
Happy Reading All.
***
Pagi ini Adhara bangun begitu pagi, jam baru menunjukkan pukul setengah lima namun gadis itu sudah selesai membersihkan tubuhnya tidak lupa ia juga sudah menunaikan ibadahnya, Adhara memang bukan berasal dari keluarga yang begitu taat agama namun Ayahnya tidak pernah lupa mengingatkannya untuk selalu menunaikan ibadah.
Gadis itu kini masih dengan koas polos dan celana selututnya berjalan menuju dapur untuk membuat sarapan untuknya dan Chan. Saat melewati ruang tamu ia tak sengaja melihat Chan yang tengah tertidur dengan selimut yang sudah berada di kakinya.
Adhara berjalan mendekat untuk menaikkan selimut Chan. Cukup lama Adhara memperhatikan wajah tampan tersebut hingga ia menyadari jika laki-laki tersebut terlihat begitu tenang dan tampan saat tidur, bahkan Chan terlihat begitu tak memiliki beban saat ia tertidur.
“Ternyata lo ganteng juga ya,” puji Adhara dengan senyumannya. Tanpa sadar tangan gadis itu terangkat menyentuh wajah Chan. Adhara terkaget saat Chan memegang tangan Adhara membuat gadis itu gelagapan.
“Mau apa lo?” tanya Chan dengan tatapan tajamnya pada Adhara yang kini sudah gelagapan.
“Hmm itu… ada nyamuk,” ucap Adhara melepaskan tangannya dari genggaman Chan dan malah menepuk pipi Chan dengan begitu keras.
“Sialan sakit bego,” sarkas Chan tajam yang malah hanya membuat Adhara terkekeh lalu segera berdiri untuk meninggalkan laki-laki itu.
Chan berdecak kesal. Laki-laki itu lebih memilih untuk membersihkan tubuhnya daripada melanjutkan tidurnya yang pasti sudah tidak bisa di lanjut lagi karena Adhara yang mengganggu tidurnya.
Chan memang orang yang gampang sekali terbangun hanya karena suara atau pergerakan kecil selanjutnya pasti ia akan sulit untuk kembali tertidur. Jadilah kini laki-laki itu lebih memilih untuk membersihkan tubuhnya.
Di lain sisi kini Adhara tengah memilih bahan makanan yang akan ia masak untuk sarapan pagi ini. Gadis itu memilih untuk memasak nasi goreng ayam dengan telur mata sapi diatasnya untuk menghemat waktu.
“Masak apa lo?” tanya Chan yang sudah selesai membersihkan tubuhnya. Kini laki-laki itu sudah duduk di meja makan yang tersedia di sana.
“Yang jelas sih makanan yang bisa dimakan dan tidak mengandung sianida,” ucap Adhara dengan senyuman yang dipaksakan nya sambil melihat ke arah Chan. Chan hanya bisa memutar bola matanya tanpa menjawab ucapan Adhara.
“Nih makan,” ucap Adhara sambil menyodorkan piring berisi masakannya pada Chan.
“Udah kayak ibu tiri aja lo,” sarkas Chan pada Adhara yang kini malah memelototkan matanya mendengar ucapan Chan tersebut.
“Ogah banget gue nikah sama bokap lo, ganteng sih tapi songong banget,” ucap Adhara dengan wajahnya yang terlihat begitu kesal. Tentu saja ia masih merasa kesal dengan kejadian terakhir kali yang ia alami.
“Sama gue,” ucap Chan dengan tidak jelasnya. Adhara mengerutkan keningnya menimbulkan tanya pada kepala kecil gadis itu yang tidak mengerti dengan apa yang Chan ucapkan.
“Hah apanya sama lo?” tanya Adhara tidak mengerti dengan kerutan di dahinya. Adhara menyuapkan nasi goreng ke mulutnya masih dengan kening berkerut dan menatap Chan.
__ADS_1
Bukannya menjawab Chan hanya menggeleng dan segera menghabiskan makannya tanpa memperdulikan Adhara yang kini sudah menatapnya kesal.
“Dih apaan banget sih gak jelas,” ucap Adhara dengan wajah kesalnya memasukkan makannya dengan kesal sambil menatap tajam pada Chan.
“Cepet makannya udah siang tar telat,” ucap Chan yang sudah selesai dengan makannya. Laki-laki itu segera membawa piring kotornya ke wastafel untuk mencucinya setelah selesai ia memilih ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya dengan seragam.
Adhara segera menuju kamarnya untuk mengganti pakaian dengan tak hentinya menggerutu karena masih merasa begitu kesal dengan Chan.
“Sumpah ya itu sebenarnya mau apa sih tuh cowok,” gerutu Adhara dengan kesal.
Setelah selesai mengganti pakaiannya ia segera keluar, kini jam sudah menunjukkan pukul 06.15 tak ingin terlambat gadis itu segera berjalan menuju rak sepatu dan memakainya.
“Sama gue,” ucap Chan yang baru saja datang dan kini tengah menggunakan sepatunya.
“Lo dari tadi ngomong apa sih? Sama gue, sama gue mulu. Mau ngapain gue sama lo?” tanya Adhara dengan kesal. Kini gadis itu sudah menatap Chan dengan kesal. Siapa memangnya tidak kesal menghadapi Chan yang sedari tadi hanya mengatakan “Sama gue” tapi tidak tahu apa yang sebenarnya yang laki-laki itu maksud.
Dan kini Chan malah memutar bola matanya malas karena Adhara yang tidak mengerti apa yang dia maksud. Memang laki-laki itu sangat aneh dia yang salah dia yang marah.
“Berangkat,” ucap Chan datar. Adhara terdiam membiarkan otak kecilnya itu menyusun setiap ucapan yang keluar dari Chan yang begitu irit berbicara.
“Ngomong gitu aja ngangong nganggong lo, yang tegas dong cowok bukan?” sarkas Adhara dengan senyumannya sambil menyenggol lengan Chan yang kini hanya menatapnya tajam dan datar membuat Adhara menyengir.
“Lagian ya bicara itu gak bayar kenapa irit banget sih lo sama kata,” ucap Adhara dengan terselip pertanyaan di dalamnya.
“Suara gue mahal,” ucap Chan datar dan segera keluar lebih dulu dari Adhara yang kini masih terbengon di tempatnya mendengar jawaban Chan yang begitu narsis. Ia tak tahu jika orang seperti Chan yang begitu cuek dan dingin ternyata memiliki sisi narsis yang tinggi.
Setelah pintu tertutup Adhara malah tertawa dengan keras. Ia memang begitu receh bahkan pada hal kecil begitu ia sudah tertawa begitu keras.
Tak mau terlambat ke sekolahnya gadis itu memilih untuk segera berangkat karena jika terlalu siang ia takut tidak menemukan bus yang lewat, dan Adhara tak memiliki keinginan untuk berangkat bersama Chan dan menjadi gosip di sekolah lagi.
Adhara berjalan melewati mobil Chan membuat Chan menggeleng melihatnya dan segera mengikuti gadis itu yang berjalan menuju halte.
Saat Adhara duduk di halte Chan segera menghampirinya tanpa berniat untuk turun dari mobil.
“Ngapain lo di sana? Buruan naik,” perintah Chan pada Adhara yang kini menatap Chan malas.
“Gak, Gak tar malah gue jadi bahan gosip lagi di sekolah. Males banget gue nambah pahala gara-gara di ghibahi? Kasian juga masak gue bagi-bagi dosa ke mereka. Kan sayang dosa gue berkurang,” ucap Adhara melantur dengan mengerucutkan bibirnya sambil menggeleng.
__ADS_1
Chan benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran Adhara sebenarnya. Bagaimana gadis itu bisa berpikir sampai sejauh dan sekonyol itu? Sungguh Adhara itu gadis yang namanya sangat tidak cocok dengan perilakunya. Hanya namanya saja yang terlihat lembut dan kalem, berbeda dengan sikapnya yang lebih mirip medusa.
“Sakit lo,” ucap Chan sambil menggeleng. Merasa malas menanggapi Adhara terlalu lama dan takut tertular sikap Absurd gadis itu.
“Cari aman mending gue pergi sebelum ikutan stres juga,” lirih Chan yang sudah pergi melajukan mobilnya.
Adhara yang melihat hal tersebut mendengus kesal.
“Bener-bener gak ada maksa-maksa nya tuh orang, paksa kek siapa tahu gue cuma pura-pura nolak biar di kira jual mahal,” gerutu Adhara kesal.
Begitulah perempuan tidak ada yang tahu dengan apa yang sebenarnya ada di pikirannya. Pikiran cewek itu lebih sulit dari riddle.
***
Halo semua Happy New Year 2022 All.
Semoga impian yang belum terwujud di tahun 2021 bisa terwujud di tahun 2022 ini.
Tetap semangat ya apapun yang terjadi, di tahun ini harus bisa lebih kuat lagi. Kalian hebat bisa bertahan sejauh ini.
Ada pesan yang ingin di sampaikan untuk 2021 dan 2022? coba tulis dulu sini pesan dan harapan kalian.
Btw siapa nih yang udah nunggu Adhara bareng tiga cogannya?
Maaf ya baru bisa update sekarang.
Semoga kalian suka ya, maaf kalau feel kurang dapet dan masih ada typo.
Jangan lupa di tambahkan ke favorite, like, dan koment ya guys.
Follow ig aku ya @hilmiatulhasanah dan @wphilmiath
Stay healthy all.
Thank For Reading.
See You Next Chapter All.
__ADS_1