
Aline
Aku enggak tahu ya, kenapa hari ini Raffa semangat banget ngajak princess pergi ke kantor. Padahal hari ini sudah terhitung dalam surat cuti. Sebagai istri yang penurut pada suami, aku ikuti saja perintah suami yang suruh buntuti ke kantor.
Oh ya, semenjak kita baikan lagi, Raffa sepertinya lupa dengan perjanjian pranikah yang dibuatnya sendiri. Raffa enggak pernah lagi larang aku untuk ini itu seperti biasanya. Raffa juga enggak melarangku untuk menggambar orderan desain interior. Tapi aku yang sadar diri, kalau ada di dekat suami, waktunya kita untuk manja-manjaan.
Kita yang sekarang sudah seperti pasangan suami-istri pada umumnya. Raffa sering berbagi cerita tentang kesehariannya di kantor. Princess juga, kadang cerita keseharian di rumah dan gosip terbaru seputaran komplek. Tapi pemirsa, suami princess nggak suka kalau aku tanya atau bahas masalah Farel. Entah apa yang mendasari Mas suami masih saja cemburu.
Setelah menyelesaikan sarapan pagi, kita langsung bergegas menuju kantor. Sepanjang jalan tangan kiri Raffa gengam tangan Princess. Aku juga nggak berani tanya, tumben hari ini ajak princess ke kantor pagi-pagi.
"Nanti lama nggak Mas di kantornya?" tanyaku ketika mobil Raffa sudah memasuk halaman kantor.
"Nggak. Sampai waktu makan siang."
"Aku belum selesai packing untuk persiapan ke Ibiza."
"Nanti Mas bantu Sayang, lagipula kita mau honeymoon, nggak perlu terlalu banyak bawa baju karena disana kita akan sering nggak pakai baju."
Buk ... Tas princess melayang ke pundak mas suami yang sudah Omes pagi-pagi. Princess yang cantik ini, nggak bisa hilangkan kebiasaan melempar benda meskipun itu tidak baik dan merugikan orang sekitar.
"Mas Raffa ih ... masih pagi!"
Mas suami cuma cengar-cengir tanpa salah dan dosa. "Mas cuma bicara fakta, sayang," bela Mas suami.
"Udah nggak usah dibahas, kita turun."
"Kamu tunggu di lobby, Mas mau parkir mobil sebentar."
Akupun nurut untuk turun dari mobil, melangkah sendiri menuju lobby menunggu mas suami. Entah Princess yang dari sananya terlalu jelita atau aku yang kepedean sendiri. Setiap ada karyawan yang melintas mereka selalu perhatikan Princess dengan wajah terkesima. Jadi malu akunya.
__ADS_1
Apa mereka tahu kalau wanita cantik ini istri bos mereka? Sudah lebih baik Princess baikin lagi kerudung yang agak miring-miring ini sebelum suami datang.
"Lin!" suara Farel yang mengejutkanku.
"Rel, bikin orang jantungan aja!" gerutuku. Farel langsung ambil single chair si sebelah dan duduk di hadapan princess.
"Ngapain kesini? Pasti mau kasih surat untuk persidangan dari pengadilan agama ya?" tanya Farel antusias.
"Nauzubillahi min dzalik Nggak Rel, aku kemarin cuma iseng tanya aja."
Ya, dua hari marahan dengan Raffa aku sempat tanya Farel yang mengerti tentang hukum. Bagaimana melaporkan tidak kekerasan dalam rumah tangga dan proses perceraian. Tapi sumpah Bun, aku cuma tanya supaya pengetahuanku luas aja, aku sama sekali nggak kepikiran sedikit pun untuk berurusan dengan pengadilan agama.
"Ais ... batal otewe janda dong!" Nada suara Farel tak sesemangat tadi.
"Idih jelek banget doanya. Kayaknya kamu sudah mabuk janda deh Rel."
Farel tertawa malu-maluin.
Kenapa aku jadi serem lihat raut wajah sanggar Raffa. Tangganya cari-cari tangan Princess untuk digenggam erat-erat. Cieh, yang yang mau pamer kemesraan.
"Rel, kamu nggak kerja! Hobi banget keluyuran di kantor tetangga."
"Sabar Bos! Ini juga belum jam masuk kantor. Apalagi ketemu teman akrab, sudah kewajiban kita untuk menyapa." Farel megerlipkan mata ke arahku.
"Ya udah kita duluan!" Raffa langsung tarik pinggang Princess untuk mengikuti langkahnya. Princess cuma bisa dadah sama Farel yang kelihatan banget merana melihat kemesraan aku dan Raffa. Aku berharap sahabat pencinta janda itu segera menemukan pasangannya.
Di rengkuh suami seperti ini di depan umum ternyata rasanya malu juga. Setiap kita lewat, para karyawan menyapa sambil memperhatikan Princess.
"Pak Raffa," sahut kompak dua Mas - mas dan bapak-bapak berkumis ketika keluar dari dalam lift.
__ADS_1
"Pak Roni, Pak Arjun," sapa Raffa. "Oh ya Pak, istri Saya." Raffa dengan bangga mendorong maju princess memperkenalkan pada rekan kerjanya. Aku mengangguk menyapa dengan gemulai.
"Akhirnya bisa tahu juga istri Pak Raffa. Ada apa ini bawa istri ke kantor," seru bapak-bapak berkumis. Kepo juga ternyata, persatuan bapak-bapak di kantor ini.
"Dengar-dengar mau cuti ya Pak," sanggah mas-mas yang mirip opah koreya.
"Ya Pak, mau honeymoon yang tertunda." Raffa pamer lagi sambil lirik genit ke arahku.
Bapak berkumis tertawa receh mungkin untuk menghormati candaan Raffa. "Makanya bawa istri. Pasangan pengantin baru memang begitu, masih hangat-hangatnya. Maunya nempel saja Pak."
Kita tertawa bersama dengan jaim. Jadi malu kan princess sama rekan kerjanya Raffa.
"Silahkan Pak," Mas-mas itu mempersilakan kami untuk lewat menuju ruangan Raffa.
"Saya dan istri permisi dulu," tangan Raffa tak pernah melepaskan genggaman tangannya.
Bahagia rasa hati Princess, aku bukanlah istri tak kasat mata lagi, Raffa dengan bangga memperkenalkan aku sebagai istrinya. Aku semakin erat gandeng lengan Raffa, biar saja yang jomblo pada iri.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung .....