
Saya enggak tahu mau ngomong bagaimana lagi. Aline benar-benar tipe wanita yang terlalu jujur mengungkapkan perasaan. Ya, tanpa rasa malu-malu sama sekali. Catat ya!
Wanita itu sama sekali enggak keberatan dengan perjodohan ini. Saya hampir kehilangan cara membuat dia frustasi dengan perjodohan ini. Tapi nyatanya, dia jadi semakin galak dan berambisi untuk bisa bersama saya.
Saya jadi berpikir, apa mungkin wanita secantik Aline tidak laku? Saat melihat saya seperti tidak pernah melihat orang ganteng saja. Dia bernafsu sekali mau menikah dengan saya tanpa basa-basi.
Tapi saya sudah punya rencana dengan membuat perjanjian pranikah, mungkin dengan seperti, kita lihat saja nanti siapa yang akan bertahan. Welcome to the world dalam permainan saya manusia berisik.
Saya juga tak habis pikir, apa motivasi mama sama Papa memilih Aline jadi calon menantunya. Apakah cukup hanya kecantikan luar yang membuat mereka yakin bahwa Aline lah jodoh terbaik saya.
Di perjalanan pulang kali ini saya memilih fokus menyetir dan memilih diam. Sebenarnya dalam hati saya lagi berdemo mau berteriak protes dengan keputusan Papa sama Mama.
Tapi Papa sama Mama maish enjoy saja tanpa dosa. Mereka berdua seolah tak memikirkan saya yang sedang gundah gulana. Sebagai anak yang berbakti saya cuma bisa menuruti yang menurut mereka terbaik.
"Giman Aline menurut kamu Raf," papa akhirnya buka suara sambil senyum-senyum ke arahku tanpa beban dan dosa.
"Kenapa harus Aline Pa," saya buka suara karena tak tahan, daripada jadi angin di bawah sana, bisa membuat polusi udara di dalam mobil.
"Kenapa memenangnya Raff, Aline baik, cantik dan pemalu."
Perkataan mama membuat asam lambung saya kambuh. Mama kayaknya udah kena guna-guna Aline nih, tarik kembali kata pemalunya Ma.
"Ma, bukannya Raffa mau menyudutkan calon pilihan Mama Papa, tapi Aline sama sekali bukan tipe aku Ma," protes saya lagi.
"Aline baik, cantik, pintar, kamu cari yang bagaimana Raf, Papa cuma mau kamu nikahnya sama Aline!" Papa ngomong agak keras kali ini.
"Ya Pa Raffa tahu, tapi Raffa lebih suka wanita yang lemah lembut dan sholehah Pa," saya ikut bicara keras juga kali ini.
"Raff, itulah alasan Mama sama Papa jodohkan kamu dengan Aline."
Saya masih mencerna perkataan mama, kenapa mama juga jadi berubah pilihan.
"Maksud Mama gimana nih," tanya saya lagi.
"Raffa menikah dengan wanita Sholehah memang impian setiap orang. Tapi menikah dan merubah wanita menjadi Sholehah adalah ladang pahala buat kamu Raf," ucap Mama.
"Ya namanya aku harus kerja double dong Ma," jawan saya masih tidak sependapat dengan alasan Mama.
"Raffa, menuntun istri ke jalan Allah memang tugas seorang suami, tapi membantu seseorang kembali ke jalan Allah, memberinya kasih sayang, membuat seseorang merasa di lindungi, membimbing dan membuat mereka cintai adalah jariyah yang luar biasa untuk kamu. Apalagi untuk istri sendiri, kamu akan jadi suami yang panen pahala nantinya," tausyiah dari mama Didih.
__ADS_1
"Ya Ma Raffa ngerti, tapi masalahnya
...." Saya enggak melanjutkan perkataan saya, pasti mereka punya pasal lagi untuk melawan argumen saya.
"Raf, Aline itu nggak pernah pacaran sama sekali dan mengenal laki-laki. Meskipun dia pernah tinggal di negara yang bebas, dia bisa menjaga diri dengan baik dengan produktif menjadi penulis desain interior. Dia sama sekali tidak terpengaruh dengan pergaulan di sana. Selain itu dia juga gadis yang penurut. Mungkin saja memang dia tidak terlalu sopan karena terbawa kebiasaan dari Prancis." Lanjut Papa membanggakan wanita jadi-jadian itu.
Saya hanya hanya manggut-manggut saja.
"Papa yakin kamu akan jadi suami yang baik untuk Aline Raff, Aline pun juga akan jadi istri yang baik untuk kamu," papa menepuk pundak saya. Kalau posisi begini bisa tukaran dengan Raydan enggak sih.
Mungkin apa yang di jelaskan papa benar, tapi saya hanya ketemu Aline versi dewasa semalam, tentu saja saya belum memahami karakter Aline yang seindah di jelaskan suami Mama Didih.
Mobil sampai di depan rumah, saatnya saya berisitirahat dan merenungi masa depan saya yang masih abu-abu ini.
...****************...
Efek perjodohan saya dengan Aline membawa dampak sedikit negatif buat saya. Seperti siang ini, dikantor saja saya merasa jadi kepikiran. Apalagi waktu saya melihat Alesa, apakah harapan saya bisa menjadikan wanita lemah lembut itu istri akan pupus. Digantikan wanita jadi-jadian seperti Aline.
Saya menggelengkan kepala meratapi nasib menjadi anak yang berbakti pada orang tua.
"Permisi, siang Pak!" suara wanita penyejuk kalbu saya dari layar meja.
"Mau ijin masuk, kasih data laporan Pak," jawab Alesa.
"Masuk saja," saya menyentuh tombol buka pintu.
Wanita pujaan saya muncul dari balik pintu dengan senyumnya yang selalu meluluh lantahkan hati saya.
"Ini Pak laporan yang saya kirim ke dereksi untuk pertimbangan rapat, bapak silahkan periksa dulu." Alesa menyerahkan iPad 14 inci pada saya.
"Nggak usah seformal itu, kita lagi berdua."
"Nggak enak Mas, kita masih di kantor," jawabnya dengan senyum malu-malu menutup mulutnya.
"Nanti siang kita makan bareng ya, tunggu saja saya di bawah," seru saya. Alesa mengangguk dengan gaya anggunnya. Bertemu dengan Alesa membuat hati saya adem tanpa perlu di kulkas.
Saya dan Alesa memang sering menghabiskan waktu bersama seperti makan siang, mengantarkan dia pulang. Kadang kalau saya lagi manja, saya minta dia menemani saya untuk rapat. Tapi sayangnya sampai saat ini saya belum mengungkapkan perasaan cinta saya pada Alesa, saya menunggu waktu yang tepat langsung melamar dia. Maklum sob! Saya maunya langsung seret saja Alesa ke KUA.
Tapi harapan saya seperti diujung tanduk setelah negara api menyerang dan memaksa saya menikah dengan Alien, maksud saya si Aline.
__ADS_1
"Duduk dulu saya periksa dulu laporan kamu." Alesa duduk di hadapan saya, saya sengaja saja tak menyuruh Alesa mengirim laporan melalui PC. Saya selalu minta dia mengantarkannya langsung.
Wajah Mama muncul dari layar ponsel. Tumben -tumbenan mama nelpon saat jam kerja. Saya pun berdiri sedikit menjauh dari Alesa.
"Ya Ma,"
"Raffa, siang ini waktu jam istirahat, kamu jemput Aline dirumahnya, ajak dia habiskan waktu makan siang bersama biar kalian lebih dekat."
"Tapi Ma ...."
"Udah nggak pakai tapi-tapi, Assalamu'alaikum."
Telepon terputus. Saya memijat jidat saya yang tak gatal. Alien lagi Alien lagi, kapan saya bisa keluar dari negara api ini! Kalau sudah mama yang memberi titah, saya sama sekali tidak bisa menolak.
"Kenapa Mas?" tanya Alesa yang menyadari raut wajah saya berubah kesal.
"Maaf sa, nanti saya di suruh makan siang bareng Mama." Saya jadi merasa bersalah membuat Alesa kecewa.
"Nggak apa-apa Mas, kita kan bisa makan siang bersama besok-besok lagi," jawab Alesa dengan nada suaranya yang selembut kapas itu.
"Ya, kamu boleh kembali ke ruangan kamu," titah Saya. Saya ingin merenungi nasib saya sendiri sebelum bertemu manusia berisik itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
bersambung.....
__ADS_1