
Happy Reading All.
***
“Untuk apa membalaskan dendam pada orang yang salah? Orang yang gak tau apa-apa? Semua sudah takdir, gak ada yang salah di sini,” sebuah suara yang begitu familiar membuat ketiga orang tersebut langsung menoleh ke arah sumber suara.
“Trio bekicot,” ucap Adhara dengan matanya yang berbinar sambil melihat ke arah ketiga sahabatnya tersebut.
“Ahh gak seru, dramanya belum juga kelar. Masak kalian udah dateng aja,” ucap Adhara sambil mengerucutkan bibirnya. Karena merasa tontonnya sudah di ganggu.
“Kalian, gue gak nyangka kalian bisa secepat ini nemuin gue,” ucap Angkasa dengan senyuman sinisnya menatap pada ketiga laki-laki di depannya tersebut.
Tak lama dari itu tiga orang laki-laki berjalan menaiki tangga membuat, ketiga pangeran tersebut menoleh ke belakang. Sedangkan Angkasa tersenyum begitu sinis.
“Gak sulit nemuin penjahat kayak lo,” ucap Chan dengan tajamnya yang membuat Angkasa tertawa mendengarnya.
Adhara kini sudah memejamkan matanya merasakan pusing yang tiba-tiba menyerang. Luka di lehernya memang tidak dalam, tapi kini ia begitu lapar karena hanya makan saat pagi saja. Chan menoleh ke arah Adhara, memastikan gadis tersebut baik-baik saja. Namun saat melihat Adhara yang memejamkan matanya dengan lehernya yang berdarah Chan memelototkan matanya lalu menarik kerah baju Angkasa kasar.
“Apa yang lo lakuin sama Adhara?” bentak Chan dengan sorot matanya yang memancarkan permusuhan yang begitu kuat.
“Coba lo tanya sama iblis ini,” ucap Angkasa sambil mendorong Titania kedepan, membuat gadis tersebut terjatuh karena tak ada yang mau menolongnya.
“Gue gak sejahat lo Chan, gue gak mungkin ngelukain cewek,” ucap Angkasa sambil menghempaskan tangan Chan kasar.
“Kenapa lo selalu nyalahin gue? Yang milih buat bunuh diri itu Stella. Gak ada sangkut pautnya sama gue,” ucap Chan tegas yang malah di balas dengan senyuman sinis oleh Angkasa.
Kini kedua sahabatnya di belakang masih terdiam. Karena kini mereka juga dikepung oleh orang-orang Angkasa. Sudah ada enam orang yang datang dan mengepung mereka membuat mereka sulit untuk berkutik.
“Karena emang lo yang salah, lo yang gak bisa ngehargain dia. Bahkan saat dia malem-malem pergi dari rumah lo, lo gak peduli. Lo gak ngejar dia, sampai kejadian buruk menimpa dia karena lo yang gak ngejar dia, lo masih gak peduli,” ucap Angkasa dengan sendu, ia masih merasakan kehilangan atas gadis yang ia anggap sebagai adiknya tersebut.
“Gak perlu mempermasalahkan yang sudah berlalu, bahkan saat itu lo juga salah. Harusnya lo yang udah tau dia bakal ke rumah Chan, harusnya lo ngikutin dia bukannya ngebiarin dia pergi sendiri,” ucap Antariksa menengahi. Sebagai seorang kakak, tentu ia merasa begitu kehilangan. Namun ia juga tak bisa menyalahkan siapapun, karena ini juga salahnya yang tidak bisa menjaga adiknya dengan baik.
__ADS_1
“Lo mungkin biasa, tapi gue enggak. Gue udah nganggep dia adik gue sendiri,” ucap Angkasa yang membuat Antariksa tersenyum dengan begitu sinis.
“Gue kakaknya,” ucap Antariksa yang tak mau kalah. Lagi pula ia ingin semua orang bisa mengikhlaskan adiknya itu.
“Kita harus mengikhlaskan Stella, karena dia gak mungkin bisa tenang kalau kita masih aja ribut,” ucap Antariksa berusaha untuk mendinginkan suasana. Agar tak akan ada yang terluka.
“Yang gue mau tetap sama, nyawa dibalas dengan nyawa,” ucap Angkasa lalu memerintahkan anak buahnya untuk menyerang ketiga laki-laki tersebut.
Titania yang melihat kekacauan tersebut segera berdiri dan hendak membantu ketiga pangeran tersebut, karena bagaimanapun ia juga terlibat dalam pertengkaran ini. Titania baru saja hendak mengambil pisaunya tiba-tiba Angkasa datang dan mengambilnya lebih dulu.
“Jangan ikut campur kalau gak mau kenapa-napa,” ucap Angkasa dengan tajam yang membuat Titania tersenyum dengan sinis lalu menendang junior Angkasa keras membuat laki-laki itu memekik ke sakitan.
“Sialan lo Titania,” maki Angkasa yang tidak Titania hiraukan. Gadis tersebut segera berjalan ke arah pojok ruangan, saat melihat balok kayu yang ada di sana. Gadis tersebut segera mengambilnya dan memukul orang yang menyerang Chan.
“Thanks,” ucap Chan yang di balas dengan anggukan oleh Titania. Setelahnya gadis itu mulai ikut memukuli anak buah Angkasa yang menyerang mereka dengan balok kayu yang dibawanya.
Chan melihat ke arah Adhara yang masih setia memejamkan matanya, segera berjalan ke arah gadis tersebut untuk melepaskan ikatan Adhara.
Setelahnya Chan melepaskan pelukannya dan hendak melepaskan ikatan tangan Adhara. Setelahnya laki-laki melepaskan ikatan di kaki Adhara, namun belum sempat ia melepaskannya Angkasa sudah berada di belakang laki-laki tersebut dan mengarahkan pisau yang di bawahnya pada Chan.
“Chan awas,” ucap Adhara dengan wajah takutnya, belum sempat Adhara melanjutkan ucapannya darah segar mengalir di depannya. Adhara menatap ke arah atas, melihat siapa yang terkena tusukan tersebut.
Chan menoleh kebelakangnya dengan terbenging melihat sahabatnya yang kini sudah tertusuk di bagian perut sebelah kanan.
“Antariksa,” gumam Chan yang di balas dengan senyuman oleh sahabatnya itu.
“Gue gak papa,” ucap Antariksa sambil tersenyum meyakinkan pada sahabatnya tersebut. Angkasa yang melihat jika bukan Chan yang tertusuk melainkan sepupunya hanya bisa tercengang karena terkejut.
“Apapun yang terjadi gue tetep sayang sama lo Ra, lo cinta pertama gue. Entah akan tetap menjadi yang pertama atau malah nambah predikat jadi cinta pertama dan terakhir,” ucap Antariksa dengan senyumannya. Bahkan di saat seperti ini laki-laki tersebut masih sempat menyatakan perasaannya.
“Chan bantu dia,” ucap Adhara pada Chan dengan air matanya yang sudah tidak bisa dibendung lagi.
__ADS_1
“Jangan peduliin gue, gue gak papa,” ucap Antariksa lalu kini tatapannya kembali pada Angkasa yang memundurkan langkahnya.
“Lo emang sepupu gue, tapi gue gak suka kalau sampai ada yang berani melukai sahabat atau orang yang gue sayang,” ucap Antariksa dengan senyuman evilnya.
“Karena lo yang gak dengerin omongan gue, jadi jangan salahin gue yang udah gak sungkan sama lo,” ucap Antariksa lalu mencabut pisaunya dari perutnya membuat laki-laki tersebut memuntahkan darah dari mulutnya.
“Harusnya lo gak ngelindungi dia Antariksa. Setelah ini dendam kita bakalan terbalas, Chan bakalan nemenin Stella di sana,” ucap Angkasa dengan membentak pada Antariksa. Karena bagaimanapun Antariksa adalah sepupunya dan ia tak pernah membenci laki-laki itu. Antariksa yang sudah mulai di lingkupi amarah, malah menyerang Angkasa.
Arche dan Titania kini masih melawan penjahat yang tersisa. Sedangkan Chan membantu Adhara melepaskan ikatannya. Hanya tersisa dua penjahat yang masih tersisa, dan entah bagaimana kedua orang tersebut kini malah begitu kompak.
Hingga suara seseorang yang terjatuh membuat mereka kompak mengalihkan tatapannya dari sumber suara. Membuat ketegangan di antara mereka terlihat dengan begitu jelas.
***
Hai Semua balik lagi nih sama aku.
Mulai sekarang aku update nya 1k kata perhari ya, karena cerita ini juga udah mau taman nih.
Semoga kalian suka ya, maaf kalau feel kurang dapet dan masih ada typo
Jangan lupa di tambahkan ke favorite, like, dan koment ya guys.
Follow ig aku ya @hilmiatulhasanah dan @wphilmiath
Tim Interaksi udah aku aktifkan nih, yuk guys join.
Stay healthy all.
Thank For Reading all.
See You Next Chapter All.
__ADS_1