untuk membangunkan gadis tersebut yang pasti saat ini masih molor, padahal jam sudah menunjukkan pukul enam pagi.


Adhara memang akan menjadi begitu pemalasan saat hari minggu begini, setelah menyelesaikan kewajibannya sebagai umat muslim setelahnya Adhara akan tidur kembali hingga siang dan akhirnya Chan terpaksa memasak makanannya sendiri ataupun ia akan membeli bubur untuk sarapan.


Namun pagi ini berbeda, Chan ingin mengajak Adhara berolahraga. Chan mengetuk pintu kamar Adhara dengan tidak sabaran membuat Adhara yang masih tertidur pulas dengan selimut yang membungkus tubuhnya merasa terganggu.


“Adhara bangun,” teriak Chan sekali lagi dan entah untuk yang keberapa kalinya. Adhara yang sudah tak tahan dengan keributan yang dibuat Chan segera keluar dari kamar nya dan menatap Chan dengan wajah bantalnya.


“Kenapa sih rame banget?” tanya Adhara dengan marah sambil membenarkan ikat rambutnya.


Chan menghela nafasnya melihat penampilan Adhara yang sudah seperti gembel saat sedang bangun tidur seperti ini.


“Cepet cuci muka, kita lari bareng,” ucap Chan membuat Adhara mendengus. Ia kira Chan membangunkan untuk hal yang penting, namun ternyata tidak penting sama sekali apa yang ingin laki-laki itu inginkan.


“Lo emang gak bisa lari sendiri aja? Gue ngantuk,” ucap Adhara dan hendak menutup pintunya lagi namun Chan segera menhannya membuat Adhara menghela nafasnya kasar.


“Cepat,” ucap Chan sambil menarik Adhara untuk keluar dari kamarnya. Akhirnya Adhara hanya bisa pasrah dan memilih untuk segera keluar dari kamar nya dan berjalan ke arah kamar mandi untuk mencuci wajahnya.


“Udah?” tanya Chan yang di balas dengan anggukan oleh Adhara.


Chan tersenyum sama lalu segera berdiri dan berjalan lebih dulu setelah selesai memakai sepatunya. Adhara dengan malas mengikuti laki-laki tersebut. Tanpa minat Adhara berlari pelan. Chan yang melihat itu merasa begitu tak sabaran segera menarik Adhara dan membawanya lari bersama.


Saat mereka berada di taman depan komplek apartemen Adhara, gadis itu melihat tukang penjual bubur membuat air liurnya terasa ingin keluar. Adhara hendak pergi menuju penjual bubur tersebut namun tangannya yang masih dalam genggaman Chan menjadi refleks ikut menarik laki-laki tersebut.


Chan yang merasakan tarikan dari arah dengan reflek juga menarik Adhara hingga kini mereka berada di jarak yang sangat dekat. Adhara mengerjapkan matanya berkali-kali dengan detak jantungnya yang sudah berdetak tak karuan.


“Hmm gue mau beli bubur ayam,” ucap Adhara berusaha menetralkan detak jantungnya dan menjauh dari Chan.


Chan membalasnya dengan anggukan. Dengan gugup laki-laki tersebut mengelus tengkuknya yang tak gatal lalu segera mengajak Adhara menuju tukang bubur langganannya setiap minggu tersebut.


“Den Chan, tumben sama pacarnya,” ucap penjual bubur Ayam tersenyum yang sudah hafal dengan Chan karena sering membeli bubur ayamnya di hari minggu.


Chan hanya membalasnya dengan anggukan lalu segera mencari tempat duduk di menepuk tempat di sampingnya saat Adhara masih saja berdiri. Dengan gugup gadis tersebut duduk di samping Chan karena bubur ayam tersebut lumayan penuh.

__ADS_1


“Lo biasa makan di sini?” tanya Adhara karena merasa penjual bubur ayam tersebut yang sudah mengenal Chan. Chan membalas nya dengan anggukan dan senyuman.


“Karena lo males masak tiap minggu jadi gue sering ke sini,” ucap Chan membuat Adhara mengangguk.


Tak lama pesanan mereka datang dan penjual tersebut segera memberikan mangkuk bubur ayam tersebut untuk Chan dan Adhara.


“Pacarnya geulis, Den,” ucap mang nanang penjual bubur ayam tersebut. Adhara yang mendengar hal tersebut jadi salah tingkah namun ucapan Chan selanjutnya malah membuatnya begitu kesal.


“Cantik dari mana mang? Orang jelek gini, saya mau aja untung,” ucap Chan membuat mang nanang terkekeh sedangkan Adhara sudah mengerucutkan bibirnya kesal.


“Nah nanti pacarnya ngambek saya gak tanggung jawab loh,” ucap Mang Nanang membuat Chan terkekeh.


“Udah jinak Mang,” ucap Chan sambil mengelus puncak kepala Adhara dengan sayang.


“Gue lebih suka lo cuek daripada banyak omong tapi tidak sesuai fakta gini, gue cantik, imut, lucu gini dibilang jelek,” ucap Adhara dengan cemberut. Chan hanya terkekeh lalu segera memakan makananya dengan tenang. Berbeda dengan Adhara yang memakannya dengan kesal.


***


Hai Semua balik lagi nih sama aku.


Btw siapa nih yang udah nunggu Adhara bareng tiga cogannya?


Semoga kalian suka ya, maaf kalau feel kurang dapet dan masih ada typo.


Jangan lupa di tambahkan ke favorite, like, dan koment ya guys.


Follow ig aku ya @hilmiatulhasanah dan @wphilmiath


Oh iya untuk update aku bakal update 2 bab perhari ya guys.


Stay healthy all.


Thank For Reading all.


See You Next Chapter All.

__ADS_1


__ADS_2