
Buuuuk. Kepalan tangan menghatam wajah seseorang.
Davin hampir tersungkur dilantai karena tinju yang keras dari adiknya, untung saja tangannya memegang pada pagar balkon saat tubuhnya terhuyung. Kemarahan masih menyulut di mata adiknya. Nolan masih menatap tajam ke arah Davin. Tangannya masih mengepal seolah ingin melakukan lagi hal yang sama.
Davin menatap adiknya sambil terus memeganggi ujung bibirnya yang nampak berdarah.
“Puas! Pukuli saja kakakmu karena wanita itu!”
Nolan mencengkeram lagi kemeja Davin mendengar perkataan kasarnya yang seolah tidak ada penyesalan meninggalkan Abel. Tangannya bersiap mengepal kembali ingin meninju wajah kakaknya, tapi tangannya mendadak kaku melihat kakaknya yang hanya diam tanpa melakukan perlawanan.
“Nolan apa yang kau lakukan!” suara Amar tiba-tiba muncul, menghentikan ketegangan Kakak beradik ini.
Amar berpostur tinggi besar dengan kasar menyikirkan tangan Nolan yang mencengkeram kemeja Davin. Melakukan tugasnya yang juga harus selalu melindungi Davin. Amar mengamati wajah Davin yang terlihat ada percikan darah dari sudut bibirnya.
Amar mencengkeram kemeja Nolan geram. “Kenapa kau melukai kakakmu yang tidak bisa melihat kau tersakiti.”
“Amar! Lepaskan Nolan.” Titah Davin. Dengan cepat Amar melepas kasar Nolan, menyingkirkan tubuhnya hingga akan roboh.
“Ada apa ini, kenapa rumah ini seperti akan runtuh saja, kenapa kalian berdua bertengkar seperti anak-anak!” seru Pak hendrawan yang muncul tiba-tiba.
Nolan langsung pergi menuruni tangga tanpa memperdulikan Papanya. Pak Hendrawan menghela nafas panjang melihat kelakuan anak-anaknya.
"Davin kau tidak apa-apa?" tanya Pak Hendrawan.
"Aku baik-baik saja Pa, aku akan berangkat ke kantor sekarang, setelah itu langsung ke WPH ada rapat penting."
"Rapat dengan Ervin 'kan." Ujar pak Hendrawan tersenyum senang.
"Ya, membahas perpanjangan kontrak kerja untuk pembukaan lahan baru mereka." Balas Davin.
"Nak, berbaik-baiklah pada calon mertuamu, besok kita akan makan malam bersama dan membahas lebih lanjut hubunganmu dengan Kayla."
"Terserah Papa...." Davin langsung menuruni tangga meninggalkan Papanya, disusul asistennya yang mengekor di belakangnya.
*****
Di perjalanan, pagi ini di atas motor, Nolan masih memikirkan apa yang sedang terjadi. Semenjak Davin memutuskan menerima Perjodohan dengan Kayla, hubungannya dengan kakaknya seolah sangat renggang. Nolan merasa kakaknya bukanlah Davin yang Ia kenal.
Nolan merasa ada sesuatu yang di sembunyikan Davin darinya. Hubungannya dengan kakaknya menjadi kacau. Tidak ada kedekatan, saling berbagi cerita ataupun bercanda bersama seperti sebelumnya. Davin tiba-tiba menjadi br*ngs*k di hadapannya yang membuatnya kesal. Ia memang mencintai Abel, tapi ia lebih rela jika Abel bahagia tak bersamanya, tapi bahagia dengan orang lain yang membuatnya bahagia.
Disisi lain Nolan merasa bersalah, tapi di satu sisi ia merasa melakukan hal yang benar pada orang yang salah. Entahlah perasaannya sangat kacau sekarang. Ia tidak bisa membenci Davin orang yang disayanginya karena seseorang wanita.
Ia teringat ucapan Amar, memang benar selama ini Bang Davin tidak pernah menyakiti atau membiarkannya terluka. Kenapa aku tadi emosi dan melukainya, bodoh sekali. Begitu yang ada dipikiran Nolan sambil terus melajukan kendaannya bertemankan penyesalan.
Sementara dibelahan kota yang lain, Davin dalam mobil menuju perusahaan WPH. Tangan kanannya mengompres pipinya yang sedikit memar dengan ice gel, rahang Davin sedikit membiru akibat tinju dari adiknya.
__ADS_1
"Amar, apa sudah terlihat samar-samar," ujar Davin menunjukkan pipi pada asistennya.
"Sudah terlihat lebih baik Pak, harusnya tadi Anda biarkan saya memberi pelajaran pada Adikmu jika Anda tidak tega membalas."
"Amar sudahlah, jika aku jadi Nolan aku pasti melakukan hal yang sama." Balas Davin.
"Anda selalu membela adikmu Pak, meskipun dia sudah bertindak kurang ajar."
"Dia masih labil dan gampang terbawa emosi," seru Davin.
Tanpa terasa keduanya kini sudah tiba di halaman kantor WPH.
*****
Dirumah Ervan, Abel dan Miranda sudah bersiap menuju kantor. Semalam Miranda menginap di rumah Ervan. Abel memakai blouse warna salem serta kerudung pashmina bunga. Sebelumnya dia juga sudah meminta ijin untuk tidak masuk magang lagi hari ini.
Sebenarnya pikiran Abel masih kalut, tapi dia menguatkan diri untuk pergi ke kantor WPH memenuhi janjinya dengan Miranda. Terlebih rapat ini adalah keputusan pertamanya untuk perusahaan. Setelah dirinya resmi menerima peralihan haknya sebagai pemilik perusahaan yang dikelola Miranda.
Berpamitan kepada kedua orangtuanya, Abel dan Miranda masuk ke dalam satu mobil jemputan dari Kantor. Diperjalanan hanya ada kebisuan, Abel hanya melihat ke arah luar jendela.
Miranda yang memperhatikan keponakannya merasa heran. Dampak patah hati sangat nampak terlihat pada perubahan sikap keponakannya. Abel yang cerewet dan suka berargumentasi asal mendadak jadi pendiam dan pemurung.
"Abel, kamu masih mikirin Davin." Kata Miranda memecah keheningan.
"Abel dengar ya, kamu itu cantik, kaya, pinter, rajin beribadah. Kenapa masih sibuk mikirin laki-laki yang suka mempermainkan perasaan wanita seperti Davin," tutur Miranda.
Abel Hanya mengangguk mengiyakan ucapan Miranda. Mungkin Tante, Mama, dan Papa berpikir demikian tapi tidak untuk Abel. Davin adalah cinta pertama, tempat dia mengenal rasanya dicintai lawan jenis. Tempat dia menintipkan harapan menjalani cinta hingga ke menuju jalan yang halal. Meskipun semuanya harus pupus tiba-tiba di luar pemikirannya.
Air mata mengenang lagi di pelupuk mata Abel, dia juga tidak tahu kenapa menjadi serapuh ini. Dengan cepat Abel menghapus air matanya berusaha tegar di hadapan Miranda.
Mobil mereka sudah memasuki perkantoran WPH. Keduanya bergegas turun dari mobil.
"Tante, jam berapa rapatnya mulai?" tanya Abel.
"Mungkin setengah sampai satu jam lagi," balas Miranda.
"Tante duluan aja nanti Abel nyusul, Abel mau nemuin teman sebentar," pinta Abel. Miranda pun mengiyakan dan berjalan terlebih dahulu memasuki gedung.
Abel menuju pintu masuk yang sama dan arah yang berbeda ingin menemui Rena sahabatnya sejenak. Abel mengunakan lift yang biasa digunakan karyawan bukan lift khusus seperti yang digunakan Miranda.
Abel menyusuri perkantoran hingga menemukan ruang kerja Rena. Tapi dia kecewa Rena tidak ada diruang fotokopi. Dia berbalik, Abel berpikir akan menemui Rena nanti setelah rapat mungkin sekarang dia masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Ibu Abelia, kenapa anda di lift ini, pakailah lift yang sebelah sana." Seru seseorang laki-laki yang adalah Asisten Ervin melihat Abel mengantri didepan lift. Ia tahu siapa Abel sebenarnya sehingga ia mengarahkan Abel mengunakan lift khusus petinggi perusahaan.
Abel hanya mengikuti saja perintah dan langkah laki-laki yang tak dikenalnya ini.
__ADS_1
"Anda akan ke ruang rapat kan, sebaliknya Anda beristirahat dulu di ruang khusus. Rapat belum dimulai." Kata orang itu memencet tombol lift mempersilahkan Abel masuk.
Abel pun lagi-lagi mengikuti arahan masuk sendiri ke dalam lift. Pintu lift mulai menutup separuh. Tiba-tiba terbuka lagi.
"Pak Adiguna, anda akan ke ruang rapat masuklah di lift ini bersama petinggi kami." Kata lelaki itu sopan mempersilahkan Davin dan asistennya masuk.
Abel yang menunduk memainkan ponsel dipojokkan lift, merasa mencium aroma wangi seseorang yang sangat dikenalnya berkutat dalam ruangan lift yang berukuran 2x2 meter ini.
Aroma tubuh ini yang sangat dirindukan Abel, lagi-lagi wangi tubuh ini membuat jantungnya berdegup kencang meskipun itu mungkin sudah tidak berarti lagi untuk pemiliknya.
Abel mendongak menatap punggung laki-laki yang berdiri tegap dihadapannya.
"Bang Davin...." Suara Abel seolah tidak peduli dengan apa yang terjadi dan rasa sakitnya. Ia hanya ingin melihat Davin untuk mengobati rindunya.
Davin berhenti berbicara dengan Amar mendengar suara seseorang yang sangat di kenalnya memanggil dari belakang. Davin berpikir apakah dirinya berhalusinasi? ia tak memperhatikan ada orang lain dalam lift.
Davin menoleh ke belakang mencari sumber suara. Semua organ tubuhnya terasa kaku ketika matanya bertemu dengan seseorang yang sangat dirindukannya juga.
.
.
.
.
.
Next......
Zen : Baru ketemu di lift belum ketemu di rapat, lanjut thor plisss plisss plisss🤗🤗🤗
Thor : Ya sabar gua Lanjut lagi🙄🙄🙄
Zen : yang panjang Thor plisss plisss plisss 😍😍😍
Thor : Naskah gua udah panjang tiap Up, hitung kalo nggak percaya, kalau kurang 1250 kata jitak kepala gua😒😒😒
Zen : kurang kerjaan amat gua thor hitung naskah elu, serah elu deh Thor nih hari ya pliss plisss plisss 😁😁😁
Thor : Ho'oh, sekarang review dari MT juga lama bisa sehari lebih.🙄🙄🙄
Terima kasih udah sabar dan setia nunggu Up dari author.🙏🙏🙏
Beri semangat author pencet LIKE ketik KOMENT yang punya poin bisa bagi VOTE seikhlas kalian. Loph U ❤️
__ADS_1