
Aline
Aku masih mode marah berat sama suamiku yang durjana. Raffa tega banget enggak pulang semalaman ninggalkan princess di malam pertama kita. Princess cuma meringkuk di atas ranjang sambil di ketawain sama dua handuk angsa yang ada di tengah ranjang. Memang waktu bangun tidur dia di sampingku, tapi tetap saja dia udah semalaman keluyuran pergi ninggalkan istrinya.
Princess pokoknya enggak mau ngomong sama Raffa sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Raffa harus aku kasih hukuman untuk kesalahannya mengabaikan istri selembut princess.
Princess bisa lihat Raffa yang sudah panik banget lihat aku kayak gini. Entah panik Karena aku akan ngaduh sama Mama Riri atau panik karena princess cuekin dia seharian? Dia lebih diam dan nggak ngegas lagi sama aku. Baguslah! Princess juga lelah adu mulut dengan Raffa.
Sekarang aku masih sama Mama dan mami untuk menemani keliling rumah untuk cek dan ricek apa-apa yang perlu di tambah dan dikurangi. Rumah baru aku sama Raffa memang belum sempat kena sentuhan Desain interior dari princess karena penikahan kita yang serba mendadak. Pindahannya juga mendesak.
"Sayang!"
Apa? Sayang? Raffa memang manisnya kalau di depan Mama, pahitnya suruh princess telan bulat-bulat, kesel!
"Sayang!" panggilnya lagi dengan nada menekan, princess memang sengaja pura-pura budeg.
"Lin, Raffa panggil kamu tuh," Mama Riri nunjuk Raffa yang mengekor di belakang kita.
"Ya Ma," princess terpaksa temui Raffa karena itu perintah ibu peri.
"Ayo sayang, kita lihat kamar kita."
Raffa genggam tangan princess menyatukan jari - jari tangan kita untuk pertama kali. Mau dibawa kemana kira-kira, entah! Princess nurut aja lagi. Kan lagi mode marah, tangan reflek ikuti suara hati, nggak bisa di ajak kerja sama sih!
"Ehem, ehem, pengantin baru maunya ke kamar terus," sindir Mami dengan senyum-senyum. Sungguh Mami, tidak ada hal indah seperti bayangan kalian.
"Mau beres-beres Mi," balas Raffa manis banget di depan Mami.
"Ya udah, kalian ke kamar aja, biar Mama sama mami mau siapkan untuk makan siang," balas Mama Riri yang juga kelihatan bahagia.
" Siap Ma," Raffa langsung merangkul pundak aku dan dengan semangat tarik aku ke lantai dua.
__ADS_1
Raffa bawa aku ke salah satu kamar di lantai dua. Kamarnya luas, tertata dengan gaya maskulin.
Aku yang teringat lagi dalam mode marah langsung tepis tuh tangan Raffa yang ngalung di pundak. Princess langsung pasang wajah judes buang muka jauh-jauh dari Raffa.
"Lin! kamu marah!"
Sudah tahu nanya! Kamu nggak sadar kesalahan kamu! princess angkat bahu nggak mau bersuara.
"Lin! Saya suami kamu! Dan saya sedang bertanya sama kamu!" bentak Raffa.
Princess jadi gedeg, " Raf, mau kamu apa sih! Aku diam salah, aku banyak bicara salah! aku salto juga salah."
"Lin, kalau kamu marah sama saya, nanti! Tunggu Mama dan Mami kamu pulang! Kita baru nikah satu hari tapi sikap kamu di depan Mama udah nunjukkan kalau hubungan kita nggak harmonis! Kamu lupa diperjanjian yang sudah kamu tanda tangani!"
"Raf! Memang kenyataannya begitu kan, kita memang nggak harmonis dari awal!" itu fakta. Princess nggak mau nutup-nutupi, princess panas.
"Oke, tapi kali ini please bersikap normal di depan ibu kita. Jangan buat mereka kecewa dan curiga."
"Sebenarnya yang buat kecewa itu kamu Raf, seandainya aku nggak ingat omah yang lagi sakit jantung, mama Riri yang baik sama aku, apalagi Papa Ervan yang sudah seperti Ayah aku sendiri, aku bakalan ngaduh ke mereka kalau kamu pergi ninggalin aku keluyuran di malam pertama kita!"
Princess menjauh ke dekat jendela. Aku harus bisa buat hukuman yang setimpal untuk Raffa meskipun dia suamiku.
"Lin, maaf. Kita bisa perbaiki dan tata lagi rumah tangga kita semua dari awal," Raffa berucap melemah.
Princess paling nggak kuat lihat Raffa melas gitu. Tapi nggak boleh tergoda.
"Aku nggak mau maafkan kamu semudah itu Raf,"
"Oke! Apapun akan saya lakukan selama saya mampu dan bisa memperbaiki lagi hubungan kita."
"Janji!" Princess tekankan pada Raffa. Lelaki kan suka ingkar janji. Raffa mengangguk.
__ADS_1
"Kamu nggak boleh unboxing aku, sebelum dapat ijin dan persetujuan dari aku!" princess udah mikir matang- matang masalah ini.
"Nggak Bisa! Sebagai suami saya wajib menuntut hak saya." Raffa kembali emosi, nggak semudah itu suamiku.
"Itu syarat dari aku, kamu harus setuju, kalau mau dapat maaf dari aku!" Princess melenggos lagi ke sembarangan arah.
Tangan ini ada yang menarik, "Saya nggak setuju lin, Saya mau minta jatah malam pertama kita yang tertunda malam ini! Kamu marah atau nggak!" Raffa balik ngancam.
"Kalau kamu nggak setuju dengan syarat aku, aku aduin ke Mama dan keluarga kamu sekarang berserta bukti rekaman CCTV hotel." Ancam princess mau menuju pintu.
"Oke, Oke Lin, saya setuju!" jawab Raffa kelihatan banget nggak iklhas.
"Deal!" Saya mengulurkan tangan.
"Ya deal!" balas Raffa.
Princess tahu kelemahan suami adalah amarah Mamanya.
Aku puas deh, nggak sabar nunggu ekspresi suami yang gagal terus dapat jatah dari istri. Ini akibatnya menyia-nyiakan, malam pertama dengan princess, istri yang menuju soleha ini. Jadi jahat sih princess sama suami! Nggak apa-apa ini buat pelajaran, Raffa sendiri yang mulai gencatan senjata.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung .....