
**Ponsel Ervan berdering di perjalanan, nampak dilayar nama Tiara yang muncul.
"Mas, Kak Tiara..." ujar Riri mengambil ponsel Ervan di dushboard mobil.
"Angkat nyalakan speakernya." Kata Ervan.
Riri mengikuti arahan suaminya.
Tiara : Van... Bisa ketemu sebentar**.
"Apa ada sesuatu," jawab Ervan.
Tiara : Aku tidak tahu harus ketemu siapa, bisakah kita nemuiku sebentar sebagai sahabatmu.
Ervan menatap ke arah Riri, Riri mengangguk mengiyakan. "Baiklah kamu dimana?"
Tiara : aku di apartemen.
"Aku dan Riri akan kesana sekarang." Balas Ervan. Telepon terputus.
Ervan berganti arah kembali lagi dari arah rumahnya menuju apartemen PM.
"Kak Tiara kenapa Mas?," tanya Riri.
"Mas juga nggak tahu, kita temui saja dia." Balas Ervan.
Beberapa menit mereka tiba di apartemen, Ervan dan Riri bergandengan tangan menuju lift menuju ke lantai 8. Ervan membunyikan bel, pintu terbuka nampak dibalik pintu Tiara yang menyambut keduanya. Ketiganya kini sudah duduk di sofa ruang tamu.
"Apa ada masalah...." Tanya Ervan.
Tiara nampak binggung ingin bicara karena melihat Riri yang bersama Ervan.
"Tiara...." Sapa Ervan membangunkan kediaman Tiara.
"Van kenapa aku tidak bahagia, beberapa bulan lagi aku akan menjadi salah satu pimpinan perusahaan impian semua orang di kota ini." Tiara tidak bisa lagi membendung isi hatinya.
"Kenapa begitu, itu impianmu dari dulu kan." Kata Ervan yang terkejut dengan perkataan Tiara, begitu pula dengan Riri.
"Benar, tapi aku lebih bahagia saat Adrian masih bersamaku." Kata Tiara tanpa terasa tidak bisa membendung air matanya menetes.
"Apa!! memang kau dan Adrian...??" Tanya Ervan terkejut.
"Dia ninggalin aku Van, kenapa semua orang yang aku cintai meninggalkan aku...." Tiara menutup Wajahnya dengan kedua tangan menutupi air matanya.
Ervan dan Riri terkejut mendengar ucapan Tiara, terutama Riri yang terjawab rasa penasaran karena Adrian sedang patah hati.
"Tiara, Aku sangat mengenal Adrian dia tidak mungkin meninggalkanmu tanpa alasan, dia sendiri yang bilang padaku kalau sayang sama kamu." Kata Ervan yang menduga Adrian pergi karena ulah Tiara sendiri.
"Tiara, kalian berdua adalah sabahatku, ceritakan padaku apa yang terjadi supaya aku bisa membantu." Lanjut Ervan.
"A-ku..a..ku, menolak untuk menikah kesekian kali, aku masih belum siap untuk menikah," balas Tiara.
"Tiara, kenapa kau harus melukai dirimu sendiri hanya demi royalitas perusahaan, bagaimana dengan perusahaan apa bisa memahamimu sekarang. jangan pernah menyesali semuanya Tiara, kau bisa menjadi pimpinan diperusahaan manapun, tapi apa kau bisa memiliki lagi lelaki yang baik dan tulus seperti Adrian."
__ADS_1
"Kak Tiara maaf, kalau aku bisa ngomong," kata Riri sedikit gugup takut salah bicara.
Riri memengangi pundak Tiara yang tertunduk. "Kak, menikah itu ibadah, menyempurnakan separuh agama kita, pernikahan itu sebuah jalan yang paling bermanfaat dalam menjaga kehormatan diri agar terhindar dari hal -hal yang dilarang agama."
"Niatkan semua karena Allah ta'ala kak, lakukan dan jalani hanya mencari ridho Allah semata, Allah berjanji akan mencukupkan rejeki untuk orang yang mau menikah, kenapa kita harus ragu, Kenapa kakak masih memikirkan masalah dunia, kak....kakak harus bahagia dengan orang yang kakak cintaii, terlebih orang itu memilih kakak sebagai wanita yang akan bersamanya menjalani sisa hidupnya."
Tiara mendongak mengalihkan pandangan ke arah Riri, "Riri....Terima kasih." Tiara memeluk Riri merasa terharu tanpa bisa berkata.
Ketiganya pun bicara sedikit lebih tenang, mereka mengobrol hingga terdengar adzan Maghrib. Ervan mengajak Riri dan Tiara sholat berjamaah di masjid disamping apartemen. Usai melaksanakan sholat, Riri dan Ervan berpamitan pulang.
******
Dimalam yang ramai Tiara berkendara dengan mobil sport putihnya, menyusuri jalanan menuju apartemen R*by tower yang berada dipusat kota tak jauh dari universitas B. Dia melangkahkan kaki menuju lift, naik ke lantai 12.
Tiara mengumpulkan segala tekadnya setelah dipikirkan matang, di memencet tombol pintu. Dengan cepat pintu terbuka.
Pemilik apartemen nampak terkejut dengan kedatangan tamunya, begitu pula dengan Tiara yang berdiri mematung.
"Mau masuk atau berdiri disini aja..." Kata Adrian membangunkan lamunan karena ketegangan Tiara.
Dengan sigap Tiara masuk kedalam apartemen, mendadak suasana menjadi canggung.
"Ada apa..." Tanya Adrian.
"Adrian ak-u ..."
"Tiara denger, aku sudah bilang padamu kemarin, caraku membuktikan cintaku ke kamu ada dua menghalalkan atau mengikhlaskan, kamu sendiri tidak memilih yang pertama itu artinya aku harus menjalankan yang kedua, sekarang apa lagi yang kau inginkan....." Ujar Adrian.
"Jangan lakukan itu..." Tiara langsung memeluk Adrian tanpa komando.
"Apa maksudmu..." Adrian menarik Tiara dari tubuhnya, Tiara menganguk tersenyum.
Adrian memengangi kedua pipi Tiara.
"Dalam urusan ini aku tidak bercanda, Tiara aku melakukannya semua ini seraya ketakutanku pada Allah dan menjalankan Sunnah Rasulullah. aku cuma mau ketika bersamamu, kamu sudah halal buat aku, untuk mengatakan ini aku juga butuh banyak waktu mempertimbangkan segala hal yang mungkin terjadi. aku mohon pada yang di Atas menentukan orang yang tepat, berkali kali ku tanya pada hatiku sudah tepatkah pilihanku, dan berkali-kali pula jawaban tetap sama yaitu.... kamu"
Tiara tak kuasa membendung air matanya. kata-kata terindah yang pernah ia dengar seumur hidupnya. Dia tidak pernah merasa sangat di cintai seperti sekarang bahkan dengan keluarganya sendiri.
"Jadi kamu mau nikah dan hidup sama aku..." lanjut Adrian. Tiara mengangguk tersenyum.
"maaf, Cincinnya besok ya, kalau malam ini tokonya pasti tutup." Goda Adrian.
Tiara tertawa kecil memukul dada Adrian, Tiara kembali memeluk kekasihnya lagi sekarang.
"Adrian..." Tiara melepaskan pelukannya.
"Aku nggak bisa masak ataupun bikin kopi..."
"Kalau air laut aku nggak sanggup minum, tapi nanti kalau kopi buatan kamu yang asin aku pasti nambah lagi...." celetuk Adrian.
Tiara mencubit Adrian, merasa malu. Adrian mengajak Tiara menikmati malam bahagia ini ke balkon melihat pemandangan laut dari balkon mengingat apartemen R*by tower yang berada di dekat laut. Keduanya pasangan yang sudah menjalin hubungan bulan-bulan ini menjadi cair kembali.
"Adrian nanti aku akan bilang ke orangtua ku tentang keputusanku, dan akan bernegosiasi dengan perusahaan tentang statusku nanti..."
__ADS_1
"Kamu wanita yang hebat sayang...kalau jadi pemimpin perusahaan besar seperti kamu, pasti aku nggak mampu." Kata Adrian menyelipkan rambut Tiara ke telinga.
"Kenapa nggak mampu, semau orang punya kesempatan."
"Gimana aku bisa mikirin nasib ribuan karyawan, kalau yang dipikiranku cuma kamu." celetuk Adrian lagi.
Lagi-lagi Tiara tersipu malu kali ini merasa lebih bahagia di waktu dengan Ervan mantan kekasihnya. Sikap agresif dan arogannya mendadak luntur perlahan.
"Adrian udah cukup...." Balas Tiara mendadak jadi lunak.
"Kamu tahu nggak, ada 3 hal yang nggak bisa dihitung megister matematika kayak aku atau orang teknik kayak kamu."
"Apa...." Tiara sudah menembak akan mengombal lagi.
Adrian menunjuk langit. "Bintang di langit," menunjuk arah bawah. "ikan di lautan."
Adrian menarik tangan Tiara mendekat. "yang ketiga cintaku sama kamu."
"Udah Adrian hentikan!!!" teriak Tiara malu menutup telinganya.
Adrian hanya tertawa melihat wajah lucu kekasihnya. Kini keduanya mengobrol diatas balkon ditemani hebusan angin malam yang tertiup dari laut.
"Tiara sudah malam, sebaiknya aku antar kamu pulang," kata Adrian usai melihat jam dinding.
"Nggak apa-apa, aku pulang sendiri aja, tadi aku bawa mobil yang baru keluar bengkel sekalian test drive...."
Keduanya meninggalkan balkon keluar dari apartemen, menuju gedung parkir. Adrian membuka pintu kemudi untuk Tiara. Tiara masuk kedalam mobil, Adrian masih bersandar di jendela mobil.
"Sebentar lagi kamu akan jadi yang nomer dua di hidupku..." Kata Adrian.
Tiara kaget dan Kesal. "Apa maksud kamu, kamu mau selingkuh!."
"Nomor dua diurutan KK sayang, kan aku kepala keluarganya...." celetuk Adrian bahagia.
Tiara megelengkan kepalanya tertawa. "Garing sayang....nggak lucu."
Tiara menyalahkan mesin mobil melambaikan tangan dan berlalu meninggalkan Adrian yang masih berdiri menunggu sampai tak terlihat mobil dari pandangannya.
.
.
.
.
.
. Next.....
Zen ada yang Melunak.....😍😍😍😍
Terimakasih udah sabar nunggu up dari author ...
__ADS_1
Jangan lupa like, koment , vote juga author buat up up nya semangat....🙏🙏🙏🙏🙏