Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
Jangan-jangan


__ADS_3

Keesokan paginya di hari sabtu yang cerah, seperti biasa Yohan pergi ke pasar induk dan Retno baru saja meminjam motor matic Nancy untuk belanja ke pasar depan.


Sementara Nancy giliran jaga toko sampai nanti papanya pulang nanti.


Tak lama Retno kembali dari pasar membawa cukup banyak belanjaan seperti daging dan sayuran. Dia langsung menuju dapur rumahnya Nancy dan berkutat di sana.


Sambil sesekali terdengar teriakan dari arah dapur diatas ada yang minta garam, kecap dan beberapa bumbu dapur lain.


Untung yang diminta ada semua di toko kami.


Lucu sekali membayangkan orang masak tapi di dapur tidak ada bumbu apapun.


Biasanya papa kembali setelah jam 12 siang, tapi sekarang tumben baru jam 11 lewat sudah kembali dengan barang bawaan di bak belakang mobil.


Setelah dibantu Wawan beres-beres, papa segera naik ke atas untuk mandi.


Dan tak lama papa memanggil Nancy ke atas, sementara toko dijaga wawan.


Sampai di atas wah..ternyata makan siang sudah tersedia di meja makan.


Luar biasa, ada cap cay, ayam goreng kremes, serta oseng tempe.


Tak kuasa Nancy menahan air liurnya, langsung mereka duduk bertiga dan segera makan siang.


Masakan Retno ternyata enak sekali, sudah lama sekali Nancy dan papanya merindukan masakan rumahan seperti ini.


Bahagia sekali hati mereka saat itu.


Diam-diam sambil mengunyah makanannya, sesekali Yohan mencuri pandang ke arah Retno.


Nancy pura-pura tidak tahu, padahal dalam hatinya cekikikan menertawakan tingkah papanya.


Pasti dalam hati papanya ada rasa kagum sama ibu Retno, yang sudah pandai, cantik, sederhana, supel dan ternyata cekatan juga pandai memasak.


Sore harinya Nancy di telepon oleh Lena, dia mengajaknya ke bukit untuk menginap di Villa keluarganya Lena.


Awalnya Nancy ragu-ragu takut dilarang oleh papanya.


Tapi entah mengapa mood papanya sedang baik sehingga dia diijinkan berangkat.


Dan menjelang malam, Lena dan Bram menjemputnya naik mobil milik Bram.


Ternyata bukan hanya mereka bertiga di dalam mobil sudah ada teman lainnya dan juga ada satu mobil lain milik teman Bram dibelakang mobil mereka.


Bahagianya Nancy diijinkan oleh papanya untuk menginap bersama teman-temannya di Villa di bukit.


Lumayan untuk melepas segala penat tentang perkuliahan.


Yohan sendiri di rumah, Nanan pergi menginap di Villa temannya.


Daripada bosan dia turun ke bawah bermaksud mau berkumpul dengan bapak-bapak di pos kamling.


Baru saja menutup pintu, tiba-tiba terdengar ada yang memanggil dari belakangnya.


"Pak Yohan, apakah Nanan ada di rumah?" tanya Retno.


"Oh tidak ada bu, sejam lalu dia dijemput teman-temannya mau menginap di Villa keluarganya Lena sahabatnya".


"Wah sayang yah, saya kira ada di rumah".


Yohan mengernyitkan dahinya, lalu bertanya ," Memang ada apa bu, ada yang bisa saya bantu?".


Sambil tersenyum lalu Retno menjelaskan kalau dia barusan diajak nonton film action terbaru yang memang sedang booming oleh teman-teman dosennya.


Karena dikiranya ada Nancy maka langsung pesan 2 tiket.


Sayang tiketnya sudah dibeli dan tidak bisa dibatalkan.


Sementara teman-temannya sudah menunggu di gedung bioskop yang tidak jauh di mall yang dekat kampus.


Lalu Retno membalikan badan untuk menuju mobilnya, tapi tiba-tiba menghentikan langkahnya dan kembali membalikan badan menuju Yohan yang masih berdiri di pintu.


" Pak Yohan, sudah bapak saja yuk yang gantikan Nanan".


Langsung Yohan gelagapan mencoba menolak dan berusaha mencari alasan.


" Sudah hayuk, cepat tukar pakaian sana, saya tunggu di mobil, soalnya setengah jam lagi filmnya dimulai".


Retno memberikan kunci mobilnya kepada Yohan.

__ADS_1


Lalu dengan cepat sambil membalikkan badannya lagi menuju mobil.


Yohan masih merasa tidak percaya dan bingung serasa ditimpa rejeki nomplok dari langit.


Bergegas dia ke atas tukar pakaian, ambil dompet dan langsung ke bawah menuju mobilnya bu Retno.


Mobil melaju dengan kecepatan cukup tinggi karena khawatir terlambat tapi tetap hati-hati dalam mengemudi.


Setibanya di Mall, untung mereka segera mendapatkan tempat parkir.


Setelah itu bergegas menuju bioskop yang ternyata sudah ada pemberitahuan kalau studio yang akan mereka tempati menonton akan segera dimulai.


Beruntung ketika masuk masih memutar iklan, sehingga tidak terlambat menonton.


Filmnya sangat menarik, action dari aktor barat yang terkenal memang memukau.


Katanya sih tidak memakai stuntman di setiap aktingnya.


Dari awal main sampai film berakhir, Yohan tidak konsentrasi menonton karena jantungnya berdebar-debar.


Sudah 17 tahun lamanya tidak pernah berdampingan dengan wanita selain anaknya sendiri.


Rasanya antara ingin cepat berakhir filmnya karena tidak kuat menahan deburan jantungnya, namun juga merasa bahagia bersebelahan dengan wanita yang sesekali tercium wangi parfumnya saat wanita itu bergerak.


Sungguh dia tergoda, benteng es yang selama ini kokoh berdiri, sedikit demi sedikit mencair.


Akhirnya filmnya usai juga, dan penonton mulai bubar satu persatu.


Retno ijin ke toilet bersama temannya dan Yohan juga harus ke toilet pria.


Keluar dari toilet rupanya Retno belum ada, sehingga Yohan menunggu di lobby bioskop sambil melihat -lihat poster film yang akan segera tayang.


Tak lama Retno muncul dengan teman- teman mengajarnya.


Lalu kami berpisah di depan pintu utama bioskop, namun sebelum berpisah salah satu temannya yang bertubuh gemuk berteriak ke arah mereka.


"Bu Neno.. awas yah nanti Senin harus cerita yah... abis ini pulang.. jangan kemana-mana lagi!!!".


Dan Retno hanya membalasnya dengan mengangguk-anggukan kepalanya sambil tertawa.


Sepanjang jalan pulang mereka tidak bersuara, hanya saling diam.


Entah mau bicara apa, yang ada dalam hati ini sangat bahagia menikmati kencan mendadak seperti ini.


Namun hari ini tidak ada Nanan, sehingga Yohan merasa tidak mungkin bisa bareng Retno.


Jadi pagi itu setelah bersiap, dia memanaskan motor matic yang biasa dibawa Nanan.


Selagi memanaskan motor, terlihat Retno keluar dari kamarnya dan sudah berdandan rapih juga karena sama akan beribadah.


Dia tampak melihat Yohan dan menghampirinya.


"Pak Yohan, Nanan belum kembali?" tanyanya.


Yohan menggelengkan kepala pertanda bahwa Nanan belum kembali.


Lalu dia semakin dekat menghampiri Yohan dan seraya bertanya lagi," Akan ke tempat ibadah juga kan pak?" tanyanya lagi.


Dan seakan kelu lidahnya, sulit mengeluarkan suara hanya bisa mengangguk.


Sumpah jantungnya serasa copot, karena pagi ini Retno tampak anggun sekali menggunakan rok jeans panjang dan atasan bunga-bunga pink.


Tubuh Yohan berasa gemetar, badannya dingin kaku sulit bergerak bahkan tidak bisa mengeluarkan kata sekalipun.


"Oh, pak Yohan naik motor, hmmm, kalau saya ikut di motor bapak saja boleh tidak?" tanyanya lagi pada Yohan.


"Aaa...eee...boleh saja sih, tapi kan nanti siang panas loh bu kalau naik motor, banyak debu pula," kata Yohan padanya.


"Kalau begitu, ini kunci mobil saya. Yuk bareng saja naik mobil saya," katanya ringan sambil memberikan kunci mobilnya pada Yohan.


Selaksa anak kambing yang dicucuk hidung, akhirnya dia ikut dan mengemudikan mobilnya menuju rumah ibadah bersama.


" Pak Yohan tunggu pak... !" tiba-tiba ada yang memanggil Yohan dari belakang saat hendak menuju mobil.


Dan benar dugaannya, pasti pak Roby dan tak ayal lagi langsung menanyakan status hubungan Yohan dengan Retno.


"Teman saja pak, sudah seperti saudara," kata Yohan padanya.


Tapi dia tak percaya dan tetap saja berusaha menggoda Yohan.

__ADS_1


"Udah cepetan sahkan, mau tunggu kapan lagi bro," katanya sambil menepuk bahu Yohan.


Dan aku hanya bisa tersenyum sambil mengangguk-angguk tak jelas


"Ini kita langsung pulang atau mau kemana lagi? " tanya Yohan pada Retno ketika pulang beribadah.


Dan Retno menggelengkan kepalanya,


" Tidak tahu terserah pak Yohan saja".


"Kalau mau pulang boleh nanti saya masak karena kemarin masih ada sisa bahan untuk di masak atau kalau mau makan kemana tidak apa-apa, nanti sore saja saya masak sekalian untuk Nanan ".


Yohan diam sebentar lalu menatap Retno sambil berkata,


" kita makan masakan sunda sambel lalab yuk, di saung kuring. Disana ada ikan gurame bakarnya enak sekali".


Dan Retnopun mengiyakan setuju sekali makan dengan masakan sunda.


Di perjalanan mereka mencoba saling mengajak ngobrol, pembicaraan seputar makanan dan juga apa yang ada di sepanjang jalan.


Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam akhirnya mereka tiba di saung kuring, yaitu rumah makan sunda yang tempat duduknya lesehan di saung-saung yang berjajar di pinggir kolam ikan besar di rumah makan tersebut.


Suasana rumah makan cukup ramai, dan beruntung mereka mendapatkan saung yang ukurannya kecil tapi cukup untuk berdua.


Pesanan mereka adalah ikan bakar, tahu dan tempe bacem juga sambal, lalaban dan dua es jeruk segar.


Pemandangan di rumah makan cukup indah, kolam ikan besar penuh dengan hiasan dari bebatuan dan juga ada gemericik air pancuran.


Serasa berada di pedesaan ditambah semilir angin sepoi-sepoi menambah keindahan suasana di siang itu.


Sambil menunggu pesanan datang, akhirnya mereka saling curhat karena terbawa suasana.


Yohan bercerita tentang almarhumah istrinya juga asal-usulnya.


"Ayah saya orang keturunan tionghoa sementara ibu saya orang pribumi asal Tasikmalaya," Yohan menceritakan tentang dirinya.


Lalu bercerita juga tentang bagaimana kehidupannya dengan Nancy selama ini.


Retno mendengarkan ceritanya dan sangat bersimpati kepada kepada Yohan.


Kemudian dia juga bercerita kepada Yohan bahwa pernah dia juga pernah hampir menikah namun ditinggalkan begitu saja menjelang 2 minggu sebelum hari H.


"Kalau boleh saya jujur, ini baru pertama kali lagi saya jalan sama perempuan setelah istri saya meninggal 17 tahun yang lalu," kata Yohan sambil menatap Retno.


"Maaf yah, saya minta tolong jangan panggil pak Yohan lagi.. kita kan sudah dekat, panggil saja saya mas atau koko," ujar Yohan lagi memberanikan diri kepada Retno.


Dan seperti biasa Retno selalu senyum dan balas berkata,


"Kalau begitu jangan panggil saya ibu Retno juga dong, karena saya lebih muda sedikit jadi panggil nama saya saja yah".


Dan akhirnya mereka saling tersenyum sepakat untuk saling memanggil dengan panggilan yang lebih akrab.


" Wah akhirnya sampai juga, makasih yah Lena...makasih Bram... kapan-kapan ajak aku lagi yah barbeque an lagi yah...," kata Nancy sambil siap-siap turun dari mobilnya Bram.


"Oke siap Nan, pastilah kita akan agendakan yah Bram sayang, sebulan sekali," kata Lena kepada pacarnya dan Bram pun menyetujuinya.


Setelah diperiksa sudah tidak ada barang-barangnya yang tertinggal lagi, diapun turun dari mobil sambil melambaikan tangan kepada Lena dan Bram. Dan mobil melaju meninggalkan rumah Nancy.


Hari sudah menjelang sore saat itu, diapun melangkah masuk ke pekarangan pinggir toko menuju pintu belakang rumah.


Terlihat kamar-kamar kost tampak sunyi begitu juga kamar Retno.


Tapi mobilnya sih ada, mungkin sedang istirahat pikir Nancy.


Dibukanya pintu rumah lalu ditutupnya dari dalam, saat berbalik menuju tangga sempat kaget ada sepasang sendal wanita.


Pelan- pelan dia naik ke atas, dan terpana melihat ada pria dan wanita yang sedang bercengkrama sambil tertawa-tawa di dapur rumahnya.


Lalu disapanya mereka dan terkejutlah mereka karena Nancy tiba- tiba datang tanpa terdengar suara sebelumnya.


Lalu Nancy menyimpan tas, dan bergegas ke kamar mandi untuk mencuci mukanya.


Dari luar pintu kamar mandi yang memang bersebelahan dengan dapur terdengar sesuatu yang membuatnya tambah kaget.


" Mas Yo, cobain dong ini supnya udah enak belum?".


" Hmmm ...enak kok, masakan Neno enak loh, yang kemarin siang kamu masak juga enak sekali".


"Ah masa sih, mas Yo bisa saja deh".

__ADS_1


Wadidaw ada apakah gerangan... Mas Yo.... Neno... kamu....waduh...mereka...


jangan- jangan.....????


__ADS_2